Setan-setan politik kan datang mencekik


uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi -uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi dari anak jakarta timur klender
 

 Azka alifiandra memposting – begitulah sebait lirik lagu iwan fals sumbang di jadikan judul posting ini

Lirik Iwan Fals Sumbang | Lirik Lagu Sumbang

kuatnya belenggu besi

mengikat kedua kaki

tajamnya ujung belati

menujam di ulu hati

sanggupkah tak akan lari walau akhirnya

pasti mati

di kepala tanpa baja di

tangan tanpa senjata

akh itu soal biasa yang

singgah di depan mata kita

lusuhnya kain bendera di

halaman rumah kita

bukan satu alasan untuk kita tinggalkan

banyaknya persoalan yang datang tak

kenal kasian menyerang dalam gelap

memburu kala haru dengan

cara main kayu

tinggalkan bekas biru lalu

pergi tanpa ragu

setan-setan politik kan datang mencekik

walau dimasa pacekik tetap mencekik

apakah slamanya politik itu kejam?

apakah selamanya dia datang

‘tuk menghantam?

ataukah memang itu yang sudah

digariskan?

menjilat, menghasut, menindas

memperkosa hak-hak sewajarnya

maling teriak maling sembunyi balik

dinding pengecut lari terkencing-kencing

tikam dari belakang lawan lengah

diterjang lalu sibuk mencari kambing

hitam

selusin kepala tak berdosa

berteriak hingga serak didalam ngeri

yang congkak lalu senang dalang

tertawa…he…he…he…he…

Terima kasih atas kunjungannya untuk membaca artikel ini semoga anda di berikan kemudahan dan kelancaran dalam berurusan.
uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi dari anak jakarta timur klender

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi dari coretan kata bocah jakarta timur klender pulo gadung indonesia

  •    Sumurnya
  • * Upload di akun servimg.com
  •    Artikel dari mesin pencari kata/ Search engine

Imam Bukhari, Ahli Hadis yang Dirindukan Rasulullah


uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - Imam Bukhari, Ahli Hadis yang Dirindukan Rasulullah

Penyusun kitab fenomenal Shahih al-Bukhari ini memiliki nama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim ibn al-Mughirah bin Bardizbah. Imam yang lahir pada 13 Syawwal 194 H  ini pernah mengalami kebutaan di waktu kecil,  namun penyakit itu sirna setelah sang ibunda bermimpi dengan Nabi Ibrahim as. Di dalam mimpi tersebut, Nabi Ibrahim berkata kepadanya, “Allah SWT telah mengembalikan penglihatan anakmu, karena tangisanmu dan  banyaknya doa yang kau lafalkan”.

Dalam usia 10 tahun, beliau telah hafal hadis. Bahkan dalam usia 11 tahun, ia berani mengoreksi seorang ulama  yang  salah menyebutkan sanad hadis. Usia 16 tahun beliau mampu menghafal karya-karya Ibnu al-Mubarak dan Waki’.  Ketika haji bersama ibu dan saudaranya Ahmad, ia tidak mau pulang dan memilih menetap di Mekah demi mencari hadis. Menjelang usia 18 tahun, ia sudah mendokumentasikan putusan-putusan sahabat Nabi, Thabi’in, dan fatwa-fatwa mereka. Salah satu karya monumentalnya, al-Tarikh, ditulis di samping makam Rasulullah SAW di tengah malam hari.Di masa kecilnya, ia pernah berbeda pendapat dengan seorang ulama fikih dari Marwa, hingga ia mengejek al-Bukhari. “Sudah berapa kitab yang kamu tulis hari ini?”, tantang ulama itu dan al-Bukhari langung menjawab, “Dua kitab dan aku menolak dua hadis tersebut”. Jawaban itu mengundang gelak tawa hadirin yang menyaksikannya. Namun seorang ulama yang hadir di majelis itu berkata, “Jangan ditertawakan, karena suatu saat kalian yang akan ditertawakan olehnya.” Beliau banyak melakukan perjalanan ke berbagai negara demi mengumpulkan hadis Nabi. Ia pernah mengunjungi Balk, Marwa, Naisabur, Ray, Baghdad, Bashrah, Kufah, Makkah, Madinah, Mesir, Syam, dan lain-lain. Diantara guru-gurunya adalah Makki bin Ibrahim, Abdan bin Usman, Yahya bin Yahya, Ibrahim bin Musa, abi ashim al-Nabil, dan Ubaidullah bin Musa. Ia juga telah berhasil mengkader ulama-ulama ternama, seperti Abu Isa al-Tirmidzi, Abu Hatim, Ibrahim bin Ishaq al-Harbi, dan Muhammad bin Abdullah al-Hadlrami Muthayyan. Bahkan, Imam Muslim, yang namanya seringkali disandingkan dengan al-Bukhari, pernah mengunjunginya seraya berkata, “Biarkan aku mencium kedua kaki mu wahai gurunya para guru, tuannya para ulama hadis, dan tabib hadis yang mampu mengungkap kecatatan (‘illat) hadis”.uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - Imam Bukhari, Ahli Hadis yang Dirindukan Rasulullah

Makam Imam Bukhari

Abu Yazid pernah bermimpi dengan Rasulullah ketika tidur di antara Rukun Yamani dan kuburan Nabi Ibrahim. Nabi Muhammad berkata padanya, “Wahai Abu Yazid, sampai kapan kamu hanya mempelajari kitabnya al-Syafii dan mengapa kau tidak mempelajari kitabku ini?”

Yazid menjawab,”Wahai Rasul, kitab apa yang engkau maksud?” Beliau menjawab,“Jami’ al-Shahih karya Muhammad bin Ismail al-Bukhari”. Terkait pengalaman al-Bukhari menulis kitab hadis, ia tidak akan menulis hadis sebelum mandi dan shalat dua raka’at terlebih dahulu. Ketika menulis kitab Shahih al-Bukhari, ia tidak memasukkan satu hadis pun di dalamnya kecuali hanya hadis-hadis shahih, meskipun tidak semua hadis shahih yang terhimpun di dalamnya. Seorang raja di masanya pernah megutus seseorang untuk meminta al-Bukhari mengajarkan Shahih al-Bukhari, al-Tarikh, dan karangan lainnya kepadanya secara privat. Namun al-Bukhari berkata kepada utusan tersebut,“Sesungguhnya kami tidak merendahkan ilmu dan tidak mengajarkannya kerumah-rumah. Jika engkau membutuhkan ilmu, datanglah ke masjid atau rumah saya”. Dikisahkan pula bahwa Imam al-Bukhari memiliki tiga sifat terpuji: beliau sedikit bicaranya, tidak tama’, dan tidak sibuk dengan urusan manusia, karena  sibuk mencari ilmu. Saking seriusnya, setiap bulannya beliau mendapatkan 500 dirham, tapi semuanya diinfakkan demi mencari ilmu.Beliau pernah sakit parah menjelang wafatnya. Ketika dibawa ke Samarqand, tubuhnya melamah dan berpesan kepada para sahabatnya agar dikafani dengan tiga baju putih, bukan gamis dan bukan pula sorban. Ahli hadis yang memiliki postur tubuh sedang ini menghembuskan nafas terakhirnya pada hari sabtu, malam idul fitri tahun 256 H dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Di saat proses pemakamannya, keluar aroma wangi di dalam kuburnya yang harumnya melebihi minyak kasturi. Aroma wangi ini masih tercium hingga berhari-hari. Tak ayal sebagian besar penduduk membincang kebaikan al-Bukhari karena saking kagum kepadanya.Pada saat yang sama, ‘Abdul Wahid bin Adam bermimpi dengan Rasulullah SAW yang sedang bersama para sahabatnya. Di dalam mimpinya itu, Rasulullah berhenti di suatu tempat dan ‘Abdul Wahid bertanya kepadanya, “Mengapa berhenti di sini wahai Rasulullah SAW?” Beliau menjawab, “Aku menunggu Muhammad bin Ismail al-Bukhari”. Tak lama kemudian, beredarlah kabar kematian sosok yang ditunggu Rasulullah tersebut. Sumber :-http://www.muslimedianews.com/2016/02/imam-bukhari-ahli-hadits-yang.html

IBADAH HAJI DAN UMROH


 

Haji dan Umrah

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - IBADAH HAJI DAN UMROH
Haji berarti bermaksud mengunjungi sesuatu. Yaitu mengunjungi Baitullah untuk menjalankan ibadah.
Umrah berarti mendiami sesuatu atau mengunjunginya. Yaitu mengunjungi Baitullah untuk beribadah.
Perbedaan antara Haji dengan Umrah ialah :
  • Haji dilakukan hanya pada bulan haji tanggal 8 sampai 13, sedang Umrah dapat dilakukan setiap saat.
  • Haji dilakukan tidak hanya di Makkah tapi juga wuquf di Arafah dan jumrah di Mina ; Umrah hanya dilakukan di masjidil Haram, di Makkah, yaitu thawaf dan sa’i.

Permulaan wajib haji

Pendapat ulama menentukan permulaan wajib haji ini tidak sama, sebagian mengatakan pada tahun keenam, yang lain mengatakan pada tahun kesembilan Hijriyah.
Haji diwajibkan atas orang yang kuasa, satu kali seumur hidupnya.firman Allah swt:
Allah mewajibkan haji ke Rumah Suci ( Ka’bah ) atas semua manusia yang kuasa pergi ke sana.” ( Al-‘Imran : 97 ).
Syarat –syarat wajib haji :
  1. Islam (tidak wajib bahkan tidak sah haji orsng kafir)
  2. Berakal (tidak wajib atas orang gila dan orang bodoh)
  3. Balig ( sampai umur 15 tahun, atau balig dengn tanda-tanda lain, tidak wajib atas anak-anak); dan
  4. Merdeka (tidak wajib haji atas orang yang tidak kuasa )
Pengertian kuasa ada dua macam:
  1. 1. Kuasa mengerjakan haji dengan sendirinya, dengan beberapa syarat yang berikut:
  1. Mempunyai bekal (belanja) yang cukup untuk pergi ke Makkah dan kembalinya
  2. Ada kendaraan yang pantas dengan keadaannya, baik kepunyaan sendiri ataupun dengan jalan menyewa. Syarat ini bagi orang yang jauh tempatnya dari Makkah dua marhalah (80,640 km ). Orang yang jaraknya dari Makkah kurang dari itu, sedangkan ia kuat berjalan kaki, maka ia wajib mengerjakan haji. Adanya kendaran tidak menjadi syarat baginya (keterangan ayat yang di atas, Al-Imran :97). Belanja dan kendaraan itu sudah lebih dari utang dan belanja orang-orang yang dalam tanggungannya sewaktu pergi sampai kembalinya.
  3. Aman sentosa perjalananya, artinya biasanya di masa itu orang-orang yang melalui jalan itu selamat sentosa, tetapi kalau lebih banyak yang celaka atau sama banyaknya antara celaka dan selamat, maka tidak wajib pergi haji, malahan harampergi kalau lebih banyak yang yang celaka daripada yang selamat.
  4. Syarat wajib haji bagi perempuan, hendaknya ia berjalan bersama-sama dengan muhrimnya, bersama-sama dengan suaminya, atau bersama-sama dengan perempuan yang dipercaya.
2. Kuasa mengerjakan haji yang bukan dikerjakan oleh yang bersangkutan, tetapi
dengan jalan mengganti dengan orang lain.

Orang Lemah

Orang lemah yang tidak kuat pergi mengerjakan haji karena sudah tua, karena penyakit lemah tidsk berdaya, atau sebab lain, kalau ia mampu membayar ongkos sesederhananya yang biasa berlaku di waktu itu kepada orang yang akan mengerjakan hajinya, maka ia wajib haji, lantaran ia terhitung orang kuasa dengan jalan mengongkosi orang.

Haji anak-anak dan hamba

Anak-anak yang belum balig (belum sampai umur) dan hamba, keduanya sah mengerjakan haji dan umrah. Amal keduanya menjadi amal sunat. Apabila anak sudah sampai umur atau hamba sudah merdeka, maka keduanya wajib haji kembali, sebab syarat sah haji wajib itu hendaklah dikerjakan oleh orang yang balig, berakal, dan merdeka.
Tingkatan haji
Haji dipandang dari tingkatan syarat-syaratnya mempunyai lima tingkatan :
  1. Sah semata-mata, syaratnya : Islam. Maka sah haji anak-anak walau belum mumayiz dengan pimpinan walinya.
  2. Sah mengerjakannya sendiri, syaratnya Islam dan mumayiz.
  3. Sah untuk haji yang dinadzarkan, syaratnya : Islam, balig, berakal
  4. Sah menjadi bayaran fardhu Islam (kewajiban sekali seumur hidup) , syaratnya : Islam, balig, berakal, merdeka.
  5. Wajib, syaratnya : Islam, balig, berakal, merdeka, dan kuasa.
Rukun haji
  1. Ihram ( berniat mulai mengerjakan haji dan umrah )
  2. Hadir di Padang Arafah pada waktu yang ditentukan, yaitu mulai dari tergelincir matahari ( waktu zhuhur ) tanggal 9 bulan Haji sampai terbit fajar tanggal 10 bulan Haji. Artinya orang yang sedang mengerjakan haji itu wajib berada di Padang Arafah pada waktu tersebut.
  3. Thawaf ( berkeliling Ka’ bah ). Thawaf rukun ini dinamakan “ Thawaf Ifadhah “
Dan hendaklah mereka thawaf (mengelilingi) rumah yang tus itu ( Ka’ bah).” (Al-Hajj : 29)
Syarat thawaf
  1. Menutup aurat
  2. Suci dari hadats dan najis
  3. Ka’ bah hendaklah di sebelah kiri orang yang thawaf
  4. Permulaan thawaf itu hendaklah dari hajar aswad.
  5. Thawaf itu hendaklah tujuh kali
  6. Melakukan thawaf di dalam mesjid karena Rasulullah saw melakukan thawaf di dalam mesjid.
Niat thawaf
Thawaf yang terkandung dalam ibadah haji tidak wajib niat karena niatnya sudah terkandung dalam niat ihram haji. Tetapi kalau thawaf itu tersendiri bukan dalam ibadah haji seperti thawaf wada’ (thawaf karena akan meninggalkan Makkah),maka wajib berniat. Niat thawaf disini menjadi syarat sahnya thawaf itu.
Rupa-rupa thawaf
  1. Thawaf qudum (thawaf ketika baru sampai) sebagai shalat tahiyatul mesjid.
  2. Thawaf ifadhah (thawaf rukun haji )
  3. Thwaf wada’ (thawaf ketika akan meninggalkan Makkah)
  4. Thawaf tahallul (penghalalkan barang yang haram karena ihram)
  5. Thawaf nazar (thawaf yang dinadzarkan )
  6. Thawaf sunat
  1. Sa’i (berlari-lari kecil antara shafa dan marwah)
Syarat-syarat sa’i
  1. Hendaklah dimulai dari Bukit Shafa dan disudahi di Bukit Marwah.
  2. Hendaklah sa’i itu tujuh kali karena Rasulullah saw, telah sa’i tujuh kali. Dari bukit Shafa ke Marwah dihitung satu kali, kembalinya dari Marwah ke Shafa dihitung dua kali, dan seterusnya.
  3. Waktu sa’i hendaklah sesudah thawaf, baik thawaf rukun maupun thawaf qudum.
5. Mencukur atau menggunting rambut.
6. Menertibkan rukun-rukun itu (mendahulukan yang dahulu di antara rukun-rukun itu), yaitu mendahulukan niat dari semua rukun tang lain, mendahuluakn hadir di Padang Arafah dari thawaf dan bercukur, mendahulukan thawaf dari sa’i jika ia tidak sa’i sesudah tahwafqudum.
Beberapa wajib haji
Perkataan “wajib” dan “rukun” biasanya berarti sama, tetapi di dalam urusan haji ada perbedaan sebagai berikut:
Rukun : sesuatu yang tidak sah haji melainkan dengan melakukannya, dania tidak boleh diganti dengan “dam” (menyembelih binatang ).
Wajib : sesuatu yang perlu dikerjakan, tetpi sahnya haji tidak bergantung padanya, dan boleh diganti dengan menyembelih binatang.
  1. Wajib haji yang pertama ialah ihram dari miqat (tempat yang ditentukan dan masa tertentu)
Ketentuan masa miqat (miqat zamani) ialah dari awal bulan syawalsampai terbit fajar Hari Raya Haji (tanggal 10 bulan Haji), jadi ihram haji wajib dilakukan dalam masa dua bulan 9 ½ hari.
Firman Allah swt:
Haji itu pada bulan-bulan yang ditentukan (maklum).” (Al-Baqarah : 197 ).
Ketentuan tempat (makani)
                1. Makkah ialah miqat (tempat ihram) orang yang tinggal di Makkah, berarti orang yang tinggal di Makkah hendaklah ihram dari rumah masing-masing.
                2. Zul-Hulaifah ialah miqat (tempat ihram) orang yang datang dari arah Madinah dan negeri-negeri yang sejajar dengan Madinah.
                3. Juhfah ialah miqat (tempat ihram) orang yang datang dari arah Syam, Mesir, Maghribi, dan negeri-negeri yang sejajar dengan negeri-negeri tersebut. Juhfah adalah nama satu kampong di antara Makkah dan Madinah.
                4. Yalamlam ialah nama satu bukit dari beberapa Bukit Tuhamah. Bukit ini adalah miqat orang yang datang dari arah Yaman, India, Indonesia, dan negeri-negeri yang sejajar dengan negeri-negeri tersebut.
                5. Qarnul Manazil adalah nama sebuah jauhnya dari Makkah kira-kira 80,640 km. Bukit ini merupakan miqat orang yang datang dari arah Najdil-Yaman dan Najdil-Hijaz, dan orang-orang yang datang dari negeri-negeri yang sejajar dengan itu.
                6. Zatu ‘Irqin adalah nama kampong yang jauhnya dari Makkah kira-kira 80,640 km. Kampung ini merupakan miqat orang yang datang dari Irak dan negeri-negeri yang sejajar dengan itu.
                7. Bagi penduduk negeri-negeri yang ada di antara Makkah dan miqat-miqat tersebut, miqat mereka ialah negeri masing-masing.
2). Wajib Haji yang kedua ialah Muzdalifah sesudah tengah malam, di malam Hari Raya Haji sesudah hadir di Padang Arafah.
3). Wajib haji yang ketiga ialah melontar Jumratul ‘Aqabah pada Hari Raya Haji.
4). Wajib haji yang keempat ialah melontar tiga Jumrah.
Syarat melontar
  1. Melontar dengan tujuh batu, di lontarkan satu per satu.
  2. Menertibkan tiga Jumrah itu, berarti hendaklah di mulai dari Jumrah yang pertama (yang dekat Mesjid Khifa), kemudian yang di tengah, dan sesudah itu yang akhir (Jumrah ‘Aqabah).
  3. Yang di lontarkan itu hendaklah batu, lain dari batu tidak sah.
5). Wajib haji yang kelima ialah bermalam di Mina.
6). Wajib haji yang keenam ialah thawaf wada’ (thawaf sewaktu akan meninggalkan Makkah).
7). Wajib haji yang ketujuh ialah menjauhkan diri dari segala larangan atau yang di haramkan (muharramat).
Beberapa sunat haji
  1. Ifrad. Cara mengerjakan haji dan umrah ada tiga cara :
    1. Ifrad yaitu ihram untuk haji saja dahulu dari miqatnya, terus di selesaikannya pekerjaan haji, kemudian ihram untuk umrah, serta terus mengerjakan segala urusannya, berarti di kerjakan satu-satu dan di dahulukannya haji.
    2. Tamattu’ yaitu mendahulukan umrah daripada haji dalam waktu haji.
    3. Qiran yaitu dikerjakan bersama-sama (serentak).
2. Membaca Talbiyah dengan suara yang keras bagi laki-laki. Bagi perempuan hendaklah di ucapkan sekadar terdengar oleh telinganya sendiri.
3. Berdo’a sesudah membaca Talbiyah.
4. Membaca zikir sewaktu thawaf.
5. Shalat dua rakaat sesudah thawaf.
6. Masuk ke Ka’bah (Rumah Suci).
Beberapa Larangan
Larangan-larangan yang tidak boleh dikerjakan oleh orang yang sedang dalam ihram haji atau umrah ada yang terlarang hanya bagi laki-laki saja, ada pula yang terlarang bagi perempuan saja, dan ada terlarang bagi keduanya.
  1. Dilarang bagi laki-laki yang sedang dalam ihram memakai pakaian yang berjahit, baik jahitan biasa atau cara sulaman, atau diikatkan kedua ujungnya.
  2. Terlarang terhadap laki-laki yang sedang dalam ihram menutup kepala, kecuali karena hajat dibolehkan, tetapi wajib membayar denda (dam).
  3. Terlarang bagi perempuan menutup muka dan dua tapak tangan, kecuali kalau karena hajat yang sangat, maka ia boleh menutup muka dan dua tapak tangannya, serta diwajibkan membayar fidyah.
  4. Terlarang memakai harum-haruman pada waktu ihram baik bagi laki-laki maupun bagi perempuan, baik pada badan maupun pada pakaian.
  5. Terlarang menghilangkan rambut atau bulu badan yang lain, begitu juga berminyak rambut.
  6. Terlarang memotong kuku.
  7. Dilarang mengakadkan nikah (kawin, mengawinkan, atau menjadi wakil dalam akad perkawinan).
  8. Dilarang bersetubuh dan pendahuluannya, bersetubuh itu bukan hanya terlarang, tetapi memfasidkan (membatalkan) umrah apabila terjadi sebelum selesai dari semua pekerjaan umrah dan memfasidkan juga akan haji apabila terjadi sebelum mengerjakan penghalal yang pertama.
  9. Terlarang berburu dan membunuh binatang daratan yang liar dan halal di makan. Firman Allah swt :
Diharamkan atas kamu berburu binatang daratan selama kamu dalam ihram haji.” (Al-Maidah : 96)
Tahallul (penghalalan beberapa larangan)
Penghalalan beberapa larangan ada tiga perkara :
  1. Melontar Jumrah ‘Aqabah pada Hari Raya.
  2. Mencukur atau menggunting rambut.
  3. Thawaf yang diiringi dengan sa’i, kalau ia belum sa’i sesudah thawaf qudum.
Meninggalkan rukun haji
Barangsiapa ketinggalan hadir di Padang Arafah pada waktu yang ditentukan, hendaklah ia mengerjakan pekerjaan umrah agar ia keluar dari ihramnya, ia wajib membayar fidyah dan mengqadha pada tahun yang berikutnya.
Barangsiapa meninggalkan salah satu dari wajib-wajib haji atau umrah, ia wajib membayar denda (dam). Tetapi barangsiapa meninggalkan sunat haji atau umrah, ia tidak wajib melakukan apa-apa.
Tanah haram dan isinya
Tanah Haram yaitu tanah sekeliling Masjidil Haram, telah di beri tanda (batas) pada beberapa penjuru.
Tidaklah mereka (penduduk Makkah) perhatikan bahwasannya Kami telah menjadikan negeri mereka, negeri yang aman sentosa, terpelihara? Sedang manusia di sekeliling mereka rampok-merampok (perang memerangi) sesamanya.” (Al-Ankabut : 67)
Beberapa jenis denda (dam)
1. Dam (denda) tamattu’ dan qiran. Artinya orang yang mengerjakan haji atau umrah dengan cara tamattu’ atau qiran, ia wajib membayar denda, dendanya wajib di atur sebagai berikut :
  • Menyembelih seekor kambing yang sah untuk kurban.
  • Kalau tidak sanggup memotong kambing, ia wajib puasa sepuluh hari, tiga hari wajib dikerjakan sewaktu ihram paling lambat sampai Hari Raya Haji, tujuh hari lagi wajib dikerjakan sesudah ia kembali ke negerinya.
  1. Dam (denda) karena mengerjakan salah satu dari beberapa larangan yang telah dikutip di atas. Denda kesalahan tersebut boleh memilih antara tiga perkara : menyembelih seekor kambing yang sah untuk kurban; puasa tiga hari; atau bersedekah tiga gantang (9,3 liter) makanan kepada enam orang miskin.
  2. Dam (denda) karena bersetubuh yang membatalkan haji dan umrah apabila terjadi sebelum tahallul pertama. Denda itu wajib di atur sebagai berikut : Mula-mula menyembelih unta, karena Umar telah berfatwa dengan wajibnya unta.
  3. Dam (denda) membunuh buruan (binatang liar). Kalau binatang yang terbunuh itu mempunyai bandingan, dendanya menyembelih binatang jinak yang sebanding dengan yang terbunuh. Atau dihitung harganya, dan sebanyak harga itu dibelikan makanan. Atau puasa sebanyak harga binatang tadi, tiap-tiap seperempat gantang makanan berpuasa satu hari.
  4. Dam (denda) karena terkepung (terhambat). Orang yang terhalang di jalan tidak dapat meneruskan pekerjaan haji atau umrah, baik terhalang di Tanah Halal atau di Tanah Haram, sedang tidak ada jalan yang lain, ia hendaklah tahallul dengan menyembelih seekor kambing di tempatnya terhambat itu, dan mencukur rambut kepalanya dengan niat tahallul (penghalalkan yang haram).
Umrah
Hukum umrah adalah fardhu ‘ain atas tiap-tiap orang laki-laki atau perempuan, sekali seumur hidup, seperti haji.
Rukun umrah ada lima
  1. Ihram serta berniat;
  2. Thawaf (berkeliling) Ka’bah;
  3. Sa’i antara Bukit Shafa dan Marwah;
  4. Bercukur atau bergunting, sekurang-kurangnya memotong tiga helai rambut;
  5. Menertibkan antara empat rukun yang tersebut.
Miqat Umrah
Miqat zamani (ketentuan masa), yaitu sepanjang tahun boleh ihram untuk umrah. Miqat makani (ketentuan tempat), seperti haji, berarti tempat ihram haji yang telah lalu itu juga tempat ihram umrah.
Wajib Umrah
  1. Ihram dari miqatnya;
  2. Menjauhkan diri dari segala muharramat atau larangan umrah, yang banyaknya sama dengan muharramat atau larangan haji.
Ziarah ke makam Nabi saw
Hukum ziarah ke makam Rasulullah saw, sunat karena beberapa hadits yang menerangkan sunatnya ziarah ke kubur-kubur umumnya, sedangkan makam beliau tentu termasuk dalam kubur umum, dan di tambah pula dengan hadits ‘Umar.

 

KITAB LAYANG MUSLIMIN MUSLIMAT JILID-4


KITAB LAYANG MUSLIMIN MUSLIMAT JILID-4

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - KITAB LAYANG MUSLIMIN MUSLIMAT JILID-4
BAB ELMU KASAMPURNAAN
INSAN KAMIL (MANUSA SAMPURNA)
Kacarioskeun Raden Muslimin sareng Raden Muslimat parantos waktosna diumbarakeun di Alam Dunya, mulih ka Rakhmatulloh nyumponan dalil ‘WA INNA ILAHI ROJI’UN ‘, mulih ka jati mulang ka asal, mulih rasana maring kersana Allah.
Gentos anu ngalalakon madungdengkeun paguneman perkawis elmu Agama, nyaeta putrana Raden Muslimin anu jenengan Raden Insan, ari putrana Raden Muslimat jenengan Raden Kamil.
Raden Insan sareng Raden Kamil ( kapi raka sareng kapi rai ) yuswana parantos nincak sawawa. Sumedeng buta tulang buta daging, nuju belekesenteng gede tanaga. Margi ti aalit parantos di didik, di atik ku ibu rama kana bag-bagan ka-Agamaan, neuleuman elmu Agama cepengan Jungjungan Nabi Muhammad Rasululloh SAW, anu disebat RUKUN AGAMA ( Sareat, Tarekat, Hakekat, Ma’rifat ), atuh ninggang kana babasaan Teng Manuk teng, Anak Merak kukuncungan, Uyah mah tara tees ka luhur, ieu dua nonoman teh layeut sakaresep neuleuman elmu Agama ka-Ma’rifatan, pangpangna kapi rakana Raden Insan sasat parantos pasagi pangartina. Atuh dina prakna bermasyarakat teh, istuning nyumponan tatakrama hormat tilawat ka sepuh, ka guru, ka ratu, ka wong atua karo, ajeg pamadegan, rengkuh ka papada kaula, handap asor henteu luhur pamakanan, lungguh timpuh, tapi ngaluluguan anu sifatna paguyuban gawe babarengan enggoning nyumponan kaperluan kahirupan masyarakat lingkunganana, pikeun pangan, sandang, papan, anu di imbangan ku kagiatan-kagiatan karohanian.
Masyarakat di uar, di ajak sangkan garetol ngalaksanakeun amal ibadah kana parentah Allah, oge diwisik sacara malapah gedang sangkan ngarti sarta bisa Ma’rifat ka anu marentahna. Dina hiji waktu ieu dua nonoman teh parantos caralik papayun-payun di lebet Bale Paguneman sakumaha anus ok dilaksanakeun ku Ramana, seja madungdengkeun papahaman Agama Islam khususna, ngaronjatkeun sagala elmu anu kantos diwiridkeun ku Ramana.
  1. RADEN INSAN : Rai Kamil !….., langkung ti payun, mangga urang sasarengan nembrakeun rasa syukur ka Nu Maha Suci, Anu Murbeng Alam, Anu ngusik malikeun urang, mung ku Kawelas sareng Kaasih Manten-Na urang tiasa kieu, sehat lahir batin. Saparantos di kantun ku pun Bapa sareng Rai dikantun ku pun Paman, sakedahna urang nurut kana sagala piwejangna, neraskeun hanca garapan neuleuman Elmu Agama. Ku parantos ngantunkeunnana pun Bapa sareng pun Paman, kantun urang salaku anakna anu kedah leres-leres saban waktos munajat ka Allah SWT, supados pun Bapa sareng pun Paman tiasa mulih sirna sampurna. Margi mung du’a urang salaku anakna anu aya jaminan baris diperhatoskeun ku Nu Maha Kawasa. Sakumaha saur keterangan ‘ Yen anu baris ngadorong salah saurang anu parantos aya di Alam Akherat teh mung tilu hal :
    1. Elmuna anu sampurna, hartosna anu mangfaat, anu henteu diharamkeun ku Agama, anu henteu dilarang ku Nagara.
    2. Amalan anu Ikhlas (Hablumminalloh sareng Hablumminanas) salami jumenengna, boh amal ku elmu, ku tanaga, ku harta atawa ku budi.
    3. Anak anu Soleh, hartosna anak anu ngartos, yen anu tilar dunya mah parantos di tutup lawang tobatna. Ngan du’a putrana baris diperhatoskeun ku Nu Maha Kawasa. Kitu oge upami eta putrana teh leres tekad, ucap sareng lampahna.
Kumargi kitu Rai !…., upami urang nyaah ka kolot, anu dipercanten janten cukang lantaran gumelarna diri urang di Alam Dunya ieu, omat sing mupusti kana warisannana. Ari warisan anu sajatina…. Nya NGARAN anu moal pisah sareng ieu Wujud pasihan ti Gusti Allah.
Mupusti teh ….. ngaran ulah tepikeun ka diomongkeun batur sadumeh goreng ucap lampah, komo bari wujud tepikeun ka ditampiling batur mah. anu kitu hartina henteu bisa miara, mupusti warisan. Margi upami anakna cilaka, kolotna pasti kababawa. Bade tiasa ngado’akeun ka kolot kumaha ?, ari urangna lamokot kokotor, bala ku dos amah. Ari rekes ka Nu Maha Suci teh atuh urangna kedah suci heula.
  1. RADEN KAMIL : Hatur nuhun Kang !…., tina sagala rupi piwejangna, ngelingan ka Rai…, bilih tigebrus kanu henteu pararuguh. Mugi-mugi bae Rai.., tiasa ngadalian atawa ngelesan nafsu (kahoyong) anu mengpar tina jalan anu dipiridho ku Nu Maha Suci. Salajeungna manawi Engkang henteu kaabotan, Rai teh hoyong naroskeun sababaraha hal perkawis papahaman Elmu Agama anu kantos diwiridkeun ku pun Bapa, sakantenan etang-etang ngakurkeun sareng ngantebkeun.
  2. RADEN INSAN : Upami Rai…, kagungan kahoyong kitu,… pikeun Engkang mah anu teu kinteun atohna, salian ti ngakurkeun teh, oge etang-etang ngapalkeun sareng ngasah. Margi elmu teh henteu benten ti peso atawa bedog, tiasa sekeut upami sering di asah. Upami henteu diasah pasti mintul…, jadi kurang mangfaatna. Mangga !…., palebah mana…. Anu karaosna ku Rai… masih kirang paham ?
  3. RADEN KAMIL : Anu henteu kinten pentingna mah…. kanggo Rai teh eta perkawis PA-TAUHIDAN, hoyong anu langkung eces, pangpangna hal Iman. Margi geuning saur para Khotib, dina Netepan Jum’at, yen Iman sareng Takwa teh mangrupi RUKUN KHUTBAH dina Netepan Jum’at. Kukituna mugi Engkang keresa ngajelaskeun !.
  4. RADEN INSAN : Sae eta pamadegan teh Rai !…, margi Iman mah mangrupi dasar poko, upami Iman teu acan Tahkik (anteb) pasti kapercayaan teh bakal ngambang. Kieu geura :
Ari Iman teh aya 2 (dua) Tahap :
  1. IMAN KA NU MARENTAHNA nyaeta Percaya ka Nu Maha Suci. Ieu mah bagian kana Hakekat.
  2. IMANA KANA PARENTAHANNANA NU MAHA SUCI ieu mah bagian kana Sareat.
  1. RADEN KAMIL : Mugi dijelaskeun Iman ka Nu Marentahna, nyaeta ka Nu Maha Suci teh kumaha carana ?
  2. RADEN INSAN : Ari Iman ka Nu Maha Suci teh …, tegesna Eling. Tapi sahna Eling teh …, kedah Ma’rifat heula kana Dzat Sifatna Allah Ta’ala. Jadi kedah kapendak heula. Margi kumaha bade Iman-na (percayana), upami henteu acan paamprok mah. Ulah Iman ngan dina Lisan wungkul. Kitu tah… Rai !.
  3. RADEN KAMIL : Nuhun… parantos jelas Iman anu ka hiji mah, ayeuna kantun Iman kana Parentahanana…, kumaha maksadna ?
  4. RADEN INSAN : Ari Iman kana Parentahannana mah, nyaeta kedah ngalaksanakeun kana sagala rupi anu diparentahkeunnana, diantarana anu kaunggel dina Rukun Iman sareng dina Rukun Islam, anu dicontokeun ku Kanjeng Nabi Muhammad Rasululloh SAW, sarta dina Tekad – Ucap – Lampah, sing kagungan pamilih, mana anu dikedahkeun sareng mana anu diharamkeun ku Agama. Tah Jalmi anu parantos kagungan pamilih ngalaksanakeun parentahNa sareng nebihan larangan Allah Ta’ala, eta anu disebat Takwa. Ari jalmi anu Takwa teh cirina jalmi anu Iman.
  5. RADEN KAMIL : Ke.. punten Kang !…, kumaha ieu mah…, saupami salah sawios Jalmi anu bade Iman kana parentahNa atawa bade Takwa… sapertos bade Solat, bade Puasa, bade Munggah Haji… nanging Jasadna parantos henteu walakaya ?…, teras aya deui… bade Zakat, Sidkoh, Infak, Amal Jariah, nanging miskin malarat rosa ?. tah upami henteu tiasa ngalaksanakeun kedah ku gerak jasad…, sareng amal ku harta…, panginten eta jalmi teh henteu disebat Iman kana ParentahNa.., margi henteu aya cirina.
  6. RADEN INSAN : Rai…., upami anu ngagugulung Sareat wungkul mah nyakitu.., da anu kasebat ibadah Sareat mah.. ku pamolah jasad sareng sagala rupi anu katingali ku panon. Ari perkawis amal jariah mah kapan aya katangtuannana, aya iwalna pikeun anu kokoro mah. Mung perkawis Ibadah wujud ka Allah, anu mawi Iman kedah ditempuh dua-duana oge…, kedah diteleuman tur dipidamel. Tah dina palebah jasad henteu tiasa walakaya. Ari anu parantos Ma’rifat mah ka Dzat – Sifat Allah Ta’ala… henteu janten halangan Iman ka Nu Maha Suci, margi Eling anu henteu ngawaktu. Istuning saendeng-endeng, usik malik, diuk nangtung, leumpang ulah pegat ti Eling ka Manten-Na. salawasna moal pegat dugi ka hosna maot oge, da parantos ‘ WA HUWA MA’AKUM – WA HUWA MAKUNTUM ‘ , Hartosna : Siang wengi parantos ngaraos sasarengan, henteu pisah.
  7. RADEN KAMIL : Kang !…., kumaha upami salah sawios jalmi, ngalaksanakeun ibadah Sareat…., puguh jasad parantos teu walakaya, atuh bade ibadah Hakekat (Eling saendeng-endeng) da teu acan Ma’rifat…., kumaha tah ?
  8. RADEN INSAN : Nya upami kitu mah atuh KAFIRAN, engke dina maotna henteu sareng Iman. Atuh poek… jadi linglung rarasaan, Nyawa teh sasab kapidangdung.. henteu tiasa mulang ka asal. Tah kitu Rai !.
  9. RADEN KAMIL : Dina perkawis ngalaksanakeun Iman kana parentah-Na, utamina dina Hablumminalloh, eta teh panginten ngandung hartos nyembah atawa sujud ka Allah. Anu bade ditaroskeun teh …, manawi aya dasar hukumna kedah sumembah teh ?
  10. RADEN INSAN : Aya Dalilna Rai !…., dina Surat Thoha ayat 25 : LA ILLAHA ILLA ANNA, hartosna : Teu aya deui anu disembah kajabi Kami. Teras aya deui Dalil, Surat Al-Bayinah ayat 5 : ‘WAMA UMIRU ILA LIYA’BUDULLOHA MUKHLISINA LAHUDIN’, hartosna : Parentah nyembah ka Allah kedah ikhlas.
  11. RADEN KAMIL : Dupi… tadi kantos disaurkeun, yen Iman ka Nu Maha Suci teh kedah Ma’rifat heula, naha aya dasarna ?
  12. RADEN INSAN : Aya Hadist Nabi…., anu diriwayatkeun ku Syaidina Ali :
  • AWALUDINNI MA’RIFATTULLOHI Anu Hartosna : Awal-awalna Agama kedah terang heula ka Allah.
  • AWALU WAJIBUN ALAL INSAN MARIFATULLAHI BI ISTIQANI’ Anu Hartosna : Ari awalna (mimitina) kawajiban manusa nyaeta kudu nyaho ka Allah ku kayakinan anu panceug/kuat (istiqomah) nyatana anu teu umbut kalinuan teu gedag kaanginan.
  • WA KAMALU MA’RIFATTIHI ATASDIKU BIHIAnu Hartosna : Jeng ari sampurnana Ma’rifat teh nyaeta Tasdik (Sidik).
  • WA KAMALU TASDIK BIHI TAUHIDUAnu Hartosna : Ari kasampurnaan Tasdik nyaeta Tauhid.
  • WA KAMALU TAUHIDU BIHI AL-IKHLASULLAHU’ Anu Hartosna : Ari kasampurnaan Tauhid nyaeta Ikhlas.
Jadi Rai !…., TAUHID teh Nunggalkeun Allah, boh Dzat-Na, boh Sifat-Na, kalebet padamelanna-Na. Tegesna Jalmi anu Tauhid teh …, anu parantos tiasa misahkeun tina rurujit, nyingkirkeun laku maksiat … ngahiji kanu beresih.
  1. RADEN KAMIL : Perkawis Ma’rifat…, manawi henteu lepat… eta teh lebet salah sawios Rukun Agama, Rai.. masih keneh bingung, tadi disaurkeun ku Syaidina Ali : Yen sampurnana Ma’rifat teh nyaeta Sidik (Tasdik). Manawi aya katerangan anu langkung eces ?
  2. RADEN INSAN : Leres Rai !…, eta teh tutugna RUKUN AGAMA, (Sareat – Tarekat – Hakekat – Ma’rifat). Dijelaskeun ku Hadits Nabi :
اﻋـﺮﻓـﻜﻢ ﺒـﺮﺒـﻪ اﻋـﺮﻓـﻜﻢ ﺒـﻧـﻔـﺴـﻪ
ARAFUKUM BIRABBIHI ARAFUKUM BINAFSIHI
Artina : Jalma anu bener-bener nyaho ka Allah nyaeta anu geus lewih ngarti jeng nyaho ka dirina sorangan.
Dijelaskeun deui, ari Ma’rifat teh KASYAF. Ari Kasyaf teh nyaeta Kabukana Hakekat (anu sabenerna).
  • MA’RIFATUL HAKEKATUL MAUJUDA Anu Hartosna : Kabukana sagala anu aya (Isbat) kaasup dirina.
Malah aya deui Hadits Nabi Muhammad :
  • MAN SHOLATA BILA MA’RIFATIN LATASIHU SHALATUHU Anu Hartosna : Henteu sah solatna jalma, upama henteu acan Ma’rifat.
  1. RADEN KAMIL : Hatur nuhun Kang !…, kana katerangan-katerangan, anu henteu kinten kahartosna. Rada bray-brayan ayeuna mah. Salajengna anu bade ditaroskeun teh …nyaeta bade nyusul amanat pun Bapa nalika jumeneng…, ka Rai teh kieu : “ Omat ku hidep sing kapendak Hakekat Tasjid “. Tah kumaha eta TASJID teh kang ?
  2. RADEN INSAN : Upami Rai.. bade nyusul tepus HAKEKAT TASJID, hartosna Rai teh …bade napak tilas laratan Asal sareng nyusul Hakekat Netepan (Solat), oge sakaligus nyumponan Hadist Nabi anu tadi disaurkeun : ‘MAN SHOLATA BILA MA’RIFATIN LATASIHU SHALATUHU Anu Hartosna : Henteu sah solatna jalma, upama henteu acan Ma’rifat.
  3. RADEN KAMIL : Ke..kang !…, Huruf Tasjid jigjig kana Asal urang sareng kana Netepan sagala ?,…. Naha naon hubungannana ?
  4. RADEN INSAN : Is…. Atuh kantenan aya pakuat pakaitna mah… kieu :
Antawis Asma Allah (Jenengan) anu nganggo Tasjid, mung Lafadz Allah ( ﺍﷲ ) sareng Muhammad ( ﻤﺤـﻤﺪ ).
Cing Rai !…, emut-emut deui !…, panginten parantos didugikeun ku Tuang Rama.. perkawis Hakekat Muhammad atawa Johar Awal tea !. Kapan eta anu janten WAL AWALU (Pang Awalna) di damel ku Nu Maha Suci teh.
Ari sorotna eta Hakekat Muhammad atawa Johar Awal teh jadi Nur Muhammad (Cahaya opat rupi) :
  • NARUN (CAHAYA BEREM) NGAJADI HURUF ALIP ( ) Saren MIM ( )
  • HAWAUN (CAHAYA KONENG) NGAJADI HURUF LAM ( ) Sareng HE ( )
  • MAUN (CAHAYA BODAS) NGAJADI HURUF LAM ( ) Sareng MIM ()
  • TURABUN (CAHAYA HIDENG) NGAJADI HURUF HE ( ) Sareng DAL ()
  • Ari HAKEKAT MUHAMMAD atau JOHAR AWAL janten Hakekat Tasjid ( ω )
Janten ti dinya asalna Lafadz Allah ( ﺍﷲ ) sareng Muhammad ( ﻤﺤـﻤﺪ ).
Saparantos Nu Maha Kawasa ngadamel Jalmi nyaeta Adam (Adegan Wujud), ari rupina disebat Muhammad ( ﻤﺤـﻤﺪ ). Kieu Rai ! :
  • Tina SIRAH NGAJADI HURUF MIM AWAL ( )
  • Tina DADA NGAJADI HURUF HE ( )
  • Tina UDEL NGAJADI HURUF MIM AKHIR ( )
  • Tina SUKU NGAJADI HURUF DAL ( )
Tah ieu WAL AKHIRU (pang akhirna) Muhammad teh. Panutup, oge bungkus Nur sareng Rasa. Ti dinya kakara turun tumurun ngalahirkeun Manusa dugi ka jenengan Muhammad bin Abdullah lemburna di Quraes Mekah, anu pangkatna Nabi oge salaku Rasul, anu ngagelarkeun AGAMA ISLAM, salaku Nabi Panutup. Moal aya deui Nabi Kantun Elmuna (Rukun Agama) jadi Ageuman/padoman pikeun umatna tug dugi ka kiwari. Tah kitu Rai !…, pangna nyusul-nyusul huruf Tasjid sami sareng nyusul laratan Asal Hirup Manusa. Janten :
  • WAL AWALU : Pang awalna Allah teh ngadamel Hakekat Muhammad atawa Johar Awal (Sagara Hirup). Hartosna saniskara anu nyawaan (Hirup) asalna tidinya.
  • WAL AKHIRU : Pang akhirna Allah ngadamel Sareat Muhammad. Rupi manusa, jadi bungkus atawa nutupan Nur sareng Rasa, oge Panutup Pangkat Nabi (Khotaman Nabiyin).
  1. RADEN KAMIL : Punten Kang !…, eta katerangan teh .. aya dasarna ?
  2. RADEN INSAN : Ieu Hadits Nabi :
ﺍﻮﻞ ﻤﺎﺧﻟﻖﺍﷲ ﻧﻮﺮﻧﺒﻴﻚ ﻴﺎ ﺠﺎﺒﺮﻮﺧﻟﻖ ﻤﻧﻪ ﺍﻷ ﺷﻴﺎﺀ ﻮﺍﻧﺖ ﻤﻦ ﺗﻟﻚ ﺍﻵ ﺷﻴﺎﺀ
AWWALUMA KHALAQALLAHU NURA NABIYYIKA YA JABIRU WA KHALAQA MINHUL-ASYYA’A WA ANTA MIN TILKAL ASYA’I,,
Artina :
Awal mula anu Alloh jadikeun nyaeta Nur Nabi Anjeun ya,, Jabir. Jeung Alloh ngajadikeun tina Nur eta, sagala sesuatu ieu, jeung Anjeun hai,,Jabir nu kamasuk tina sesuatu eta.
ﺍﻦﺍﷲ ﺧﻟﻕ ﺮﻮﺡ ﺍﻟﻧﺑﻲ ﺼﻟﻰﺍﷲﻋﻟﻴﻪ ﻮﺴﻟﻢ ﻤﻦ ﺯﺍﺗﻪ ﻮﺧﻟﻖ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﺒﺎﺀ ﺴﺮﻩ ﻤﻦ ﻧﻮﺮﻤﺤﻤﺪ ﺼﻟﻰﺍﷲﻋﻟﻴﻪ ﻮﺴﻟﻢ
INNALLAHA KHALAQA RUHANNABIYYI SHALALLAHU ‘ALAIHI WASALLAMA MIN DZATTIHI WA KHALAQAL ‘ALAMA BIASRIHI MIN NURI MUHAMMADIN SALALLAHU ALAIHI WASSALAM
Artina :
Saenyana Alloh nyiptakeun Roh Nabi Muhammad tina Dzat-Na, tuluy Alloh nyiptakeun alam, kalawan rahasiah-Na tina Nur Muhammad SAW.
  1. RADEN KAMIL : Samentawis… rada cekap eta katerangan teh, kapayun hoyong langkung anteb deui. Mung ayeuna hoyong diterangkeun anu pakuat pakaitna TASJID sareng NETEPAN (SHOLAT).
  2. RADEN INSAN : Kapan Hakekat Muhammad teh … jadi hurup TASJID dina Lafadz Allah…, sareng Takbiratul Ikhram dina Sholat.
  • NURUL AHMAR/CAHAYA BEREM NGAJADI HURUF ALIP ( ) ari Wujudna dina Sholat nyaeta NANGTUNG.
  • NURUL ASHFAR/CAHAYA KONENG NGAJADI HURUF LAM ( ) ari Wujudna dina Sholat nyaeta RUKU.
  • NURUL ABYAD/CAHAYA BODAS NGAJADI HURUF LAM ( ) ari Wujudna dina Sholat nyaeta SUJUD.
  • NURUL ASWAD/CAHAYA HIDENG NGAJADI HURUF HE ( ) ari Wujudna dina Sholat nyaeta LUNGGUH.
Jadi Rai !…, nuju Solat mah Takbiratul Ikhram, Nangtung, Ruku, Sujud, Lungguh, eta ngagambarkeun Lafadz Allah ( ﺍﷲ ) pikeun nyusul Hakekat Muhammad, Cahaya Berem, Cahaya Koneng, Cahaya Bodas, Cahaya Hideung.
Tah upami parantos pertingkah LUNGGUH (ATAHIYAT), eta mah ngagambarkeun Lafadz Muhammad ( ﻤﺤـﻤﺪ ) :
  • Tina SIRAH NGAJADI HURUF MIM AWAL ( )
  • Tina DADA NGAJADI HURUF HE ( )
  • Tina UDEL NGAJADI HURUF MIM AKHIR ( )
  • Tina SUKU NGAJADI HURUF DAL ()
Tapi henteu acan janten wujud dalil Muhammad, margi kirang Tasjid. Eta anu kedah dipilari !!!.
Rai !…, Tasjid teh mangrupa Koncina Bumi sareng Langit pikeun mukakeun LAWANG HIJAB (Pipinding) Ma’rifat ka Allah. Pikeun ngaburak, ngarakrak JAGAT SHOGIR baris nimbulkeun Lelembut Raga (Jatining Manusa).
Upami kapendak eta TASJID, engke bakal kahartos pasal Nafi Isbat.
Kitu tah Rai !…, perkawis Tasjid teh !…., mangga geura Manahan sing anteb, sareng pilari Tarekahna !!!.
Tapi ketang…, sanaos hayoh dipikiran oge kalah ka murudul rambut…, moal kapendak, upami henteu acan terang kana prak-prakan SHOLAT TAZALLI atau Sholat Da’im, padamelan Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Ieu teh penting kacida Rai !.., upami Wujud Manusa henteu acan ngawujud dalil Lafadz Muhammad ( ﻤﺤـﻤﺪ ), eta moal pendak sareng Allah ( ﺍﷲ ) hartosna moal Ma’rifat.
Mugi Rai.., janten uninga…, Para Rasul salaku utusan Allah ( Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad), diantara anu genep teh …, anu kaselir tiasa MI’RAJ mah, mung hiji nyaeta Jungjunan Nabi Muhammad Rasululloh SAW. Matenna anu kaselir ku Nu Maha Agung sina ninggal Akherat, ninggal ka ayaan Batin memeh pupus. Mantenna mah parantos uninga waktosna.
  1. RADEN KAMIL : Manawi aya cirina para Rasul anu henteu kaselir Mi’raj Kang !.
  2. RADEN INSAN : Ari cirina mah… kapan buktos dina Lafadz Jenengannana henteu nganggo Tasjidan.., salian ti Nabi Muhammad anu aya mah…, nya sami sareng Lafadz Allah, eta ciri anu dipaparin Konci kangge ngadeuheus ka Maha Suci.
Tah ayeuna urang salaku umat Nabi Muhammad Rasululloh SAW, pada kagungan waris… asal tiasa kependak Tasjidna. Carana sing Suhud milarian.., dipeser ku prihatin, tirakat, mutih… sareng disarengan ku Tekad, Ucap, Lampah anu sae. Insya Allah awal akhir baris tinekanan.
  1. RADEN KAMIL : Aduh hatur nuhun.. kahartos pisan eta katerangan sareng piwejang ti Engkang…, kantun Rai… milarian Tarekatna, supados kenging Koncina.
Upami anu parantos kagungan konci ku jalan Tarekat…, rupina… sami hiji jalan kana Ma’rifat. Anu bade ditaroskeun ku Rai !.., naon paedahna, atawa mangpaatna, pangna Manusa Wajib Ma’rifat ka Allah ?
  1. RADEN INSAN : Ari paedahna Ma’rifat teh Rai !.., nyaeta pikeun sarat SAHNA AMAL IBADAH URANG DI ALAM DUNYA, supaya yakin nyembahna, moal pegat dugi ka maot engke. Margi Rai !…, ari leresna Sumembah teh .. kedah tepung heula sareng Anu di Sembahna. Jadi tara ngaheulakeun sembah Samemeh pendak. Kitu deui.., leresna PUJI oge kedah bukti heula anu dipujina. Oge upama urang tumarima Jadi Kawula teh …, kedah tingali heula Di Gustina. Upami urang bade Kuli/Buburuh atuh kedah milari heula Dunungannana, tara ujug-ujug didamel, margi bisi henteu puguh buruhannana. Tah anu dijentrekeun di luhur teh luyu sareng Dawuhan Allah Ta’ala dina Qur’an (Surat Al-Hijir ayat 99) : WA’BUD ROBBAKA HATTA YA’TIYAKAL YAQIN, Anu hartosna : Kudu nyembah maraneh ka Panggeran maraneh sing tepi ka Yakin.
  2. RADEN KAMIL : Punten Kang !.., kumaha upami aya salah sawios jalmi.., henteu acan terang kana jalan-jalan ibadah sakumaha kedahna, maksad teh henteu tina ibadah Sareat heula, nanging aya kadar tiasa Ma’rifat ka Nu Maha Suci ?
  3. RADEN INSAN : Jalmi anu kitu langkung untung, tandana eta jalmi teh kenging Taufik (pitulung) ti Nu Maha Suci, oge hiji cirri eta Jalmi teh dihampura dosana.
Perkawis Ma’rifat mah… Rai !.., bade tina Sareat, bade tina Tarekat…, ti mana bae jalanna mah, da sanaos tina Sareat oge, ari bade ningkat kana Ma’rifat mah, tangtu nyorang heula Tarekat. Margi Tarekat mah.. pikeun ngabuktikeun Sifat-sifat Hakekat, nyaeta Dzat – Sifat – Asma, eta teh Barang Ghaib, anu tiasa ditingalina teh sanes ku Soca biasa, sakumaha saur Hadis : RU’YATULLAHI TA’ALA FIDUNYYA BI AENIL QOLBI, Anu hartosna : Ningali Sifat-sifatNa Allah di dunya ku Awasna Mata Batin/Qolbu.
Kitu Rai !…, katerangan Ma’rifat ka Allah teh, henteu dipastikeun kedah Sareat heula…, kumaha dipaparin Taufik-na ku Nu Maha Suci. Da Manten-Na anu kagungan Sifat Wenang.
  1. RADEN KAMIL : Perkawis hal Ma’rifat ku Rai… parantos kahartos, jadi paedahna teh :
    1. Mangrupi sarat pikeun Sahna Ibadah sareng Amalna, supados sampurna.
    2. Pikeun Ngabenteng Hawa Nafsu anu Goreng, sangkan sampurna Tekad, Ucap jeung Lampahna.
    3. Pikeun Lampu Kasalametan boh di Dunya, boh di Akherat. Margi sifat anu mawa salamet teh CAANG. Sedengkeun sifat anu mawa cilaka teh Poek.
Lampu (Caang) teh penting, supados lumakuna henteu tutubruk. Margi upami anu henteu acan kagungan lampu mah.., tos kantenan jalmi ma’siat, dalah anus ok getol aribadah oge sok rajeun diaradu jeung baturna, da poek tea. Kang da kana papahaman mah parantos yakin kana ieu Elmu teh kantun kumaha carana supados enggal kadugi kana Ma’rifat ?
  1. RADEN INSAN : Supados enggal mah, teu aya deui carana teh kedah kieu :
Pilari sing kapendak Rukun Ma’rifat, piraku ku tuang Rama teu acan diwartosan !, geuning dina Sifat 20 Allah mah Wahdaniat, oge eta teh lebet kana Sahna Maca Sahadat.
  1. RADEN KAMIL : Anu mana tea….. nya ?, duka henteu acan….. Duka hilap deui Kang ?
  2. RADEN INSAN : Eemmmh… Rai… mah……, Rukun Ma’rifat teh…. eta :
DHAT – SIFAT – ASMA – AF’AL
  1. RADEN KAMIL : Ooooh…. Leres… emut ayeuna mah.., anu kedah :
  • Netepkeun heula Kana Dhat-na Allah Ta’alla
  • Netepkeun heula Kana Sifat-na Allah Ta’alla
  • Netepkeun heula Kana Asma-na Allah Ta’alla
  • Netepkeun heula Kana Af’al-na Allah Ta’alla
  • Kudu geus Sidik/Tasdik Ka Rasululloh
  1. RADEN INSAN : Nuhun atuh parantos ka emut mah. tah anu tilu Dzat – Sifat – Asma kagolong barang Gaib. Ari Gaib teh Aya tapi tanpa bukti. Manusa diwajibkeun percaya kanu Gaib. Da ceuk dalilna oge : ALLADINA YU MINUNA BIL GHOIB, Hartosna : Ari Jalma anu Iman teh anu nekadkeun, ngabenerkeun kana perkara anu Gaib.
Tapi sahna urang Iman sarta ngaku kana perkara Gaib teh, kedah yakin heula kana barang-barangna. Sedengkeun barang Gaib mah henteu katingali ku panon biasa, tapi kedah ku Gaib deui. Ari anu Gaib di Wujud Manusa teh sami nyaeta Dzat – Sifat – Asma Allah tea.
Janten ditingalina teh kedah ku Gaibna Manusa. Geuning saur Hadist oge : WALLAHU GHOIBUN AL-INSANU GHOIBUN, Hartosna : Allah teh Ghaib manusa oge Ghaib. Tah upami urang parantos Awas kana Sifat Hakekat (Dzat- Sifat – Asma), tanwande urang bisa tepi kana MA’RIFATULLOH.
Emut Rai.., ari biasa Allah teh .. tetep Jenengan. Jenengan saparantosna Isbat (Aya) lahirna manusa. Ari Dohirna Manusa teh … saparantos gulungna Dzat – Sifat – Asma – Af’al Allah. Margi eta anu opat teh… jadi Huruf Allah ( ﺍﷲ ) :
  • DZAT NGAJADI HURUF ALIP ( )
  • SIFAT NGAJADI HURUF LAM AWAL ( )
  • ASMA NGAJADI HURUF LAM AKHIR ( )
  • AF’AL NGAJADI HURUF HE ( )
Tapi sanaos jadi Huruf ALIP ( ), LAM AWAL ( ), LAM AKHIR ( ), HE ( ). Henteu acan janten Lafadz Allah, margi henteu acan kumplit sareng Tasjid ( ω ).
Ana kitu atuh…. Tasjid na teh …, Sareatna … kanyataan Manusa. Margi aya Jenengan Allah teh…. Saparantos aya Manusa.
Paingan Dawuhan Allah :
ﺍﻻﺣﻖ ﺒـﺎﻻﺣﻖ ﺍﻻﺣﻖ ﺒـﺎﻻﺣﻖ
ILLA HAQQA BILLA HAQQIN – ILLA HAQQIN BILLA HAQQA
Tegesna : ‘ MOAL AYA AING LAMUN EUWEUH MUHAMMAD (MANUSA), MOAL AYA MUHAMMAD (MANUSA) LAMUN EUWEH AING’.
Tetela ‘ Muhammad (manusa) teh henteu aya antarana sareng Allah. Sesuai numutkeun dalilna :
WA NAHNU AQRABUN ILAIHI MIN HABLIL WARID
Hartosna : Kami lewih deukeut ka maneh, sanajan dibandingkeun urat beuheung jeung beuheung maneh oge.
  1. RADEN KAMIL : Perkawis Jenengan Allah, saparantos ngupinkeun katerangan ti Engkang…, rada ngagebray, nanging manawi aya ibaratna…, supados langkung eces Kang !.
  2. RADEN INSAN : Cing urang milari conto sangkan langkung jelas.
Conto Sareatna :
Rai !…, kantos ngadangu jenengan Pamarentah ?…., manahan ku Rai..!, Kumaha Wujudna Pamarentah teh ?. Kapan sadayana oge ngangkeun yen Pamarentah teh anu pang kawasana di nagara mah.
Rai !…, ari anu disebut Pamarentah teh kedah kacumponan sarat-saratna :
  1. Kedah aya Presiden-na
  2. Kedah aya Mentri-mentri-na
  3. Kedah aya Rahayat-na
  4. Kedah aya Wilayah-na
Upami kacumponan sarat-sarat ieu, nembe sah disebut Pamarentahan. Ongkoh disebut Pamarentah… tur kawasa…, sanajan Presiden oge ari bade Ngalantik teh…, sok nyaurkeun kieu : SAYA ATAS NAMA PAMARENTAH…., tapi wujudna mah kapan henteu bisa dituduhkeun.
    • Upami nuduh Pamarentah ka Presiden/Raja… kapan eta mah jelas Presiden/Raja
    • Upami nuduh ka Mentri…., kapan eta mah para Mentri pembantu Presiden.
    • Upami nuduh ka Rahayat…, kapan tos kantenan eta mah Rahayatna.
    • Upami nuduh ka Wilayah….., kapan puguh eta mah Wilayahna.
Jadi Rai !…, Jenengan Pamarentah teh Yakin Aya, tapi Tanpa Rupa/Bukti. Pikeun ngayakinkeun Ayana …., kedah terang kana Sifat-sifatna Pamarentah nyaeta :
  • Kedah terang ka Presiden
  • Kedah terang ka Mentri-mentrina
  • Kedah terang ka Rahayatna
  • Kedah terang kana Wilayah legana Nagara.
Tah anu opat sifat ieu teh Kaliputan atawa Kapurba Wisesa ku Kakawasaan Pamarentah.
  1. RADEN KAMIL : Eta mah nembe conto Sareatna Kang !…., kumaha ari conto Hakekatna ?
  2. RADEN INSAN : Conto numutkeun Hakekatna mah kieu :
Ari basa Allah teh jenengan, cing kumaha Wujudna ?…., sami teu tiasa dituduh-tuduh, ibarat nuduh kana Pamarentah dina Sareat mah. cing ayeuna babandingannana :
  • Upami nuduh kana Dzat-Na Allah, ibarat Pamarentahan…., cing naon barangna dina Diri Manusa ?
  • Upami nuduh kana Sifat-Na Allah, ibarat Presiden…., cing naon barangna dina Diri Manusa ?
  • Upami nuduh kana Asma-Na Allah, ibarat Mentri…., cing naon barangna dina Diri Manusa ?
  • Upami nuduh kana Af’al-Na Allah, ibarat Rahayat katut Wilayahna…., cing naon barangna dina Diri Manusa ?
Upami parantos terang kana barangna eta anu opat kalawan Haqul Yakin, katingalina ku Panon Qolbu/Hate, tah… anu kitu disebat Ma’rifat ka Allah.
  1. RADEN KAMIL : Dupi eta kana Dzat…., naha wajib katingalina ?, kapan saur Dalil oge :
ﻠﻴﺲ ﻠﻪ ﻤـﻜﺎ ﻦ ﻭﻻ ﺰﻤﺎ ﻦ ﻓﺧﻠﻖ ﺍﻠﻤﻜﺎ ﻦ ﻭﺍﻠﺰﻤﺎ ﻦ
LAESA LAHU MAKANUN WALA ZAMANUN FAKHOLAQO MAKANAN WAL ZAMMAN
Anu hartosna : Allah teu bertempat, MantenNa anu nyiptakeun Waktu sinareng Tempat.
DHAT LAESA KAMISLIHI SAEUN…….. anu BILA HAEFIN……, BILA MAKANIN (Teu tiasa disaruakeun, henteu warna, henteu rupa, henteu imah henteu enggon). Atuh bade katingali kumaha ?
  1. RADEN INSAN : Henteu wajib Rai !, ningali kana Dzat-Na mah…. wajib teh terang kana Ayana bari Karasa. Ibarat kana Seneu, ningali kana Hurungna (sifatna) ari kana Panasna mah asal terang sareng Karasa sami hoyong yakin kana ayana panas, atuh kedah dirampa sifatna (hurungna) eta seneu, pasti bakal Karasa Panasna.
Kitu deui… upami urang parantos ningali kana Sifat-Na Gusti Allah, tangtu Karasa Ayana Dzat teh, sarta karaos ngaliputannana teh kana sagala Sifat-sifatNa.
Jadi Dzat anu langkung Kawasa teh da… kapan Hurung (sifatna seneu) bijilna teh ku ayana Panas. Geura buktikeun upami urang bade ngahurungkeun seneu… boh ku Kayu Api atawa Gasolin (Bensin), kapan siki Kayu Apina teh digesekeun heula kana cangkang kayu api sina panas heula. Upama parantos panas… kakara bijil Hurungna. Di dinya antara Panas sareng Hurung ngagulung jadi hiji (manunggal). Jadi Dzat sareng Sifat ngagulung.
Tah kitu Rai !…, padika Allah mah… nu ngadamel sok ngahiji sareng anu dipidamel (Jumeneng). Asal Nafi (teu bukti) jadi Isbat (aya bukti). Nafi – Isbat jadi Hiji (ngagulung). Anu mawi Lafadzna LA ILLAHA ILA ALLAH :
  • LA = Kanyataan ayana Dzat
  • ILLAHA = Kanyataan ayana Sifat
  • ILA = Kanyataan ayana Asma
  • ALLAH = Kanyataan ayana Af’al
  • Gulungna NAFI = LA ILLAHA ILA
  • Sedengkeun ISBAT = ALLAH
  1. RADEN KAMIL : Kang !…, dupi eta Dzat – Sifat – Asma – Af’al…, naon barangna dina wujud urang ?
  2. RADEN INSAN : Rai !… eta mah rasiah…., margi eta mah Elmu Agama Rasululloh. Ari Kanjeng Nabi Muhammad teh kapan urang Quraes, upami Rai !…, hoyong tutug eta Elmu…, atuh kedah janten urang Quraes heula. Hartosna kedah ahli ngosongkeun patuangan (tirakat/kentel peujit).
Sabar heula Rai !.., kedah nuju salse eta mah. Ayeuna mah cumponan heula bae sarat-saratna…, da engke oge kauningana teh ku rai nyalira.
  1. RADEN KAMIL : Kitu nya…., jadi udageun Rai.. kapayun. Atuh ayeuna mah bade digentos patarosannana, nyaeta anu disebat Hiji Asmana Allah teh naon tea Kang ?
  2. RADEN INSAN : Eta teh …barang Gaib keneh…, anus ok disarebat barang Ismu Dzat. Ari barangna :
  • QUDRAT = NURULLOH / JAOHAR AWAL, anu ngahirupkeun Manusa.
  • IRODAT = NUR MUHAMMAD, anu ngajadikeun sadayana sifat-sifat (anu ngajadi) : Paninggal, Pangrungu, Pangangseu, Pangucap.
Rai !.., Manusa teh tina Qudrat – IrodatNa Allah Ta’ala, anu mawi kedah kauninga ti ayeuna!, margi kapan kedah mulang deui kadinya. Upami urang ayeuna henteu Ma’rifat (terang) ka dinya, tangtu bakal kalangsu, ngulibek di dunya-dunya keneh.
  1. RADEN KAMIL : Dupi anu disebat Hiji Af’alna (dadameulannana) Allah naon nyatana ?
  2. RADEN INSAN : Kapan eta Wujud anu diangge ku Rai !…, naha pangrasa teh kitu eta wujud teh kenging Ibu-Rama ?. Atuh upami Ibu-Rama tariasa ngadamel Wujud Manus amah…, Dalil Lahaula wala Kuwata teh teu keuna. Pisakumahaeun teuing.. pa alus-alusna meureun nyarieun budak teh. Tah ieu Wujud teh Rai !.., ngabuktoskeun Kakawasaan sareng KersaNa Allah Ta’ala. Tapi sok sanaos Allah Kawasa oge…., kedah bae ari nganggo sabab mah, geuning saur Dalil oge : INNALLOHA A’LA KULLI SYAEIN SABABA, Hartosna : Allah ngajantenkeun sagala rupi nganggo sabab.
Nya ieu Wujud disababannana perentawisan Ibu-Rama. Jadi Ibu-Rama teh sakadar cukang lantaran. Bilih Rai !.., teu acan ngartos…, ieu wujud teh nyantel (ngahiji) kana Dzat – Sifat – Asma – Af’al. Atawa dina Lafadzna mah : ALIP ( ), LAM AWAL ( ), LAM AKHIR ( ), HE ( ). Katarik kana kanyataan Allah ( ﺍﷲ ), jadi ieu Wujud Huruf HE ( ) dina Lafadz Allah ( ﺍﷲ ).
  1. RADEN KAMIL : Naha Kang ?, kapan ieu Wujud teh barang anyar ?
  2. RADEN INSAN : Iiih.. anyar soteh Isbat-na (ayana bukti), da tadina mah barang Nafi tea, … Nafi – Isbat jadi hiji.
  3. RADEN KAMIL : Upami ieu Wujud leres barang Nafi…, naha atuh sok ruksak atawa buruk di Kuburna ?
  4. RADEN INSAN : Tiasa bae.. buruk, bau…, upami ieu Wujud diangkeun Wujud Manusa. Rai !…, sing ngartos ieu mah sanes Wujud Manusa !, tapi Wujud bukti dadamelan Allah Ta’ala…, tempat sareng parabot pikeun nyumponan sagala karep Manusa.
Supados henteu lieur…, cing upami Rai hoyong ka Jakarta…, naha ieu Wujudna anu hoyong ka Jakarta teh ?, atawa Manusana ?.
  1. RADEN KAMIL : Panginten anu hoyongeun mah Manusana atawa Rasana !.
  2. RADEN INSAN : Tah geuning ngartos, leres Rai.. eta Rasana…. Nanging eta kahoyong Rasa teh tiasa dugi moal upami henteu disarengan ku Wujud ?
  3. RADEN KAMIL : Bujeng-bujeng kanu tebih… sanaos kanu caket oge…, moal tiasa upami henteu disarengan ku Wujud mah. Atuh sawangsulna panginten Wujud oge moal tiasa indit upami henteu ku Dzat – Sifat – Asma.
  4. RADEN INSAN : Tah di palebah dieu.. Akrobna Allah sareng Manusa teh ! Saur Hadist oge : SAGALA KAREP MANUSA, MOAL JADI LAMUN HENTEU DISARENGAN KU ALLAH. Sareng palebah dieu karaos henteu pilih kasihna Allah ka papada Manusa teh … rata pada dipasihan Wujud, mangrupa ‘ Kanyataan Af’al- Na Allah. Pikeun ngabarengan sareng ngajadikeun kana saniskara Karepna Manusa.
Cing ku Rai emut !…, kapan bukti ieu eusi Alam Dunya, boh imah gedong, kendaraan, listrik, radio, TV, katuangan, kalengkepan kasehatan, kalengkepan ibadah jsb. Eta teh teu aya lian anu kagungan Karepna mah Manusa, dijadikeunana nya ku Wujud (Af’alulloh).
Tah kitu deui Rai !.., kanggo eusina Alam Akherat oge, boh Sawarga, boh Naraka, nya ku hasil karepna manusa sareng padamelan Wujud… nuju di Alam Dunyana. Anu mawi Rai !…, da ari Allah mah Tetep Suci…, teu ngalap paedah (imblan/ngancam) ngadamelna Manusa teh, henteu bade ngaganjar henteu bade nyiksa, kasakabeh manusa oge. Palebah aya Sawarga sareng Naraka…, Allah mah mung nyadiakeun wungkul pikeun hasil karepna manusa, sareng padamelan Wujud (Af’alulloh). Kusabab kitu…, Rai sing atos-atos ngagolangkeun ieu Wujud teh da ieu teh Amal Nu Maha Suci. Ulah gagabah ngagunakeunnana !…, anggo amal ibadah bari disarengan ku soleh hate, suci ati (suci tekadna, suci ucapna, suci lampahna).
  • ATI : Ulah diangge Sirik, pidik, jail, kaniaya, goring sangka, ujub, ria, takabur jeung munafek.
  • BAHAM : Ulah diangge Ngumpat simuat, geureuhan, songong, sugal jsb.
  • WUJUD : Ulah diangge Lampah maksiat ( 5 M) : Maling, Maen, Madon (Lacur), Mateni (Maehan batur).
Nu mawi Allah ngayakeun Kitab Al-Qur’an oge, eta pikeun Ukur-ukuran (anggeur-anggeuran) laku Manusa. Jadi Qur’an teh lain keur ngahukum batur, tapi ngahukum dirina (anu macana).
Kapan parantos diugerkeun ku “ AMALUNA AMALUKUM”.
Dina salah sawios Hadits oge dijelaskeun :
HASYIBU ANFUSYAKUM QOBLA TUHAASYABU, AWZINUU ANFUSYAKUM QOBLA AN’TUWZANUU
Anu hartosna : Hisab awak maneh (sorangan) samemeh jaga dihisab. Sarta timbang amal maneh (sorangan) samemeh jaga ditimbang.
  1. RADEN KAMIL : Perkawis Af’’alulloh parantos kapaham barangna ieu wujud. Tapi tadi saur Engkang ieu mah sanes ‘ Wujud Manusa’…, kapan panginten sami-sami keneh ?. upami aya bentenna … anu mana atuh Wujud Manusa anu sategesna ?
  2. RADEN INSAN : Kieu Rai !…, ari Wujud anu bukti mah… eta kanyataan Af’alulloh, sedengkeun Wujud Manusa anu sategesna mah Gaib. Aya tapi teu ngabukti (nyumput). Anu matak saur Hadist :
ﻮﻤﻦﺍﻋـﺮﻑ ﻧـﻔـﺴـﻪ ﻓـﻘـﺪ ﺍﻋـﺮﻑ ﺮﺒـﻪ ﻮﻤﻦ ﺍﻋـﺮﻑ ﺮﺒـﻪ ﻓـﻘـﺪ ﺠـﻬـﻳﻼ ﻧـﻔـﺴـﻪ
WAMAN AROFA NAFSAHU FAQOD AROFA ROBBAHU, WAMAN AROFA ROBBAHU FAQOD JAHILAN NAFSAHU
(Singsaha jalma anu geus nganyahokeun kadirina sorangan tangtu bakal nyaho ka Panggerannana, Samangsa-mangsa geus nyaho ka Panggerannana tangtu bakal leuwih nyaho kadirina anu bodo).
Tah geuning kedah dipilarian diri teh : Pangna kedah dipilarian oge panginten ku Buni (nyumput) margi Gaib tea. Da anu ngajentul katingali mah henteu kedah dipilarian.
Upami jalmi parantos terang kana Jatining Manusa tangtos bakal ngaraos bedana Manusa sareng Allah, bedana anu Suci sareng Anu Kotor. Tah upami parantos ngarasa kotor… tangtu kersa beberesih ( Tobat, moal ngalakukeun deui ).
  1. RADEN KAMIL : Euhhh… janten bentenna antawis Wujud sareng Wujud Manusa teh : Ari Wujud mah, anu bukti, mangrupi Af’alulloh, sok disarebat oge Jasad, Jasmani, Diri, Badan atawa Adam. Ieu teh mangrupi Bungkus, panginten nya Kang. Sedengkeun ari Wujud Manusa mah, atawa Jatining Manusa, sok disebat oge Rohani, mangrupi Asmaulloh. Ieu mah mangrupi eusina Jasmani. Ari barangna nyaeta : NARUN, HAWAUN, MAUN, TUROBUN. Rupina di dieu gulungna Rasa teh nya Kang !.
  2. RADEN INSAN : Nuhun geuning Rai !…, parantos dikersakeun Caang. Leres kitu Rai.., mung sing emut… eta nembe dua tahap. Anu satahap deui mah Sifatulloh anu gumulung sareng Dzattulloh tea, cing emut-emut !…, naon barangna ?.
  3. RADEN KAMIL : Ke… manawi henteu lepat…, sanes eta Kang !…. Johar Awal atawa Hakekat Muhammad atawa Bahrul Hayat (Sagara Hirup), sanes kitu Kang ?.
  4. RADEN INSAN : Tah… geuning parantos paham. Leres eta Rai !. Eta teh tina QODRAT – IRODAT-na Allah. Ari sorotna Bahrul Hayat (Sagara Hirup).., nya janten Hrupna Manusa atawa Roh Suci, anu ngusik malikeun urang. Engke oge Rai !.., mulih teh kedah ka dinya deui, luyu sareng Dalil : INNA LILLAHI WA INNA ILLAIHI ROJI’UN, Hartosna : Asal ti Allah, mulih deui ka Allah.
  5. RADEN KAMIL : Ke… Kang !…, upami urang asal ti Allah, teras urang teh ayeuna diumbarakeun di ieu Alam Dunya sakitu puluh taun lamina, engke parantos dugi kana waktosna kedah mulih deui ka Allah. Upami kitu mah atuh urang teh pisah.. patebih sareng Allah. Padahal Rai… nalika turun ti Alam Akhirat (Batin)… henteu ngaraos ngingking, ujug-ujug clok bae di Dohir (Dunya). Tapi eta saur Dalil kedah bae mulih deui ka Allah Maha Suci. Tah naon eta teh Kang… Anu mulih teh ?.
  6. RADEN INSAN : Kutan… Rai teh masih bingung ?. Leres …Rai … kedah mulih, nanging sanes ngingking… sapertos ti luar ka lebet bumi,…. Tapi anu Mulih teh Rasana (Nyawa), mulang deui ka asal urang keur tadi.
Cing emut- emut deui ku Rai !…., nyumponan Dalil : INNA LILLAHI (Asal ti Allah) !. Anu nembe haneut keneh diterangkeun :
Asal Hirup ti mana ?
Asal Rasa atawa Jatining Manusa ti mana ?
Asal Wujud atawa Jasmani ti mana ?
  1. RADEN KAMIL : Tapi… naha geuning ari umumna mah… panyileukan engke marulang teh bet …. Haroyong ka Sawarga ?, padahal saur Dalil mah : WA INNA ILLAIHI ( mulih deui ka Allah), geuning Dalilna henteu WA INNA AL-JANNAH (mulih ka Sawarga), kumaha eta Kang ?.
  2. RADEN INSAN : Memang aya Hadist anu nerangkeun, yen sadayana Jalmi teh ti Sawarga, hartina tina Kani’matan, tina Sahadat (Sa-Adat) waktu tadi nalika Ibu sareng Rama sapatemon Rasa. Jadi urang bade gumelar ka Alam Dunya teh kapan ngalangkungan heula Ni’mat (Sawarga).
Jadi Sawarga mah Rai !…, diangge liliwatan wungkul. Atuh dina engke urang mulang oge… nya kedah ngalangkungan deui Ni’mat (Sawarga), anu saterasna mulih deui ka Allah… ka Sagara Hirup. Da kapan ayana Ni’mat (Sawarga) teh ku aya Hirup. Hirup Allah anu Langgeung henteu kena ku ruksak.
Jadi anu mulih teh Rasana (nyawa)… Rai !.
  1. RADEN KAMIL : Kumaha…Kang !…, anu itikadna hoyong mulih teh mung dugi ka semet Sawarga ?
  2. RADEN INSAN : Iiiih… dugi ka dinya oge parantos untung, saratna oge anu kitu beuratna, sok sanaos dugi ka dinya teh hartosna mulih kana Ciptaannana Allah (Makhlukna) henteu mulih ka Nu Nyiptana ( WA INNA ILLAIHI ).
  3. RADEN KAMIL : Ke…Kang !… palebah Ni’mat (Sawarga) dina waktu maot, lebah mana karaosna ?.
  4. RADEN INSAN : Eta palebah Sakarat, kuduna … urang teh ngaraos rebu-rebu ni’mat… kedah persis anu karaos ku Ibu – Rama kapungkur nalika saresmi sapatemon. Tah Rai !, dipalebah dieu Hakekat Wat Sirotol Mustakim teh. Tegesna jalan anu bener Paturayna Nyawa sing Nepi kana Laratan Dzat – SifatNa Allah.
  5. RADEN KAMIL : Anu kumaha Kang !…, anu Maot… kenging kani’matan nuju Sakarat teh ?
  6. RADEN INSAN : Nya anu nuju di Dunyana mendakan Elmuna, nyaeta Elmu Kasampurnaan.
  7. RADEN KAMIL : Kumaha upami nuju di Dunyana henteu mendak sareng Elmu Kasampurnaan ?
  8. RADEN INSAN : Nya atuh sawangsulna tina ngaraos ni’mat…, sarebu lipet ngarasakeun kanyerian, persis anu karaos ku Ibu dina waktos harita babar atanapi ngalahirkeun. Renghap ranjug, tibubunceulik, juba, jebi, adug lajer, lurak lirik neangan jalan.. Poekeun.
  9. RADEN KAMIL : Tadi Engkang nyaurkeun…, yen anu mulih teh Rasana atawa Nyawana. Tah … Rasa (Nyawa) anu maot teh kamana jigna ?
  10. RADEN INSAN : Kieu Rai !…, pangbalikan urang teh … Pangbalikan Rasa ti Dunya mulih deui ka Rasa Kapungkur.
Pangbalikan teh aya 3 (tilu) perkawis :
  1. Balik ka HAKNA ADAM
  2. Balik ka HAKNA MUHAMMAD
  3. Balik ka HAKNA ALLAH
Jadi Rai !…, engke dina maot mah…, anu nangtukeun teh kumaha katerang Elmuna. Upami Elmuna (Katerangna) ngan semet tuturut munding, ibadahna luak leok, ngalakonan soteh bakat ku era ku batur, kurang suhud, kurang Haqul Yakin, muhit ukur ka barang dunya, atuh tangtu dina waktu Sakaratna eta Rasa )Nyawa). Imanna teh kana Dunya… nya … Nyawana kontak sareng barang Dunya. Upama kitu tangtu balikna ka dunya deui. (Balik ka Hakna Adam ). Eta mah kumaha pamuhitannana, kana bagong, Oray, Maung, Monyet jsb. Upami Rasana (Nyawa) kontak sareng asal Nur Muhammad, tangtu bakal nyumponan kana basa Mulang ka Asal (Balik ka Hakna Muhammad ), didieu tetep langgeung dina Ni’mat (Sawarga) tea.
Upami Rasana (Nyawana) kontak sareng Bahrul Hayat (Sagara Hirup), tangtu nyumponan kana basa Mulih ka Jati (Balik ka Hakna Allah). Mulih deui kana Rasa kapungkur, Rasa Allah tea (Rasululloh). Henteu aya naon-naon.., anging Allah anu Langgeung JumenengNa.
Kitu tah … Rai…, nyanggakeun hoyong nu mana ?
  1. RADEN KAMIL : Punten .. Kang !…, Rai.. rada rewel.., margi masih keneh panasaran. Anu bade ditaroskeun teh, eta Nyawa kaluarna tina Wujud teh kana naon ?.
  2. RADEN INSAN : Ari saur Kitab mah Rai !…, kaluarna Nyawa tina kurungan teh tina Embun-embunan.
  3. RADEN KAMIL : Ke.. Kang !…, upami Nyawa kaluar tina kurungan (wujud) mah… atuh panginten masih kakurungan ku wangunan Alam Dunya ?, Hartosna mulih deui kan Hakna Adam ?, upami kitu mah tetep di Alam Dunya di pangumbaraan.
  4. RADEN INSAN : Leres kitu Rai !…, eta teh saur Kitab…. Nyawa kaluar tina wujud ti Embun-embunan…, margi henteu kapendak jalan ka Akherat.. asal tadi. Jadi ngarasa poek, ka hijab (kapindingan) teu katembong… heug bae nyasab.
Rasana oge pasti eungap…, lila-lila mah bitu (kawas ban anu kaleuwihan teuing ngompana). Anu mawi pantes Nyawa bijil norobos tina wujud kana Embun-embunan. Anu kitu tetep dina Hakna Adam.
  1. RADEN KAMIL : Parantos kahartos perkawis Nyawa anu norobos tina wujud mah. Salajengna … dupi Nyawa anu sampurna ?, kumaha eta Kang ?.
  2. RADEN INSAN : Mungguh Nyawa anu sampurna mah… henteu kaluar.. oge henteu tetep…, da basana oge sampurna. Ari sampurna teh Seep bersih. Ibarat damar atawa lampu cempor seep minyakna, seep hurungna, seep panasna, nya pareum.. beresih teu aya sesana.
Supados langkung jelas Rai !… kieu :
Hurungna ibarat Kahayangna
Panasna ibarat Rasana
Minyakna ibarat Rohna
Sadayana seep/bersih henteu aya anu kakantun, mulih deui kana asalna nyaeta Nur Muhammad sareng ka Nur Dzat (Nurulloh).
  1. RADEN KAMIL : Ke… Kang !…, upami basa sampurna kitu, naha ngan seep bae ?, sapertos asalna tadi… henteu aya ngeunah sareng teu ngeunah ?.
  2. RADEN INSAN : Aeeehh…. Kutan henteu acan kapaham ?, ari cara kapungkur samemeh turun ka Dohir…, henteu aya ngeunah sareng henteu ngeunah mah, atuh sami sareng martabat sato…, anu henteu kabagean Sawarga sareng Naraka (Ngeunah sareng henteu ngeunah). Margi saur Dalil oge pikeun sato mah “ KUNTU TUROBA”, hartosna : Asal henteu aya jadi aya…, engke balik deui kana henteu aya. Anu mawi henteu katetepan Agama.
Benten deui sareng Manusa, kapan dina Dalilna oge “ KANJAN MAHFIAN “, Anu hartosna : tina asal teu aya, teras gumelar di Alam Dunya, engke mulang ti Dunya di sampurnakeun ganjaran sareng siksaan (Sawarga – Naraka).
Ari Ganjaran (Sawarga) disadiakeun pikeun anu maotna Sampuna, hartosna bakal nampi Ni’mat taya babandingannana. Dina Al-Qur’an : “ FIHA MATASYTAHIL ANFUSU WATALADZULI AYUNI WAANTUM FIHA KHALIDUN , Hartosna : Sawarga teh aya sagala anu dipikahayang…, sarta kaendahan anu katingali sareng langgeung. Sedengkeun Naraka.., eta disadiakeun pikeun anu maotna henteu sampurna.., baris nampi ka teu ngeunah anu taya babandingannana.
  1. RADEN KAMIL : Ke…Kang !…, dupi anu nampi ganjaran sareng siksaan teh naonnana ?.
  2. RADEN INSAN : Kapan parantos dijelaskeun … anu mulih teh Rasa (Nyawa). Tapi kapan Rasa teh aya 3 (tilu) Rupa :
    1. RASA JASMANIAH (Rasa Kadunyaan)
    2. RASA ROHANIAH
    3. RASA NURANIAH (Rasa Jati).
Upami RASA JASMANI (Rasa Kadunyaan) Saperti : Rasa ngeunah, rasa teu ngeunah, rasa hayang, rasa ka keuheul, rasa kamelang jsb, parantos seep (leungit), engke bakal aya anu bijil RASA NURANI (RASA JATI). Tah eta anu baris nampi Ganjaran teh Langgeung Ni’mat.
  1. RADEN KAMIL : Ke…Kang !…, ari RASA JATI teh asalna ti mana ?
  2. RADEN INSAN : Kapan tadi disanggeumkeun… Rasa Nurani (Rasa Jati) teh sering kabulen ku Rasa Rohani sareng Rasa Jasmani (Kahoyong atawa nafsu sareng prilaku). Tah upami eta Rasa Rohani sareng Rasa Jasmani parantos seep (leungit) nya timbul deui Rasa Nurani (Rasa Jati) teh.
Pokona mah Rai !…, upami Rasa Jasmani kacandak ka Akherat (Batin), tangtu moal kenging ganjaran (Sawarga), malah sawangsulna bakal nampi siksaan (Naraka).
Rasa Jati mah bageannana Ni’mat Batin (Sawarga)
Rasa Jasmani mah bageannana Kani’matan wungkul.
  1. RADEN KAMIL : Kutan… aya bentenna basa Ni’mat sareng Kani’matan teh.
  2. RADEN INSAN : Tangtu aya bedana… ari Kani’matan mah anu ngaggo padamelan. Conto Kani’matan :
Urang resep dinu caang, kapan kedah ditingali.
Aya imah gedong endah… kapan kedah ditingali.
Sapatemon sareng bojo…. Kani’matan, kapan kedah dipidamel.
Kani’matan mah… keuna ku bosen (henteu langgeung).
Ari Ni’mat mah (Sawarga) tea… di Batin mah henteu kalawan Padamelan henteu di tuang, henteu di leueut, henteu di tingali, henteu di dangu, henteu di angseu, kapan saur Rasul oge :
FIHA MALLA’AENUN ROAT, WALLAUDZUNUN SAMI’AT, WALLA KHODORO’ALA QOLBI BASYAR
Anu hartosna : Mungguh Sawarga anu Agung teh hiji kaayaan anu henteu katingali ku soca, henteu kadangu ku cepil, henteu ka gambarkeun ku hate, henteu ku padamelan mung Ni’mat anu karaos.
  1. RADEN KAMIL : Upami gambaran di Dunya mah panginten…. Sawarga teh di wangun ku gedong-gedong anu arendah, katuangan anu narikmat, Widadari anu gareulis…, sakumaha kaunggeul dina Hadist.
Kumaha eta Kang ?…. yen Jalmi anu Iman, …. Misti kenging ganjaran Akherat, dipapag ku Widadari opat puluh. Panginten Widadari teh istri. Tapi teu acan nguping aya Widadari pamegetna (Widadara)……. anu baris mapag Jalmi istri anu Iman ?
  1. RADEN INSAN : Eta…. Mah kieu Rai !
Ka hiji Sakadar Panyingsieunan sareng Pangbibita, sangkan manusa Narurut, ngarah sieun sareng kabita. Geuning ku Hadist di sapertikeun keur di Dunya, Naraka teh seneu anu panas kacida, lir godogan timah anu hurung pitempateun jelema doraka. Atuh Sawarga tempat Jalmi anu Iman, dipapag ku Widadari sareng hal-hal anu arendah.
Ka dua Leres aya Widadari teh …, nanging eta teh Muna’if (nyilokakeun kani’matan) ganjaran ti Nu Maha Suci.
Ku urang kedah dipikir panjang sing kahartos, papay laratan Widadari teh !. Ari Widadari teh rupina istri anu gareulis. Ari istri teh kapan sifat Kasukaan Ati, kacinta, kadeudeuh, kabirahian, kani’matan pikeun di Alam Dunya.
Saurang Jalmi Iman disadiakeun 40 (opat puluh) widadari, atuh tada teuing seueurna. Eta… teh siloka Rai !…, saleresna mah … mung 4 (opat). Kieu geura anu 4 (opat) teh :
KA HIJI : Kani’matan Soca, boh ningali Jalmi, boh ningali kaendahan Alam atawa barang.
KA DUA : Kani’matan Baham, ngaraoskeun naon-naon anu di tuang.
KA TILU : Kani’matan Cepil, ngupingkeun sora, musik, lagu jsb.
KA OPAT : Kani’matan Pangambung, ngangseu anu seungit-seungit.
Tah ni’mat-ni’mat Akherat mah Rai !…, henteu karana Di Pidamel heula…, estuning ni’mat salamina. Eta tah anu mulang ka Asal … ka Sawarga Agung teh nyaeta anu Ma’rifatna ka Nur Muhammad (Hakna Muhammad).
  1. RADEN KAMIL : Ke.. punten… Kang !…, ari Ni’mat teh anu kumaha ?, naha aya di Dunya…. Babandingan Ni’mat di Akherat teh ?.
  2. RADEN INSAN : Aya Rai !…., ngan di Dunya mah sepersarebuna Ni’mat di Akherat !.
  3. RADEN KAMIL : Kani’matan anu mana …. Anu sapersarebuna teh ?
  4. RADEN INSAN : Eta… ari Rai.., Nuju Kulem tibra, geuning henteu emut kana kadunyaan, henteu emut naon-naon !, tapi sanes nuju ngimpen !. Geuning nembe sakitu oge Rasa Jasmani teh henteu kuat…. Parantos seep sama sakali, parantos leungit dunya barana, leungit bojo/caroge, leungit putra, leungit sagala…. Kasilih ku Rasa Ni’mat. Tah di dinya sidik anu nampi teh Rasa Jati.
  5. RADEN KAMIL : Dupi eta anu mulih ka JATI … atawa ka HAKNA ALLAH anu kumaha Kang ?.
  6. RADEN INSAN : Eta anu nuju di Dunyana parantos mendakan Elmuna tiasa Ma’rifat ka Hakekat Muhammad (Sagara Hirup, Nur Dzat, Nurulloh, Dzat-Sifat Allah). Sampurna mulih ka Rasa Kapungkur … nalika masih keneh janten NUR. Tiasa MULIH RASANA MALING KERSANA. Ti dinya mah… nya kumaha dikersakeunaNa … mulih deui ka SAJATINING SUWUNG (DZAT LAESA KAMISLIHI).
  7. RADEN KAMIL : Nembe rada bray-brayan Kang !…, teu acan pas.., manawi aya anu langkung eces ti dinya katerangannana ?
  8. RADEN INSAN : Upami masih bingung keneh…., cing urang ibaratkeun eta RASA DOHIR sareng RASA BATIN/AKHERAT teh. Kieu Rai :
Anu disebut ku Para Wali BAHRUL HAYAT (Sagara Hirup) teh …., anu mahi ngaliputan ka 7 Lapis Bumi, 7 Lapis Langit katut saniskara eusina, upami di Alam Dohir (Dunya) mah… ibarat SAGARA CAI atawa Laut.
Laut teh mangrupi puseur ti sakumna cai-cai anu araya di sakuliah bumi, anu aya di Walungan-walungan, di situ-situ, di kubangan-kubangan, di susukan-susukan, di balong-balong, di sawah-sawah, di sumur-sumur jsb.
Jadi Laut salaku SAGARA CAI teh mahi ngahirupkeun sakumna Makhluk saeusi Dunya. Ari Cai Laut kapan rasana teh Asin. Tah ibarat urang tadi samemeh turun ka Dunya… nuju di Sagara Hurip…. Ngancik dina Rasa Asin, nyaeta Rasa Sajati ngancik dina Rasa Poho.
Sacara ilmiah…, Cai Laut teh kasorot ku Panon Poe jadi sa’ab (menguap) teras janten Mega. Salajeungna mega jadi Mendung… teras jadi Hujan, caina ngancik di tempat-tempat sakumaha disebut diluhur. Tah ari parantos janten Cai hujan sareng parantos araya di darat mah… anu tadina Rasa Asin teh bet robah jadi henteu asin.
Jadi Rai !…, Rasa Cai Asin anu di Laut mah ibarat Rasa Batin(Akherat), ari Rasa Cai Hujan sareng anu di darat mah ibarat Rasa Dohir (Dunya), aya ngeunah sareng teu ngeunah. Cai Hujan tadi, sa keclak sewang … ibarat jadi Nyawa Jasmani (Rasa Jasmani) anu mang milyar-milyar seueurna.
Tah ibarat kitu Rai !…, kumaha jalanna ?…., sangkan eta cai anu aya dina Walungan, di Situ, di Kubangan, di Balong, di Solokan, di Sawah, di Sumur teh barisa marulang deui kana asalna… ka SAGARA CAI (Laut) ?, oge Rasana bisa balik deui kana Rasa Cai Asin.
  1. RADEN KAMIL : Kahartos Kang !…., ari di ibaratkeun mah. Jadi pangemut Rai.. mah panginten kieu :
    1. Pilari sing kapendak Jalanna (Solokannana) anu nuju ka Laut (Sagara Cai).
    2. Pilari Akalna…. Sangkan Caina ngocor ka Laut (Sagara Cai)
    3. Pilari sing kapendak Elmuna…. Sangkan Rasa Cai di darat bisa balik deui kana Rasa Cai di Laut (Sagara Cai) nyaeta Asin.
Leres kitu…. Kang ?
  1. RADEN INSAN : Leres kitu… Rai !. Upami henteu kapendak solokannana (Jalanna) anu brasna ka Sagara Cai (Laut), upami henteu kapendak carana caina ngocor lancar ka Puserna deui, upami henteu kapendak sangkan Rasa Cai jadi Asin deui, atuh bakal tetep kukulibeukan pungkal pengkol kalangsu di darat keneh didarat keneh, bisa-bisa engke parantos ngancik dina Kolomberan nya kotor nya barau. Nya wayahna teu tiasa mulang ka Asal. Tah eta ibaratna cicing dina Rasa Naraka.
  2. RADEN KAMIL : Hatur nuhun Kang !…, parantos ngartos ayeuna mah, jadi kitu kajadianana teh … bentenna Rasa Dohir (Dunya) sareng Rasa Batin (Akherat) teh. Salajengna ayeuna Rai.. teh panasaran hoyong di pasihan carana atawa milarian jalan pamulihan !.
  3. RADEN INSAN : Perkawis eta ma Rai !…, ulah lesot tina ukuran, tuturkeun sakumaha pituduh Dalil :
ANTAL MAOTU QOBLAL MAOTU “.
Anu hartosna : Kedah tiasa maot samemeh maot anu sabenerna.
Margi upami henteu tiasa maot heula sajeroning hirup, engke moal terang ka Akherat.
  1. RADEN KAMIL : Naha ? … pangna kitu Kang ?….., teu acan ngartos Rai mah.
  2. RADEN INSAN : Kapan Ma’na tina eta Dalil ANTAL MAOTU QOBLAL MAOTU, teh sasat mere pituduh, yen Akherat (Batin)… asal urang teh kedah uninga heula ti ayeuna, supaya engke ulah nyasab atawa kalangsu jalan.
  3. RADEN KAMIL : Ke… Kang !…, anu di maksad Maot didieu teh…., naha Maot leres ?, atawa kumaha ?.
  4. RADEN INSAN : Kapan saur katerangan oge MAOT SAMEMEH MAOT, jadi sanes maot leres !. Maksadna teh … sing ngaraos Sakarat, sing Karaos Nyerina. Upami disorang ti ayeuna, engke dina waktosna…. Moal kasorang deui, margi sakaratna parantos seep.
  5. RADEN KAMIL : Emmmh… janten……ieu mah mung supaya ngarasakeun wungkul ?, manawi teh maot leres. Dupi bentenna sareng anu maot leres … kumaha tah ?
  6. RADEN INSAN : Kieu atuh Rai !…, aya NYAWA sareng RASA NYAWA :
Ari anu maot leres mah, Nyawana Henteu Aya, tinggal Wujudna (Af’alulloh) tea.
Ari anu dimaksad ANTAL MAOTU QOBLAL MAOTU mah… upama basa Karuhun mah KUDU BISA NGANJANG KA PAGETO. Eta teh kieu :
KA HIJI Sanes Nyawana anu henteu aya teh …, tapi Rasa Nyawana anu kedah leungit pisan. Sing tiasa hilap kana saniskara …. Kalebet kana Wujudna sorangan…. Bakating ku cengeng ka Dzat – Sifat Allah…., ningal sajeroning Ati.
KA DUA Kedah ngarasakeun Nyerina Sakarat Jalan Maot di lahir. Ngarah henteu nganteur Nafsu teuing kana kama’siatan.
Upami saur ahli-ahli Tassawuf mah kedah ngalangkungan Pintu Fana pikeun ngajugjug, sangkan dugi kana Musyahadah (Paneteup) ka Dzat Allah. Ari carana kedah ngalangkungan Panto Maot, dina hartos Maot Kahoyong (Nafsu) pikeun Awasna Qolbu.
PANTO MAOT AYA 4 (OPAT) TAHAP :
Tahap Ka I MAOT TABI’I Saur ahli Tarekat mah, dumasar kana Karunia Allah dina waktu Dzikir Qolbi. Ngawitan Hate Dzikir, tina Hate ngontak kana Baham/Letah Dzikir. Ti dinya rarasaan mimiti laleungit…, akal pikiran mimiti henteu jalan. Didieu mah QAULUHU LAFA ILA I’LALLAHU. Gerak sareng cicing salian ti Allah. Nur Illahi ngawitan tumuwuh dina jero Hate.
Tahap Ka II MAOT MA’NAWI Dumasar kana Karunia Allah, dina waktu Dzikir Latifah Ruh. Saparantos Nur illahi tumuwuh di Jero Hate, saharita Panto Batin ngawasa paninggal. Sifat ka Insanan parantos lebur…, Rasa Jasmani kasilih ku Sifat Allah anu Maha Sampurna tur Azalli. QAULUHU LA HAMMA I’LALLAHU. Henteu aya Hirup salian ti Allah.
Tahap Ka III MAOT SURI Dumasar kan Karunia Allah dina waktu Dzikir Latiful Sirri. Didieu Rasa Jasmani kasilih ku Alam Ghaib ( anu pinuh ku NUR, Cahaya ). Dawuhan Allah : NURUN ALA NURIN YAHDILLAHU LINURRIHI MAN YASYA’U. Hartosna : Cahaya luhureun cahaya, Allah maparin anugerah ku Nur-na ka saha bae anu di Kersakeun.
Tahap Ka IV MAOT HISSI Dumasar kana Karunia Allah dina waktu Dzikir Latiful Khaufi. Dina tahap ka opat ieu mangrupi tahap anu pangluhurna, nuju kana Ma’rifat. Malah dina puncak-puncakna mah ngalaman Ka-Ayaan anu heunteu acan pernah :
  • Di tingali ku Soca
  • Di tingali ku Cepil
  • Kacipta ku Ati sanubari manusa, nyaeta : Sifat-sifat Allah anu Qodim Azalli.
Pangalaman ieu mustahil bisa dibuktikeun.., tapi bakal ngarti pikeun anu kungsi ngalaman tur anu ngarasakeun.
  1. RADEN KAMIL : Dupi carana kedah kumaha Kang ?….., di ajar ngaraoskeun Sakarat teh ?
  2. RADEN INSAN : Ari carana mah, nya ayeuna nuju Hirup… bari mengpeung jagjag waringkas keneh… kedah milari sing kapendak Elmu Sakarat.
  3. RADEN KAMIL : Upami parantos kapendak Elmuna…, sareng parantos nyobi ngaraosan di ajar Sakarat…, kumaha tah… engke dina waktosna Sakarat anu leres bade Maot Kang ?
  4. RADEN INSAN : Sahanteuna bae atuh Rai.. da parantos ngarasakeun sakitu engapna… sakitu nyerina… piraku henteu pinuh ku kasieun, pinuh ku karisi. Atuh dina sesa hirupna teh beuki ati-ati…, Tekadna…, Ucapna…., Lampahna jadi boga pamilih… mana anu nungtun kana pibeneren oge mana anu sakira mawa kana kasangsaraan. Atuh di wuwuhan ku getol ibadah (Hablumminalloh), oge amal (Hablumminanas) bari di sarengan ku rasa ikhlas (Lillahi Ta’ala)… sahanteuna sakedik-sakedik bisa meresihan dosa-dosa dirina. Upami dirina parantos bersih tina sagala kokotor, dosa anu karasa anu henteu karasa (upami saur Ahli Tassawuf mah TAKHALI ), atuh teras di eusian ku amal ibadah ( TAHALLI ) atuh engkena teh bisa lancar tiasa Awas ( TAZALLI ).
  1. RADEN KAMIL : Ke…Kang !…, manawi aya ngarana sareng 4 (opat) istilah nyaeta : IHROM – MI’RAJ – MUNAJAT – TUBADIL, eta kumaha hartosna sareng dimana pernahna ?
  2. RADEN INSAN : Eta 4 (opat) istilah teh ari hartos sareng pernahna :
  • Ari SAREAT mah, di Mekah, ku anu bade MUNGGAH HAJI.
  • Ari Hakekat , upami Rai !…, henteu acan ngartos… eta .. nuju SOLAT SAJATI, Kieu katerangannana :
      • IHROM teh, Mimiti, peta-peta tekad seja indit, lamun Manuk mah rek ngapung.
      • MI’RAJ teh, Eta parantos jung ngapung ngalayang, ninggalkeun Alam Dunya lat poho ka Alam Dohir.
      • MUNAJAT teh, Parantos munggah ka Alam Batin bade dugi kanu dijugjug.
      • TUBADIL teh, Parantos anjog kanu diseja, Sapaninggal Kawula Kalawan Gusti. Parantos ngancik di Kalanggeungan dina Baetulloh Suci. Baetulloh anu sajati, anu lain di kulon, di kidul, di wetan, di kaler sareng henteu keuna ku ruksak, nyaeta KIBLAT NYAWA anu sampurna.
  1. RADEN KAMIL : Kang !…., punten naon tea Sifatna Baetulloh anu sajati teh ?
  2. RADEN INSAN : Eta Rai !…., Dzat-Na Maha Suci, ari Sifat-Na teh Caang Padang narawangan atawa Johar Awal tea !. Tah… eta Rai !. Kiblat Maot wajib ku urang disungsi !…, ari hoyong PULIH KAJATI PULANG KA ASAL mah (Wa Inna Illaihi Roji’un).
  3. RADEN KAMIL : Kahartos Kang… perkawis istilah atawa basa IHROM, MI’RAJ, MUNAJAT, sareng TUBADIL mah…, nanging naha eta teh aya pakuat-pakaitna sareng Tazalli ?
  4. RADEN INSAN : Rai !… ulah lieur ku basa atawa istilah…, eta teh sami anu di sebat : TAZALLI – SOLAT KHUSUS – SOLAT DAIM – SOLAT SAJATI, malah seueur deui eta teh Solat dina TAREKAT mangrupi tingkatan tina Solat Sareat.
Ari SOLAT SAREAT mah Pertingkahna teh … ngagambarkeun Lafadz Allah ( ﺍﷲ )
Ari SOLAT TAREKAT mah Ngagambarkeun Lafadz Muhammad ( ﻤﺤـﻤﺪ ) sareng nyusul Hurup Tasjidna.
  1. RADEN KAMIL : Kang !…., masih lieur keneh… mugi dijelaskeun supados enggal kapaham !.
  2. RADEN INSAN : Nya… supados langkung jelas atuh urang wangsulan deui :
PERTINGKAH SOLAT SAREAT SARENG MA’NANA
  • PERTINGKAH TAKBIRATUL IKHROM
Ngagambarkeun Hurup Tasjid ( ω ) ngasalkeun tina JOHAR FARID (Cahaya Panon Poe).
  • PERTINGKAH NGADEG
Ngagambarkeun Huruf ALIP ( ) ngasalkeun tina SENEU anu ngandung 4 (opat) perkara :
    1. ROH IDOPI
    2. ROH NURANI
    3. ROH RAHMANI
    4. ROH ROHANI
Anu numuwuhkeun AJEG PAMADEGAN, wani kana bebeneran dina tangtungan sorangan NAFSUNA AMARAH.
  • PERTINGKAH RUKU
Ngagambarkeun Huruf LAM AWAL ( ) ngasalkeun tina ANGIN anu ngandung 4 (opat) perkara :
    1. NUFUS
    2. ANPAS
    3. TANAPAS
    4. NAPAS
Wijining Hurip anu numuwuhkeun RENGKUH, Ngajenan ka sasama, Sabar, Tawakal NAFSUNA LAWAMAH.
  • PERTINGKAH SUJUD
Ngagambarkeun Hurup LAM AHIR ( ) ngasalkeun tina CAI anu ngandung 4 (opat) perkara :
  1. ROH ROBBANI
  2. ROH NABATI
  3. ROH NAFSANI
  4. ROH JASMANI
Anu numuwuhkeun SUJUD HANDAP ASOR/DEPE-DEPE, Rukun hirup sauyunan NAFSUNA SAWIYAH.
  • PERTINGKAH LUNGGUH
Ngagambarkeun Hurup HE ( ) ngasalkeun tina TANEUH anu ngandung 4 (opat) perkara :
  1. WADI
  2. MADI
  3. MANI
  4. MANIKEM
Anu numuwuhkeun SABAR, Tenang, Qonaah, Tawado, sadrah sumerah, Ikhlas NAFSUNA MUTMAINAH.
Tah upami parantos pertingkah LUNGGUH (ATAHIYAT), eta mah ngagambarkeun Lafadz Muhammad ( ﻤﺤـﻤﺪ ) :
Didieu mah sing tiasa ical RASA JASMANI atawa leungit RASA DUNYA, malah Diri sakujur oge henteu inget…, istuning husu… cengeng… ka Nu Maha Suci. Lami-lami Rasa Jasmani kasilih ku Rasa Jati (NUR MUHAMMAD). Malah upami kenging Ridho sareng di kersakeun.., tangtos tiasa Ningali DZAT – SIFAT ALLAH (Hakekat Muhammad atawa Tasjid ( ω ) anu kaya EMAS sinangling ).
Geuning Dawuhan Allah (QS. Ar-Rahman : 26-27) :
  • KULLU MAN ALAIHA FANIN WA YABQO WAJHU ROBBIKA DZUL JALALI WAL IKROM. Anu hartosna : Saban Jalmi bakal binasa atawa Fana (Leungit). Sedengkeun Dzat Allah tetep langgeung, kagungan Sifat Sampurna sareng Maha Agung.
  • KULLU SYAI’IN HAALIKUN ILLA WAJHAHU, Anu hartosna : Sagala sesuatu leungit sirna tur ancur teaya arti, iwalti Dzat-Na. (QS. Al-Qoshos : 88).
  • MAA INDAKUM YANFADU WAMAA INDALLAHI BAQIN, Anu hartosna : Naon anu aya di aranjeun bakal ancur, jeung naon anu aya di Allah langgeung abadi. (QS. An-Nahl : 96).
  • Atuh dina Kitab Iqadzul Himan, Ahli-ahli Tasawwuf nyaurkeun : MAN RO’ALHAQQO TA’ALA GHOBA ANAFSIHI WA MAN RO’A NAFSAHU HUJIBA ANNILOHI “
Anu hartosna : Saha-saha anu ningali Dzat Allah…, pasti FANA (Leungit) dirina. Sawangsulna, saha-saha anu masih keneh ningali dirina…, pasti ka HIJAB (Kapindingan) ka Dzat Allah.
Tah Rai !…, upami parantos tiasa leungit RASA KADUNYAAN, RASA JASMANI, nembe bakal ngartos kana NAFIISBAT.
  1. RADEN KAMIL : Kumaha pereleannana NAFI – ISBAT teh Kang ?
  2. RADEN INSAN : Ari Allah teh Rai !…, NAFI – ISBAT, kapan padika Allah mah benten sareng Manusa, Allah anu ngadamel… MantenNa anu Jumeneng. Ari Manusa mah … pisah sareng hasil padamelannana.
Allah teh asal NAFI (Ghaib teu ngajirim), jadi ISBAT (Aya bukti).
Tah ISBATNAFI janten Ngahiji ngagulung. Anu mawi Lafadz “ LAA ILLAHA ILA ALLAH :
  • LAA Kanyataan Ayana DZAT
  • ILLAHA Kanyataan Ayana SIFAT
  • ILLA Kanyataan Ayana ASMA
  • ALLAH Kanyataan Ayana AF’AL
Ieu teh Tileum-Timbul. Upami nuju NAFI (Rohani anu timbul)… atuh ISBAT-na kedah Tilem (Rasa Jasmani tilem).
  1. RADEN KAMIL : Hatur nuhun Kang !…, Rai parantos dipasihan katerangan anu marundel… di antawisna anu disebat Solat Sareat sareng ma’nana, atuh Solat Tarekat sareng ma’nana malah disebat oge Solat Tazalli, anu hartosna Awas. Cing Kang !…, manawi aya dasarna ?, sareng manawi aya tahapannana perkawis Tazalli teh ?
  2. RADEN INSAN : Atuh kantenan aya mah…, boh dasar hukumna boh tahapannana. Kieu geura :
Dasarna Dalil (Surat Al-Araf 143) :
FALAMMA TAJALLA ROBBUHU LIL JABALI JA’ALLAHU DAKKAN WAHORO MUSA SO’IQON
Artina :
Waktos awas ka Gunung…., kajadian gunung ancur, sareng Nabi Musa jadi kapiuhan.
Ma’na tina Dalil di luhur, nalika Nabi Musa parantos FANA DIRINA (disebat kapiuhan)… nembe TAZALLI (Awas) ka Dzat – Sifat Allah Ta’ala.
Ari TAHAPAN-TAHAPAN TAZALLI, eta aya 4 (opat) tahap :
  1. TAZALLI AF’AL
Nyaeta leungitna Gerak/Padamelan, kasilih ku timbulna Gerak Allah Ta’ala. Dalilna : WALLAHU KHOLAQOKUM WAMA TA’MALUN, Hartosna : Jeung Allah anu ngajadikeun maneh katut naon-naon anu ku maneh dipigawe.
  1. TAZALLI ASMA
Nyaeta leungitna ingetan kana dirina, sareng bebas tina sifat-sifat (bukti-bukti anu anyar), tina RASA JASMANI, saterasna lebet kana kalanggeungan Allah Ta’ala. Sategesna henteu aya anu katingali, kajabi kabukana NUR ILAHI dina kaayaan anu biasa, jadi parantos aya di ALAM BATIN.
  1. TAZALLI SIFAT
Nyaeta SIFAT AL-HAQU TA’ALA nyilih SIFAT INSANI. Tazalli-na Allah ka mahklukna mangrupi Karunia MantenNa.
  1. TAZALLI DZAT
Nyaeta WUJUD MUTLAK, manunggalna Kawula lan Gustina anu langgeung DZATTULLOH. Dalilna : LA MAUJUDA ‘ALALI’ TAQI’I ILALLAHU, Hartosna : Teu aya Wujud sacara Mutlak, kajabi Dzat Allah. Di dieu parantos nembus Qolbu ku NUR = CAHAYA. Waktos eta… Qolbu teh CAANG… kauninga rasiah karunia sareng RAHMAT ALLAH TA’ALA.
Tah kitu Rai !…, Tahapan-tahapan TAZALLI sareng ma’nana !. Kumaha tiasa kapaham ?
  1. RADEN KAMIL : Alhamdulillah Kang !…, rada ngagebray perkawis Tazalli mah. mung eta perkawis Paninggal Qolbu, kumaha eta teh ?
  2. RADEN INSAN : Ari Paninggal Qolbu teh disebatna AL-BASHIRAH atanapi disebat oge PANON BATIN. Sifatna teh kieu : “ NINGAL DINA WUJUD FIKIRAN, TANGKEPAN AKAL” :
    1. Gancang ngarti kana hiji masalah
    2. Mangrupi ILHAM, ujug-ujug jelas dina jero Qolbu/Hate, hartina ningal anu Qodim Al-Kholiq.
Jadi sing saha anu leuwih kawasa Paningal Qolbuna/Hatena batan paningal panon.., nya paningal Hatena teh tiasa noropong wujud… tangkepan akal pikiran, rahasiah-rahasiah Batin sareng hal-hal gaib. Tah Jalmi anu kitu disebat Arif (Ahli Ma’rifat). Hartosna parantos ningal Dzat – Sifat Allah ku paningal Qolbu/Hatena, sakumaha kasauran Syaidina Ali r.a. : “ ROAETU ROBBI BIAENIL QOLBI FAQUNTU LASYAKKA A’NTA-ANTA”, Anu Hartosna : Katingal Allah ku Paningal Hate/Qolbu kuring, sarta kuring nyarita…, moal salah deui nya Salira Allah.
Ari TAHAPAN-TAHAPAN PANINGAL QOLBU/HATE, aya sababara tahapan di antarana kieu :
  1. Kalangkan Qolbu/Hate, disebat NURUL AKLI atawa ILMU YAKIN
Elmu Yakin nyaeta kayakinan anu timbul saenggeus ayana katerangan tina dalil
ﻋـﻠـﻢﺍﻠـﻴـﻘـﻴﻦ ﺍﻠﺬﻯ ﻫـﻮﻤـﻌﺮﻓـﺗـﻪ ﺗـﻌﻼ ﺒـﺎ ﻠﺒﺮﺍﻫـﻴﻦ
Artina : Ilmu Yakin nyaeta Ma’rifat ka Allah Ta’ala kalawan sababaraha dalil.
  1. Paningal Qolbu/Hate, disebat NURUL ILMU atawa AINUL YAKIN
Elmu Ainul Yakin nyaeta kayakinan anu di dasarkeun kanyataan jeung pembuktian.
ﻮﻤﺷﺎﻫﺪ ﺗـﻪ ﺗـﻌﺎﻻ ﻗـﺒﻞ ﻜﻞ ﺷﻰ ﻮﻫـﻮﺍﻠﻤﺴـﻤﻰﻋـﻧﺪﻫﻢ ﺒﺎﻠﻤﻌﺎﻴـﻧـﺔ
Artina :
Musyahadah ka Allah Ta’ala samemeh nyaksikeun sagala sesuatu anu nurutkeun para Arif disebut Mu’ayanah (Kenyataan/pembuktian).
  1. Hakekat Paningal Qolbu/Hate, disebat NURUL HAQ atawa HAQUL YAKIN
Haqqul Yakin nyaeta keyakinan anu sabenerna
ﺤﻖ ﺍﻠﻴـﻘـﻴـﻦﻫـﻮﻤﺷـﺎﻫـﺪ ﺗـﻪ ﺗـﻌﺎﻻ ﻓﻰ ﻜﻞ ﺷﻰ
ﺒـﺎﻻﺤﻠﻮﻞ ﻮﺍﺗـﺤﺎﺪ ﻮﺍﻧـﻔـﺼﺎﻞ ﻮﻻ ﺍﺗﺼﺎﻞ
Artina :
Haqqul yakin nyaeta musyahadah ka Allah SWT, dilebeut segala sesuatu tanpa Hulul (bersatu), tanpa Ittihad (terpadu), tanpa Ittishol (bersambung) jeung tanpa Infishol (berhubung-hubungan).
Upami parantos leungit karagu-raguan, saterasna leungit SIFAT WUJUD DIRI, parantos leungit Rasa Jasmani, nya saharita tiasa ningal Dzat-Sifat Allah…ku Kersaning Allah. Ari satungtung masih keneh ningali sifat-sifat ka Dunya sareng Rasa Jasmani mah…, henteu acan tiasa nguninga Dzat – Sifat Allah, numutkeun dalilna oge : “ WA ‘ANNALLOHA MAHALUNA’N TASYHADU MAAHU SIWAHU , Hartosna : Mustahil urang bisa ningali Allah bareng jeung Wujud sejen.
Hakekatna : Upami sifat-sifat anu anyar parantos NAFI (Leungit)… waktu eta ISBAT-na (Hadirna) anu QODIM nyaeta Dzat – Sifat Maha Suci. Dalilna : KULLU SYAEIN KHALIKUN I’LLA WAJHAHU, Hartosna : Sagala hal ngalaman ruksak, kajaba Dzat Allah anu BAQO (Langgeung).
Tah kitu Rai !…, perkawis Paningal Qolbu/Hate teh.
  1. RADEN KAMIL : Punten Kang !…., kumargi dina seuh-seuhanna mah geuning kana NUR…, malahan tadi disebat-sebat seueur rupina…, mugi Engkang… tiasa ngajelaskeun perkawis NUR anu langkung eces !.
  2. RADEN INSAN : Euhh… Rai teh masih keneh teu acan jelas perkawis NUR, kieu geura Rai !…. :
Dina Al-Qur’an Surat An-Nur ayat 35, dijelaskeun :
“ALLAAHU NUURUSSAMAAWAATI WAL’ARDHI
MATSALU NUURIHII KAMISYKAATIN FIIHAA MISHBAAHUN
‘ALMISHBAAHU FIIZU JAAJATIN. A’ZZUJAAJATU KA’ANNAHAA
KAWKABUN DURRIYUN YYUUQADU MIN SYAJARATIN
MMUBAARAKATIN ZAYTUUNATIN’LLAASYARQIYYATIN
WALAA GHARBIYYATIN YYAKAADU ZAYTUHAA YUDHII’U WALAW
LAM TAMSHASHU NAARUN. NUURUN ALAA NUURIN.
YAHDILLAAHU LI NUURIHII MAN YYASYAA’U.
WA YADHRIBU ‘LLAAHU ‘AMTSAALA LINNAASI
WA LLAAHU BIKULLI SYAI’IN ALIMUN //.
Q.S (24) AN-NUR : 35
Anu Hartosna :
Allah masihan NUR (Cahaya) ka Langit sareng Bumi. Cahaya Allah teh ibarat dina hiji LIANG anu henteu tembus. Dijerona aya Lampu gede, aya sajeroeun kaca.. lir Bintang anu Cahayana kawas mutiara. Anu di hurungkeunnana teh ku minyak tina tangkal anu ageung berkahna nyaeta Tangkal Zaitun. Minyakna oge parantos Caang sanajan henteu disengeut. Anu jadina teh henteu di Beulah wetan, henteu di Beulah kulon. Cahaya anu manglapis-lapis NURUN ALA NURIN. Allah ngabingbing kana CahayaNa ka saha bae anu Dikeresakeun. Allah ngajantenkeun conto-conto pikeun manusa, sarta Allah Maha Uninga kana saniskara.
Oge salah sawios Hadist Nabi anu diriwayatkeun ku Ibnu Mas’ud r.a, : Nabi ngadawuh : DI SISI ALLAH MARANEH EUWEUH BEURANG EUWEUH PEUTING, SEDENGKEUN CAHAYA NU LANGIT, NUR BUMI….nyaeta Nur Cahaya Dzat – Sifat Allah.
Salajeungna dina Shahikul Muslim, anu diriwayatkeun ku Abi Zarrin, Mantena nyaurkeun : KURING NAROS KA RASULULLOH…, NGAWALERNA KIEU : KURING NINGALI “ NUR ‘.
Aya deui anu diriwayatkeun ku Abi Said :
ANA’BI SAIDIN QOOLA, QOLA RASULULLOHI TTAQU FIRASATAL MU’MININ FAINNAHU YUNDURU BI NURILLAHI TA’ALA.
Hartosna :
Pikasieun Firasat urang Mu’min, sabab sabenerna maranehna ningali ku pitulung NUR CAHAYA ALLAH.
Tina Kitab Qusyairiah :
AL-KANNANI YAQULU : AL-FIRASATU MUKASYAFATU AL-YAQINI WA MU’AAYANATUL GHAIBI WA HUWA MIN MAQOMATIL IMAN.
Hartosna :
Al-Kannani sasauran : Firasat, nyaeta Mukasyafatul Yaqin (Nyaeta kabukana tirai/dingding kulantaran kayakinannana). Jeung Mu’ayatul Ghaib (nyatana hal-hal nu Ghaib). Jeung hal eta nyaeta sabagian tina tingkat Ka-Imanan.
Rasululloh SAW. Bersabda :
AN SYA’IDI AL-KHUDRY RA QOOLA : QOLA RASULULLOHI SALLAHU ALAIHI WASSALAM I’TAQUU FIRASATAL MU’MINI INNAHU YANDHURU BI NURILLAHI AZA WAJALLA
Hartosna :
Ti Said Al-Khudry r.a. anjeuna nyaurkeun : Rasululloh nyaurkeun “ Ati-ati kana Firasat Jalmi anu ber-Iman, sabab saenyana manehna tiasa ningal kalawan Nur Allah Azza Wa Jalla.
Ari NUR teh salah sawios Jenengan Allah dina Asmaul Husna. Allah ngangkeun WujudNa NUR. MantenNa ngajantenkeun KitabNa NUR, RasulNa NUR, sareng AgamaNa NUR.
An-NUR… nyaeta titik-titik (cecek-cecek) anu aya dina JERO QOLBU/HATE Jalma. Ku eta NUR… ngalantarankeun bisa uninga mana anu HAQ (Bener) sareng mana anu BATHIL (Salah), anu asalna nyaeta TAQWA.
Peryogi kauninga ku Rai !…., kieu :
Boh di Alam Semesta (Alam Kabir), boh dina Alam Wujud (Alam Sagir) mangrupi NUR LAHIRIAH, nyaeta : Nur Panon Poe, Nur Bulan, Nur Bintang. Di Alam Malakut (Gaib), mangrupi NUR BATINIAH, anu dibagi 3 (tilu) bagian nyaeta :
  1. NUR ILMU
Nyaeta kawas BENTANG, kakuatannana bisa katingali di waktu peuting, anu poek, sarta bisa ningali dina perkara-perkara Akhirat (Gaib).
  1. NUR MA’ANI
Nyaeta kawas BULAN, kakuatannana bisa ningali di Tungtung Tauhid sareng bisa ningali (ngintip) ka Dzat Allah.
  1. NUR MA’RIFAT
Nyaeta kawas PANON POE, kakuatannana bisa ningali di Tungtung Tafrid (Katunggalan Allah), sareng bisa nguatan kayakinan sarta nyaangan enggoning
Pikeun jelasna mah kieu Rai !…. :
Ari NUR ELMU teh Nnyaeta NUR CAHAYA PANON, Nur anu tiasa ningali anu bukti-bukti wungkul. Ieu mah aya disaban jalma malah di sato oge aya.
Ari NUR MA’ANI teh Nyaeta NUR CAHAYA QOLBU/HATE, Nur anu ngandung harti bisa ngajelaskeun Nangkeup Perasaan Akal Pikiran (pipikiran asa cararaang).
Ari NUR MA’RIFAT teh Nyaeta Elmu anu Haqiqi, tiasa ningali kana Dzat-SifatNa Allah Ta’ala.
Salajeungna ari gunana NUR pikeun Nyaangan ngungkap tina hakekat sagala hal pikiran nguninga mana anu bener mana anu salah.
Ari gunana PANON QOLBU/HATE, pikeun Hikmah (ningali bebeneran anu hakiki). Ari gunana QOLBU/HATE, pikeun taat sareng ngalanggar, pikeun ngaku sareng ingkar.
Dawuhan Allah :
FAMAN SYAROHALLOHU SYODROHU LIL’ISLAMI FAHUWA ALA NURIN MIN ROBBIHI
Hartosna : Saha-saha anu di Caangan ku Allah kana Hatena pikeun Islam, eta Jalma kenging pancaran Nur Cahaya. Eta pisan anu nganteur hate ka Hadirat Allah anu Maha Gaib.
Tah kitu ngeunaan NUR mah Rai !…, kirang langkungna mah… mugi Rai tiasa nangkep … dipasihan Nur Cahaya ku Allah Nu Maha Suci.
  1. RADEN KAMIL : Kang sagala rupi katerangan di Engkang teh istuning mangrupi Elmu anu henteu kinten munelna kanggo ukur-ukuran sareng nyampurnakeun modal ti Allah Ta’ala sangkan Rai, henteu mubadir Hirup di umbarakeun di Alam Dunya ieu. Nanging Kang !…, panginten tina sajarah Elmu katerangan anu sakitu seueurna teh dina bab Elmu Agama. Panginten aya gurat badagna. Anu pang pentingna kedah dilaksanakeun. Mugi Engkang tiasa masihan wewengan.
  2. RADEN INSAN : Leres kitu Rai !…, moal benten urang sakola … kapan rupi-rupi pelajaran… nanging ari anu di angge sapopoe mah geuning mung…. Paling-paling dua tilu pelajaran bae.
Sareng deui da Elmu mah moal seep-seep, geuning aya katerangan : UPAMA TEA MAH ELMU ALLAH BADE DI BUKUKEUN. MANGSINA/TINTANA SA LAUT, TERAS KERTASNA DANGDAUNAN ANU AYA DI IEU ALAM DUNYA…. KALAH KA SEEP MANGSINA SARENG DANGDAUNANNANA BATAN SEEP ELMUNA.
Anu mawi geuning sok di silibkeun ku Tangkal Tiwu dina salah sahiji kagiatan salametan, da buktina kapan Tiwu mah tara dituang bukuna, tapi sari patina /amisna tiwu. Ku kituna… cing urang pilari Sari Patina tina ieu LAYANG MUSLIMIN MUSLIMAT oge… kieu Rai !…. :
Kedah emut kana : PAMIANGAN – PAGELARAN – PAMULIHAN.
PAMIANGAN ( INNA LILLAHI )
Kedah didasaran ku Iman ka Nu Marentahna. Sing dugi ka Ma’rifat ka MantenNa. Upami parantos Ma’rifat hartosna urang tiasa nga-Haqul Yakinkeun kana Dalil : INNA LILLAHI, Asal ti Alam Ahadiat (Dzat)Alam Wahdat (Sifat)Alam Wahidiat (Asma). Ieu kedah kapendak ka uninga ti ayeuna !…., margi eta teh Asal Pamiangan urang…, anu tangtuna oge KIBLAT PANGBALIKAN URANG.
PAGELARAN
Dina mangsa gumelar di Pangumbaraan mah salian urang kedah Iman kanu Marentahna teh … oge kedah disarengan ku Iman kana Parentahannana. Sing tumut, taat kana ukuran-ukuran jeung katangtuan-katangtuan, sajeroning urang rumingkang di : Alam ArwahAlam AjsamAlam Misal (Elmu Ma’rifat ka Asal)Alam Insan Kamil (Manusa Sampurna). Ieu Alam anu opat dina Pagelaran teh mangrupa Af’al-Na Allah Ta’ala.
Sajeroning di umbarakeun teh …, Diri urang kedah di eusian ku :
  • Elmu Pengetahuan sareng Elmu Teknologi (IPTEK).
  • Elmu Rasululloh … ku RUKUN AGAMA (Sareat – Tarekat – Hakekat – Ma’rifat).
  • Iman tur Taqwa (IMTAQ).
TAKHALLI Ngosongkeun tina Tekad – Ucap – Lampah anu goreng, anu ngarugikeun batur, anu ngaruksak tur nyilakakeun batur. (Nafsu Amarah, Lowamah, Sawiyah).
Hadas Leutik : Tekad (Hate) ulah aya : Sirik pidik jail kaniaya, goring sangka, ujub, ria, takabur jeung munapek.
Ucap (Baham) ulah aya bohong, ngupat simuat, mitnah, gureuhan, cawadan, openan, songong, sugal jeung garihal.
Lampah (Wujud) ulah 5M, Maen, Mabok, Maling, Madon (lacur), Mateni (Maehan).
TAHALLI Upama wujud urang parantos kosong atawa bersih tina kokotor (dosa), tinggal diseusian ku Tekad – Ucap – Lampah anu hade (Nafsu Mutmainah). Husyu ibadah : Solat Sareat, Solat Tarekat (Solat Husus), Solat Da’im (khususil khusus = Saendeng-endeng).
Amalna : Sopan santun, hormat ka Sepuh, ka Guru, ka Ratu (Pamarentah), bear budi, someah hade kasemah, berehan.
TAZALLI Kumargi Diri (Wujud) urang parantos kosong, bersih tina dosa-dosa, nyingray Hijab (pipinding)…, atuh molongpong Panon Qolbu tiasa Awas ka NUR MUHAMMAD atuh ka beh dituna NURULLOH (JOHAR AWAL).
PAMULIHAN
Tah dina Pamulihan oge, upami urang tiasa ajeg ngalaksanakeun TAKHALLI – TAHALLI – TAZALLI, insya Allah tiasa nyumponan Dalil : WA INNA ILLAIHI ROJI’UN. Kieu ari blakna mah :
  • LEBUR BADAN Jadi NYAWA (RASA JASMANI)
  • LEBUR NYAWA Jadi RASA (RASA ROHANI = Narun, Hawaun, Ma’un, Turabbun atawa NUR MUHAMMAD). Ieu mah disebut PULANG KA ASAL, ngaraos NI’MAT (SAWARGA).
  • LEBUR RASA Jadi CAHAYA (RASA NURANI ) = Nurulloh, Johar Awal, Hakekat Muhammad (Sagara Hirup).
  • LEBUR CAHAYA, Mulih RASANA maring DZATTULLOH, SIRNA MARING KERSANA…ALAM SUWUNG (Dzat Laesa Kamislihi Syaeun). Ieu anu disebut PULIH KA JATI.
Ieu pisan Rai !…, Kiblat Pamulihan… anu jadi panyileukan tur udagan sarerea.
  1. RADEN KAMIL : Hatur nuhun parantos kahartos perkawis papahaman ti kawit Pamiangan, teras Pagelaran, atuh dipungkas ku Pamulihan.
Tah ayeuna mah…, mugi pang nuduhkeun… upami Kiblat Pamulihan Rai..! hoyong ka dinya, kedah ka mana ?, sareng kedah kumaha ?.
  1. RADEN INSAN : Ari kendaraan teh nyaeta TAREKAT. Seueur .. tinggal milih mana anu sakinten enggal dugi. Bade “ TAREKAT QODARIAH, TAREKAT NAKSYABANDIAH, TAREKAT MUHAMMADIAH, TAREKAT ANFASIAH, TAREKAT JUJIAH, TAREKAT KAMALIAH, atawa TAREKAT HAQ MALIAH jsb.
Engke Rai !…., baris dipasihan katerangan sareng cara-cara sakumaha mistina ti Guru Tuduh, anu nuduhkeun pikeun tepang sareng Guru Mursid (Sajatining Guru = Guru Batin).
Tah…Rai…, kanyaah, ka asih Engkang…. Mangrupi PAPAHAMAN ELMU AGAMA, bawiraos parantos ngawengku kana sasaran-sasaran udagan anu janten panyileukan urang. Kantun…, naha Rai !…, kenging TAUFIK HIDAYAH aya jorojoy manah… hoyong nyusul Konci Pamuka Lawang anu aya di Guru Tuduh tea.
CAG !….., URANG CEKAPKEUN DUGI KADIEU.
—- 00000 TAMAT 00000 —-

Komputer Kuno Ini Lebih Berharga dari Lukisan Mona Lisa?


uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi -uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi dari anak jakarta timur klender
uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - Komputer Kuno Ini Lebih Berharga dari Lukisan Mona Lisa?

*Upload gambar by choirul

Mekanisme Antikythera (Wikipedia/Creative Commons)

 

 Azka alifiandra memposting – Athena – Pada 1990, sebuah kapal yang mengangkut penyelam menemui badai di pertengahan jalan dan berlindung di Pulau Antikythera di Laut Aegea. Saat menyelam di lepas pantai pulau itu mereka menemukan sebuah kapal karam berusia 2.000 tahun yang diperkirakan tenggelam pada 60 atau 70 SM.

Di dalamnya, para penyelam menemukan perhiasan, tembikar, koin, dan patung-patung yang terbuat dari perunggu dan marmer. Selain itu terdapat 82 potongan perangkat perunggu berkarat.

Artefak itu kemudian dibawa ke National Museum of Archaeology di Athena untuk dibersihkan dan dianalisis. Namun artefak yang terbuat dari perunggu terlalu rapuh untuk dipelajari dengan tangan.

Pada 1951 seorang fisikawan dan profesor di Yale Univeristy, Derek J de Solla Harga, mulai mempelajari artefak perunggu tersebut. Ia menggunakan teknologi paling canggih pada masa itu, yakni Sinar-X, untuk menemukan asal-usul dan kegunaannya. Namun jawaban tak kunjung ditemukan.

Seorang fisikawan nuklir Yunani, Charalampos Karakalos, menganalisis menggunakan Sinar-X dan Sinar-Gamma pada 1974. Dari penelitian tersebut mereka mempublikasikan sebuah artikel yang mendata adanya pengaturan gigi dan prasasti di muka mekanisme.

Para peneliti awalnya berpikir bahwa benda itu adalah jam astronomi, namun lainnya berpikir bahwa alat yang diproduksi sekitar 87 SM itu terlalu canggih.

Dikutip dari The Vintage News, Minggu (16/4/2017), pada 2005, penelitian Antikythera Mechanism Research Project dilakukan oleh ilmuwan internasional yang didukung National Archaeological Museum dan Hellenic Ministry of Culture di Athena.

Dengan menggunakan sejumlah peralatan canggih, artefak bernama Antikythera Mechanism itu mendapat julukan ‘komputer pertama’.

Pasalnya, ilmuwan menemukan bahwa alat tersebut digunakan untuk mempelajari fenomena astronomi dengan menggunakan mekanisme seperti sistem komputer yang menunjukkan siklus Tata Surya.

Profesor Michael Edmunds dari Cardiff University memimpin studi tentang mekanisme pada 2006. Ia mengatakan bahwa alat tersebut merupakan hal yang luar biasa.

Bahkan, Profesor Edmunds mengatakan bahwa alat tersebut lebih berharga dari Mona Lisa.

Ilmuwan lain, Chrsitian Carman dan James Evans menghabiskan beberapa tahun untuk membandingkan mekanisme tersebut dengan pencatatn gerhana milik Babilonia. Dengan menggunakan proses eliminasi, mereka menemukan bahwa tanggal pertama yang dipasang di mesin tersebut adalah 205 SM.

Saat ini penelitian terus dilanjutkan dan ilmuwan pun berharap bahwa suatu saat dapat menciptakan model serupa pada masa depan.

Terima kasih atas kunjungannya untuk membaca artikel ini semoga anda di berikan kemudahan dan kelancaran dalam berurusan.
uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi dari anak jakarta timur klender

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi dari coretan kata bocah jakarta timur klender pulo gadung indonesia

  •    Sumurnya
  • * Upload di akun servimg.com
  •    Artikel dari mesin pencari kata/ Search engine

Kerajaan Tanah Hitu


Kerajaan Tanah Hitu adalah sebuah kerajaan Islam yang terletak di Pulau Ambon, Maluku. Kerajaan ini memiliki masa kejayaan antara 1470-1682 dengan raja pertama yang bergelar Upu Latu Sitania (raja tanya) karena Kerajaan ini didirikan oleh Empat Perdana yang ingin mencari tahu faedah baik dan tidak adanya Raja. Kerajaan Tanah Hitu pernah menjadi pusat perdagangan rempah-rempah dan memainkan peran yang sangat penting di Maluku, disamping melahirkan intelektual dan para pahlawan pada zamannya. Beberapa di antara mereka misalnya adalah Imam Ridjali, Tagglukabessy, Kakiali dan lainnya yang tidak tertulis di dalam Sejarah Maluku sekarang, yang beribu Kota Negeri Hitu. Kerajaan ini berdiri sebelum kedatangan imprialisme barat ke wilayah Nusantara.

Daftar isi

  • 1 Sejarah
    • 1.1 Hubungan dengan kerajaan lain
  • 2 Empat Perdana Hitu
    • 2.1 Etimologi
    • 2.2 Awal mula kedatangan
    • 2.3 Orang Alifuru
    • 2.4 Periode kedatangan Empat Perdana Hitu
    • 2.5 Penggabungan Empat Perdana Hitu
  • 3 Tujuh Negeri di Tanah Hitu
  • 4 Sastra bertutur
  • 5 Pemerintahan
  • 6 Negeri-negeri

Sejarah

Hubungan dengan kerajaan lain

Kerajaan ini memiliki hubungan erat dengan barbagai kerajaan Islam di Pulau Jawa seperti Kesultanan Tuban, Kesultanan Banten, Sunan Giri di Jawa Timur dan Kesultanan Gowa di Makassar seperti dikisahkan oleh Imam Rijali dalam Hikayat Tanah Hitu, begitu pula hubungan antara sesama kerajaan Islam di Maluku (Al Jazirah Al Muluk; semenanjung raja-raja) seperti Kerajaan Huamual (Seram Barat), Kerajaan Iha (Saparua), Kesultanan Ternate, Kesultanan Tidore, Kesultanan Jailolo dan Kerajaan Makian.

Empat Perdana Hitu

Etimologi

Kata Perdana adalah asal kata dari bahasa Sanskerta artinya Pertama. Empat Perdana adalah empat kelompok yang pertama datang di Tanah Hitu, pemimpin dari Empat kelompok dalam bahasa Hitu disebut Hitu Upu Hata atau Empat Perdana Tanah Hitu.

Awal mula kedatangan

Kedatangan Empat Perdana merupakan awal datangnya manusia di Tanah Hitu sebagai penduduk asli Pulau Ambon. Empat Perdana Hitu juga merupakan bagian dari penyiar Islam di Maluku. Kedatangan Empat Perdana merupakan bukti sejarah syiar Islam di Maluku yang di tulis oleh penulis sejarah pribumi tua maupun Belanda dalam berbagai versi seperti Imam Ridjali, Imam Lamhitu, Imam Kulaba, Holeman, Rumphius dan Valentijn.

Orang Alifuru

Orang Alifuru adalah sebutan untuk sub Ras Melanesia yang pertama mendiami Pulau Seram dan menyebar ke Pulau-Pulau lain di Maluku, adapun Alifuru berasal dari kata Alif dan kata Uru, Kata Alif adalah Abjad Arab yang pertama sedangkan kata Uru’ berasal dari Bahasa Tana yang artinya Orang maka Alifuru artinya Orang Pertama.

Periode kedatangan Empat Perdana Hitu

Kedatangan Empat Perdana itu ke Tanah Hitu secara periodik :

  1. Pendatang Pertama adalah Pattisilang Binaur dari Gunung Binaya (Seram Barat) kemudian ke Nunusaku dari Nunusaku ke Tanah Hitu, tahun kedatangannya tidak tertulis.
    Mereka mendiami suatu tempat yang bernama Bukit Paunusa, kemudian mendirikan negerinya bernama Soupele dengan Marganya Tomu Totohatu. Patisilang Binaur disebut juga Perdana Totohatu atau Perdana Jaman Jadi.
  2. Pendatang Kedua adalah Kiyai Daud dan Kiyai Turi disebut juga Pattikawa dan Pattituri dengan saudara Perempuannya bernama Nyai Mas.
  3. Menurut silsilah Turunan Raja Hitu Lama bahwa Pattikawa, Pattituri dan Nyai Mas adalah anak dari :
    Muhammad Taha Bin Baina Mala Mala bin Baina Urati Bin Saidina Zainal Abidin Baina Yasirullah Bin Muhammad An Naqib, yang nasabnya dari Ali bin Abi Thalib dan Fatimah binti Rasulullah.
    Sedangkan Ibu mereka adalah asal dari keluarga Raja Mataram Islam yang tinggal di Kerajaan Tuban dan mereka di besarkan disana (menurut Imam Lamhitu salah satu pencatat kedatangan Empat perdana Hitu dengan aksara Arab Melayu 1689), Imam Rijali (1646) dalam Hikayat Tanah Hitu menyebutkan mereka orang Jawa, yang datang bersema kelengkapan dan hulubalangnya yang bernama Tubanbessi, artinya orang kuat atau orang perkasa dari Tuban.
    Adapun kedatangan mereka ke Tanah Hitu hendak mencari tempat tinggal leluhurnya yang jauh sebelum ke tiga perdana itu datang. Ia ke Tanah Hitu yaitu pada Abad ke X masehi, dengan nama Saidina Zainal Abidin Baina Yasirullah (Yasirullah Artinya Rahasia Allah) yang menurut cerita turun temurun Raja Hitu Lama bahwa dia ini tinggal di Mekah, dan melakukan perjalan rahasia mencari tempat tinggal untuk anak cucunya kelak kemudian hari, maka dengan kehendak Allah Ta’ala dia singgah di suatu tempat yang sekarang bernama Negeri Hitu tepatnya di Haita Huseka’a (Labuhan Huseka’a).
  4. Disana mereka temukan Keramat atau Kuburan dia, tempatnya diatas batu karang. Tempat itu bernama Hatu Kursi atau Batu Kadera (Kira-Kira 1 Km dari Negeri Hitu). Peristiwa kedatangan dia tidak ada yang mencatat, hanya berdasarkan cerita turun – temurun.
  5. Perdana Tanah Hitu Tiba di Tanah Hitu yaitu di Haita Huseka’a (Labuhan Huseka’a) pada tahun 1440 pada malam hari, dalam bahasa Hitu Kuno disebut Hasamete artinya hitam gelap gulita sesuai warna alam pada malam hari.
  6. Mereka tinggal disuatu tempat yang diberi nama sama dengan asal Ibu mereka yaitu Tuban / Ama Tupan (Negeri Tuban) yakni Dusun Ama Tupan/Aman Tupan sekarang kira-kira lima ratus meter di belakang Negeri Hitu, kemudian mendirikan negerinya di Pesisir Pantai yang bernama Wapaliti di Muara Sungai Wai Paliti.
  7. Perdana Pattikawa disebut juga Perdana Tanah Hitu atau Perdana Mulai artinya orang yang pertama mendirikan negerinya di Pesisir pantai, nama negeri tersebut menjadi nama soa atau Ruma Tau yaitu Wapaliti dengan marganya Pelu.
  8. Kemudian datang lagi Jamilu dari Kerajaan Jailolo . Tiba di Tanah Hitu pada Tahun 1465 pada waktu magrib dalam bahasa Hitu Kuno disebut Kasumba Muda atau warna merah (warna bunga) sesuai dengan corak warna langit waktu magrib. Mendirikan negerinya bernama Laten, kemudian nama negeri tersebut menjadi nama marganya yaitu Lating. Jamilu disebut juga Perdana Jamilu atau Perdana Nustapi, Nustapi artinya Pendamai, karena dia dapat mendamaikan permusuhan antara Perdana Tanah Hitu dengan Perdana Totohatu, kata Nustapi asal kata dari Nusatau, dia juga digelari Kapitan Hitu I.
  9. Sebagai Pendatang terakhir adalah Pattiwane (nama gelaran) dari Tuban tiba di Tanah Hitu sebelum tahun 1468 sementara yang tiba tahun 1468 adalah anaknya yang bernama Kiyai Patty (gelaran)yang diutus ke Tuban untuk mempelajari dan memastikan sistem pemerintahan disana yang akan menjadi dasar pemerintahan di Kerajaan Tanah Hitu, Dia tiba pada waktu dhuhur (Waktu Salat) tengah hari dalam bahasa Hitu kuno disebut Malakone artinya biru Tua sesuai corak warna langit pada waktu siang (waktu salat), Dia Mendirikan negerinya bernama Olong, nama negeri tersebut menjadi marganya yaitu marga Ollong. Pattiwne disebut juga Perdana Pattituban.

Penggabungan Empat Perdana Hitu

Oleh karena banyaknya pedagang-pegadang dari Arab, Persia, Jawa, Melayu dan Tiongkok yang berdagang mencari rempah-rempah di Tanah Hitu dan banyaknya pendatang–pendatang dari Ternate, Jailolo, Obi, Makian dan Seram yang ingin berdomisili di Tanah Hitu, maka atas gagasan perdana Tanah Hitu, keempat perdana itu bergabung untuk membentuk suatu organisasi politik yang kuat yaitu satu kerajaan.

Kemudian empat perdana itu mendirikan negeri yang letaknya kira-kira 1 km dari Negeri Hitu (sekarang menjadi dusun Ama Hitu/Aman Hitu). Di situlah awal berdirinya Negeri Hitu yang menjadi pusat kegiatan Kerajaan Tanah Hitu. Bekasnya sampai sekarang adalah pondasi mesjid. Mesjid tersebut adalah mesjid pertama di Tanah Hitu. Mesjid tersebut bernama Masjid Pangkat Tujuh karena struktur pondasinya tujuh lapis.

Setelah itu keempat perdana tersebut mengadakan pertemuan yang di sebut tatalo guru (duduk guru) artinya kedudukan adat atas petunjuk Upuhatala (Allah Ta’ala) yang merupakan metafor bahasa dari dewa agama Kakehang yaitu agama pribumi bangsa Seram. Mereka bermusyawarah untuk mengangkat pemimpin mereka, maka dipilihlah salah seorang anak muda yang cerdas dari keturunan empat perdana yaitu anak dari Pattituri adik kandung Perdana Pattikawa atau Perdana Tanah Hitu yang bernama Zainal Abidin dengan pangkatnya Abubakar Na Sidiq sebagai raja Kerajaan Tanah Hitu yang pertama yang bergelar Upu Latu Sitania pada tahun 1470.

Latu Sitania terdiri dari dua kata yaitu Latu dan Sitania yang dalam bahasa Hitu kuno, Latu berarti raja dan Sitania adalah pembendaharaan dari kata ile isainyia artinya dia sendiri. Maka Latu Sitania secara harfiah artinya dia sendiri seorang raja di Tanah Hitu atau raja penguasa tunggal. Sedangkan pada versi dari Hikayat Tanah Hitu karya Imam Ridzali, Latu berarti raja dan Sitania (tanya, ite panyia) berarti tempat mencari faedah baik dan buruk berraja.

Tujuh Negeri di Tanah Hitu

Sesudah terbentuk Negeri Hitu sebagai pusat Kerajaan Tanah Hitu kemudian datang lagi tiga clan Alifuru untuk bergabung, diantarannya Tomu, Hunut dan Masapal. Negeri Hitu yang mulanya hanya merupakan gabungan empat negeri, kini menjadi gabungan dari tujuh negeri. Ketujuh negeri ini terhimpun dalam satu tatanan adat atau satu Uli (Persekutuan) yang disebut Uli Halawan (Persekutuan Emas), dimana Uli Halawan merupakan tingkatan Uli yang paling tinggi dari keenam Uli Hitu (Persekutuan Hitu). Pemimpin Ketujuh negeri dalam Uli Halawan disebut Tujuh Panggawa atau Upu Yitu. (sebutan kehormatan).

Gabungan Tujuh Negeri menjadi Negeri Hitu diantaranya :

  1. Negeri Soupele
  2. Negeri Wapaliti
  3. Negeri Laten
  4. Negeri Olong
  5. Negeri Tomu
  6. Negeri Hunut
  7. Negeri Masapal

Sastra bertutur

Kapatah Tanah Hitu dari Uli Halawan dalam bahasa Hitu :

Upu Lihalawan-e Sopo Himi – o
Hitu Upu-a Hata
Tomu-a Upu-a Telu
Nusa Hu’ul Amana Lima
Laina Malono Lima
Pattiluhu Mata Ena
Artinya:
Tuan Emas Yang di Junjung (Raja Tanah Hitu)
Hitu Empat Perdana
Tomu Tiga Tuan (Tiga Pemimpin Ken Tomu)
Kampung Alifuru Lima Negeri
Lima Keluarga dari Hoamual (Waliulu, Wail, Ruhunussa, Nunlehu, Totowalat)

Lane atau Kapatah (Sastra bertutur) dari klen Hunut dalam bahasa Hitu yang masih hidup sampai sekarang yang menyatakan dibawah perintah Latu Hitu (Raja Hitu):

yami he’i lete, hei lete hunut – o
yami he’i lete, hei lete hunut – o
aman-e hahu’e, aman-e hahu’e,-o
aman-e hahu’e, aman-e hahu’e,-o

yami le di bawah pelu-a tanah hitu-o
yami le di bawah pelu-a tanah hitu-o
waai-ya na silawa lete huni mua-o
waai-ya na silawa lete huni mua-o
suli na silai salane kutika-o
suli na silai salane kutika-o
awal le e jadi lete elia paunusa-o”
awal le e jadi lete elia paunusa-o”
Artinya :
Kami dari Hunut, Kami dari Hunut
Kami dari Hunut, Kami dari Hunut
Negeri kami sudah kosong, Negeri kami sudah kosong,
Negeri kami sudah kosong, Negeri kami sudah kosong,

Kami dibawah Perintah Pengganti Kami ( Raja) Tanah Hitu
Kami dibawah Perintah Pengganti Kami ( Raja) Tanah Hitu
Orang Waai sudah Lari Pergi Ke Hunimua
Orang Waai sudah Lari Pergi Ke Hunimua
Orang Suli Sampai Sekarang Belum datang bergabung
Orang Suli Sampai Sekarang Belum datang bergabung
Kejadian ini terjadi pertama di gunung Elia Paunussa
Kejadian ini terjadi pertama di gunung Elia Paunussa

Pemerintahan

Raja Mateuna’ adalah raja Kerajaan Tanah Hitu yang kelima dan juga merupakan raja yang terakhir pada pusat kegiatan Kerajaan Tanah Hitu yang pertama sekarang menjadi dusun Ama Hitu letaknya kira-kira 1 km dari negeri Hitu sekarang. Dia meninggal dunia pada tanggal 29 Juni 1634.

Pada pemerintahan Raja Mateuna’, negeri Hitu sebagai pusat kegiatan Kerajaan Tanah Hitu dipindahkan ke pesisir pantai pada awal abad ke-XV Masehi kini negeri Hitu sekarang. Pada masa dia juga terjadi kontak pertama antara Portugis dengan Kerajaan Tanah Hitu. Perlawanan fisik pada Perang Hitu I pada tahun 1520-1605 dipimpin oleh Tubanbessy I, yaitu Kapitan Sepamole, dan akhirnya Portugis angkat kaki dari Tanah Hitu dan kemudian mendirikan Benteng Kota Laha di Teluk Ambon (Semenanjung Lei Timur) pada tahun 1575 dan mulai mengkristenkan Jazirah Lei Timur.

Raja Mateuna meninggalkan dua Putra yaitu Silimual dan Hunilamu, sedangkan istrinya berasal dari Halong dan ibunya berasal dari negeri Soya, Jazirah Lei Timur (Hitu Selatan). Dia digantikan oleh putranya yang kedua yaitu Hunilamu menjadi Latu Sitania yang ke-VI (1637–1682). Sedangkan putra pertamanya Silimual ke Kerajaan Hoamual (Seram Barat) berdomisili disana dan menjadi Kapitan Huamual, memimpin perang melawan Belanda pada tahun 1625-1656 yang dikenal dengan Perang Hoamual dan seluruh keturunannya berdomisili disana sampai sekarang menjadi orang asli negeri Luhu (Seram Barat) bermarga Silehu.

Sesudah perginya Portugis, Belanda makin mengembangkan pengaruhnya dan mendirikan benteng pertahanan di Tanah Hitu bagian barat di pesisir pantai kaki Gunung Wawane. Akibat politik adu domba yang dilancakan oleh Belanda maka ketiga perdana (Perdana Totothatu, Perdana Jamilu dan Perdana Patituban) pergi meninggalkan Hitu dan mendirikan negeri baru, dan kemudian Negeri tersebut dinamakan Negeri Hila yaitu negeri Hila sekarang dan negeri asal mereka negeri Hitu berganti nama menjadi negeri Hitu yang lama.

Belanda tiba di Tanah Hitu pada tahun 1599 dan kemudian mendirikan kongsi dagang bernama VOC pada tahun 1602 sejak itulah terjadi perlawanan antara Belanda dengan Kerjaan Tanah Hitu, karena mendirikan monopoli dagang tersebut. Puncaknya terjadi Perang Hitu II atau Perang Wawane yang dipimpin oleh Kapitan Pattiwane II keturunan dari perdana Patituban dan Tubanbesi II, yaitu Kapitan Tahali elei tahun 1634 -1643. Perlawanan terakhir yaitu Perang Kapahaha (1643 – 1646) yang dipimpin oleh Kapitan Talukabesi (Muhammad Uwen) dan Imam Ridjali setelah Kapitan Tahali elei menghilang. Berakhirnya Perang Kapahaha ini Belanda dapat menguasi Jazirah Lei Hitu.

Belanda melakukan perubahan besar-besaran dalam struktur pemerintahan Kerajaan Tanah Hitu yaitu mengangkat Orang Kaya menjadi raja dari setiap uli sebagai raja tandingan dari Kerajaan Tanah Hitu. Hitu yang lama sebagai pusat kegiatan pemerintahan Kerajaan Tanah Hitu dibagi menjadi dua daerah administrasi yaitu Hitulama dengan Hitumessing dengan politik pecah belah inilah (devide et impera). Belanda benar-benar menghancurkan pemerintah Kerajaan Tanah Hitu sampai akar-akarnya.

Negeri-negeri

Negeri – Negeri di Jazirah Lei Hitu yang tidak termasuk di dalam Uli Hitu berarti negeri-negeri tersebut adalah negeri–negeri baru atau negeri-negeri yang belum ada pada zaman kekuasaan Kerajaan Tanah Hitu (1470-1682). Ketujuh uli tersebut diantaranya :

  1. Uli Halawang terdiri dari dua negeri yaitu Negeri Hitu dan Negeri Hila dengan pusatnya di Negeri Hitu .
  2. Uli Solemata (Wakane) terdiri dari tiga negeri yaitu Negeri Tial, Negeri Molowael(Tengah-Tengah) dan Negeri Tulehu dengan pusatnya di Negeri Tulehu.
  3. Uli Sailesi terdiri dari empat negeri yaitu Negeri Mamala, Negeri Morela, Negeri Liang dan Negeri Wai dengan pusatnya di Negeri Mamala.
  4. Uli Hatu Nuku terdiri dari satu negeri yaitu Negeri Kaitetu.
  5. Uli Lisawane terdiri dari satu negeri yaitu Negeri Wakal.
  6. Uli Yala terdiri dari tiga negeri yaitu Negeri Seith, Negeri Ureng dan Negeri Allang dengan pusatnya di Seith.
  7. Uli Lau Hena Helu terdiri dari satu negeri yaitu Negeri Lima.

2 Alasan Kuat Kenapa Harus Berhenti Minum Soda Sekarang Juga


Tidak bisa dipungkiri jika saat ini sudah banyak sekali yang suka dengan minuman soda atau berkarbonasi karena bukan hanya manis, tapi juga menunjukkan sisi modern masyarakat metropolitan. Namun Anda pasti tahu sendiri bahwa kebiasaan minum soft drink seperti itu tidak sehat lah, apalagi jika Anda menginginkan tubuh langsing dan bugar.

Bukan hanya berperan besar sebagai penyebab masalah obesitas atau kegemukan saja, minuman soda juga memiliki sisi buruk lain yang bisa menyebabkan beragam masalah kesehatan. Bahkan sebuah penelitian terbaru di Harvard University menemukan bahwa remaja gadis yang minum lebih dari 1,5 porsi minuman manis seperti soda akan mendapatkan menstruasi pertamanya 3 bulan lebih awal dari umur biasanya.

Seperti dilansir dari msn.com, ada beberapa alasan kuat mengapa Anda harus berhenti minum soda dari sekarang, antara lain adalah

1. Kelebihan berat badan
Minuman dengan kadar gula tinggi seperti soda atau soft drink merupakan sumber paling baik jika Anda ingin cepat gemuk dengan cara yang tidak sehat. Bertambahnya berat badan hingga obesitas akan mengundang banyak penyakit. Khususnya untuk remaja yang mengalami mesntruasi pertama lebih awal, lebih berisiko terserang kanker payudara nantinya. Tubuh juga jadi lemah dan tidak produktif.

2. Diabetes mellitus atau tipe 2
Ini adalah musuh utama jika berhadapan dengan makanan atau minuman bergula seperti soda. Anda tahu bahwa gula dalam soda sangat banyak, baik glukosa maupun sorbitol (pemanis buatan). Jangan kira mereka dengan riwayat keluarga diabetes saja yang bisa terkena diabetes, setiap orang punya risiko mengalami penyakit gula ini. Minuman manis bisa melemahkan kemampuan insulin dalam memproses gula atau karbohidrat.

Jadi, hentikan kebiasaan minum Anda yang tidak sehat dengan mengurangi atau menghindari soda mulai dari sekarang ya Ladies.

5 Tembok Raksasa Paling bersejarah yang pernah ada di Dunia.


uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi -uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi dari anak jakarta timur klender
 

 Azka alifiandra memposting –Setiap negara pasti memiliki cerita sejarah yang sulit dilupakan mulai dari sejarah penjajahan , kemerdekaan bahkan benda peninggalan – peninggalan zaman kuno yang kadang menjadi cerita misteri.

Dan kali ini ada sebuah tembok raksasa yang diketahui sebagai monument paling bersejarah di dunia.

 

Ukuran yang besar ditambah dengan gaya arsitektur yang tak biasa ini memberikan makna tersendiri.

Seperti yang dilansir dari viva.co.id, inilah dia 5 tembok bersejarah yang pernah ada di dunia. Yuk, simak bersama !

1. Tembok Ratapan

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - 5 Tembok Raksasa Paling bersejarah yang pernah ada di Dunia.

*Upload gambar by choirul

Salah satu tembok paling bersejarah di dunia yang selama ini dikenal sebagai monument terunik yakni tembok Ratapan. Tembok pertama yang menyuguhkan beragam keunikan ini ternyata menjadi salah satu situs religius terpenting bagi bangsa Yahudi di seluruh dunia.

Dalam perkembangannya situ ini sempat menjadi sengketa antara Palestina dan Israel. Sebab dulunya Tembok Ratapan berada di lokasi yang menjadi daerah kekuasaan kaum muslim di Palestina.

2. Tembok Berlin

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - 5 Tembok Raksasa Paling bersejarah yang pernah ada di Dunia.

*Upload gambar by choirul

Tembok Berlin juga menjadi salah satu tembok paling bersejarah di dunia. Tembok Berlin didirikan oleh pemerintah Jerman Timur yang beraliran fasis untuk mencegah bangsa lain memasuki wilayah tersebut.

Konon katanya , tembok ini saksi bisu bagi perkembangan Jerman di masa lalu. Tembok Berlin merupakan tembok pemisah antara Jerman Timur dan Jerman Barat di masa lalu tepatnya pada tahun 1961.

Dan ada beberapa kisah misteri dari tembok ini dimana lebih dari 100 orang menemui ajal saat mencoba melarikan diri melalui tembok tersebut. Ribuan lainnya berhasil hijrah dengan menggali terowongan atau menaiki balon udara buatan sendiri.

Kabarnya , tembok tersebut berdiri selama lebih dari 28 tahun sebelum dirobohkan pada 9 November 1989.

3. Tembok Konstantinopel

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - 5 Tembok Raksasa Paling bersejarah yang pernah ada di Dunia.

*Upload gambar by choirul

Tembok Konstantinopel ini juga menjadi salah satu tembok raksasa yang paling bersejarah di dunia Tembok ini memiliki julukan lain yakni dikenal sebagaiTembook Theodosian, dilengkapi parit, dinding luar setinggi 27 kaki dan dinding dalam seukuran 40 kaki.

Dinding Konstantinopel berhasil mengusir sejumlah penakluk, antara lain Attila sang Hun. Namun pada akhirnya bangsa Turki berhasil menguasai Konstantinopel dan meruntuhkan Kekaisaran Byzantium.

4. Tembok Hadrian

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - 5 Tembok Raksasa Paling bersejarah yang pernah ada di Dunia.

*Upload gambar by choirul

Tembok Hadrian juga menjadi salah satu tembok raksasa paling bersejarah. Tembok Hdrian dikatakan sebagai saksi bisu masa kejayaan bangsa Romawi. Tembok yang membentang dari Laut Irlandia sampai Laut Utara ini merupakan bukti kekuasaan Romawi selama 6 abad di Inggris.

Tembok ini sempat ditelantarkan pada tahun 140 M. Fungsinya digantikan oleh Tembok Antoine. Namun Tembok Hadrian tetap bertahan sebagai salah satu benteng terkuat Inggris sampai Romawi menarik diri dari daerah tersebut pada abad 5. Tembok Hadrian telah terdaftar sebagai salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1987. Saat ini tembok tersebut termasuk salah satu situs bersejarah paling banyak dikunjungi di Inggris.

5. Tembok Besar China

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - 5 Tembok Raksasa Paling bersejarah yang pernah ada di Dunia.

*Upload gambar by choirul

Tembok besar China adalah tembok raksasa paling bersejarah yang didirikan atas perintah Kaisar Qin Shi Huang pada abad 3. Tembok legendaris ini tersusun dari kumpulan batu, kayu, dan barikade tanah sejauh ribuan mil, membentang dari Gurun Gobi hingga ke perbatasan Korea Utara. Tembok Besar China memang sempat menjadi struktur terbesar yang pernah dibuat oleh manusia hingga masuk ke jajaran 7 Keajaiban Dunia.

Nah, itulah dia kelima tembok raksasa paling bersejarah yang pernah ada di dunia.

Terima kasih atas kunjungannya untuk membaca artikel ini semoga anda di berikan kemudahan dan kelancaran dalam berurusan.
uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi dari anak jakarta timur klender

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi dari coretan kata bocah jakarta timur klender pulo gadung indonesia

  •    Sumurnya
  • * Upload di akun servimg.com
  •    Artikel dari mesin pencari kata/ Search engine

 

Mari kita bersama meningkatkan kesadaran kita - Mulailah berpikir cerdas, Kita semua beragama !!! Agama bukan identitas...jadikanlah agama untuk keluar dari kebodohan

Tulisan di blog ini mungkin sangat ngawur tapi mungkin juga benar. Merdekakan pikiran anda, sentuh hati nurani anda. Yang ada tinggal KASUNYATAN SEJATI

Zoemalang's community at www. zoemalang.wordpress.com

ujung malang adalah Sebuah desa yang hilang terganti dengan ujung harapan

YoYo Games Blog Feed

Tulisan di blog ini mungkin sangat ngawur tapi mungkin juga benar. Merdekakan pikiran anda, sentuh hati nurani anda. Yang ada tinggal KASUNYATAN SEJATI

Dealer Termurah

Menjual Segala Jenis Motor Baru Di Indonesia Cash Maupun Kredit

%d blogger menyukai ini: