Kemiripan prinsip ISLAM & NAZI


Kekaguman Hitler terhadap Islam demikian besarnya sehingga ia menyebarkan buku-buku tentang keislaman kepada seluruh tentara Nazi, baik muslim maupun nonmuslim.

Tentara Divisi SS Handschar sedang membaca buku propaganda berjudul Islam dan Yahudi
Poin ini memberikan bukti dengan menyuguhkan gambar sekelompok tentara Nazi sedang serius membaca sebuah buku kecil berjudul Islam und Judentum, padahal semua orang mengetahui bahwa sekelompok tentara tersebut tergabung dalam 13th Waffen Mountain Division of The SS Handschar/ 1st Croatian yang keseluruhan prajuritnya adalah muslim.
Poin ini pun besar kemungkinan akan mengarahkan pembaca kepada suatu kesimpulan bahwa Islam dan Nazi adalah suatu ideologi yang sama-sama berlandaskan kekerasan sehingga mereka mudah untuk bekerja sama pada masa PD II. Hal ini akan semakin kompleks jika dikaitkan dengan peristiwa holocaust karena Islam sangat tidak mengizinkan holocaust. Ingatlah bagaimana Muhammad dengan toleransi yang sangat tinggi membiarkan umat Yahudi untuk tinggal di Madinah. Jelas berbeda dengan Hitler yang menginginkan Yahudi untuk enyah dari Jerman.
2. Hitler sering meminta nasihat kepada para ulama.
Pembuktian pernyataan ini diperlihatkan melalui gambar ini

Hajj Amin Al Husseini, Mufti Besar Palestina, melakukan pertemuan dengan Adolf Hitler pada November 1942.
Ini adalah pernyataan yang salah. Hitler tidak pernah meminta nasihat kepada ulama siapa pun. Apa yang terlihat dalam gambar ini adalah petemuan antara Hitler dengan Mufti Besar Palestina, Hajj Amin Al Husseini, di bulan November 1942.
Tidak ada yang menyangkal bahwa dalam Perang Dunia II, negara-negara Islam telah bekerja sama dengan Nazi dalam melawan Yahudi dan Komunisme dan itu memang benar. Namun, hal itu semata-mata karena ada kesamaan kepentingan di sana, tidak kurang dan tidak lebih. Bagi Husseini, kerja sama yang ia lakukan dengan nazi disebabkan adanya ancaman-ancaman yang timbul dari Yahudi kepada penduduk muslim di Palestina dan bagi Hitler, ia memerlukan banyak sumber daya manusia untuk mengalahkan tentara merah di wilayah-wilayah timur Eropa, seperi yang terjadi di Bosnia saat muslim Bosnia dibantai setiap hari oleh tentara komunis.
Hal ini terlihat jelas melalui perkataan Mufti kepada Hitler, “Arab adalah teman alamiah Jerman karena mereka memiliki musuh yg sama, yaitu Inggris, Yahudi dan Komunis. Karena itu Arab siap utk bekerja sama dgn Jerman dgn segala hati dan siap berpartisipasi dlm perang, tidak hanya secara NEGATIF melalui tindakan SABOTASE dan PEMICUAN REVOLUSI, tetapi juga secara positif dgn pembentukan pasukan Arab. Arab akan bermanfaat bagi Jerman sbg sekutu mengingat alasan geografis dan penderitaan yang disebabkan Inggris dan Yahudi. Terlebih lagi, Jerman memiliki hubungan dekat dgn negara2 Muslim, yang bisa dimanfaatkan bagi kepentingan bersama. Pasukan Arab mudah dibentuk. Dgn satu permintaan saja dari sang Mufti kpd negara2 Arab dan tawanan kebangsaan Arab, Aljazair, Tunisia dan, Maroko, penjara-penjara Jerman akan menghasilkan jumlah besar sukarelawan siap tempur.”
Bukankah bentuk kerja sama seperti ini sering terjadi di dalam banyak sejarah? Jangan pernah lupakan bahwa Amerika pernah bekerja sama dengan taliban dalam mengusir Komunis. Bisakah kita anggap Amerika dan Taliban memiliki sifat dasar ideologi yang sama? Seperti yang diungkapkan oleh pepatah, “The enemy of my enemy is my friend.”
Segala hal yang saya nyatakan di sini bukanlah sebuah bualan. Perhatikanlah begitu banyak situs atau forum-forum yang kemudian mendiskreditkan Islam sama dengan Nazi hanya karena mereka pernah bekerja sama terlebih dalam hal kebenciannya dengan Yahudi.
Lihatlah bagaimana laman indonesia.faithfreedom, sebuah situs yang telah lama dengan tulisan-tulisannya memfitnah Islam. Di salah satu artikelnya, faithfreedom menuliskan bahwa Islam tidak ada bedanya dengan Nazi dan penduduk muslim Palestina begitu menghormati Hitler sebagai pemimpin yang hebat. Lihatlah pula bagaimana laman wikiislam, suatu laman yang senada dengan faithfreedom, juga mengatakan hal yang sama bahkan dengan santai menunjukkan bukti-bukti kesamaan Islam dan Nazi hanya karena gaya salut mereka yang sama, gaya salut yang sekarang disebut sebagai salut fasis. Jewisvirtuallibrary, dalam artikelnya yang membahas Ikhwanul Muslimin, juga mengatakan bahwa Hasan Al Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin, adalah seseorang yang mengagumi Hitler dan membawa organisasi ini sejalan dengan prinsip-prinsip Nazi. Dalam proyek besar Amerika Serikat dalam menyerang negara-negara muslim, Bush di dalam pidatonya menyebut militan Islam sebagai Islamo-Fascism.
Masih banyak lagi hal-hal seperti ini yang merebak di dunia maya dan ketika umat muslim menemukan artikel yang mengaitkan antara Hitler dan Islam dengan serta-merta mereka bangga lalu dengan mudah mengatakan, “Lihatlah, betapa Hitler mengagumi Islam.” Karena ketika kalimat seperti itu tercipta, tanpa disadari, mereka telah membantu bahan-bahan propaganda untuk membentuk opini publik bahwa ISLAM = NAZI.
Marilah kita tengok kembali apa yang dikatakan Amin Al Husseini,
“Ada kemiripan antara prinsip Islam dan Nazi.”
Pernyataan ini seharusnya dapat kita ditafsirkan sebagai kesamaan kepentingan dan bukan kesamaan ideologi.

sumber
http://dzulfikarsp.blogspot.co.id/2013/02/kemiripan-prinsip-islam-nazi.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Zoemalang's community

ujung malang adalah Sebuah desa yang hilang terganti dengan ujung harapan

YoYo Games Blog Feed

Ujung malang adalah Sebuah desa yang hilang terganti dengan ujung harapan

Dealer Termurah

Menjual Segala Jenis Motor Baru Di Indonesia Cash Maupun Kredit

%d blogger menyukai ini: