Ayo Jujur Buktikan Kita Rawat NKRI!


Oleh: Erie Sudewo, Pendiri Dompet Duafa

=======

Sekarang saya ada di Bandung. Pelesiran? Bukan. Ada sesi sharing Senin malam. Saat bicara, jujur, kadang saya sulit bedakan fakta dan opini.

Fakta obyektif, sunatullah apa adanya. Sedang opini, subyektif dong. Ada sesuatu di balik opini. Fakta tak boleh ditambah atau dikurangi. Saat fakta ditafsir, jadilah opini. Saat tafsir menafsir, nafsu menelisik.
Tuan dan puan, begitu yang terjadi belakangan ini. Retorika opini tersaji memukau. Kepiawaian mainkan kata, lebih dihargai ketimbang fakta.

Inilah das sein dan das sollen. Antara kulit dan isi. Yang pertama menarik dari manusia jelas tampilannya. Sama seperti buah. Kulit jadi penentu pertama dibeli tidaknya buah. Ketika isinya masam, sumpah serapah jadi konsekuensi.
Simak baik-baik. Negeri ini sedang diracuni. Dan ada media masa yang naga-naganya bermain. Dalam sajikan fakta, “jas merahlah”. Jangan lupakan sejarah.

Yang paling dan amat berjasa lahirkan Indonesia itu siapa? Para founding fathers. Tapi tanpa ulama dan tokoh Islam, apa founding fathers bisa teguh hati?

Andai Jenderal Soedirman bisa longok kembali negeri ini, apa yang bakal dia jawab atas pertanyaan di bawah ini: “Ketika bergerilya, dimana anda bermalam: Di toko, atau di tokoh yang siapkan rumah di kampung?” Siapa kira-kita tokoh yang di kampung itu.

Toko jelas perlu. Tokoh lebih jelas lagi. Namun apakah Jenderal Soedirman dan tokoh pergerakan nginap di toko kelontongan ? Dalam kondisi normal, pedagang untung. Dalam kondisi tak normal, pengusaha lebih untung. Dan dalam kondisi chaos, pedagang pun tetap tak mati angin raup laba.

Lantas, kira-kira apa kontribusi pedagang pada perjuangan kemerdekaan? Pasti ada. Siapa yang menyumbang pesawat pertama Garuda? Hanya berapa banyak saudagar yang mau gelontorkan harta untuk bangsa. Bukan SANGGUP, tapi MAU-kah?

Lihat sejarah, siapa sih yang sungguh-sungguh berjuang lahirkan Indonesia. Tanpa toleransi ulama dan tokoh Islam, apa bisa sila pertama Pancasila sekarang ini cuma tertera “Ketuhanan Yang Maha Esa” saja? Wallahu’alam.

Anehnya sekarang, jutaan masyarakat yang tuntut tanggung jawab pemicu perpecahan, malah dianggap pemecah NKRI? Yang jutaan dituduh bawa-bawa SARA. Lho yang pancing SARA, eta saha Bro?

Kemarin di pesawat saya jumpa seseorang yang tengah mengikuti SESKO TNI. Dia berkata: “Kita tidak tegas. Satu orang disiasahi untuk kalahkan jutaan orang”.

Eh tanpa diundang di sebelahnya lagi ikut nimbrung. Dia bilang: “Di zaman Soeharto, pemicu SARA sudah dipetruskan”. Tapi dia tambahkan lagi: “Tapi bukan lebih eunaaak zamanku, tho”.

“Jika tanpa umat Islam, bukan NKRI namanya”, itu ucapan pertama Jenderal Gatot di ILC. Kita tak menuntut agar mayoritas dihargai. Kita tak menuntut pula keadilan dari anda. Cuma “realistislah”.

Jika tak bisa bedakan pemecah NKRI dan perawat NKRI, JANGAN BICARA NKRI! Kita sudah terlalu lama melihat retorika ciamik yang putar balikkan fakta.

Ayo buktikan kita rawat NKRI!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Zoemalang's community

ujung malang adalah Sebuah desa yang hilang terganti dengan ujung harapan

YoYo Games Blog Feed

Ujung malang adalah Sebuah desa yang hilang terganti dengan ujung harapan

Dealer Termurah

Menjual Segala Jenis Motor Baru Di Indonesia Cash Maupun Kredit

%d blogger menyukai ini: