Humor Gelap Sebuah Novel


Oleh : Harri Ash Shiddiqie *)

Dua tahun lalu, di Prancis, diluncurkan sebuah novel “Soumission” ditulis seorang yang sangat kontroversial, Michel Houellebecq. Tahun 2010 ia mendapat penghargaan sastra tertinggi Prancis , Prix Goncourt. Tetapi delapan tahun sebelumnya, ia dihadapkan ke pengadilan karena mengatakan : “Agama yang paling bodoh adalah Islam”.

Hari peluncuran novel Soumission (dalam Bahasa Inggris : Submission) bersamaan dengan diserangnya kantor majalah Charlie Hebdo. Majalah yang mengolok-olok Nabi Muhammad SAW melalui gambar kartunnya. Penyerangan Charlie Hebdo membuat 5 dari 7 kartunis tewas. Dua yang selamat dari kejadian itu tidak lagi bersedia menggambar hal-hal yang bekaitan dengan Islam.

Peristiwa Charlie Hebdo adalah kebetulan yang menguntungkan, karena Submission menceritakan Prancis di tahun 2022, hanya beberapa tahun lagi, diperintah oleh seorang presiden yang Muslim. Islamophobia naik, novel Houellebecq menjadi best seller.

***

Di Amerika Trump menang, itu karena Trump menimba kecemasan masyarakat kulit putih Amerika terhadap Islam. Houellebecq memanfaatkan kecemasan itu dua tahun sebelum Trump naik. Ketika ia ditanya wartawan Guardian bahwa novelnya efektif menaikkan ketakutan pada Islam, ia menjawab : “Tentu saja. Tentu”. “Apakah Anda juga Islamopohbia”, “Mungkin ya”.

Tokoh pada novel tersebut adalah seorang profesor, Francois, mengajar di universitas terkenal, Sorbonne. Di umur 40-an hidupnya diisi sekehendak hati, belum menikah, rokok, alkohol, serta rangkaian hubungan intim tanpa cinta dengan mahasiswi-mahasiswi.

Kondisi politik Prancis, saat itu, mengerucut pada persaingan dua kubu yang merebut puncak kekuasaan, kaum sosialis berkoalisi dengan kelompok Islam, Ikhwanul Muslimin. Koalisi ini yang memenangkan pemilihan presiden. Berikutnya tersebar rumor adanya perang saudara, Francois lari menjauh dari Paris, diam di desa, di wilayah barat daya Prancis.

Di wilayah sepi itu Francois berusaha meneladani tokoh Joris Karl Huysmans, seorang novelis abad 19. Ia mengembara di tempat-tempat di mana Huysmans pernah merasakannya. Pada suatu waktu, di sebuah biara, ia merasa dingin dalam ketaatan penuh disiplin, dituntut komitmen yang tulus, dan sangat sedikit rasa nyaman yang diberikan. Itu memaksa ia harus kembali ke kesendiriannya. Francois tidak sanggup menjalaninya, ia pergi. Tepatnya lari.

Kembali ke Paris suasana telah berubah. Selain mendapatkan dirinya telah di pensiun, presiden negerinya, Prancis, kini bernama Mohammed Ben Abbes, seorang Muslim. Pengangguran telah turun drastis karena perempuan telah meninggalkan pekerjaannya. Defisit nasional diberantas karena dana pendidikan di support oleh negara-negara Arab, bahkan gaji mengajar sebagai dosen menjadi berlipat.

Francois juga masygul karena di tempat umum setiap wanita mengenakan pakaian yang tidak memungkinkan dirinya berfantasi tentang belahan payudara. Tatkala suatu saat ia diminta kembali ke mengajar, ia melihat semua sekretaris universitasnya memakai jilbab.

Francois berpikir, tampaknya tidak buruk bila menjadi Muslim. Kembali mengajar di universitas, bahkan dengan dengan gaji yang lebih baik. Karena poligami tidak lagi dipersoalkan, dengan jabatan akademik bergengsi serta uang cukup, ke depan ia bisa menikah dengan satu atau dua orang untuk memenuhi kebutuhan biologisnya dan satu lagi yang agak tua untuk menjaga rumah.

***

Novel satire, menyindir lelaki yang nihil, dekaden, lari dari gejolak idealisme di Paris. Berusaha mencari pegangan di pedesaan, tapi tidak mampu mengontrol diri dalam ketulusan, lari lagi. Kembali ke Paris lalu berkhayal gaji baik dengan dua atau tiga istri. Satir dengan humor gelap, tajam.

Kecemasan Novel ini seperti kecemasan George Orwell “ 1984”. Tetapi bagi orang Prancis Submission lebih menusuk, Islam menang dan menguasai dalam waktu yang singkat, itu menyulut islamophobia. Tetapi Adam Gopnik, penulis terkenal majalah The New Yorker mengatakan, tuduhan Houellebecq mengidap Islamophobia mungkin salah. Dia Francophobia.

Dalam suatu wawancara, Houellebecq yang atheis memang menyatakan adanya rasa sakit, melihat banyak orang yang menuju agama-agama apapun. Ia menganggap itu terjadi karena tumbuhnya kekosongan dan kurangnya tujuan masyarakat Prancis.

Hanya Prancis? Jangan-jangan itu adalah pertanda kekosongan budaya Barat? Pribadi Francois adalah cermin budaya. Paruh baya yang hebat sebagai profesor, makanan serba beres dari microwave, tidur dengan murid-muridnya, tak perduli bahkan tak punya hubungan dengan orang tua, tidak punya keluarga, dan membenci ajaran agama.

Adam Gopnik menyatakan, adanya peradaban Zombie. Masyarakatnya terdiri tubuh-tubuh yang tanpa jiwa. Layak bila Islam mengambil alih. Islam mengarah pada hubungan masyarakat yang damai, percaya dan tunduk pada sesuatu yang lebih besar dan lebih megah.

Wajar bila karya Houellebecq memicu berbagai interpretasi. Seorang penulis di media Muslim berkomentar, tinjauan pada batas-batas tertentu, imajinasi liar Houellebecq telah mengggulung sekularisme, nilai-nilai pascapencerahan dunia barat.

Apakah Houellebecq mengalami apa yang dialami Cat Steven? Di relung tulisannya yang fiksi, sebenarnya ia tahu bahwa akhirnya ia akan menyerah? Penulis ini tahu bahwa Houellebecq menulis Submission setelah kematian orang tuanya, yang menyebabkan dia mempertanyakan ateisme dirinya. Sama seperti tokoh novelnya, Francois, tampaknya penulis ini merasa kosong, kesepian. Sekarang ingin merasakan sesuatu, apa saja. Wallahu A’lam Bishawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Mari kita bersama meningkatkan kesadaran kita - Mulailah berpikir cerdas, Kita semua beragama !!! Agama bukan identitas...jadikanlah agama untuk keluar dari kebodohan

Tulisan di blog ini mungkin sangat ngawur tapi mungkin juga benar. Merdekakan pikiran anda, sentuh hati nurani anda. Yang ada tinggal KASUNYATAN SEJATI

Zoemalang's community at www. zoemalang.wordpress.com

ujung malang adalah Sebuah desa yang hilang terganti dengan ujung harapan

YoYo Games Blog Feed

Tulisan di blog ini mungkin sangat ngawur tapi mungkin juga benar. Merdekakan pikiran anda, sentuh hati nurani anda. Yang ada tinggal KASUNYATAN SEJATI

Dealer Termurah

Menjual Segala Jenis Motor Baru Di Indonesia Cash Maupun Kredit

%d blogger menyukai ini: