Setan-setan politik kan datang mencekik


uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi -uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi dari anak jakarta timur klender
 

 Azka alifiandra memposting – begitulah sebait lirik lagu iwan fals sumbang di jadikan judul posting ini

Lirik Iwan Fals Sumbang | Lirik Lagu Sumbang

kuatnya belenggu besi

mengikat kedua kaki

tajamnya ujung belati

menujam di ulu hati

sanggupkah tak akan lari walau akhirnya

pasti mati

di kepala tanpa baja di

tangan tanpa senjata

akh itu soal biasa yang

singgah di depan mata kita

lusuhnya kain bendera di

halaman rumah kita

bukan satu alasan untuk kita tinggalkan

banyaknya persoalan yang datang tak

kenal kasian menyerang dalam gelap

memburu kala haru dengan

cara main kayu

tinggalkan bekas biru lalu

pergi tanpa ragu

setan-setan politik kan datang mencekik

walau dimasa pacekik tetap mencekik

apakah slamanya politik itu kejam?

apakah selamanya dia datang

‘tuk menghantam?

ataukah memang itu yang sudah

digariskan?

menjilat, menghasut, menindas

memperkosa hak-hak sewajarnya

maling teriak maling sembunyi balik

dinding pengecut lari terkencing-kencing

tikam dari belakang lawan lengah

diterjang lalu sibuk mencari kambing

hitam

selusin kepala tak berdosa

berteriak hingga serak didalam ngeri

yang congkak lalu senang dalang

tertawa…he…he…he…he…

Terima kasih atas kunjungannya untuk membaca artikel ini semoga anda di berikan kemudahan dan kelancaran dalam berurusan.
uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi dari anak jakarta timur klender

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi dari coretan kata bocah jakarta timur klender pulo gadung indonesia

  •    Sumurnya
  • * Upload di akun servimg.com
  •    Artikel dari mesin pencari kata/ Search engine

Buku Induk Ilmu Tasawuf : Makna rahasia istilah dalam Tasawuf – Risalatul Qusairiyah bab dua.


uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi -uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi dari anak jakarta timur klender
uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - Buku Induk Ilmu Tasawuf : Makna rahasia istilah dalam Tasawuf – Risalatul Qusairiyah bab dua.

*Upload gambar by choirul

 Azka alifiandra memposting -SEJAK TAHUN 1046 MASEHI – RUJUKAN  TASAWUF SAMPAI SEKARANG
RISALATUL QUSYAIRIYAH
BAB II.TERMINOLOGI TASAWUF

(Istilah kata-kata dalam bahasa tasawuf)
Ketahuilah, bahwa setiap golongan dari para ulama mempunyai terminologi praktis yang selalu menjadi patokan. Mereka, dengan penggunaan kata-kata tersebut, melakukan internalisasi yang berbeda dengan lainnya, sebagaimana mereka sepakati untuk tujuan mereka, agar dipahami kelompok massanya, atau terpaku pada makna-maknanya secara global. Mereka menggunakan kata-kata yang dimngerti oleh mereka, dengan maksud agar mereka di dalamnya hanya bagi mereka, membuat tirai bagi orang yang menentang tharikatnya, agar makna kata-kata mereka menjadi samar bagi orang lain, sebagai bentuk fanatis terhadap rahasia-rahasia mereka, agar tidak tersebar kepada yang bukan ahlinya. Sebab hakikat mereka, bukanlah kumpulan dari ragam tugas, atau tertarik oleh amcam upaya. Namun tasawuf merupakan makna-makna yang telah dititipkan Allah swt. dalam setiap kalbu kaum Sufi, dan hakikat-hakikatnya tersari dari rahasia-rahasia kaum Sufi tersebut.

Kami bermaksud menjelaskan kata-kata tersebut agar mudah dipahami oleh orang yang mau bersikukuh mendalami makna-maknanya dari mereka yang menempuh jalan tasawuf dan mengikuti tradisi mereka. (Ungkapan dari para Sufi sering kontra terhadap sebab logika duniawi, ketika mereka menguraikan tentang kondisi ruhani, hasrat dan bisikan hatinya, serta rasa terdalamnya. Ungkapan itu tidak bisa menggambarkan kilatan atau rasa yang begitu cepat, dan sulitnya mencari wujud serupa dalam realita. Catatan kaki)
DAFTAR – ISI

  1. WAKTU
  2. MAQAM
  3. HAAL
  4. QABDH DAN BASTH
  5. HAIBAH DAN UNS
  6. TWAJUD, WUJD DAN WUJUD
  7. JAM’ DAN FARQ
  8. FANA’DAN BAQA’
  9. GHAIBAH DAN HUDHUR
  10. SHAHW DAN SUKR
  11. DZAUQ DAN SYURB
  12. MAHW DAN ITSBAT
  13. SITR DAN TAJALLI
  14. MUHADHARAH, MUKASYAFAH DAN MUSYAHADAH
  15. LAWAIH, LAWAMI’ DAN THAWALI’
  16. BUWADAH DAN HUJUM
  17. TALWIN DAN TAMKIN
  18. QURB DAN BU’D
  19. SYARIAT DAN HAKIKAT
  20. NAFAS
  21. AL-KHAWATHIR
  22. ILMUL YAQIN, ‘AINUL YAQIN DAN HAQQUL YAQIN
  23. WARID
  24. SYAAHID
  25. NAFSU
  26. RUH
  27. SIRR

1.

W A K T U

Edit : Pujo Prayitno

Esensi waktu (al-Waqt). Menurut penelaah ahli hakikat, adalah suatu peristiwa yang terbayangkan, yang hasilnya dikaitkan pda peristiwa yang terjadi. Peristiwa yang terjadi merupakan waktu bagi peristiwa yang dibayangkan (akan datang). Seperti kalimat, “Anda di datangi awal bulan”, maka, “kedatangan” merupakan sesuatu yang terbayang. Sedangkan awal bulan adalah sesuatu yang terjadi nyata. Awal bulan berarti waktu bagi kedatangan.

Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq ra. Berkata : “Waktu adalah sesuatu yang Anda berada di dalamnya. Kala Anda di dunia, maka waktu Anda adalah dunia. Bila di akhirat, maka waktu Anda adalah akhirat. Ketika Anda senang, itulah waktu Anda. Kalau Anda susah, susah itulah waktu Anda.” Maksud Syeikh tadi, waktu memiliki definini yang umum bagi manusia.

Ada kala waktu diartikan sebagai zaman. Ada kalangan yang mengatakan, waktu merupakan sesuatu antara dua zaman. Yang lampau dan yang akan datang.

Mereka juga mengatakan, bahwa orang Sufi merupakan anak sang waktu. Kalimat tersebut dimaksudkan, bahwa sang Sufi disibukkan dengan priorotas utama yang harus dikerjakan ketika itu, mandiri terhadap perolehan seketika.

Dikatakan : “Orang fakir tidak mementingkan apa yang telah lewat dan yang akan tiba dalam waktunya, tapi lebih mementingkan apa yang ada pada saat itu.” Dikatakan : “Menyibukkan terhadap waktu yang berlalu, berarti menelantarkan waktu berikutnya.”

Terakdang mereka bermaksud mendefinisikan waktu sebagai sesuatu yang dilakukan ooleh Al-Haq kepada mereka tanpa adanya pilihan bagi mereka. Mereka mengatakan ( si Fulan dengan hukum waktu). Yakni : Fulan menyerahkan diri kepada yang tampak dari yang ghaib tanpa usahanya sendiri. Yaitu dalam hal yang tidak masuk kategori perintah Allah swt, atau terapan menurut hukun syariat. Karena adanya penelantaran terhadadap apa yang diperintah dan merekayasa dalam waktu untuk mengalahkan takdir, di samping meninggalkan kepedulian terhadap sesuatu yagn Anda hasilkan melalui penyimpangan, berarti keluar dari agama.

Mereka berkata : “Waktu adalah pedang”. Sebagaimana fungsi pedang itu sendiri untuk memotong. Maka waktu, disebabkan oleh kebenaran yang berlalu, yang memenangkan kebenaran, akan melewatinya.

Dikatakan : “Pedang sangat halus sentuhannya, namun tajam sayatannya. Barangsiapa menghindarinya (berkelit) akan selamat dan barangsiapa bertindak kasar akan tertebas olehnya. Begitu juga waktu, siapa yang mencurahkan pada hukum waktu akan selamat, dan barangsiapa menentangnya akan tertebas dan jatuh dalam kehancuran.”

Seperti dalam bait ini :

Dan seperti pedang..

Jika tak mencegahnya untuk menyentuh

Tajamnya, kalau mengasari tergoreslah.

Barangsiapa ditolong sang waktu, maka waktu hanya baginya. Dan barangsiapa menentangnya, sang waktu pun akan marah ke padanya.

Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata : “Waktu adalah pembubut yang akan menggilasmu, namun tidak melenyapkanmu. Yakni, jika melenyapkan dan menyirnakanmu, pasti bersih ketika dirimu sirna. Akan tetapi waktu mengambilmu, tanpa melenyapkanmu sama sekali.”

Sang Syeikh bersyair :

Setiap hari ia lewat meraih tanganku..

Memberikan penyesalan dalam hatiku..

Kemudian… ia berlalu..

Dalam syair pula :

Seperti penghuni neraka

Jika kulit-kulitnya terpanggang matang..

Kembali pula kulit itu,

Bagi suatu penderitaan.

Dikatakan :

Bukanlah orang mati itu

Orang istirahat sebagai mayit.

Tetapi orang mati itu

Kematian hidupnya.

Orang cerdas adalah orang yang berada dalam hukum waktunya. Apabila waktunya adalah sadar dalam Ilahi (ash-shahw), maka ia tegak mandiri dengan syari’at. Apabila waktunya adalah sirna dalam Ilahi, yang kompeten adalah hukum-hukum hakikat.

2.

M A Q A M

Edit : Pujo Prayitno

Maqam adalah tahapan adab (etika) seorang hamba dalam wushul kepada-Nya dengan macam upaya, di-wujud-kan dengan suatu tujuan pencarian dan ukuran tugas. Masing-masing berada dalam tahapannya sendiri ketika dalam kondisi tersebut, serta tingkah laku riyadhah menuju ke pada-Nya.

Syaratnya, seorang hamba tidak akan menaiki dari satu maqam ke maqam lainnya sebelum terpenuhi hukum-hukum maqam tersebut. Barangsiapa yang belum sepeuhnya qana’ah, belum bisa mencapai tahap tawakkal. Dan siapa yang belum bisa tawakal tidak sah bertaslim. Siapa yang tidak bertobat, tidak sah pula ber inabat, dan barang siapa tidak wara’ tidak sah untuk ber zuhud.

Al-Maqam berarti iqamah, sebagaimana kata al-wadkhal berarti idkhaal, dan al-makhraj berarti al-ikhraaj. Tidak seorang pun sah menahapi suatu maqam, kecuali dengan penyaksian terhadap kedudukan Allah swt. terhadap dirinya dengan maqam tersebut, yang dengannya strutur bangunan ruhaninya benar menurut pondasi yang shahih.

Saya mendangar Abu ali- al-Daqqaq r.a. berkata : “Ketika al-Wasithy masuk ke Naisabur, bertanyalah ia kepada santri Abu Utsman, : “Apa yang diperintahkan Syeikh kalian kepada kalian? Mereka menjawab : “Kami diperintah untuk menetapi taat serta melihat dan meneliti penyimpangan di dalamnya.” Maka al-Wasithy berkata, “Syeikh kalian memerintah dengan cara Majusi murni? Apakah Syeikh kalian tidak memerintah diri kalian dengan hal yang gaib dengan memandang ke pada Yang Memunculkan dan Menjalankan yang gaib? Maksud al- Wasithy dengan kta-kta itu, agar mereka menjaga diri dari posisi takjub. Bukannya menaiki ke arah wilayah penyimpangan atau keteledoran (taqshir), karena yang demikian bisa merusakkan adanya cacat dalam adab.

3.

H A A L

Edit : Pujo Prayitno

Al-Haal (kondisi ruhani) menurut banyak orang merupakan arti yag intuitif dalam hati; tanpa adanya unsur sengaja, usaha menarik, dan usaha lainnya, dari rasa senang atau sedih, leluasa atau tergenggam, rindu atau berontak, rasa takut atau suka cinta, maka setiap al-Haal merupakan karunia. Dan stiap Maqam adalah upaya. Pada al-Haal datang dari Wujud itu sendiri, sedang al-Maqam diperoleh melalui upaya perjuangan. Orang yang memilik Maqam, menempati maqamnya, dan orang yang berada dalam Haal, bebas dari kondisinya.

Salah seorang guru berkata : “Beberapa al-Haal seperti kilatan kalau menetap, itu sekedar omongan nafsu.”

Mereka berkata : “Al-Haal sebagaimana namanya, yakni al-Haal seperti ketika menempati dalam kalbu, kemudian hilang.

Kalau tidak menempati, pasti tidak dinamakan haal.

Dan setiap yang menempati, pastilah hilang,

Lihatlah pada bayangan ketika sampai ujungnya

Berkuranglah ketika ia memanjang

Beberpa kalangan mengisyaratkan abadinya al-Haal. Mereka berkata : “Sebenarnya jika al-Haal tidak abadi dan tidak terdelegasi, itu hanyalah kilatan belaka. Pelakunya tidak sampai pada al-Haal yang sebenarnya. Apabila predikat tersebut menetap terus, dinamkan al-Haal.”

Di sinilah Abu Utsman al-Hiry berkata “Aku tidak pernah benci terhadap maqam yang telah diberikan Allah swt. kepadaku.” Ia mengisyaratkan ketetapan abadinya dalam ridha. Dan ridha merupakan bagian dari al-Haal.

Seharusnya dikatakan : Orang yang mengisyaratkan abadinya al-Haal, maka apa yang dikatakannya benar. Terkadang al-Haal berarti bagian dari seseorang kemudian terpelihara di dalamnya. Tetapi yang memiliki al-Haal ini memiliki beberapa ihwal, yaitu jalan-jalan yang tak menetap di atas ihwal-ihwalnya yang menjadi bagiannya. Bila jalan-jalan yang ditempuh menetap secara konsisten, seperti menetapnya ihwal-ihwal tersebut, ia anaik ke ihwal lain yang lebih lembut. Dan begitu selanjutnya, naik ke tahap seterusnya.

4.

QABDH DAN BASTH

Edit : Pujo Prayitno

Kedua istilah ini merupakan kondisi ruhani setelah seseorang hamba menahapi tingkah laku al-Khauf dan ar-Raja’. Al-Qabdh di mata seorang arif sama kedudukannya dengan tahap al-Khauf di mata pemula. Sedangkan al-Basth, setara kedudukannya dengan a-Raja’ di mana pemula yang mencari jalan kepada Allah swt.

Perbedaan antara Qabdh, Khauf, Basth dan Raja’

Al-Khauf : Muncul dari sesuatu di masa depan, terkadang takut kehilangan sang kekasih, atau datangnya sesuatu yang ditakuti.

Ar-Raja’ : Membayangkan sang kekasih di masa depan atau sesuatu yang ditampakkan akan hilangnya yang ditakuti, serta yang dibenci, bagi mereka yang pemula (dalam dunia Sufi).

Al-Qabdh : Tahap ruhani yang maknanya yang dihasilkan dalam waktu seketika, begitu juga al-Basth.

Orang yang mempunyia khauf dan raja’, hatinya bergantung dalam dua kondisi waktu di depannya. Sedangkan yang memiliki qabdh dan basth, waktunya diambil oleh yang mengalahkan dalam kekinian. Hanya saja predikatnya terpaut dalam qabdh dab bats menurut keterpaduan ihwal mereka. Dari segi yang datang, qabdh menjadi keharusan, namun menetapi sesuatu yang lain, karena tak terpenuhi. Dan ddari segi yang tergenggam (al-maqbudh), tidak ada jalan selain dominsai pendatang di dalam dirinya. Karena diambil secara keseluruhan dari pihak pendatang tersebut.

Demikian pula yang dileluasakan (al-mabsuth), Kadang-kadang di dalamnya ada basth yang membuat sang makhluk menjadi luas, sehingga tidak takut terhadap segala hal. Ia menjadi mambsuth, tiada sesuatu pun berpengaruh di dalamnya, dari satu ihwal ke ihwal lain.

Saya mendengar Abu ali al-Daqqaq r.a. berkata : “Sebagian orang memasuki tempat Abu Bakr al-Qihthy. Di sana ada seorarng anak sedang bermain sebagaimana permainan anak-anak muda lainnya (yang bisa merusak hatinya). Orang-orang itu melewati tempat anak tersebut, dan tampaknya ia tenggelam dalam permainan dengan teman-temannya. Mereka merasa ibi kepada al-Qihthy, serayaa berkata, ‘Kasihan Syeikh, bagaimana digoda oleh anak-anak jelek itu? Ketika mereka memasuki rumah al-Qihthy, ia menemuinya seakan-akan tak ada berita sedikit pun soal mainan-mainan itu, lalu mereka pun heran. Mereka berkata. ‘Anda menebus orang yang tidak dapat dipengaruhi puncak-puncak bukit?’ Al-Qihthy menjawab : “Sesungguhnya kami telah dibebaskan dari belenggu segala hal dalam azali.” (artinya, ia telah tenggelam dalam keparipurnaan ubudiyah kepada Allah swt. sehingga tidak ada yang berpengaruh selain Allah swt.).

Kewajiban terendah dalam qabdh, adanya subyek dalam hatinya yang mengharuskan bentuk isyarat cacat pada diri, atau adanya rumus yang di dalamnya seseorang berhak untuk bersopan santun (adab), sehingga dalam kalbunya mendapatkan qabdh.

Terkadang yang datang dalam kalbunya merupakan isyarat untuk mendekat, atau yang diterima merupakan kelembutan dan ketentraman, sehingga kalbu mendapatkan basth. Secara global, wabdh masing-masing pelaku tergantung kualitas basth-nya, begitu juga basth-nya diukur menurut qabdh-nya.

Terkadang sebab musabab qabdh menimbulkan musykil bagi pelakunya. Dalam kalbunya ditemukan qabdh yang tidak dimengerti apa keharusan dan sebabnya. Keharusan yang dijalani pelaku seperti ini alah taslim, sehingga waktu seperti itu berlalu. Sebab jika dicari, justru akan menghalanginya. Atau ia menghadap waktu sebelum jatuh padanya, lewat ikhtiarnya, sehingga berharap wabdh-nya bertambah. Barangkali hal itu tergolong su’ul adab. Jika menyerahkan diri pada hukum waktu, maka dari dekat akan menghilangkan al-qabdh. Sesungguhnya Allah swt. berfirman :

“Dan sesungguhnya Allah menyempitkan dan melapangkan, dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan,” (Qs. Al-Baqarah : 245).

Terkadang basth datang seketika, tanpa si pelaku tahu sebabnya, sehingga ia pun terkejut. Jalan yang harus ditempuh, jika demikian, ia harus tenang dn menjaga adab. Pada waktu itu, ia sedang mengalami bisikan yang besar. Karena itu, si pelaku harus menghindari makar yang samar di daamnya. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh sebagian Sufi, “Telah dibuka padaku, pintu basth, kemudian diriku terguncang hebat, lantas aku pun tertutup dari maqamku.” Karenanya berkatalah mereka, “Bertetaplah apda kelapangan (al-bisath) dan hati-hatilah, berupaya melapangkan.”

Ada ahli hakikat (tahqiq) mengategorikan perilaku qabdh dan basth tergolong sesuatu yang mereka mohonkan perlindungan. Karena keduanya disandarkan pada yang diatasnya berupa tahap kehancuran hamba, sedangkan upaya hamba memasukinya dalam dunia hakikat dapat melahirkan fakir dan bahaya.

Al-Junayd berkta : “Al-Khauf dari Allah membuatku tergenggam, Dan ar-Raja’ dari Allah membuatku lapang. Hakikat telah mengumpulkan diriku. Dan Al-Haq memisahkanku. Apabila Dia membuatku tergenggam adalah khauf, Dia menjadikan diriku fana’ dari diriku. Apabila ar-Raja’ melapangkanku, Dia mengembalikan kepadaku. Apabila diriku terintegrasi hakikat, maka Dia menghadirkanku. Apabila aku dipisahkan Al-Haq, aku disaksikan oleh selain diriku, kemudian menutupiku, Allah swt. dalam semua hal itu adalah penggerakku tanpa mengekangku, Dia yang membuatku takut tanpa genmbiraku. Aku dengan kehadiranku, merasakan rasa wujud-ku. Fana’ku datang dari diriku, membuatku nikmat, atau mengabaikan dariku, sehingga aku ringan.

5.

HAIBAH DAN UNS

Edit : Pujo Prayitno

Rasa takut sisertai rasa hormat luar biasa (haibah) dan sukacita jiwa (uns) merupakan tahap dari derajat-derajat dalam al-qabdh dan al-basth. Kalau qabdh berada di atas tingkatan khauf, dan basth di atas tingkatan raja’, maka haibah lebih tinggi dariapda qabdh, kemudian uns lebih sempurna daripada basth. (Maksudnya, Uns lebih tinggi tahapannya. Sebab haibah muncul dari Qabdh, yang bermula dari Khauf. Sedang Uns muncul dari Raja’. Karena orang yang takut kepada Allah swt, melihat kekurangan dirinya di hadapan Allah, hatinya akan terganggu oleh-Nya, dan yang tersisa hanyalah sibuk dengan Allah, sehingga muncullah Haibah. Siapa yang wushul-nya terus menerus, hatinya akan lapang dan mendapatkan uns. Catatan Kaki).

Hak haibah adalah kegaiban. Setiap pelaku haibah senantiasa lebur dalam kegaiban. Orang-orang yang berada dalam gaib frekuensinya berbeda dalam haibah menurut penjelasan mereka dalam kegaiban.

Sedangkan hak uns adalah pencerahan dalam kebenaran. Orang yang melakukan uns, berarti cerah jiwanya. Kemudian frekuensinya berbeda menurut penjelasannya dalam bagian “minuman jiwa”. Mereka berkata : “Tempat terendah dalam al-uns adalah jika seseorang dilempar ke dalam neraka Jahanam, sama sekali sukacitanya tidak terpengaruh.”

Al-Junayd berkata : “Aku mendengar batinku berkata : “Seorang hamba bisa ssampai pada suatu batas seandainya wajahnya tertebas pedang, sama sekali tidak merasakannya.” Sedangkan dalam hatiku ada sesuatu, hingga tampak jelas bahwa persoalannya sampai sedemikian itu.”

Diriwayatkan dari Ahmad bin Maqatil al-Ikky, ia berkata : “Aku memasuki tempat asy-Syibly, sedangkan beliau tengah mencabut helai bulu alisnya dengan sebuah penjepit. Aku katakan kepadanya; “Wahai tuanku, Anda berbuat demikian apda diri sendiri, sementara rasa pedihnya kembali pada hatiku.’ Ia menjawab : “Celaka Anda! Hakikat itu tampak padaku, dan aku tidak kuat memikulnya. Maka beginilah, aku memasuki kepedihan atas diriku, siapa tahu aku merasakannya, lalu tertutup dariku. Aku tak menemukan kepedihan itu. Dan tidak tertutup dariku, sedangkan kepedihan itu membuatku tidak tahan.”

Kondisi haibah dan uns, walaupun masing-masing tampak jelas, bagi ahli hakikat masih dikategorikan kurang, karena keduanya mengandung perubahan pada diri hamba. Sedangkan yang tidak berubah, dinamakan ahli tamkin. Mereka hangus dalam wujud nyata. Tidak ada haibah dan tidak pula uns, tidak ilmu maupun rasa.

Cerita ini dikenal dari Abu Sa’id al-Kharraz : “Suatu saat di kampung, aku berkata :

Aku datang, maka aku tak mengerti

Dari mana, siapa aku,

Kecuali apa yang dikatakan manusia

Pada diriku dan dalam jenisku,

Aku datangi jin dan manusia

Jika tak kutemui seorang pun,

Aku datangi diriku.

Kemudian ada bisikan lembut menyusup ke dalam kalbuku :

Amboi, siapa yang tahu sebab-sebab

Yang lebih luhur wujud-nya,

Lalu ia bersukaria dengan kesesatan yang hina

Dan dengan manusia

Kalau engkau dari ahli wujd yang hakiki

Pastilah engkau gaib dari Jagad, Arasy dan Kursy

Sedang engkau tanpa kondisi ruhani bersama Allah

Jauh dari mengingat

Pada jin dan manusia.

6.

TAWAJUD, WUJD DAN WUJUD

Edit : Pujo Prayitno

Tawajud adalah upaya memohon ekstase ruhani (wujd), melalui salah satu ragam ikhtiar. Orang yang memiliki tawajud tidak dapat dkategorikan sempurna wujd-nya. Sebab, kalau ia sempurna, pasti disebut wajid.

Dalam bab wazan Tafa’ul lebih banyak menampakkan sifat. Padahal bukan demikian, seperti dalam syair :

Bila kelompak mata menjadi sempit;

Dan padaku tiada lagi sulit membuka

Lalu kurobek mata, tanpa cela.

Ada pandangan yang mengatakan, “Tawajud tidak terpasrahkan kepada pemangkunya karena adanya beban dan masih jauh dari tahqiq.”

Ada pula yang mengatakan : “Tawajud diserahkan kepada para fakir yang secara internal mengintai untuk menemukan makna-makna tersebut.”

Hakikat yang bisa dikenal, muncul dari kisah Abu Muhammad al-Jurairy, r.a. bahwa ia berkata : “Ketika aku di sisi al-Junayd, di sana da Ibnu Masruq. Tiba-tiba Ibnu Masruq dan yang lain berdiri sementara al-Junayd tetap saja diam. Aku berkata, “Tuanku, tidakkah Anda mempunyai suatu pengalaman dalam penyimakan?’ Al-Junayd menjawab : “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka ia tetap ditempatnya, padahal ia berjalan seperti jalannya awan.” (Qs. An-Naml :88). Lalu al-Junayd pun bertanya. “Anda, wahai Abu Muhammad, tidakkah Anda berpengalaman juga dalam penyimakan?’ Aku katakan : “Tuanku, ketika aku hadir di suatu temepat yang di dalamnya sedang berlangsung penyimakan, tiba-tiba di sana ada orang-orang yang bersenang-senang dengan rasa malu, mka aku mengekang diri dan wujd-ku. Ketika aku menghindar, aku mengirimkan wujd-ku, lalu aku ber-tawajud,”

Kemudian kata tawajud disebut dalam hikayat tersebut, sedangkan al-Junayd tidak mengingkarinya.

Saya mendengar Syeikh Abu Ali al-Daqqaq r.a. berkata : “Apabila manusia menjaga dtika keutamaan sat dalam penyimimakan, Allah menjaga diri dan waktunya, karena berkat etikanya.”

Sedangkan ekstase ruhani (wujd) itu sendiri merupakan sesuatu yang bersesuaian dengan hati Anda, yang datang tanpa kesengajaan ataupun diupayakan. Karena itu para Syeikh mengatakan : “Wujd adalah persesuaian hati, sedangkan al-mawajid (jama’ al-wujd) merupakan bauh dari wirid. Setiap orang yanng bertambah upaya ruhaninya, Allah pun akan menambah kelembutannya.”

Saya mendengar Syeijh Abu Ali ad-Daqqaq r.a. berkata : “Sesuatu yang sempit di dalam hati itu, muncul dari sisi wirid. Siapa yang tidak wirid dengan lahiriahnya, maka tidak wirid pula dalam sirr-nya. Setiap ada sesuatu di dalam diri pelaku al-wujd, maka tidak dapat dikategorikan sebagai wujd. Seperti suatu al yang dilakukan melalui muamalat lahriah akan menemukan manisnya ketaatan, dan apa yang mualamat lahriah akan menemukan manisnya ketaatan, dan apa yang turun dalam btin hamba seputar hukum-hukum batin, akan menemukan al-mawajid. Kemanisan adalah buah dari mualamat, dan mawajid merupakan produk dari karunia yang turun”

Sedangkan wujud, merupakan suatu kondisi setelah menapaki tahap wujd. Wujud Al-Haq tidak dapat dicapai kecuali setelah memadamkan unsur manusiawinya. Karena kemanusiawian tidak akan baqa’ ketika muncul kekuasaan Hakikat. Inilah arti dari ucapan Husain an Nury, “Sejak dua puluh tahun aku berada antara Ada dan tiada, yakni : Ketika kutemui Tuhanku, sirnalah hatiku, dan ketika kutemui hatiku, aku kehilangan Tuhan-ku.”

Pernyataan ini relevan pula dengan ucapan al-Junayd, “Ilmu Tauhid” merupakan wahana penjelasan bagi wujud-nya, dan wujud-nya merupakan wahana bagi ilmunya.” Dalam konteks artian ini, penyair berkata :

Wujud-ku ada ketika aku gaib dari wujud

Karena yang tmpak padaku

Dalah syuhud (penyaksian).

Tawajud merupakan permulaan, dan wujud adalah tujuan akhir. Sedangkan wujd sebagai perantara antara permulaan dan tujuan akhir.

Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata, “Tawajud mengharuskan adanya kecelaan hamba. Sedang wujd mengharuskan ketenggalaman hamba. Demikian pula wujud mengharuskan kesirnaan mengarungi lautan itu, lantas tenggelam di dalamnya. Struktur persoalan ini dikatakan secara berurutan, mulai dari : Qusyud (bermaksud), wurud (sampai), kemudian Syuhud (penyaksian), lalu Wujud, terakhir Khumud (sirna). Dengan kadar kriteria wujud-lah, khumud dapat dicapai.

Bagi orang yang ber-wujud memiliki kesadaran (shahw) dan ketidaksadaran (mahw). Kondisi shahw adalah kebadiannya dengan Al-Haq, sedang kondisi mahw-nya adalah kefana’annya dengan Al-Haq. Keduanya saling berkelindan selamanya. Apabila shahw dengan Al-Haq yang lebih unggul, ia telah sampai *wushul). Karena itu, Rasulullah saw. bersabda (hadis Qudsi), “Dengan-Ku ia mendengar dan dengan-Ku ia melihat.”

Manshur bin Abdullah berkata : “Seseorang berada dalam halaqah asy-Syibly, dan orang itu kemudian beretanya. “Apakah pengaruh keabsahan wujd itu tampak pada diri orang-orang yang mencapai al-wujud? Benar. Cahaya yang memancar, bersama dengan sinar kerinduan, sehingga pengaruhnya mewarnai lubuk hatinya.” Demikian jawab asy-Syibly.”

Gambaran ini jelas dalam syair Ibnul Mu’tazz :

Gelas yang dibasai iar karena cemerlang beningnya,

Llau mutiara tumbuh dari bumi emas,

Sedang kaum menyucikan karena kagum

Pada cahaya air di dalam api dari anggur yang ranum,

Diwarisi ‘Aad dari negeri Iram

Sebagai simpanan Kisra, mulai dari nenek moyangnya.

Suatu kisha berkenaan dengan Abu Bakr ad-daqqy : “jahm ad-Duqqy mengambil kayu di tangannay ketika sedang menyimak dalam gairahnya, kemudian ia mencabut dari akarnya. Kemudian keduanya berkumpul ketika secara bersamaan saling memanggil. Ad.-Duqqy sendiri sorang yang buta, lalu Jahm berdiri sambil berkeliling dengan penuh emosi. Abu Bakr ad-Duqqy berkata : “Jika mendekat kepadaku, ulurkan kayu itu!’ Sementara Jahm ad- Duqqy adalah manusia lemah, lantas ia menemukan sepotong kayu di dekatnya, seraya berkata, ‘Ini ia!’ Lalu ad-Duqqy memegang kaki Jahm, hingga membuatnya tidak dapat bergerak lagi. “Wahai Syeikh, tobat! Tobat!” teriak Jahm ad-Duqqy. Barulah kemudian Abu Bakr ad-Duqqy meelpaskannya.”

Semangat Jahm benar, dan pengekangan ad-Duqqy juga benar. Ketika Jahm menyadari bahwa tindakan ad-Duqqy di atas kondisi ruhaninya, seketika itu pun ia insaf dan berdamai.

Begitu pula orang yang tidak berbuat maksiat, ia benar. Namun demikian, apabila yang mengalahkan dirinya adalah kesirnaan diri, maka ia tidak berilmu dan tidak pula berakal, tidak paham serta tidak merasa.

Isteri Abu Abdullah at-Targhundy berkata : “Ketika bencana kelaparan sedang melanda, sementara manusia dijemput maut karena paceklik itu, tiba-tiba Abu Abdullah at-Targhundy masuk ke dalam rumah. Ia melihat ada dua kilogram gandum. Berkatalah ia, ‘Orang-orang mati karena kelaparan, sedang aku masih mempunyai simpanan gandum di rumah.’ Lalu ia pun kehilangan akal. Dan sejak saat itu ia tidak pernah bangkit, kecuali pada waktu-waktu shalat fardhu. Usai shalat kembali pada tingkah laku semula, dan begitu seterusnya sampai ia meninggal dunia.”

Kisah ini menunjukkan, bahwa laki-laki tersebut selalu menjaga diri dalam adab syariat, ketika dilanda oleh hukum-hukum hakikat. Demikian sifat ahli hakikat. Mengenai faktor penyebab hilangnya akal pada dirinya, dikarenakan kepeduliannya (syafaqah) terhadap nasib semua kaum Muslimin. Ini derajat yang lebih kuat dalam sikap perilakunya.

7.

JAM’ DAN FARQ

Edit : Pujo Prayitno

Dua kata tersebut cukup populer di kalangan ahli tasawuf. Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata : “Al-farq, suatu kondisi yang dihubungkan kepada diri sendiri, dan al-Jam’, berkaitan dengan hal yang menyirnakan diri sendiri. Artinya, Segala upaya hamba seperti menegakkan ubudiyah dan hal-hal yang layak dengan tingkah laku manusiawi, disebut al-Farq. Sementara jika datang dari arah Al-Haq (Allah swt.) seperti mucnulnya makna-makna dan datangnya kelembutan serta ihsan, maka disebut al-Jam’.

Dafinisi ini merupakan kondisi paling sederhana dalam konteks jam’ dan farq. Sebab, kondisi tersebut merupakan bagian dari penyaksian segala bentuk perbuatan. Siapa yang meneyaksikan dirinya di hadapan Al-Haq dalam perbuatan-perbuatannya seperti ketatan dan pegingkaran dirinya, maka hamba tersebut dideskripsikan dalam pemisahan (tafriqah). Sedangkan yang menyaksikan dirinya di hdapan Al-Haq melalui perbuatan yang didelegasikan dari Af’al Allah swt, maka sang hamba telah menyaskikan al-Jam’. Penetapan makhluk merupakan pintu tafriqah, dan penetapan al-Haq merupakan predikat al-jam’.

Bagi hamba, haruslah berkondisi jam’ dan farq. Sebab siapa yang tidak berposisi farq, ia tidak memiliki penghambaan (ubudiyah), dan siapa pun yang tidak berposisi jam’, ia tidak pernah ma’rifat kepada-Nya. Firman Allah swt. (Hanya Kepadamu Kami menyembah), merupakan isyarat terhadap al-farq. Sedangkan firman-Nya (dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolonan), merupakan isyarat al-jam’.

Apabila hamba berbicara kepada Tuhannya, melalui bahawa munajat, apakah memohon mendoa, memuji, bersyukur, menyucikan diri atau pun meminta, maka ia telah menempati tahap berpisah (tafriqah). Namun apabila ia telah terpesona melalui sirri-nya terhadap apa yang dimunajatkannya kepada Tuhan, kemudian mendengarkan melalui kalbunya apa yag telah dikatakan lewat munajat itu, hal-hal yang dimohonkan atau dimunajatkan kepada-Nya, atau pun yang dikenalkan oleh-Nya, maka makna-Nya, atau bahkan yang dihamparkan dalam hatinya dan di perlihatkan oleh-Nya, maka ia telah menyaksikan dalam al-jam’.

Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq r.a. berkata : “Aku menguraikan beberapa ucapan di sisi Ustadz Abu Sahl ash-Sha’luky r.a. (Engkau buat menjadi bersih pandanganku ke padamu’). Ketika itu Abul Qasim an- Nashr Abadzy hadir di sana. Lalu Ustadz Abu Sahl berkata : “(huruf ta’ dinashab’),. Maka Abu Nashr Abadzy, berkata : (Huruf ta’ didhammah’).”

Artinya, barangsiapa mengucapkan perkataan (“kujadikan”), berarti mengabarkan sikap perilakunya sendiri, seakan-akan sang hamba berkata, “ini”!. Jika ia berkata (“engkau jadikan”), seakan-akan mengatakan, bebas dari beban. Bahkan ia berkata kepada Tuhan-nya, “Engkau-lah yang mengkhususkan kepadaku dengan ini, bukan aku, melalui kemampuanku.” Yang pertama, berkaitan dengan bisikan do’a, dan yang ke dua, dengan sifat bebas dari upaya dan ikrar melalui keutamaan dan sariguna. Maka, bedakan antara orang yang mengatakan, “Melalui jerih payahku, aku menyembah-Mu,” dan ucapan orang : “Melalui keutamaan dan kelembutan-Mu, aku menyaksikan-Mu.”

Adapun jam’ul jam’i di atas semua itu. Manusia memiliki frekuensi masing-masign sesuai dengan manifestasi perilaku dan kepautan derajat mereka. Barang siapa menetapkan atas dirinya, berarti menetapkan kemakhlukan, namun menyaksikan keseluruhan, berarti ia telah mandiri kepada Yang Haq, dan inilah al-Jam’. Tetapi jika yang terlibas dari penyaksian terhadap kemakhlukan, lebur dari dirinya, dan teraih universalitas, dari segala hal yang tampak dan terdelegasi dari kekuasaan hakikat, maka tahap inilah yang disebut jam’ul jam’i.”

Tafriqah adalah penyaksian terhadsap makhluk, hanya untk Allah swt. Al-jam’ adalah penyaksian terhadap makhluk bersama Allah swt. dan jam’ul jam’i, berarti sirna dengan univeraslitas, dan fana’-nya rasa kepada selain Allah swt. ketika terlanda hakikat. Jam’ul jam’i merupakan kondisi mulia. Sebagian kaum menamakan tahap ini sebagai al-farq kedua. Yaitu dikembalikan pada tahap rasa pasca sirna, pada saat menjalani waktu-waktu fardhu, agar tetap konsisten terhadap kefarduan dengan segenap waktunya, sehingga ia kembali, hanya untuk dan bersama Allah swt, bukan bagi hamba bersama hamba. Sang hamba melihat dirinya pada kondisi seperti itu dalam perbuatan Al-Haq. Ia menyaksikan awal Zat-nya dan kenyataannya bersama Qudrat-Nya. Sedangkan tempat pijakan ketika menjalankan perbuatan dan tingkah lakunya hanya bersama Ilmu dan Kehendak-Nya.

Sebagian Sufi mengisyaratakan kata al-Jam’ dan al-farq kepada Perbuatan Al-Haq atas seluruh makhluk. Maka globalitas dari keseluruhan dalam proses bolak balik dan perbuatan, harus dilihat dari satu arah, bahwa sebenarnya Allah-lah yang memunculkan substansi-substansi mereka itu. Allah-lah yang menjalankan sifat-sifat mereka. Kamudian Allah swt. memisahkan dalam ragam : Satu kelompok, Allah swt. membahagiakan mereka, dan kelompok lain Allah swt. menjauhkan dan menyengsarakan mereka. Satu kelompok lagi Allah swt. menarik hati mereka, dan kelompok yang lain dilupakan dan diputus-asakan dari rahmat-Nya, dan satu golongan lagi Allah swt, memutus kehendak mereka untuk menyatakanDiri-Nya. Ada kelompok yang disadarkan pada tahap rasa mereka dan ada yang disirnakan. Ada kelompok yang didekatkan dan dihadirkan, Kemudian Allah meminumkan karunia hingga mereka dimabukkan ruhaninya, namun juga ada golongan yang dicelakakan dan diakhirkan, kemudian dijauhkan dan disingkirkan. Ragam Af’al-Nya tidak bisa dijangkau oleh batasan, sementara rinciannya tidak dapat diuraikan dan diingat. Para Sufi pernah melantunkan syair bagi al-Junayd, mengenai makna jama’ dan farq :

Engkau telah membuat nyata-Mu

Dalam rahasiaku

Lalu lisanku munajat pada-Mu

Kita berkumpul bagi makna-makna

Dan berbpisah bagi makna-makna pula

Jika Gaib-Mu adalah

Keagungan dari lintasan mataku

Toh Engkau buat keserasian dari dalam

Yang mendekatku.

Mereka bersyair lagi :

Jika telah tampak padaku

Keagungan, lalu keluar dalam tingkah orang

Yang tak dikehendaki

Maka aku berkumpul dan berpisah dengan-Nya

Sedang ketunggalan yang saling bertemu

Adalah dua dalam satu bilangan.

8.

FANA’ DAN BAQA’

Edit : Pujo Prayitno

Sejumlah Sufi mengisyaratkan Fana’ pada gugurnya sifat-sifat tercela, sementara baqa’ diisyaratkan sebagai kejelasan sifat-sifat terpuji. Kalau pun seorang hamba tidak terlepas dari salah satu sifat tersebut , maka dapatlah dimaklumi, sebenarnya, salah satu bagian apabila tidak dijumpai dalam diri manusia, maka dapatlah ditemui sifat satunya lagi. Barangsiapa fana’ dari sifat-sifat tercela, maka yang tampak adalah sifat-sifat terpuji. Sebaliknya, jika yang mengalahkan adalah sifat-sifat yang hina, maka sifat-sifat yang terpuji akan tertutupi.

Perlu diketahui, bahwa predikat yang menjadi sifat hamba mengandung perbuatan, akhlak dan tingkahlaku. Perbuatan-perbuatan tersebut merupakan daya manusia melalui ikhtiarnya. Sedangkan akhlak merupakan pembawaan. Namun sifat itu berubah menurut konsistensi kebiasaannya. Sedangkan tingkah laku merupakan suatu perilaku yang dikembalikan kepada hamba dari segi permulaannya. Hanya saja, penjernihannya muncul setelah pembersihan amal. Seperti akhlak dalam satu segi. Demikian pula manakala sang hamba terus menerus membersihkan perbuatannya, melalui upaya yang telah diberikan kepadanya. Allah swt. memberikan anugerah kepadanya melalui penjernihan tingkah laku, bahkan melalui penyempurnaan tingkah laku tersebut.

Siapa yang berupaya meninggalkan perbuatan kehinaan dengan bahasa syariat, maka ia telah fana’ dari syahwatnya. Jika telah fana’ dari syahwatnya, akan kekallah bangunan dirinya serta keikhlasan dalam ubudiyahnya. Sipa yang zuhud di dunia dengan hatinya, maka ia telah faa’ dari kesenangannya. Dan jika telah fana’ kesenangannaya, berarti telah kekal melalui kejujuran kembali dirinya. Barangsiapa menerapi (mengobati) akhlaknya dari penyakit kalbu seperti dengki, angkuh, bakhil, sangat bakhil, marah, sombong dan sebagainya dari kenakguhan nafsu, maka berarti telah fana’ dari kebejatan akhlak. Kalau sudah demikian, yang kekal dalam dirinya adalah ketidakpeduliannya kepada kepentingan pribadinya (futuwwah) dan kejujuran pada diri sendiri. Barangsiapa menyaksikan berlakunya qudrat dalam mekanisme hukum dan aturan, maka dapat dikatakan : Ia telah fana’ dari tanggungan perkara pertama dari makhluk. Jika ia fana’ dari pengaruh-pengaruh imaji makhluk, maka ia kekal bersama sifat-sifat Al-Haq. Dan siapa yang terlimpahi kerajaan hakikat, sehingga tiada sedikitpun yang disaksikan, baik alam kenyataan, pengaruh, rumus, atau penundaan, maka ia telah fana’ dari makhluk, dan abadi bersama Al-Haq. Ke-fana’-an hamba dari segala perbuatannya yang hina, dan tingkahlakunya yang buruk, telah menghilangkan perbuatan-perbuatan seperti itu. Ke-fana’-an mereka atas dirinya dari makhluk lainnya, dengan cara menghilangkan rasa untuk diri sendiri dan mereka. Kalau telah fana’ dari perbuatan, akhlak dan tingkah laku, maka subyek ke-fana’an dari semua itu tidak boleh di-maujud-kan.

Apabila dikatakan, “,Manusia benar-benar fana’ dari dirinya dan dari makhluk, maka dirinya maujud dan makhluk juga maujud, tetapi ia tidak tahu dirinya dan juga juga tidak mereka. Tidak ada rasa maupun berita. Maka dirinya ada, dan makhluk menjadi ada, berikutnya. Namun ia lupa dari dirinya maupun semua makhluk, sama sekali tidak merasakan adanya dirinya dan makhluk lainnya (karena keparipurnaan yang penuh dalam kesibukannya terhdap sessuatu yang lebih luhur dari semuanya.)”

Terkadang Anda melihat seseorang memasuki tempat penguasa atau orang yang kejam, lalu orang tersebut merendahkan diri atau merendah pada majelis di sana. Alangkah jauh jauh hati itu, juga dirinya, hingga tak mungkin untuk mengatakan sesuatu. Allah berfirman :

“Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan)nya, dan mereka melukai jari-jari tangannya.” (Qs. Yusuf 31).

Suatu gambaran ketika mereka sama sekali tidak menemukan rasa sakit ketika (pertama kali menyaksikan raut muka Yusuf a.s.). Mereka adalah wanita-wanita yang lemah, dan mereka berkata :

“Dan mereka berkata : “Maha Sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain, hanyalah malaikat yang mulia.” (Qs. Yusuf : 31).

Inilah kealpaan makhluk atas perilakunya sendiri ketika bertemu dengan sesamanya. Bagaimana menurut dugaan Anda dengan orang yang dibuka untuk menyaksikan Al-Haq? Kalaupun mereka lupa dari rasa dalam dirinya dan orang-orang sejenisnya, maka adakah lebih menakjubkan lagi ketimbang melihat-Nya?

Barangsiapa fana’ dari kebodohannya, yang kekal adalah ilmunya. Siapa yang fana’ dari kesenangannya, yang kekal adalah zuhudnya. Siapa yang fana’ dari angan-angannya, yang kekal adalah kehendaknya. Demikian juga seluruh konotasi kiprahnya. Apabila hamba fana’ dari sifatnya yang bisa diingat, kemudian menaiki tahap lebih tinggi dengan fana’nya dari melihat ke-fana’-an itu sendiri. (Inilah yang disebut Fana’u Fana’ ). Sebagaimana digambarkan penuyair :

Ada kaum yang tersesat di padang gersang

Aa pula yang tersesat di padang cintanya

Mereka fana’, kemudian fana’ lalu fana’

Lantas mereka kekal dengan kekal dari kedekatan Tuhan-nya.

Yang pertama adalah fana’ dari dirinya, fana’ dari sifatnya karena Baqa’-Nya Sifat-sifat Al-Haq. Kemudian fana’nya dari sifat-sifat Al-Haq karena penyaksiannya terhadap Al-Haq itu sendiri, kemudian fana’-nya dari melihat penyaksian fana’, melalui keleburan dirinya dalam Wujud Al-Haq.

9.

GHAIBAH DAN HIDHUR

Edit : Pujo Prayitno

Ghaibah berarti kegaiban kalbu dari segala apa yang diketahui, berkaitan dengan apa yang berlaku pada tingkah laku makhluk, karena adanya faktor yang datang padanya, sehingga perasaannya tersibukkan oleh kegaiban yang tiba itu. Kemudian rasa itu, dengan sendirinya dan yang lainnya, menjadi gaib, karena faktor yang tiba, akibat mengingat pahala atau memikirkan ancaman siksa.

Diriwayatkan bahwa Rabi’ bin Haitsam pergi ke ruah Ibnu Mas’ud r.a. kemudian ia melewati kedai tukang pande (besi). Ia melihat bara yang menganga di perapian pande itu. Tiba-tiba ia pingsan (karena membayangkan akibat-akibat pelaku dosa yang dibakar api). Ketika siuman, ia ditanya. “Aku ingat bagaimana keadaan ahli neraka di neraka nanti.” Demikian katanya.

Diriwayatkan dari Ali bin al-Husain. Ketika ia sedang sujud, tiba-tiba terasa ada jilatan panas api yang tersulut di dalam rumahnya, dan ia sama sekali tidak bepaling dari shalatnya. Lantas ditanya tentang keadaannya yang demikian itu. “Aku tercengang oleh nyala api besar, lebih dari kobaran api itu.” Jawabnya.

Manakala ghaibah rasa yang muncul oleh faktor yang dibukakan Al-Haq seperti itu, maka derajat mereka berbeda-beda menurut tingkah laku kondisinya.

Kisah yang populer, bahwa awal mula perilaku Abu Hafs an-Naisabury al-Haddad meninggalkan pekerjaan di kedainya, yaitu ketika muncul seseorang yang membaca ayat Al-Qur’an. Lalu ia menjadi lupa dari rasanya karena adanya sesuatu yang datang menyelusup. Lalu ia menyusupkan tangannya pada bongkahan bara api, dan menariknya kembali sambil memegang bara api yang menganga (sama sekali tidak merasa panas). Muridnya, saat melihat kejadian itu pun berkata. “Wahai guru, apa ini? Seketika itu pula Abu Hafs memandang apa yang tampak padanya, lalu meninggalkan pekerjaannya dan segera pergi berlalu dari kedai.

Saya mendengar Abu Nashr, muadzin di Naisabur. Ia dikenal sebagai laki-laki saleh. Ia mengisahkan, “Aku sedang membaca Al-Qur’an di majelis Ustadz Abu Ali ad.Daqqaq di Naisabur. Dan Ustadz sendiri sedang membahas soal haji, sampai hatiku terpengaruh karenanya. Pada tahun ini pula aku pergi haji, dan meninggalkan kedai serta pekerjaan. Sementara Ustadz Abu Ali r.a. juga pergi menunaikan haji pada tahun yang sama. Ketika di Naisabur aku menjadi pelayannya dan ikut membaca Al-Qur’an di majelisnya. Suatu hari di desa, aku melihatnya sedang bersuci dan lupa akan kendil bawaannya. Aku pun membawanya. Sesampai di tempat tujuan kuletakkan di sisinya. Ia berkata, “Semoga Allah membalas kebaikan kepadamu, ketika kamu membawa ini.” Lalu ia menatapku dalam-dalam, seakan-akan itu sebagai tatapan terakhir. Tiba-tiba ia berkata, “Pernah sekali, aku bertemu denganmu, siapa kamu? Aku menjawab, “Aku adalah orang yang memohon pertolongan kepada Allah swt, aku menyertaimu sekedarnya, dan kutinggalkan hunianku, karenamu. Aku merasa teputus oleh kemenangan dan waktu, ketika engkau berkata, “Pernah sekali, aku beertemu denganmu…!”

Sedangkan Hudhur, bisa berarti, seseorang sebagai pihak yang hadir bersama Al-Haq. Sebab ketika ia ghaib dari makhluk, ia hadir bersama Al-Haq. Artinya, seakan-akan ia hadir, kaerna limpahan dzikir pada yang haq di dalam kalbunya, yang berarti ia hadir dengan kalbunya, di antara sisi Tuhannya. Dalam batas kegaibannya dari makhluk, maka kehadirannya dikategorikan bersama Al-Haq. Namun apabila ia gaib secara universal, maka kehdiran tersebut menurut kegaibannya. Manakala dikatakan “ Si Fulan hadir. Berarti, ia hadir dengan kalbunya untuk Tuhannya. Ia tidak lupa dari-Nya dan tidak pula alpa. Lalu ia mukasyafah dalam hudhur-nya menurut derajatnya, dengan segala makna yang dikhusukan oleh Al-Haq kepadanya.

Kadang-kadang hudhur dikatakan, karena kembalinya hamba pada dimensi rasa terhadap perilaku dirinya dan makhluk lainnya. Ia kembali pada kesadaran dari kegaibannya. Ini disebut hadir bersama makhluk. Yang pertama disebut hadir bersama Al-Haq, dan frekuensi kegaibannya beragam. Ada yang pendek gaibnya, adapula yang abadi.

Iriwayatkan bahwa Dzun Nuun mengutus salah seorang muridnya ke Abu Yazid al-Bisthamy, untuk menyampaikan pesan agar Abu Yazid mengubah sifatnya. Ketika murid Dzun Nuun telah sampai di daerah Bau Yazid, ia menanyakan rumah Abu Yazid, lalu ia pun menuju ke rumah yang dimaksud. “Apa maksud kedatanganmu?” tanya Abu Yazid. “Aku ingin menemui Abu Yazid.” Kata orang itu. “Siapa Abu Yazid? Di mana Abu Yazid? Aku juga sedang mencari Abu Yazid.” Kata Abu Yazid. Orang itu pun segera pergi berlalu sambil bergumam, “Laki-laki itu pasti gila!” Kemudian ia kembali pulang ke rumah Dzun Nuun, mengabarkan apa yang disaksikan. Tiba-tiba Dzun Nuun menangis, sambil berkata, “Saudaraku Abu Yazid benar-benar telah pergi bersama mereka yang pergi kepada Allah swt.”

10.

SHAHW DAN SUKR

Edit : Pujo Prayitno

Shahw adalah kesadaran hamba kepada rasa setelah mengalami kegaiban (ghaibah). Dan Sukr adalah mabuk ruhani akibat sesuatu yang datang dengan sangat kuat. Sukr berati tambahan bagi ghaibah di satu sisi. Karena itu orang sukr, kadang-kaang terhamparkan dirinya, manakala berlum terpenuhi dalam sukr-nya. Kadang-kadang apda tahap sukr, segala kekhawatiran berguguran dari kalbunya. Itulah perilaku orang yang menampakkan sukr, karena tidak mampu memenuhi datangnya bisiskan yang luhur. Kdang, dalam kesadaran ada kesegran, lalu mabuk pesonanya bertambah atas ghaibah-nya. Terkadang seorang yang sukr lebih ghaibah ketimbang orang yang sedang berada dalam ghaibah itu sendiri mana kala sukr-nya lebih kuat. Dan tidak jarang orang yang ghaibah itu lebih sempurna dalam ghaibah-nya dibanding orang yang sukr, manakala sukr-nya tidak mencapai apa yang diinginkan.

Sedangkan ghaibah, terkadang datang kepada para hamba karena adanya sesuatu yang mengalahkan kalbunya, disebab disiplin cinta sukacita, khauf dan raja’. Sementara sukr tidak akan terwujud, kecuali kepada orang yang memiliki keseuaian- kesusaian ruhani. Apabila Allah swt. membuka hamba melalui sifat Keindahan (al-Jamal), maka hamba akan mabuk kepayang (sukr), dan ruhnya menjdai gembira, sementara kalbunya terpesona. Dalam sukr yang muncul akibat mukasyafah Jamal, mereka mendengarkan syair :

Kesadaranmu dari kata-Ku,

Adalah sambung semuanaya

Dan mabuk kepayangmu dari bagian-Ku

Memperkenankan bagimu, meneguk minuman

Tak bosan-bosan peminumnya

Tak bosan-bosan peenguk minumnya

Menyerah pada bagian,

Yang gelas pialanya memabukkan jiwa.

Merek masih bersyair :

Orang-orang menjadi mabuk memutari gelas piala

Sedang mabukku datang dari Yang Memutarnya

Ada dua kemabukan bagiku

Dan bagi dua penyessal hanya satu

Yang dikhususkan bagiku di antara mereka

Hanya untukku

Dua mabuk kepayang

Mabuk cinta

Mabuk abadi

Ketika siuman

Tiba-tiba telah bugas si pemabuk

Anda perlu mengetahui bahwa, derajat kesadaran (Shahw) tergantung pada frekuensi mabuk kepayang ruhani (sukr). Siapa yang sukr-nya bersama Al-Haq, maka Shahw-nya juga bersama Al-Haq, barangsiapa sukr-nya masih diliputi oleh dunia, maka Shahw nya juga disertai dunia yag benar. Barangsiapa menepati kebenaran dalam sikap perilaku, maka ia terjaga dalam sukr-nya. Sukr dan Shahw mengisyaratkan pada ujung dari pemisahan. Manakala tampak dari kekuasaan hakikat, mka sifat hamba diketahui dalam kesirnaan dan keterpaksaan. Mereka bersyair :

Pabila pagi telah terbit dengan bintang yang gembira

di dalamnya telah seimbang kemabukan dan kesukacitaan

Allah swt. berfirman :

“Tatkala Tuhannay menampak pada gunung itu, kejadian itu membuat gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan.” (Qs. Al-A’raaf :143).

Itulah pengalaman dalam Risalah Musa as, dan apalagi gunung dan kekuatannya menjadi lebur berkeping-keping.

Sang hamba dalam kondisi sukr-nya menyaksikan kondisi ruhani itu sendiri, dan dalam dalam Shahw-nya ia menyaksikan ilmu. Hanya saja dalam tingkah sukr-nya terjaga, tidak melalui beban yang diupayakan. Sedangkan dalam Shahw-nya terjaga melalui upayanya. Shahw dan Sukr terjadi setelah Dzauq dan Syurb.

11.

DZAUQ DAN SYURB

Edit : Pujo Prayitno

Di antara bagian yang berlaku dalam tradisi Sufi adalah Dzauq dan Syurb. Mereka mengonotasikan istilah tersebut dari peristiwa yang mereka temukan dari buah tajali dan buha mukasyaah serta kejutan-kejutan yang muncul. Tahap pertama adalah Dzauq, kemudian Syurb, lalu Irtiwa’.

Kejernihan muamalat mereka mendatangkan rasa (dzauq) makanwi, dan ketepatan tahap-tahap mereka mengharuskan adanya minum (syurb). Sementara keabadian hubungan mereka (wushul) mengharusskan adanya kesegaran (irtiwa’).

Orang yang memliki dzauq menampakkan sukr-nya. Dan orang yang sedang syurb melahirkan kemabukkan. Orang yang irtiwa’ selalu menjerit. Dan siapa yang kuat cintanya, maka abadi pula minum-nya. Apabila sifat-sifat seperti itu abadi, syurb tidak melahirkan mabuk (sakran). Dan ia selalu menjerit bersama Al-Haq sebagai orang yang fana’ dari segala jagad makhluk, sama sekali tidak berbpengaruh baginya apa yang datang, dan tidak berubah, apa yang menyertainya. Barangsiapa jernih sirr-nya, maka minum-nya tidak akan pernah keruh. Dan siapa yang menjadi peminum (ruhani) sebagai konsumsi, ia tidak akan pernah sabar dan tidak pernah abadi tanpa konsumsi itu. Mereka bersyair :

Gelas minuman adalah susuna kita

Kalau tak kita rasakan

Tak hidup pula ita

Dalam syair mereka :

Aku heran orang yang bicara : Aku inngat Tuhanku

Apakah aku alpa, lalu aku ingat apa yang kulupa?

Kuminum cita, gelas demi gelas piala

Tuntas habis minuman, tak puas dahaga pula

Yahay bin Mu’adz menulis surat kepda Abu Yazid al-Bisthamy, “Di sana, orang yang meminum gelas dari kecintaan, tiada dahaga usainya.” Lalu Abu Yazid menulis surat kembali. “Aku heran atas kelemahan dirimu di sana. Sebab siapa yang merasa di samudera jagad raya, ia akan hilang keberuntungannya.”

Ingatlah, bahwa piala-piala taqarub tampak dari kegaiban. Dan Anda tidak bisa mengelilingi, kecuali dengan rahasia-rahasia kemerdekaan dan ruh-ruh bebas dari segala belenggu.

12.

MAHW DAN ITSBAT

Edit : Pujo Prayitno

Mahw berarti hilangnya sifat-sifat kebiasaan. Dan Itsbat berarti menegakkan hukum-hukum ibadat. Barangsiapa menghapus perilaku hinanya dan menggantikannya dengan perilaku mulia, maka dialah yang memiliki mahw dan itsbat.

Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq r.a. berkata : “Sebagian para syeikh berkata pada kaum Sufi, “Bagaimana Anda mengalami mahw dan itsbat? Lalu orang itu diam, kemudian berkata : “Adapun yang kuketahui, waktu adalah mahw dan itsbat. Sebab siapa yang tidak memiliki mahw dan itsbat, berarti telah menelantarkan diri dan terabaikan.”

Mahw terbagi dalam mahw sirna (zallat) dari hal-hal yang lahiriah dan mahw alpa (ghaflat) dari hal-hal yang batiniah, serta mahw dari bentuk sebab (Illat) pada hal-hal rahasia.

Dalam mahw zallat muncul itsbat pada muamalat. Pada mahw ghaflat muncul itsbat pada tahapan-tahapan, dan dalam mahw illat muncul itsbat dalam wushul. Inilah mahw dan itsbat sebagai syarat ubudiyah.

Sementara hakikat mahw dan itsbat, masing-masing tumbuh dari Qudrat. Mahw adalah segala hal yang ditutup dan disirnakan tumbuh dari Qudrat. Mahw adalah segala hal yang ditutup dan disirnakan ole Al-Haq. Dan Itsbat, segala hal yang dditampakkan dan dijelaskan oleh al-Haq. Mahw dan itsbat dibatasi oleh Kehendak.

Allah swt. berfirman :

“Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki)” (Qs. Ar-Ra’ad : 39).

Dikatakan : “Allah swt. menghapus dzikir selain-Nya dari hati orang-orang ‘Arifin (Orang yang ma’rifat). Dan Allah menetapkan pada lisan orang-orang yang menuju kepada Allah swt. dengan dzikrullah. Mahw Al-Haq pada setiap orang, dan peng-itsbat-an Allah swt. kepdanya, sesuai kelayakan tingkah lakunya.”

Barangsiapa di mahw-kan oleh Allah swt. dari penyaksian, Allah swt. memberikan itsbat dengan kekuatan Haq-Nya. Dan siapa yang di-mahw oleh AL-Haq dari itsbat-nya, Allah mengembalikan pada penyaksian jagad dunia, dan ditetapkan dalam wahana perpisahan.

Seseorang bertanya kepada asy-Syibly r.a. : “Apa yang membuat diriku melihatmu tampak gelisah? Bukankah Dia bersamamu dan engkau bersamam-Nya? Asy-Syibly berkata : “Kalau aku adalah aku bersama-Nya, tentu, aku adalah aku. Tetapi aku pun terhapus dalam wahana-Nya. Orang yang dikaruniani keterhangusan berada di atas majw. Karena mahw meninggalkan bekas. Sedangkan orang yang terhapus (muhaq) tidak meninggalkan bekas. Sementara cita-cita kaum Sufi adalah, agar ereka dihanguskan oleh Al-Haq dari segala penyaksian mereka. Kemudian Al-Haq tidak mengembalikan kepada penyaksian mereka. Kemudian Al-Haq tidak mengembalikan kepada mereka seperti semula setelah mereka dihanguskan dalam ruhani itu.

13.

SITR DAN TAJALLI

Edit : Pujo Prayitno

Orang awam berada dalam tutup (sitr). Dan orang khawash berada dalam keabadian manifestasi (tajalli). Dalam suatu hadis, Allah swt. apabila telah ber-tajalli terhadap sesuatu, maka sesuatu itu khusyu’ (tunduk) kepada-Nya.

Orang yang berada dalam tahap sitr memakai sifat penyaksiannya. Dan orang yang berada dalam tahap tajjali, selamanya disertai sifat khusyu’nya.

Sitr, bagi awam merupakan siksaan, dan bagi khawash (kalangan khusus dalam ruhani) merupakan rahmat. Sebab tanpa ia tertutupi apa yang tersingkap dalam diri mereka, nisscaya akan musnah di sisi Yang Maha Diraja Hakikat. Namun, sebagaimana tampak pada diri mereka, apa yang tersingkap pun tertutup pada mereka.

Manshur al-Maghriby berkaa : “Aku menemui salah sorang fakir dalam kehidupan orang Arab, diantaranya terdapat seorang pemuda. Pemuda itu melayani sang fakir. Tiba-tiba pemuda itu pingsan. Lalu si fakir bertanya tentang keadaannya. Maka orang-orang di situ menjelaskan : “Ia memiliki kemenakan wanita, dan ia sangat cinta kepadanya. Lalu gaids itu berjalan di kemahnya, tiba-tiba pemuda itu melihat gadis yang kumal berdebu. Kemudain pemuda itu pun pingsan.” Lantas si fakir berlalu menuju pintu kemah, sambil berkata kepada anak gadis itu. “Sesuatu yang asing bagimu, menjadi tutup dan cacian. Aku datang hendak menolongmu berkenaan dengan pemuda ini. Maka sebaiknya engkau kasihan terhadap apa yang ada pada dirinya, dari cintanya kepada dirimu.” Lalu gadis itu berucap “Subhanallah!” Engkau orang yang berhati sehat. Sebenarnya ia tidak tahan melihat kekumalanku, lalu bagaimana ia kuat meneemaniku?”

Kehidupan orang-orang awam itu berada dalam penampakan (tajalli), sementara cobaan mereka ada dalam ketertutupan (sitr). Bagi orang-orang khawash, mereka selalu berada di antara ketidak pedulian dan kehidupan nyata. Karena ketika menampakkan diri kepada mereka, justru mereka acuh, namun ketika mereka tertutup, mereka dikembalikan pada dunia, sehingga mereka hidup.

Ada yang mengatakan, ketika Allah swt. berfirman kepada Musa, “Apa yang ada pada tanganmu wahai Musa.” (Qs. Thaaha :17), justru agar Musa tertutupi sebagian apa yang menjadi sebab langsung yang berpengaruh akibat mukasyafah, lewat kejutan penyimakan.

Mohon ampunan (istighfar) itu sendiri merupakan upaya pencarian sitr. Dan ampunan (maghfirah) adalah sitr. Seakan-akan ia mengabarkan, bahwa ia mecari str pada hatinya ketika didatangi keperkasaan hakikat. Sebab bagi makhluk, tidak sedikit pun ada keabadian di sisi Wujdu Al-Haq. Dalam hadis disebutkan : “Apabila dibuka Wajah-Nya, pastilah kesucian Wajah-Nya (Cahaya-Nya) membakar apa yang dilihat oleh pandangannya.” (Hr. Muslim).

14.

MUHADHARAH, MUKASYAFAH DAN MUSYAHADAH

Edit : Pujo Prayitno

Muhadharah, berarti kehadiran kalbu, stelah itu baru Mukhasyafah, yakni kehdiran kalbu dengan sifat nyatanya, lalu Musyahadah, yaitu hadirnya Al-Haq tanpa dibayangkan. Apabila langit rahasia (sirr) telah bersih dari mega sitr, maka matahari penyaksian tepancar dari bintang kemuliaan.

Kebenaran musyahadah, seperti diungkapkan oleh al-Junayd r.a. “Wujdu Al-Haq menyertai kesirnaanmu. Orang yang bertahap Muhadharah selalu terikat dengan ayat-ayat-Nya. Dan orang yang mukasyafah terhampar oleh Sifat-sifat-Nya, sedangkan orang yang musyahadah ditemukan Dzat-Nya. Orang yang Muhadharah ditunjukkan akalnya. Orang yang mukasyafah didekatkan ilmunya. Dan orang yang musysahadah dihapuskan oleh ma’rifatnya.”

Tidak ada tambahan lagi dalam penjelasan musyahadah lebih dari apa yang dikatakan oleh Amr bin Utsman al-Makky r.a. Arti dari yang diucapkan, bahwa cahaya-cahaya yang melingkupi kalbunya, tanpa adanya tutup dan faktor yang memutus di celahnya. Sebagaimana perkiraan dalam kiltan yang bersambung. Seperti malam yang gelap dilampaui cahaya, dan cahaya itu tidak terputus, maka jadilah cahaya siang. Begitupun kalbu, apabila keabadian Tajalli tampak terus menerus, akan menjadi siang yang nikmat, tiada malam samak sekali.

Dalam syair yang mereka lantunkan :

Malamku, dengan Wajah-Mu terang benderang

Dan kegelapannya merambah manusia

Manusia berada dalam kegulitaan,

Sedang kami ada di cahaya benderang siang

An-Nury berkata : “Seorang hamba tidak sah ber-musyahadah, sepanjang masih hidup. “Apabila subuh telah terbit, tak perlu lagi lampu.”

DaKetika terang subuh tiba,

Beredarlah cahayanya, dengan cahayanya

Cahaya-cahaya gemerlap bintang

Cahayatertelan gelas,

Jika saja tersimpan bara karena menelannya

Terbanglah secepat-cepatnya

Gelas piala, dan gelas piala manakah yang menghancurkan dan menyirnakan, menghanguskan mereka dari diri mereka sendiri, sementara tak satu pun gelas piala yang mengabadikan dan memercikan mereka. Gelas yang menghapus mereka secara menyeluruh dan tiada menyisakan tulang belulang dari pengaruh-pengaruh sifat-sifat kemanusiaan. Sebagaimana diucapkan : Mereka berjalan, namun tidak tetap, tidak teratur dan tidak ada pengaruh.

15.

LAWAIH, LAWAMI’ DAN THAWALI’

Edit : Pujo Prayitno

Kata-kata tersebut makananya saling berdekatan, nyaris tidak ada perbedaan besar. Kata tersebut merupakan sifat-sifat dari orang yang sedang dalam tahap permulaan (bidayat). Mereka yang sedang menaiki tahap dalam kalbu. Sehingga cahaya matahari ma’rifat tidak menetap abadi dalam diri mereka. Namun Allah swt. mendatangkan rezeki kalbunya dalam setiap saat.

Sebagaimana Allah swt. berfirman :

“Bagi mereka rezeki mereka di dalam surga, pagi dan petang.” (Qs. Maryam : 62).

Apabila langit kalbu dipenuhi mega dunia, terbayanglah kilatan kasyaf bagi mereka, dan tampaklah kilatan taqarrub. Mereka dalam zaman yang menutup mereka, sedang mereka mengintai ekjutan kilatan itu. Mereka seperti digambarkan dalam syair :

Wahai kilatan yang cemerlang

Dari sayap-sayap lagnit yang benderang

Lawaih sebagai tahap pertama, disusul Lawami’, kemudian Thawali’. Lawaih seperti kilatan cahaya, tidak akan tampak sehingga cahayanya tertutup. Dalam syair dikatakan :

Kami berpisah setahun

Ketika kami bertemu

Seakan salamnya padaku

Salam selamat tinggal

Mereka berkata :

Wahai orang yang berjalan,

Dan bukan pezarah sebenarnya

Seakan ia terkena api

Lewat di depan pintu rumah tergesa-gesa

Padahal tak ada bencana

Jika ia memasukinya

Sedangkan Lawami’ lebih jelas daripada Lawaih. Hilangnya cahaya tidak secepat itu. Lawami’ disinari cahaya beberapa waktu. Namun seperti ucapan syair : Dan mata menangis, tak puas-puasnya memandang.

Dalam syair mereka berkata pula :

Tak sampai air wajahnya di mata

Kecuali telah penuh

Sebelum puasnya mendekat

Bila telah tampak cahayanya, ia memutus dirimu dan mengumpulkanmu dengan cahaya itu. Tetapi cahaya siangnya tidak berlalu sampai pasukan-pasukan malam menyerang. Mereka beada di antara pasukan Ruh dan Nuh. Karena mereka berada di antara Kasyaf dan Sitr. Mereka bersyair :

Sedang malam mengandung kita

Dengan dinginnya yang mencekam

Sementara subuh, menyingkap selimut kita.

Thawali’ lebih lama dan abadi waktunya, lebih kuat dominasinya dan lebih abadi ketetapannya. Thawali’ mampu menghapus kegelapan dan menyirnakan keraguan. Tetapi tetap berada dalam bisikan yang lenyap. Tidak terlalu tinggi, tidak pula berdiam abadi. Waktu-waktu memperolehnya dengan perjalanan yang cepat dan ihwal lenyapnya berbuntut panjang.

Makna-makna dari Lawaih, Lawami’ dan Thawali’ tersebut berbeda-benda disiplinnya. Antara laian, ketika kehilangan jejak, tidak sedikitpun memberkas. Sepeti kilatan-kilatan, ketika lenyap, seakan-akan malam panjang nan abadi yang ada. Ada pula yang meninggalkan bekas, apabila hllang angkanya, yang ada tinggal dukanya. Apabila cahaya-cahayanya asing, yang tetap beks-bekasnya. Orang akan berada di tahap tersebut setelah menghuni luapannya, hidup dalam sorotan berkatnya. Lanatas pada hamparan ke dua kalinya, ia berharap dengan waktunya untuk menunggu kembalinya cahaya itu, dan ia hidup dengan sesuatu yang ditemui, pada saat adanya itu.

16.

BUWADAH DAN HUJUM

Edit : Pujo Prayitno

Buwadah adalah sesuatu yagn seketika datang mengejutkan kalbu Anda dari dimensi ghaib, terkadang gkarena adanya faktor kesukacitaan atau kedukacitaan. Sedangkan Hujum, sesuatu yang adatang pada hati dengan kekuatan waktu tanpa rekayasa dari diri Anda.

Berbagai ragam bentuknya berbeda sesuai dengan kekuatan dan kelemahan sesuatu yang tiba. Di antaranya ada orang yang diubah oleh Buwadah, namun pada kesempatan berikutnya diaplikasikan oleh Hujum. Dan diantaranya ada yang berada di atas apa yang mengejutkannya, baiks ecara potensi maupun aktual. Mereka adalah kaum yang dipenuhi kebajikan dan kemuliaan. Sebagaimana dikatakan :

Jangan kau membuat petunjuk

Pengganti zaman kepada mereka

Bagi mereka ada kendali

Pada setiap Khitab yang agung

17.

TALWIN DAN TAMKIN

Edit : Pujo Prayitno

Talwin merupakan sifat orang-orang yang memliki tingkah laku tahapan. Tamkin adalah sifat ahli hakikat. Seorang hamba yang masih berjalan sepanjang jalan menuju Allah, maka dialah pemilik talwin. Sebab, dalam perjalanannya masih menjumpai tahap demi tahap, berpindah dari satu predikat ke predikat lain, keluar dari terminal ke persimpangan jalan. Tetapi jika telah sampai, mereka akan mencapai ketenangan (tamakkun).

Senantiasa rasa cintamu tiba ingin di suatu tempat

Bimbangkan jiwa, di mana tempat menetap

Orang yang berada di tahap talwin selalu mendapat tambahan. Sedangkan pada tahap tamkin, berarti telah sampai (wushul) kemudian sambung (ittishal). Tanda sampai itu : Ia, dengan keseluruhan dari keseluruhan.

Salah seorang syeikh berkata : “Berakhirlah penggembaraan para pencari menuju kemenangan dalam jiwanya. Apabila telah sampai kemenangan dalam jiwanya, berarti mereka telah samapi.”

Mereka berharap demikian, sebagai pengunduran hukum-hukum kemanusiaan dan termanifestasi oleh kerajaan hakikat. Manakala hamba menetap abadi dalam kondisi itu, dialah pemilik tamkin itu.

Syeikh Abu ali-ad-Daqqaq r.a. berkata : “Musa a.s. adalah pemilik mawam talwin, kemudian kembali dari mendengarkan Kalam, dan berharap untuk menutup wajahnya. Sehingga ada pengaruh bagi tingkah laku. Sedangkan Nabi kita Muhammad saw. adalah pemilik tahap tamkin, kemudian kembali sebagaimana ia pergi. Sebb, apa yang disaksikan pada malam itu, tidak berpengaruh. Kisah demikian juga dimetaforakan pada kisah wanita-wanita yang melihat Yusuf as. Ketika mereka secara bersamaan memotong jemari tangannya, saat melihat raut muka Yusuf as. Dengan tampang yang menghanyutkan dan mengejutkan. Sementara isteri Raja Aziz, jiwanya lebih sempurna ketimbang mereka dalam mengekang tragedi tersebut. Kemudian sejak hati itu ia tidak berubah, karena ia telah memiliki ketenangan (tamkin) dalam peristiwa Yusuf as.

Ketahuilah, bahwa perubahan hati dalam diri hamba karena satu dari dua persoalan : Kalau tidak karena adanya kekuatan yang tiba, atau justru karena kelemahan dirinya. Sedangkan ketenangan atau kediaman dari hamba juga karena dua hla : Karena kekuatan atau karea kelemahan sesuatu yang tiba itu.

Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad.-Daqqaq r.a. berkata : “Prinsip kaum Sufi dalam memperbolehkan kelangsungan tamkin, terpaku pad dua hal. Pertama, tidak ada jalan lain kepadanya, sebagaimana sabda Rasul saw. dalam Hadits Qudsi :

“Apabila kamu mengabdi sebagaimana adanya kamu dalam kebakaan itu di sisi-Ku, niscaya para Malaikat akan menjabat tangan kamu.” (H.r. Handzalah bin ar-Rabi’al Usaidi, dan ditakhrij oleh Imam Muslim serta Tirmidzi).

Sabdanya pula :

“Aku punya waktu (khusus) yang tidak dapat leluasa di dalamnya kecuali Tuhanku.” (H.r. Tirmidzi).

Kedua, sah berada dalam kondisi kelanggengan, mengingta ahli hakikat melakukan tahapan dari sifat yang mempengaruhi melalui berbagai jalan. Sementara kalimat dalam hadits di atas, “ … Niscaya para malaikat akan menjabat tangan kamu.” Sama sekali bukan hal yang mustahil. Jabat tangan dari Malaikat tidak apda kalangan pemula, mendasarkan pada Hadits Nabi saw. “Sesungguhnya Malaikat meletakkan sayapnya pada pencari ilmu, sebagai rasa ridha terhadap apa yang dilakukan.” (H.r. Tirmidzi, an-Nasa’i Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Daraquthny dan Baihaqi).

Sedangkan sabdanya : “Aku punya waktu (khusus).” Dikondisikan menurut persepsi pendengar. Namun dalam seluruh tingkah laku Nabi saw. senantiasa berdiri di atas hakikat.

Yang pertama, bisa dikatakan : Seorang hamba, sepanjang masih menaiki tahapan-tahapan, ia disebut pemilik talwin. IA sah-sah saja bila predikatnya bertambah dan berkurang. Apabila telah sampai pada Yang Haq dengan meninggalkan hukum-hukum kemanusiaan, Allah mendudukkannya dengan cara tidak dikembalikan pada penyakit-penyakit nafsu, maka ia disebut Mutamakkin dalam haliyah (Perilaku ruhani)-nya menurut proporsi dan haknya. Kemudain Allah swt. mendudukkannya pada setiap jiwa, dan tidak ada batas bagi kekuasaan-Nya. Karenanya, jika hamba senantiasa dalam tahap yang bertambah ia selalu talwin, dan dalam prinsip haliyah-nya ia tamkin. Selamanya ia menempati tahapnya lebih tinggi lagi dari sebelumnya, bahkan lebih tinggi lagi. Karena tiada lagi pangkal bagi kekuasaan-Nya pada jenis manapun. Sedangkan orang yang merasuk dalam musyahadahnya, dan secara universal relevan dengan rasanya, maka tiada batas tempat bagi kemanusiaan. Karena itu, batallah keseluruhan, diri dan rasanya. Begitu juga berkaitan dengan jagad raya seisinya, jika kegaiban ini abadi padanya, ia tersinarkan (mahw). Dan karena itu, tidak ada tahap talwin maupun tamkin, tidak ada maqam ataupun haal. Sepanjang ia berada pada predikat tersebut, ia tak terbebani tugas (takliff) ataupun pemuliaan. Sungguh, kecuali jika ia dikembalikan menurut kondisi di luar itu semua, maka ia berada dalam situasi dimana dugaan-dugaan makhluk berlaku, terpalingkan dari posisi tahqiq.

Alalh swt. berfirman :

“Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka itu tidur dan Kami balik-balikan mereka ke kanan dan ke kiri.” (Qs. Al-Kahfi:18).

18.

QURB DAN BU’D

Edit : Pujo Prayitno

Awal tahap dalam taqarrub atau al-qurb (kedekatan) adalah kedekatan hamba dalam taatnya dan disiplin waktu melalui ibadat-ibadatnya. Sedangkan tahap al-bu’d (penjauhan) adalah pengotoran diri dengan menentang dan menghampakan diri terhadap taat kepada Allah swt. Awal dari bu’d adalah jauh dari taufiq, kemudian jauh dari pembenaran (tahqiq). Bahkan jauh dari taufiq adalah jauh dari tahqiq itu sendiri.

Dalam Hadits Qudsi dijelaskan, Nabi.s aw. Mengabarkan dari Allah swt.

“Para hamba senantiasa bertaqarrub kepada-Ku, sebagaimana aturan yang Aku wajibkan kepada mereka. Dan seorang hamba senantiasa bertaqarrub kepada-Ku melalui ibadat-ibadat sunnah, sampai si hamba menyintai-Ku dan Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, Diri-ku sebagai pendengaran dan penglihatan baginya. Maka dengan-Ku ia melihat, dan dengan-Ku ia mendengar.” (H.r. Bukhari dan Tirmidzi).

Kedekatan hamba pada Tuhannya, mula-mula dengan iman dan pembenarannya. Kemudain kedekatannya melalui ihsan dan hakikatnya. Sedang kedekatan Al-Haq saat di dunia ini didapati melalui kema’rifatan. Kelak di akhirat, hamaba dimuiakan untuk menyaksikan-Nya secara nyata. Di antara masing-masing kedekatan itu, melalui kelembutan dan anugerah.

Kedekatan hamba kepada Allah swt. tidak akan terwujud kecuali kajuhan hamba dari makhluk. Predikat ini ada dalam hati, bukan hukum-hukum fisikal lahriah dan alam.

Kedekatan Allah swt. termanifestasi melalui sifat Ilmu dan Qudrat yag bersifat universal dan umum. Sedangkan melalui Maha Lembut dan Maha Penolong-Nya, sifatnya hanya khusus bagi orang-orang beriman. Kemudian dengan pemberian anugerah “Kesukacitaan ruhani”, kedekatan-Nya tertentu bagi para Wali-Nya. Allah swt. berfirman : “Dan kami lebih dekat kepadanya dibanding urat lehernya.” (Qs. Qaaf : 16) dan firman-Nya pula : “Dan kami lebih dekat kepadanya dibanding diri kamu (sendiri).” (Qs. Al-Waqi’ah : 85). Pada ayat lain : “Dan Dia bersama kamu, di mana pun kamu berada.” (Qs. Al-Hadid : 4) “Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, kecuali Dia-lah yang keempatnya.” (Qs. Al-Mujaadilah : 7). Siapapun yang secara hakiki dekat dengan Allah swt. minimal ia harus muraqabah kepada-Nya. Karena dengan Muraqabah, sang hamba akan senantiasa mawas iri dengan takwa, kemudian mawas diri pada hukum Allah swt. dan kesetiaan, disusul kemawasan tehadap rasa malu. Mereka mendengarkan nada-nada syair :

Seakan si Raqib menjaga getaran hatiku

Yang lain menjaga pandangan dan ucapanku

Tak ada selayang pandang di kedua mataku

Yang memburamkan Diri-Mu

Melainkan engkau katakan

Benar-benar engkau memandang-Ku

Tiada yang cemerlang kata yang meluncur

Dari mulutku selain Diri-Mu

Melainkan Engkau katakan, benar, engkau mendengar

Dengan pendengaran-Ku

Tiada getar hati dalam rahasia

Getran selain Diri-Mu

Melainkan engkau telah naik dengan pertolongan-Ku

Sahabatku telah membosankan ucapannya

Aku membisu dari mereka, pandangan dan lisanku

Bukanlah pelarianku dari dunia

Yang melupakan diriku dari mereka

Hanya saja aku telah tenggelam dalam penyaksianku

Di mana pun jua

Salah seorang syeikh menguji para ssantrinya. Masing-masing santrinya diberi seekor burung. Kata syeikh itu : “Sembelihlah burung ini, namun jangan diketeahui oleh siapa pun !.” Mereka pun pergi ke suatu tempat, dimana tak seorang pun melihatnya, lalu disembelihlah burung itu di tempat yang sepi. Namun ada salah seorang yang datang menghadap kepada syeikh tersebut, dengan membawa burungnya semula, tanpa disembelih. Syeikh itu menanyakan kepada si murid, mengapa hingga ia tidak menyembelih burung tersebut. Ia menjawab, “Engkau memerintahkan diriku untuk menyembelih burung itu, dengan syarat tidak diketahui siapa pun. Tetapi tidak satu pun tempat, kecuali Allah swt. melihatnya.” Syeikh itu berkata, “Dengan ini, kehormatan kuberikan kepada muridku ini. Sebab pada umumnya di antara kalian hanya bertumpu pada makhluk. Sedangkan ia tidak melalaikan Allah swt. Dan memandang kedekatan berarti hijab bagi kedekatan itu sendiri.”

Siapa yang memandang dirinya sebagai tempat berpijak atau bernafas, maka dirinya terkena makar. Karena itu para Sufi berkata “Semoga Allah swt. menjagamu dari kedekatan-Nya.” Yakni, mengisyaratkan atas musyahadah Anda karena dekat-Nya.” Yakni, mengisyaratkan atas musyahadah Anda karena dekat-Nya, apabila Anda menemui-Nya. Hal ini mengingat bahwa anugerah kebahagiaan spiritual yang disebabkan kedekatan-Nya merupakan perlambang keagungan. Karena Allah swt, itu sendiri berada di belakang setiap puncak kebahagiaan. Sedangkan wilayah-wilayah hakikat mengharuskan munculnya kedahsyatan dan keleburan ruhani.

Mereka bersyair :

Cobaanku padamu, bahwa diriku

Tak peduli dengan cobaanku

Dekatmu bagai jauhmu

Kapankah tiba, waktu istirahatku?

Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq r.a. sering menyenandungkan bait-bait ini :

Kinasihmu adalah perpisahan

Cintamu adalah kebencian

Dekatmu adalah jauh

Damaimu adalah perang

Abu Husain an.Nury sebagaian murid Abu Hamzah : “Apakah Anda salah seorang murid Abu Hamzah yang mengisyaraktkan pada al-Qurb? Kalau Anda bertemu dengan belaiu sampaikan, bahwa Abul Husain an-Nury berkirim salam, dan mengatakan kepadanya : “Dekatnya dekat dalam perspektif kamia dalah setelah jauh (al-bu’d). Jika yang dimaksud adalah dekat dengan Dzat, maka, Allah Maha Luhur (jauh) dari segala Kedekatan seperti itu. Karena Allah Maha Suci dari segala batas dan wilayah, pangkal dan ukuran Allah tidak berssentuhan dengan makhluk, begitu juga tidak terpisah dengan sesuatu yang didahului. Sefat keagungan Shamadiyah-Nya jauh dari temu dan pisah. Dekat sebagaimana kedekatan materi, dalah mustahil. Sedangkan dekat di sini adalah keharusan sifat-Nya yaitu dekat melalui Ilmu dan Pandangan. Dekat adalah kewenangan dalam Sifat-Nya, yang dikhususkan kepada hamba yang dikehendaki-Nya, yakni dekat dalam perspektif keutamaan melalui sifat kelembutan.

19.

SYARIAT DAN HAKIKAT

Edit : Pujo Prayitno

Syariat adalah disiplin ubudiyah, sedangkan hakikat adalah musyahadah Ketuhanan. (Musyahadah Ketuhanan (rububiyah) : artinya melihat dengan kalbu. Hal ini terungkap bahwa syariat merupakan sarana mengetahui penempuhan jalan Allah swt. Sedangkan Hakikat adalah kelestarian memandang kepada-Nya. Tharikat adalah menempuh jalan syariat tersebut, yakni mengamallkan aturan-aturannya). Catatan kaki).

Setiat syariat yang tidak dikukuhkan dengan hakikat, tidak bisa diterima. Sebaliknya Hakikat yang tidak dikukuhkan syariat, tidak akan suskes.

Syariat turun dengan tugas-tugas dari Sang Khalik, sementara hakikat merupakan implementasi pelaksanaan kebenaran. Syariat berarti Anda menyembah-Nya, sedangkan Hakikat berarti Anda Menyaksikan-Nya. Syariat berarti bangkit sesuai dengan apa yang diperintahkan, sementara Hakikat adalah menyaksikan apa yang di qadha-kan dan ditakdirkan, apa yang tersembunyi dan apa yang tampak.

Saya mendengar Syeikh Abi Ali ad-Daqqaq berkata : “(Kepada-Mu kami menyembah)” adalah menjaga syariat, dan “(Kepada-Mu kami meohon pertolongan)” adalah ikhtiar dengan hakikat.

Perli diketahui, syariat itu sendiri adalah hakikat, bila dilihat bahwa syariat adalah keharusan melalui perintah-Nya. Begitu pun hakikat adalah syariat, dari segi bahwa ma’rifat kepada-Nya, karena perintah-Nya.

20.

N A F A S

Edit : Pujo Prayitno

Nafas adalah hembusan kalbu melalui kelembutan-kelembutan kegaiban. Orang yang memiliki nafas (ruhani), lebih lembut dan lebih jernih dibading yang memiliki ahwal ruhani. Pemilik waktu adalah pemula, dan pemilik nafas, adalah pangkalnya. Pemilik tingkah kesufian (ahwal) berada di antara keduanya. Orang-orang yang berada pada ttahap awal adalah pemelihara ruh, sedangkan pemilik nafas adalah ahli dalam rahasia-rahasia Ketuhanan.

Para Sufi berkata : “Sebaik-baik ibadat adalah menghitung nafas (hati) bersama Allah swt.”

Mereka juga berkata : “Allah swt. menciptakan kalbu, dan dijadikan kalbu itu sebagai tambang ma’rifat. Allah swt. mencipta rahasia di balik kalbu, dan dijadikan sebagai tempat tauhid. Setiap nafas yang tidak muncul dari bukti-bukti ma’rifat dan setiap isyarat tauhid dalam bentangan kerumitan, adalah mayat, yang pemiliknya akan dimintai pertanggungjawaban.”

Syeikh Abu Ali ad. Daqqaq r.a. berkata : “Bagi orang Arif” nafas tidak berserah kepadanya, karena tidak ada toleransi yang mengalir menyertainya. Sedangkan bagi sang pecinta, nafas adalah keharusan. Kalau tidak ada nafas, pastilah ia akan musnah.”

21.

AL-KHAWATHIR

Edit : Pujo Prayitno

Al-Khawathir (bisikan-bisikan jiwa) adalah bisikan yang menghujam ke dalam rasa; terkadang muncul dari Malaikat, terkadang dari setan, atau sekedar ungkapan nafsu, dan bahkan pula bisikan langsung dari Allah swt. Yang Maha Benar.

Apabil bisikan datang dari malaikat, disebut Ilham. Jika muncul dari hawa nafsu disebut Hawajis. Dan bila datang dari setan disebut Haswas. Sedangkan bisikan jiwa yang langsung dari Allah swr. Disebut Bisikan Kebenaran (Khathir Haq).

Indikasi secara keseluruhan, apabila bisikan datang dari para malaikat, bisa diketahui kebenarannya bila bisikan itu sesuai dengan ilmu pengetahuan. Karena itu, para Ulama Sufi berkata : “Setiap bisikan yang tidak bisa disaksikan kebenarannya secara lahir, adalah bisikan batil.” Apabila bisikan itu datang dari setan, rata-rata mengandung pada kemaksiatan. Begitupun yang datang dari nafsu, lebih cenderung mengajak pada sikap menurut syahwat, atau rasa takabur.

Para syeikh Sufi bersepakat, bahwa orang yang terlalu banyak makan makanan haram, tidak akan bisa membedakan mana bisikan yang bersifat ilham dan mana yang waswas.

Saya mendengar Syeikh Abu ali ad-Daqqaq berkata : “Siapa yang makanan utamanya diketahui (keharamannya), ia tidak akan bisa membedakan antara ilham dan waswas. Sementara orang yang menghindari hasrat nafsunya, dengan cara mujahadah yang benar, kejelasan ucapan batinnya akan tampak melalui perlawanan terhadap nasunya.”

Para syeikh sepakat, bahwa nafsu itu tidak bisa dibenarkan. Sedangkan kalbu tidak bisa ditipu. Apabila Anda mujahadah semaksimal mungkin, agar ruh membisikan kepada Anda, pastilah ruh tidak akan membisikan sesuatu kepada Anda.

An-Junayd membedakan antara bisikan nafsu dan bisikan setan : bahwa naffsu itu, apabila menuntut Anda terhadap suatu perkara, ia akan menempel, dan akan kembali lagi walaupun berlalu dalam jarak waktu, sampai bisikan nafsu itu benar-benar meraih kemauannya dan mencapai tujuannya. Kecuali bagi orang-orang yang mujahadahnya benar, maka bisikan itu tidak akan kembali. Kemudian nafsu itu selalu memusuhi Anda. Sementara setan, ketika menjerumuskan Anda melalui godaannya, kemudian Anda menentangnya, maka setan akan kembali mempengaruhi Anda dengan godaan lainnya. Sebab, secara keseluruhan, sikap kontra adalah sama. Yang penting bagi setan, Anda bisa mengikuti ajakannya yang menjerumuskan. Dan baginya, tidak ada peringatan dalam penjerumusan itu.

Dikatakan : “Setiap bisikan yang datang dari para malaikat, kadang-kadang cocok di hati si penerima bisikan, terkadang juga tidak. Namun apabila bisikan langsung dari Allah swt. sama sekali si hamba tidak menetang-Nya.”

Para Syeikh memperbincangkan soal bisikan berikutny. “Apabila bisikan dari Allah swt. apakah bisikannya alebih kuat dibanding bisikan pertama.” Al-Junayd berkata : “Bisikan pertama lebih kuat, sebab, apabila bisikan itu masih ada, orang yang mendapat bisikan kembali pada refleksinya, dan dalam kaitan ini, perlu persyaratan ilmu pengetahuan. Meninggalkan bisikan pertama berarti melemahkan bisikan kedua.”

22.

ILMUL YAQIN, ‘AINUL YAQIN DAN HAQQUL YAQIN

Edit : Pujo Prayitno

Ungkapan di atas merupakan wacana ilmu yang sudah jelas.

Yaqin adalah ilmu yang tidak merasuki seseorang yang menyebabkan keraguan sepenuhnya. Al-Yaqin tidak diucapkan dalam sifat Allah swt. karena memang tidak relevan. Sedangkan Ilmu Yaqin adalah Yaqin itu sendiri. Termasuk katagori Yaqin adalah ‘Ainul Yaqin dan Haqqul Yaqin.

Ilmu Yaqin menurut disiplin terminologi ulama, adalah sesuatu yang ada dengan syarat adanya bukti. Sedangkan ‘Ainul Yaqin, sesuatu yang ada dengan disertai kejelasan. Haqqul Yaqin, adalah sesuatu yang ada dengan sifat-sifat yang menyertai kenyataan.

Ilmu Yaqin, diperuntukkan bagi mereka yang cenderung rasional, ‘Ainul Yaqin, diperuntukan bagi para ilmuwan. Sedangkan Haqqul Yaqin, hanya bagi orang-orang yang ma’rifat.

23.

W A R I D

Edit : Pujo Prayitno

Al-Warid (bisikan terpuji) adalah bisikan dalam hati, berupa bisikan terpuji, tanpa diduga oleh seorang hamba. Tergolong kategori ini, adalah hal-hal yang tidak termasuk sisi dari bisikan (khawathir).

Warid kadang-kaang datang dari Allah swt. dan terkadang juga dari intuisi pengetahuan. Bisikan-bisikan terpuji (al-waridaat) ini lebih umum dibnding al-khawathir. Sebab bisikan khawathir, hanya khusus bagi macam perintah, atau yang se-arti dengannya. Sementara warid, lebih sebagai bisikan kegembiraan, atau kesedihan, genggaman dan keleluasaan Ilahi, dan sejenisnya.

24.

SYAAHID

Edit : Pujo Prayitno

Kebaynyakan yang berlaku dalam ucapan ulama, bahwa kata asy-Syaahid itu semakna dengan ucapan kita : Si Fulan menyaksikan ilmu (yusyaahid al-ilm); Si Fulan menyaksikan ekstase (yusyaahid –al-wujd) dan si Fulan menyaksikan keadaan-keadaan ruhani (yushaahid al-haal).

Mereka mengartikan kata Syaahid adalah sesuatu yang hadir dalam hati manusia. Sesuatu yang pada umumnya teringat, seakan-akan ia melihat dan memandangnya, walaupun obyek tidak ada di hadapannya. Setiap yang dominan dalam hatinya, berarti ia menyaksikannya. Bila yang dominan adalah ilmu, maka ia menyaksikan ilmu. Begitu juga bila yang dominan adalah ekstase, berarti ia menyaksikan al-wujd.

Arti asy=Syaahid adalah yang hadir (al-haadhir). Jadi setiap yang hadir dalam hati Anda berarti yang menjadi bukti Anda.

Asy-Syibly ditanya tentang musyahadah. Katanya, “Dari mana kita mendapatkan musyahadah al-Haq? Padahal Allah Yang Maha Haq menyaksikan kita.” Beliau mengisyaratkan, dengan kata, “Allah swt. yang menyaksikan.” Dengan menggunakan faktor dominan dalam hatinya. Dan yang dominan pada dirinya adalah dzikir kepada Allah swt. Sedangkan yang hadir dalam hati senantiasa juga dzikir kepada Allah swt. Siapa pun yang memperoleh sesuatu dari sesama makhluk, maka hatinya akan berkait. Dikatakan, “Ia menjadi saksinya.” Artinya, hatinya hadir. Rasa cinta mendorong seseorang untuk selalu ingat kepada sang kekasih dan mengutamakan kekasihnya dibanding dirinya.

Sebagian Sufi sangat jeli dalam mencari akar kata asy-Syaahid ini.

Disebutkan demikian karena bermula dari asy-Syaahid. Seakan-akan jika melihat sosok dengan sifat-sifat keindahannya – apabila sifat manusiawinya gugur dari dirinya, dan tidak disibukkan oleh penyaksian pada keadaan sosok tokoh, dan tidak pula ada pengaruh persahabatan di dalamnya dalam satu sisi – maka ia disebut saks “bagi”” sosok tersebut karena ke-fana’an dirinya. Tetapi bila ada pengaruh di dalam menyertai sosok tersebut, ia disebut sebagai saksi “atas” ssosok itu, sedangkan dirinya masih ada, dan masih menegakkan hukum naluri manusia, baik sebagai saksi bagi sosok atau saksi atas sosok di atas. Dalam kontens inilah relevan dengan sabda Nabi saw. “Aku melihat Tuhanku pada malam Mi’raj, dalam rupa yang paling bagus. Yakni rupa paling bagus yang kulihat malam itu. Sama sekali tidak menyakitkan diriku untuk melihat-Nya. Bahkan aku melihat Perupa dalam rupa, dan Kreator dalam kreasi.” (H.r. Thabrani, riwayat dari Ubaidullah bin Au Rafi’ dan ayahnya dan dari Ibnu Abbas. Demikian pula riwayat dari Ummu Thufail dari Mu’adz bin ‘Afra’).

Yang dimaksud hadis tersebut adalah penglihatan ilmu, bukan penglihatan mata.

25.

NAFSU

Edit : Pujo Prayitno

Nafsu syai’ dalam bahasa Arab adalah wujud sesuatu (jati diri). Sedangkan menurut kauf Sufi, “Ucapan kata nafs bukan dimaksudkan sebagai wujud, acuan masalah.” Yang mereka maksudkan dangan nafs adalah sesuatu yang tercela dalam sifat-sifat hamba, akhlak dan perbuatannya.

Perilaku tercela dari sifat-sifat hamba tebagi menjadi dua : Pertama, bersifat upaya dari hamba, seperti perbuatan maksiat dan pengingkaran terhadap perintah dan larangan. Kedua, budi pekertinya yang buruk dalam dirinya yang tercela. Maka terapi dan penyembuhannya pada diri hamba adalah berjuang melawan kehinaan perilaku tersebut yang telah menjadi kebiasaan sehari-hari.

Pada sifat yang pertama, termasuk hukum-hukum nafsu adalah hal-hal yang dilarang setara dengan keharaman atau larangan yang besifat dibenci. Sedangkan pada sifat kedua, berupa keburukan dan kehinaan akhlak. Inilah batasan globalnya. Kemudian rinciannya, seperti takabur, amarah, dendam, dengki, buruk akhlak, sedikit bersyukur, dan yang lainnya. Yang tergolong akhlak tercela.

Hukum nafsu terburuk adalah berupa khayalan bahwa sesuatu perbuatan yang muncul dari nafsu dianggap baik. Atau perbuatan nafsu itu sebagai bagian takdir. Karena itulah perbuatan nafsu seperti itu tergolong syirik khafy atau syirik yang samar. Karena itu, terapi akhlak dalam menyingkirkan nafsu lebih penting daripada berlapar-lapar, haus atau berjaga (tanpa tidur) dan sebagainya yang mengandung unsur penyusutan kekuatan fisik. Walaupun cara seperti itu juga termasuk meninggalkan kesenangan nafsu.

Nafsu itu sendir merupakan nuansa lembut yang ada dalam hati, sebagai tempat akhlak yang tercela. Sebagaimana ruh yang merupakan nuansa lembut dalam hati, namun sebagai tempat akhlak terpuji. Dalam gambaran yang umum, masing-masing saling meundukkan. Semuanya, merupakan bagian dari kesatuan manusia. Eksistensi ruh dan nafsu tergolong wadag lembut dalam rupa, sebagaimana eksistensi malaikat dan setan, dengan sifat-sifat kelembutan.

Seperti benarnya mata sebagai tempat memnadang, telinga sebagai tempat mendengar, hidung sebagai tempat penciuman, mulut sebagai tempat rasa, maka, begitu pun orang yang mendengar, yang melihat, yang mencium dan yang merasakan, semuanya termasuk dalam bagan manusia. Demikian pula, tempat sifat-sifat yang terpuji, tempatnya adalah hati dan ruh. Sedangkan sifat-sifat tercela tempatnya adalah nafsu. Nafsu sendiri sebagai bagian dari keseluruhan tersebut, begitu pula hati, hukum dan nama, kembali pada keseluruhan kesatuan sosok manusia.

26.

R U H

Edit : Pujo Prayitno

Ahli hakikat dari kalangan Ahli Sunnah berbeda pandangan soal Ruh. Ada yang berpendapat, ruh adalah kehidupan. Yaing lain berpandangan, ruh adalah kenyataan yang ada dalam hati, yang bernuansa lembut. Allah swt. menjalankan kebiasaan makhluk dengan mencipta kehidupan dalam hati, sepanjang arwahnya menempel di badan.

Manusia hidup dengan sifat kehidupan. Tetapi arwah selalu tercetak di dalam hati, dan bisa naik ketika tidur dan berpisah dangan badan, kemudain kembali kepada-Nya.

Manusia terdiri dari ruh dan jasad. Karenanya Allah swt. menundukkan keduanya secara keseluruhan, baik ketika di Mahsyar, diberi pahala maupun disiksa. Ruh adalah makhluk.

Bagi sementara pihak yang berkata bahwa ruh adalah qadim, merupakan kekeliruan besar. Beberpa hadis mengindikasikan bahwa ruh adalah materi yang lembut.

27.

S I I R

Edit : Pujo Prayitno

Sirr juga temasuk nuansa halus dalam hati manusia, sebgaimana arwah. Akarnya menunjukkan bahwa sirr adalah temepat musahadah, sebagaimana arwah temWApat mahabbah. Sedangkan kalbu tempat ma’rifat.

Para Sufi berkata L “Sirr adalah sessuatu yang membuat Anda mulia. Sedangkan rahasia sirr, adalah sesuatu yang tidak bisa terungkap selain Allah Yang Haq.”

Dari kesimpulan para kaum Sufi, kita memandang bahwa sirr lebih lembut dibanding ruh. Dan ruh lebih mulia dibanding kalbu.

Mereka berkata : “Sirr selalu merdeka dari belenggu tipudaya, baik dari pengaruh dunia maupun kesenangan.”

Kata sirr diucapkan bagi segala hal yang terjaga dan termasuk antara hamba dengan Allah swt. dalam ihwal ruhani. Dalam hal ini, ucapan seseorang yang mengatakan, “Rahasia-rahasia kami adalah keperawwanan yang masih suci. Sedang mereka ragu,” masuk kategori ucapan sirr.

Mereka mengatakan : “Hati orang-orang merdeka, selalu menerima rahasia-rahasia jiwa (asraar).

Terima kasih atas kunjungannya untuk membaca artikel ini semoga anda di berikan kemudahan dan kelancaran dalam berurusan.
uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi dari anak jakarta timur klender

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi dari coretan kata bocah jakarta timur klender pulo gadung indonesia

  •    Sumurnya
  • * Upload di akun servimg.com
  •    Artikel dari mesin pencari kata/ Search engine

HAKIKAT TERSEMBUNYI DARI AL-FATIHAH


HAKIKAT MEMBACA AL-FATIHAH YANG BENAR
uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - HAKIKAT TERSEMBUNYI DARI AL-FATIHAH
Gambar Surat Al-Fatihah
Dalam membaca Fatihah dengan kiraat (lagu) adalah wajib bagi laki-laki, sedangkan bagi wanita tidak wajib, melainkan hanya bacaan idharnya saja yang wajib. Dalam membaca Surat Al-Fatihah harus tahu bahwa ada 7 (tujuh) hal yang merupakan wajib. Jika tidak diketahui semuanya akibatnya mengundang Iblis. Tempatnya ada di talak kalimat. Yakni ada pada 7 ( ) = Mimpitu
  1. BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM
  2. ALHAMDU ( ) LILLAAHI ( ) RABBIL ‘AALAMIIN
Artinya : Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian Alam.
Keterangan :
Huruf () diatas artinya ‘mesti berhenti
Mula-mula kalimat Al-Hamdu harus berhenti cara membacanya. Jika diteruskan bacaannya menjadi (Al-hamdulil ) mengundang Syetan Dulil. Pada kalimat Lillahi kemudian berhenti, jika diteruskan membacanya menjadi (Lillahirab) yang menunggu adalah Syetan Irab. Yang menjadi Rabbil aalamin.
  1. AR RAHMAANIR RAHIIM
Artinya : Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang
  1. MAALIKI ( ) YAUMID DIIN
Artinya : Raja atau yang menguasai dihari pembalasan. Bagi mukmin pria dan wanita wajiblah memuji Tuhan
Keterangan :
Huruf () diatas artinya ‘mesti berhenti
Pada kalimat Maaliki kemudian berhenti, jika diteruskan menjadi ( Malikiyau ), yang menunggu adalah Syetan Kiyau yang masuk Middiin.
  1. IYYAAKA ( ) NA’BUDU WA IYYAAKA ( ) NASTA’IIN
Artinya : hamba menyembah Allah, hamba takut kepada Allah. Kepada Allah-lah kami minta pertolongan, semoga Allah memberikan kekuatan agama hamba dari agama yang lain
Keterangan :
Huruf () diatas artinya ‘mesti berhenti
Pada kalimat Iyyaaka harus berhenti, jika diteruskan akan menjadi ( Iyyaakanak ), yang menunggu adalah Syetan Kanak pada Na’budu wa. Pada kalimat Iyyaaka yang kedua harus berhenti membacanya, jika diteruskan akan menjadi ( Iyyaakanas ) yang menunggu adalah Syetan Kanas yang menunggui Nasta’iin.
  1. IHDINASH SHIRAATHAL MUSTAQIIM
Artinya : (Ihdinash shiraathal) Semoga Allah menunjukan jalan akan iman dan ilmu. (Mustakim) yaitu iman serta ilmu yang benar
  1. SHIRAATHAL LADZIINA AN’AMTA ( ) ’ALAIHIM GHAIRIL MAGHDLUUBI’ ( ) ALAIHIM WA LADL DLAALLIIN.
Artinya : ( Shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim ), Semoga Allah menunjukan iman para Nabi, kasihanilah enggkau kepada kami selaku hambaMu, tunjukanlah kami jalannya para Nabi. ( Ghairil maghdluubi ), Semoga dijauhkan dari pikiran yang lain, seperti orang kafir yahudi yang mendapat murka, yang memusuhi Nabi Musa. Kafir yahudi tidak percaya Kitab Taurat. Orang yang tidak percaya kepada kitab berrarti kafir. Ada 104 kitab. (‘Alaihim waladldlaalliin ), yang diberi kemuliaan, berbeda dengan semua yang tersesat, menyambut Nabi Isa. Tidak percaya kepada kitab Injil, Nasrani itu kafir, kafir terhadap semua kitab. Siapa yang tidak percaya kepada salah satu Nabi berarti tidak percaya kepada semua Nabi. Kewajiban semua mukmin adalah menyembah Allah. Semoga Allah Yang Maha Agung mengampuni segala dosa.
Keterangan :
Huruf () diatas artinya ‘mesti berhenti
Pada kalimat Shiraathal ladziina an’amta harus berhenti, jika pembacaannya diteruskan akan menjadi ( Shiraathal ladziina an’amta-nga ), yang menunggu adalah Syetan Tanga yang masuk ‘Alaihim. Pada kalimat Ghairil maghdluubi pembacaannya harus berhenti, jika diteruskan akan menjadi (Ghairil maghdluubi-nga), yang menunggu adalah Syetan Binga yang ada pada Alaihim Waladldlaalliin.
Sudah lengkap 7 (tujuh) ayat dengan Bismillahnya. Ketahuilah panjang pendeknya tasjid ada 14 aksara. Yang dibaca panjang ada 17, Lam dengan Alip ada 3, banyaknya Jabar dalam Fatihah ada 46, Ejer/Jeer ada 29, Epes/pees ada 6 saja. Itulah yang wajib sempurna dalam bacaan Fatihah.
Ingatlah jika mulia salatmu maka akan mulia pula di hari kemudian. Kewajiban semua mukmin, membaca Al-Fatihah kepada Allah sehari semalam paling tidak 17 kali. Rukuk dan tumaninahnya juga 17 kali, iktidal 17 kali. Sujud sehari semalam 34 kali. Di sela-sela sujud ada duduk 17 kali sehari semalam. Tahiat sehari semalam 9 kali, salam sehari semalam 5 kali. Adapun Fardhu shalat sehari semalam 244 kali. Subuh 32, Dhuhur 56, Asar 56, Maghrib 44, Isya 56 kali. Lain dari itu mukmin menghaturkan pujian kepada Allah, siang malam, tahiyat akhir 5 kali, duduk membaca 2 kalimah syahadat dan salam 5 kali, salawat pada nabi 5 kali. Mohon selamat dunia akhirat
ISYARAT HURUF PADA AL-FATIHAH
Sebuah hadist Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari Ubay bin Ka’ab r.a. :
“Tidak pernah Allah menurunkan didalam Taurat dan Injil seperti Umul Qur’an (Al-Fatihah)”.
Banyak sekali hadist-hadist Rasululloh SAW yang menunjukan keistimewaan Al-Fatihah. Penempatannya sebagai bacaan wajib dalam sholat dan dibaca sekurang-kurangnya 17 kali dalam sehari semalam (17 raka’at jumlahnya dalam lima waktu shalat) membuktikan betapa besarnya keistimewaan surat tersebut.
Tujuh ayat Surah Al-Fatihah dihitung dari Bismillahirrahmanirrahim sampai dengan Waladl-dlollin dengan jumlah huruf :
Ayat 1 jumlah ada 19 huruf
Ayat 2 jumlah ada 18 huruf
Ayat 3 jumlah ada 13 huruf
Ayat 4 jumlah ada 12 huruf
Ayat 5 jumlah ada 19 huruf
Ayat 6 jumlah ada 19 huruf
Ayat 7 jumlah ada 44 huruf
Jumlah seluruhnya ada 144 huruf ( 1+4 = 5, 5+4 = 9 ) Jadi jumlah huruf yang sebenarnya pada Al-Fatihah adalah 9 (sembilan)
Adapun keunikan Surat Al-Fatihah terdapat pada akhir ayat :
4 (empat) huruf NUN (ayat no. 2,4,5,7) dan 3 (tiga) huruf MIM (ayat no. 1,3,6).
Huruf-huruf MIM dan NUN juga terdapat pada Surah Ya-Sin, yang dalam salah satu hadist, surah ini dinamakan “Qalbulul Qur’an” (Jantungnya Al-Qur’an).
Huruf NUN mengisyaratkan Asmaullah (Nama Allah) ( ﻧﻮﺮ ), sedangkan huruf MIM mengisyaratkan Asma Muhamad (ﻤﺤﻤﺪ ).
4 (empat) NUN isyarat Asma Allah yang Qodim, identik dengan 4 (empat) kata dalam Kalimah Syahadah isyarat Hak Allah Ta’ala Yang Qodim.
3 (tiga) MIM isyarat Asma Rasul Muhammad yang Muhaddas (baharu) identik dengan 3 kata dalam Kalimah Syahadah isyarat Hak Rasul / Muhaddas.
Huruf Al-Fatihah adalah Wujud dari Sholat 5 Waktu
Diambil dari Kata “Al-hamdu”
ﺍَﻠـﺤﻤﺪُ
Tahiyat Sujud I’Tidal Ruku Kiyam
Cinta kepada Allah adalah perwujudan Rasa Syukur kepada Allah SWT yang diwujudkan melalui Shalat sehingga melahirkan Kalam Qadim. Puja dan Puji (Madhun wa Sanaun).
  1. Puji Qodim bagi Qodim
  2. Puji Qodim bagi Muhaddas
  3. Puji Muhaddas bagi Qodim
  4. Puji Muhaddas bagi Muhaddas.
7 (TUJUH) HURUF YANG MAHJUB (terdinding pada Al-Fatihah)
1. Huruf Stsa ( ) Huruf pertama STSANA’UN (ﺜﻧﺎﺀ ) Artinya “Pujian”.
ﻻﺍﺤﺼﻰ ﺜﻧﺎﺀﻋﻠﻴﻚ ﮐﻤﺎﺍﺜﻧﻴﺖﻋﻞ ﻧﻔﺴﻚ
“Tidak terhingga pujika kepadaMu Ya Allah, sebagaimana tidak terhingga pujiMu terhadap diriMu sendiri”.
ﺍﻠﺬ ﻴﻥَﻫُﻡ ﻋـَﻠﻰ َﺼَﻼ ﺗـﻬﻡ ﺪﺍﻋﻤﻮﻥَ
“Dan mereka memuji-muji TuhanNya secara terus menerus”. (Q.S. Al-Maarij ayat 23)
Baik diwaktu siang, malam. Baik diwaktu berdiri, duduk maupun berbaring, kita tetap dalam keadaan SHOLAT kepada Allah.
Ada hubungannya dengan “memuji/dzikir kepada Allah secara terus menerus” sehari semalam, yang disebut Sholat Da’imulhaq.
2. Huruf Jim () Jaliyyun wa Jalalun, Nyata/ tampak dan mulia.
ﻓﻠﻤﺎ ﺗﺠﻠﻰ ﺮﺒﻪ ﻠﻠﺠﺒﻞ ﺠﻌﻠﻪ ﺪ ﻜﺎ
“Manakala Allah TAJALLI pada bukit, maka bukit itupun hancur berkeping-keping”.
3. Huruf Kha ( ) huruf pertama KHOFIYYUN/KHIFATUN.
ﻮﺍﺬ ﻜﺮﺮﺒﻚ ﻓﻰ ﻧﻔﺴﻚ ﺗﻀﺮﻋﺎﻮﺧﻴﻔﺔ ﻮﺪﻮﻦﺍﻠﺠﻬﺮﻤﻦﺍﻠﻘﻮﻞ
“Ingatlah kepada Tuhanmu pada dirimu, dengan tadlaru (kerendahan hati), Khifatan / sunyi, dan tanpa dinyaringkan”.
4. Huruf Zai ( ) huruf pertama dari kata ZIYADATUN artinya “Tambahan / Nilai Tambah”.
ﺍﻠﺬ ﻴﻦﺍﺤﺴﻧﻮﺍﺍﻠﺤﺴﻧﻰ ﻮﺯﻴﺎﺪ ﺓ
“Untuk orang yang berbuat baik dengan perbuatan yang terbaik, mendapatkan Ziyadah (tambahan nilai) melihat Tuhan”.
Sebagian besar ulama tafsir menjelaskan perkataan perkataan Ziyadatun / tambahan, ialah karunia untuk mereka ahli sorga yang tadinya melakukan/amal yang terbaik. Dalam kata lain Ziyadah adalah suatu nilai tambah. Melihat Tuhan adalah suatu nikmat yang tertinggi dibanding dengan segala nikmat-nikmat yang lain.
5. Huruf Syin () huruf pertama dari SYIFA’UN artinya : Penyembuhan / Pengobatan.
ﻮﻧﻧﺯﻞ ﻤﻦﺍﻠﻘﺮﺍﻦ ﻤﺎﻫﻮﺷﻔﺎﺀ ﻮ ﺮﺤﻤﺔ
“Kami turunkan sebagian Al-Qur’an itu adalah obat / penyembuh dan rahmat”.
Huruf Syin () huruf ke dua adalah SYAFI’UN dan SYAFA’AT artinya : “Pertongan / Pemberi Bantuan “
ﻠﻴﺱَ ﻠﻬﺎ ﻤﻥ ﺪ ُو ﻥ ﺍﷲ ِﻮَﻠﻰ ﻮﻻ َﺷﻔﻴﻊًُ
“Tidak ada Wali dan Tidak pula ada Penolong mereka selain Allah”. (Q.S. Al-Anam ayat 51).
ﷲِ ﺍﻠﺷـﻔَﺎﻋــَﺔُ ﺠﻤﻴﻌًـﺎ
“Seluruh Syafaat itu Allah yang menentukan” (Q.S. Az-Zumar ayat 44).
6. Huruf Dzho () huruf permulaan dari kata Dzhilun (ﻆﻞ ) artinya : “Naungan”.
ﻻﻆﻞﺍﻵﻆﻠﻪ
“Tidak ada naungan yang paling indah kecuali naungan Allah SWT”. (Al-Hadist).
7. Huruf Fa ( ) huruf permulaan dari kata Fana’un (ﻓﻧﺎﺀ ) artinya : “Lenyap/sirna”.
ﮐﻞ ﻤﻦﻋﻠﻴﻬﺎﻓﺎﻦ ﻮ ﻳﺒﻘﻰ ﻮﺟﻪ ﺮﺒﻚ ﺰﻮﺍﺍﻠﺟﻼ ﻞ ﻮﺍﻻﺀ ﻜﺮﺍﻢ
“Semuanya adalah Fana dan yang kekal abadi hanyalah Zat Tuhanmu (Ya Muhammad Yang Maha Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan”. (Q.S. Rahman : 26-27)
Diantara Ulama ada yang berpendapat bahwa Allah SWT telah menurunkan wahyuNya kepada para Nabi dan Rasul, berjumlah 100 buah shuhuf dan 4 buah kitab.
  1. shuhuf untuk Nabi Adam a.s.
60 shuhuf untuk Nabi Syit a.s.
10 shuhuf untuk Nabi Ibrahim a.s.
1 Kitab Taurat untuk Nabi Musa a.s.
1 Kitab Zabur untuk Nabi Daud a.s.
1 Kitab Injil untuk Nabi Isa a.s.
1 Kitab Al-Qur’an untuk Nabi Muhammad SAW.
Seratus buah shuhuf itu sepenuhnya terhimpun dalam 4 Kitab. Sedangkan 3 Kitab itu terhimpun dalam Al-Qur’anul Karim. Al-Qur’an 30 Zuz itu terhimpun dalam Surat Al-Fatihah. Selanjutnya 7 Ayat Al-Fatihah itu terhimpun seluruhnya dalam BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM.

 

One Day One Siroh Edisi ke 13


 

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi -uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi dari anak jakarta timur klender
 Azka alifiandra memposting –
 Edisi ke 13

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّد

🎆 Pernikahan Abdullah dg Aminah🎆

Sahabat odos, Allah swt sdh menentukan bahwa jodoh yg paling tepat utk Abdullah adl Aminah binti Wahb. Aminah adl gadis yg paling baik keturunan dan kedudukannya di kalangan suku Quraisy.

Musim semi tahun 570 Masehi pun tiba. Batang2 gandum di Yaman tumbuh menjulang tinggi. Dedaunan kurma di kota Thaif kembali bersemi. Sementara itu, padang2 rumput dipenuhi harum bunga2 yg tumbuh di kebun2.

Bagi penduduk Mekkah, musim semi adl tanda kebebasan dan dimulainya lagi perdagangan musim panas ke Syria. Abdullah pun berniat pergi musim ini.

“Sebenarnya hatiku sangat berat melepas kepergianmu. Entah mengapa hatiku diliputi kekhawatiran dan kegeliMariBerkisahahkan berharap dpt menemukan suatu alasan utk menahan kepergianmu,” keluh Aminah kpd Abdullah suaminya.

Abdullah pun tersenyum menentramkan,”Hatiku pun terasa tertinggal disini. Aku tahu begitu besar rasa sayangmu kpdku shg engkau berharap dpt terus berada di sisiku. Tetapi dinda, kini dlm perutmu ada bayi kita. Kau tahu aku adl pemuda tak berada. Saat ini, kita hanya mempunyai lima ekor unta dan bbrp kambing perah. Selain itu, tak ada lagi kekayaan yg dpt menghidupi kita berdua selain sedikit kurma dan daging kering. Krn itulah, ini saatnya bagiku utk pergi berniaga dan menambah penghasilan kita.”

Aminah terpaksa mengangguk menerima kenyataan itu. Dia memandang kepergian Abdullah dg sendu, seolah itu adl detik2 terakhir dia dpt melihat wajah suaminya.

Sahabat, apakah arti kekhawatiran Aminah?

Bersambung ke shiroh selanjutnya ya..

📋Catatan tambahan 📋

Hamzah bin Abdul Muthalib

Pd hr pernikahan Abdullah dg Aminah, Abdul Muthalib pun menikahi sepupunya bernama Hala. Dr perkawinan ini lahirlah Hamzah, paman Rasulullah saw yg seusia dg beliau

📚📚📚📚📚📚📚📚📚

🌼 kisah diambil dari buku Muhammad Teladanku jilid 1
🌼 Muhammad salallahu ‘alaihi wasallam teladanku
🌼 ODOS
🌼 Siroh Nabawiyyah
🌼 MariBerkisah

Salam

Terima kasih atas kunjungannya untuk membaca artikel ini semoga anda di berikan kemudahan dan kelancaran dalam berurusan.
uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi dari anak jakarta timur klender

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi dari coretan kata bocah jakarta timur klender pulo gadung indonesia

  •    Sumurnya
  • * Upload di akun servimg.com
  •    Artikel dari mesin pencari kata/ Search engine

NB: Artikel diatas adalah artikel hasil dari mengisi waktu dan opini  pribadi saya, tidak ada sumber yang jelas, jadi jangan dipercaya dulu. namun saya hanya menyarankan kepada semua untuk tetap fokus pada main subject (kejadian awal / utama) jangan termakan isu-isu yang hanya numpang lewat. tetap berpikir kritis. dan mohon maaf kalau ada yang berfikir kalau saya seudzon atau berprasangka buruk.

Jangan Banyak Tertawa, atau Kalian Akan Disiksa


uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi -uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi dari anak jakarta timur klender
 Azka alifiandra memposting –

Astaga judulnya serem amat sih? Malam-malam iseng-iseng buka-buka buku-buku agama, ketemu ini hihi 😀 Jika dulu saya pernah membahas mengenai dampak dari tertawa yang bisa menyebabkan daya ingat menurun, kali ini saya mau membahas lagi dampak lain dari tertawa.

Saran saya nih teman-teman, jangan terlalu banyak tertawa. Kenapa? Karena dari tertawa kita bisa mendapatkan 10 siksaan. Kok bisa?? Baca dulu nih ya.

Rasulullah SAW pernah bersabda, yang artinya kayak gini nih :

“Barang siapa banyak tertawa, maka dia akan disiksa dengan sepuluh macam siksaan, yaitu:

  1. hatinya mati
  2. kehilangan wibawa
  3. disenangi setan
  4. tidak disukai Allah
  5. akan menemui hisab yang berat (sulit) pada hari kiamat
  6. Nabi Muhammad SAW akan berpaling darinya pada hari kiamat
  7. malaikat-malaikat mengutuknya
  8. penghuni langit dan bumi membenci dirinya
  9. dia akan lupa segalanya (seperti di artikel ini), dan
  10. segala aibnya akan dibeberkan pada hari kiamat

Ya Allah, ternyata tertawa bikin kita dapet hal-hal kayak gitu? Padahal tertawa itu kan enak yah, bisa ngilangin tegang stress dan kawan-kawannya. Hoho. Ya kita boleh saja merasakan nikmatnya tertawa, tapi jangan terlalu sering gitu kali yaa, hehe.

Kalo uda tau dampaknya kayak gini nih, kalo mau tertawa jangan lebay alias berlebihan lagi yuk. Ya paling enggak agak di tahan lah. Nggak perlu kan yaa pakek yang mangap-mangap kayak kudanil, atau terpingkal-pingkal kayak kuda joget, hohoho. Semoga bermanfaat 😀

Sumber :
Sepuluh Siksaan Bagi Orang yang Banyak Tertawa,
Nashaihul Ibad, nasihat-nasihat untuk para hamba menjadi santun dan bijak

Terima kasih atas kunjungannya untuk membaca artikel ini semoga anda di berikan kemudahan dan kelancaran dalam berurusan.
uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi dari anak jakarta timur klender

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi dari coretan kata bocah jakarta timur klender pulo gadung indonesia

 

  •    Sumurnya
  • * Upload di akun servimg.com
  •    Artikel dari mesin pencari kata/ Search engine

DIBALIK LAYAR PEMBUATAN FILM TITANIC !!


uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi -uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi dari anak jakarta timur klender
 Azka alifiandra memposting –

Terima kasih atas kunjungannya untuk membaca artikel ini semoga anda di berikan kemudahan dan kelancaran dalam berurusan.
uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi dari anak jakarta timur klender

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi dari coretan kata bocah jakarta timur klender pulo gadung indonesia

  •    Sumurnya
  • * Upload di akun servimg.com
  •    Artikel dari mesin pencari kata/ Search engine

10 Tips Hidup Sehat yang Ampuh


uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi -uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi dari anak jakarta timur klender
Kesepuluh Tips Hidup Sehat itu antara lain,
uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - 10 Tips Hidup Sehat yang Ampuh

upload gambar by choirul

Tips yang pertama adalah untuk menghirup udara yang segar dan bersih. Sesekali, pergilah ke pedesaan untuk menyegarkan pikiran dan pernapasan Anda.

Tips yang kedua untuk selalu hidup sehat adalah dengan memperhatikan konsumsi air putih. Pada umumnya, orang akan mengkonsumsi 8 hingga 10 gelas air putih perharinya. Dengan memperhatikan asupan air mineral tersebut, Anda akan mampu untuk membuat tubuh selalu tetap fit dan juga terhindar dari racun serta zat-zat tak menyehatkan lainnya.

Tips hidup sehat dan bahagia yang ketiga adalah untuk memperhatikan sarapan sehat Anda. Jangan pernah lewatkan apa itu yang dinamakan sarapan karena amat penting untuk Anda. Jenis sarapan yang terbaik adalah yang mengandung protein. Anda akan juga terbebas dari masalah obesitas tentunya karena memperhatikan kualitas metabolisme tubuh dengan sarapan. Jangan pernah lewatkan apa itu yang dinamakan sarapan.

Selain itu, tips yang keempat adalah dengan memilih makanan yang seimbang dan bergizi. Yang paling penting sebenarnya adalah serat atau fiber. Fungsinya adalah untuk membantu kualitas pencernaan Anda untuk lebih baik. Namun selain serat, asupan protein, karbohidrat, lemak, dan nutrisi lain juga harus diperhatikan. Yang terpenting adalah aspek keseimbangan nutrisi.

Selanjutnya adalah tips hidup sehat dan panjang umur yang kelima yaitu untuk memiliki aktifitas yang berimbang dan juga sehat. Tentu saja bekerja keras akan selalu menjadi ide baik untuk Anda. Akan tetapi Anda juga perlu untuk memperhatikan porsi istirahat Anda. Jika tidak demikian, Anda akan mengalami masalah dalam hal kesehatan dan juga stamina tubuh.

Tips yang keenam untuk selalu hidup sehat adalah dengan memberi ruang pada otak Anda. Anda perlu mengalihkan pikiran dari kesibukan berat dan juga aktifitas-aktifitas monoton. Tujuannya adalah untuk menghindari stress. Tentu saja stress akan berdampak buruk pada kesehatan Anda. Karena itulah, Anda seringkali harus meluangkan waktu guna mencari hiburan.

Tips Hidup Sehat yang ketujuh adalah untuk memperhatikan suplemen gizi. Disini Anda perlu menggunakan suplemen dan nutrisi tubuh yang tepat. Memang benar nutrisi dan gizi sudah dapat diperoleh dari makanan yang Anda konsumsi. Akan tetapi Anda perlu memastikan bahwa kebutuhan gizi tersebut cukup. Dengan demikian, Anda dapat memenuhi kebutuhan tersebut dengan cara membeli suplemen gizi.

Selanjutnya adalah tips untuk hidup sehat yang kedelapan. Hal tersebut adalah untuk menghindari apa itu yang dinamakan minuman bersoda dan beralkohol. Minuman tersebut memang sering menjadi solusi bagi mereka yang ingin melepas stress. Akan tetapi efek jangka panjang takkan bagus untuk kesehatan Anda.

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - 10 Tips Hidup Sehat yang Ampuh

upload gambar by choirul

Untuk Tips Hidup Sehat yang kesembilan, Anda haruslah memperhatikan kebersihan tangan Anda. Tentu saja dalam menjalani kehidupan sehari-hari, Anda akan sering memegang banyak benda diluar sana. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, tentu bakteri dan kuman akan menjadi hal yang amat menyusahkan nantinya bagi kesehatan Anda. Karena itulah, Anda perlu untuk rajin mencuci tangan nantinya.

Yang kesepuluh adalah dengan menghindari apa itu kebiasaan buruk merokok. Tentu saja merokok dapat menimbulkan banyak sekali efek buruk bagi kesehatan. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, Anda harus mampu untuk mengurangi atau bahkan menghindari sama sekali kebiasaan merokok. Bila memang susah menghilangkan kebiasaan buruk tersebut, Anda dapat memilih alternatif yaitu rokok elektronik. Semua Tips Hidup Sehat Sederhana di atas, saya harap dapat membantu Anda untuk mampu hidup dengan lebih bahagia dan sehat lagi tentunya.

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi dari anak jakarta timur klender

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi dari coretan kata bocah jakarta timur klender pulo gadung indonesia

Menyusuri jejak penculikan para jenderal


uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi -uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi dari anak jakarta timur klender

 

 Azka alifiandra memposting –

Menyusuri jejak penculikan para jenderal

Terima kasih atas kunjungannya untuk membaca artikel ini semoga anda di berikan kemudahan dan kelancaran dalam berurusan.
uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi dari anak jakarta timur klender

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi dari coretan kata bocah jakarta timur klender pulo gadung indonesia

  •    Sumurnya
  • * Upload di akun servimg.com
  •    Artikel dari mesin pencari kata/ Search engine
Mari kita bersama meningkatkan kesadaran kita - Mulailah berpikir cerdas, Kita semua beragama !!! Agama bukan identitas...jadikanlah agama untuk keluar dari kebodohan

Tulisan di blog ini mungkin sangat ngawur tapi mungkin juga benar. Merdekakan pikiran anda, sentuh hati nurani anda. Yang ada tinggal KASUNYATAN SEJATI

Zoemalang's community at www. zoemalang.wordpress.com

ujung malang adalah Sebuah desa yang hilang terganti dengan ujung harapan

YoYo Games Blog Feed

Tulisan di blog ini mungkin sangat ngawur tapi mungkin juga benar. Merdekakan pikiran anda, sentuh hati nurani anda. Yang ada tinggal KASUNYATAN SEJATI

Dealer Termurah

Menjual Segala Jenis Motor Baru Di Indonesia Cash Maupun Kredit

%d blogger menyukai ini: