Setan-setan politik kan datang mencekik


uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi -uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi dari anak jakarta timur klender
 

 Azka alifiandra memposting – begitulah sebait lirik lagu iwan fals sumbang di jadikan judul posting ini

Lirik Iwan Fals Sumbang | Lirik Lagu Sumbang

kuatnya belenggu besi

mengikat kedua kaki

tajamnya ujung belati

menujam di ulu hati

sanggupkah tak akan lari walau akhirnya

pasti mati

di kepala tanpa baja di

tangan tanpa senjata

akh itu soal biasa yang

singgah di depan mata kita

lusuhnya kain bendera di

halaman rumah kita

bukan satu alasan untuk kita tinggalkan

banyaknya persoalan yang datang tak

kenal kasian menyerang dalam gelap

memburu kala haru dengan

cara main kayu

tinggalkan bekas biru lalu

pergi tanpa ragu

setan-setan politik kan datang mencekik

walau dimasa pacekik tetap mencekik

apakah slamanya politik itu kejam?

apakah selamanya dia datang

‘tuk menghantam?

ataukah memang itu yang sudah

digariskan?

menjilat, menghasut, menindas

memperkosa hak-hak sewajarnya

maling teriak maling sembunyi balik

dinding pengecut lari terkencing-kencing

tikam dari belakang lawan lengah

diterjang lalu sibuk mencari kambing

hitam

selusin kepala tak berdosa

berteriak hingga serak didalam ngeri

yang congkak lalu senang dalang

tertawa…he…he…he…he…

Terima kasih atas kunjungannya untuk membaca artikel ini semoga anda di berikan kemudahan dan kelancaran dalam berurusan.
uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi dari anak jakarta timur klender

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi dari coretan kata bocah jakarta timur klender pulo gadung indonesia

  •    Sumurnya
  • * Upload di akun servimg.com
  •    Artikel dari mesin pencari kata/ Search engine

VIDEO PENJAJAHAN BELANDA DI INDONESIA PERIODE 1945-1949


uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi -uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi dari anak jakarta timur klender
 Azka alifiandra memposting –

VIDEO PENJAJAHAN BELANDA DI INDONESIA PERIODE 1945-1949

Terima kasih atas kunjungannya untuk membaca artikel ini semoga anda di berikan kemudahan dan kelancaran dalam berurusan.
uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi dari anak jakarta timur klender

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi dari coretan kata bocah jakarta timur klender pulo gadung indonesia

  •    Sumurnya
  • * Upload di akun servimg.com
  •    Artikel dari mesin pencari kata/ Search engine

Kerajaan Medang (Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Mataram Hindu)


Kerajaan Medang (atau sering juga disebut Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Mataram Hindu) adalah nama sebuah kerajaan yang berdiri di Jawa Tengah pada abad ke-8, kemudian berpindah ke Jawa Timur pada abad ke-10. Para raja kerajaan ini banyak meninggalkan bukti sejarah berupa prasasti-prasasti yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta membangun banyak candi baik yang bercorak Hindu maupun Buddha. Kerajaan Medang akhirnya runtuh pada awal abad ke-11.

Daftar isi

1 Nama
2 Pusat Kerajaan Medang
3 Awal berdirinya kerajaan
4 Dinasti yang berkuasa
5 Daftar raja-raja Medang
6 Struktur pemerintahan
7 Keadaan penduduk
8 Konflik takhta periode Jawa Tengah
9 Teori van Bammelen
10 Permusuhan dengan Sriwijaya
11 Peristiwa Mahapralaya
12 Peninggalan sejarah

Nama

Pada umumnya, istilah Kerajaan Medang hanya lazim dipakai untuk menyebut periode Jawa Timur saja, padahal berdasarkan prasasti-prasasti yang telah ditemukan, nama “Medang” sudah dikenal sejak periode sebelumnya, yaitu periode Jawa Tengah.

Sementara itu, nama yang lazim dipakai untuk menyebut Kerajaan Medang periode Jawa Tengah adalah Kerajaan Mataram, yaitu merujuk kepada salah satu daerah ibu kota kerajaan ini. Kadang untuk membedakannya dengan Kerajaan Mataram Islam yang berdiri pada abad ke-16, Kerajaan Medang periode Jawa Tengah biasa pula disebut dengan nama Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Mataram Hindu.
Pusat Kerajaan Medang
Letak Mataram Kuno periode Jawa Tengah.
Pusat Kerajaan Medang periode Jawa Timur.

“Bhumi Mataram” adalah sebutan lama untuk Yogyakarta dan sekitarnya. Di daerah inilah untuk pertama kalinya istana Kerajaan Medang diperkirakan berdiri (Rajya Medang i Bhumi Mataram). Nama ini ditemukan dalam beberapa prasasti, misalnya prasasti Minto dan prasasti Anjuk ladang. Istilah “Mataram” kemudian lazim dipakai untuk menyebut nama kerajaan secara keseluruhan, meskipun tidak selamanya kerajaan ini berpusat di sana.

Sebenarnya, pusat Kerajaan Medang pernah mengalami beberapa kali perpindahan, bahkan sampai ke daerah Jawa Timur sekarang. Beberapa daerah yang pernah menjadi lokasi istana Medang berdasarkan prasasti-prasasti yang sudah ditemukan antara lain,

Medang i Bhumi Mataram (zaman Sanjaya)
Medang i Mamrati (zaman Rakai Pikatan)
Medang i Poh Pitu (zaman Dyah Balitung)
Medang i Bhumi Mataram (zaman Dyah Wawa)
Medang i Tamwlang (zaman Mpu Sindok)
Medang i Watugaluh (zaman Mpu Sindok)
Medang i Wwatan (zaman Dharmawangsa Teguh)

Menurut perkiraan, Mataram terletak di daerah Yogyakarta sekarang. Mamrati dan Poh Pitu diperkirakan terletak di daerah Kedu. Sementara itu, Tamwlang sekarang disebut dengan nama Tembelang, sedangkan Watugaluh sekarang disebut Megaluh. Keduanya terletak di daerah Jombang. Istana terakhir, yaitu Wwatan, sekarang disebut dengan nama Wotan, yang terletak di daerah Madiun.
Awal berdirinya kerajaan

Prasasti Mantyasih tahun 907 atas nama Dyah Balitung menyebutkan dengan jelas bahwa raja pertama Kerajaan Medang (Rahyang ta rumuhun ri Medang ri Poh Pitu) adalah Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. [1]. [2]

Sanjaya sendiri mengeluarkan prasasti Canggal tahun 732, namun tidak menyebut dengan jelas apa nama kerajaannya. Ia hanya memberitakan adanya raja lain yang memerintah pulau Jawa sebelum dirinya, bernama Sanna. Sepeninggal Sanna, negara menjadi kacau. Sanjaya kemudian tampil menjadi raja, atas dukungan ibunya, yaitu Sannaha, saudara perempuan Sanna.[3]

Sanna, juga dikenal dengan nama “Sena” atau “Bratasenawa”,[4] merupakan raja Kerajaan Galuh yang ketiga (709 – 716 M). Bratasenawa alias Sanna atau Sena digulingkan dari tahta Galuh oleh Purbasora (saudara satu ibu Sanna) dalam tahun 716 M. Sena akhirnya melarikan diri ke Pakuan, meminta perlindungan pada Raja Tarusbawa. Tarusbawa yang merupakan raja pertama Kerajaan Sunda (setelah Tarumanegara pecah menjadi Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh) adalah sahabat baik Sanna. Persahabatan ini pula yang mendorong Tarusbawa mengambil Sanjaya menjadi menantunya.

Sanjaya, anak Sannaha saudara perempuan Sanna, berniat menuntut balas terhadap keluarga Purbasora. Untuk itu ia meminta bantuan Tarusbawa (mertuanya yangg merupakan sahabat Sanna). Hasratnya dilaksanakan setelah menjadi Raja Sunda yang memerintah atas nama isterinya. Akhirnya Sanjaya menjadi penguasa Kerajaan Sunda, Kerajaan Galuh dan Kerajaan Kalingga (setelah Ratu Shima mangkat). Dalam tahun 732 M Sanjaya mewarisi tahta Kerajaan Mataram dari orangtuanya. Sebelum ia meninggalkan kawasan Jawa Barat, ia mengatur pembagian kekuasaan antara puteranya, Tamperan, dan Resi Guru Demunawan. Sunda dan Galuh menjadi kekuasaan Tamperan, sedangkan Kerajaan Kuningan dan Galunggung diperintah oleh Resi Guru Demunawan, putera bungsu Sempakwaja.

Kisah hidup Sanjaya secara panjang lebar terdapat dalam Carita Parahyangan [5] yang baru ditulis ratusan tahun setelah kematiannya, yaitu sekitar abad ke-16.
Dinasti yang berkuasa
Bukti terawal sistem mata uang di Jawa. Emas atau keping tahil Jawa, sekitar abad ke-9.

Pada umumnya para sejarawan menyebut ada tiga dinasti yang pernah berkuasa di Kerajaan Medang, yaitu Wangsa Sanjaya dan Wangsa Sailendra pada periode Jawa Tengah, serta Wangsa Isyana pada periode Jawa Timur.

Istilah Wangsa Sanjaya merujuk pada nama raja pertama Medang, yaitu Sanjaya. Dinasti ini menganut agama Hindu aliran Siwa. Menurut teori van Naerssen, pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran (pengganti Sanjaya sekitar tahun 770-an), kekuasaan atas Medang direbut oleh Wangsa Sailendra yang beragama Buddha Mahayana.

Mulai saat itu Wangsa Sailendra berkuasa di Pulau Jawa, bahkan berhasil pula menguasai Kerajaan Sriwijaya di Pulau Sumatra. Sampai akhirnya, sekitar tahun 840-an, seorang keturunan Sanjaya bernama Rakai Pikatan berhasil menikahi Pramodawardhani putri mahkota Wangsa Sailendra. Berkat perkawinan itu ia bisa menjadi raja Medang, dan memindahkan istananya ke Mamrati. Peristiwa tersebut dianggap sebagai awal kebangkitan kembali Wangsa Sanjaya.

Menurut teori Bosch, nama raja-raja Medang dalam Prasasti Mantyasih dianggap sebagai anggota Wangsa Sanjaya secara keseluruhan. Sementara itu Slamet Muljana berpendapat bahwa daftar tersebut adalah daftar raja-raja yang pernah berkuasa di Medang, dan bukan daftar silsilah keturunan Sanjaya.

Contoh yang diajukan Slamet Muljana adalah Rakai Panangkaran yang diyakininya bukan putra Sanjaya. Alasannya ialah, prasasti Kalasan tahun 778 memuji Rakai Panangkaran sebagai “permata wangsa Sailendra” (Sailendrawangsatilaka). Dengan demikian pendapat ini menolak teori van Naerssen tentang kekalahan Rakai Panangkaran oleh seorang raja Sailendra.

Menurut teori Slamet Muljana, raja-raja Medang versi Prasasti Mantyasih mulai dari Rakai Panangkaran sampai dengan Rakai Garung adalah anggota Wangsa Sailendra. Sedangkan kebangkitan Wangsa Sanjaya baru dimulai sejak Rakai Pikatan naik takhta menggantikan Rakai Garung.

Istilah Rakai pada zaman Medang identik dengan Bhre pada zaman Majapahit, yang bermakna “penguasa di”. Jadi, gelar Rakai Panangkaran sama artinya dengan “Penguasa di Panangkaran”. Nama aslinya ditemukan dalam prasasti Kalasan, yaitu Dyah Pancapana.

Slamet Muljana kemudian mengidentifikasi Rakai Panunggalan sampai Rakai Garung dengan nama-nama raja Wangsa Sailendra yang telah diketahui, misalnya Dharanindra ataupun Samaratungga. yang selama ini cenderung dianggap bukan bagian dari daftar para raja versi Prasasti Mantyasih.

Sementara itu, dinasti ketiga yang berkuasa di Medang adalah Wangsa Isana yang baru muncul pada ‘’periode Jawa Timur’’. Dinasti ini didirikan oleh Mpu Sindok yang membangun istana baru di Tamwlang sekitar tahun 929. Dalam prasasti-prasastinya, Mpu Sindok menyebut dengan tegas bahwa kerajaannya adalah kelanjutan dari Kadatwan Rahyangta i Medang i Bhumi Mataram.
Daftar raja-raja Medang

Apabila teori Slamet Muljana benar, maka daftar raja-raja Medang sejak masih berpusat di Bhumi Mataram sampai berakhir di Wwatan dapat disusun secara lengkap sebagai berikut:
Candi Prambanan dari abad ke-9, terletak di Prambanan, Yogyakarta, dibangun antara masa pemerintahan Rakai Pikatan dan Dyah Balitung.

Sanjaya, pendiri Kerajaan Medang
Rakai Panangkaran, awal berkuasanya Wangsa Syailendra
Rakai Panunggalan alias Dharanindra
Rakai Warak alias Samaragrawira
Rakai Garung alias Samaratungga
Rakai Pikatan[6] suami Pramodawardhani, awal kebangkitan Wangsa Sanjaya
Rakai Kayuwangi alias Dyah Lokapala
Rakai Watuhumalang
Rakai Watukura Dyah Balitung
Mpu Daksa
Rakai Layang Dyah Tulodong
Rakai Sumba Dyah Wawa
Mpu Sindok, awal periode Jawa Timur
Sri Lokapala suami Sri Isanatunggawijaya
Makuthawangsawardhana
Dharmawangsa Teguh, Kerajaan Medang berakhir

Pada daftar di atas hanya Sanjaya yang memakai gelar Sang Ratu, sedangkan raja-raja sesudahnya semua memakai gelar Sri Maharaja.
Struktur pemerintahan

Raja merupakan pemimpin tertinggi Kerajaan Medang. Sanjaya sebagai raja pertama memakai gelar Ratu. Pada zaman itu istilah Ratu belum identik dengan kaum perempuan. Gelar ini setara dengan Datu yang berarti “pemimpin”. Keduanya merupakan gelar asli Indonesia.

Ketika Rakai Panangkaran dari Wangsa Sailendra berkuasa, gelar Ratu dihapusnya dan diganti dengan gelar Sri Maharaja. Kasus yang sama terjadi pada Kerajaan Sriwijaya di mana raja-rajanya semula bergelar Dapunta Hyang, dan setelah dikuasai Wangsa Sailendra juga berubah menjadi Sri Maharaja.

Pemakaian gelar Sri Maharaja di Kerajaan Medang tetap dilestarikan oleh Rakai Pikatan meskipun Wangsa Sanjaya berkuasa kembali. Hal ini dapat dilihat dalam daftar raja-raja versi Prasasti Mantyasih yang menyebutkan hanya Sanjaya yang bergelar Sang Ratu.

Jabatan tertinggi sesudah raja ialah Rakryan Mahamantri i Hino atau kadang ditulis Rakryan Mapatih Hino. Jabatan ini dipegang oleh putra atau saudara raja yang memiliki peluang untuk naik takhta selanjutnya. Misalnya, Mpu Sindok merupakan Mapatih Hino pada masa pemerintahan Dyah Wawa.

Jabatan Rakryan Mapatih Hino pada zaman ini berbeda dengan Rakryan Mapatih pada zaman Majapahit. Patih zaman Majapahit setara dengan perdana menteri namun tidak berhak untuk naik takhta.

Jabatan sesudah Mahamantri i Hino secara berturut-turut adalah Mahamantri i Halu dan Mahamantri i Sirikan. Pada zaman Majapahit jabatan-jabatan ini masih ada namun hanya sekadar gelar kehormatan saja. Pada zaman Wangsa Isana berkuasa masih ditambah lagi dengan jabatan Mahamantri Wka dan Mahamantri Bawang.

Jabatan tertinggi di Medang selanjutnya ialah Rakryan Kanuruhan sebagai pelaksana perintah raja. Mungkin semacam perdana menteri pada zaman sekarang atau setara dengan Rakryan Mapatih pada zaman Majapahit. Jabatan Rakryan Kanuruhan pada zaman Majapahit memang masih ada, namun kiranya setara dengan menteri dalam negeri pada zaman sekarang.
Keadaan penduduk
Temuan Wonoboyo berupa artifak emas menunjukkan kekayaan dan kehalusan seni budaya kerajaan Medang.

Penduduk Medang sejak periode Bhumi Mataram sampai periode Wwatan pada umumnya bekerja sebagai petani. Kerajaan Medang memang terkenal sebagai negara agraris, sedangkan saingannya, yaitu Kerajaan Sriwijaya merupakan negara maritim.

Agama resmi Kerajaan Medang pada masa pemerintahan Sanjaya adalah Hindu aliran Siwa. Ketika Sailendrawangsa berkuasa, agama resmi kerajaan berganti menjadi Buddha aliran Mahayana. Kemudian pada saat Rakai Pikatan dari Sanjayawangsa berkuasa, agama Hindu dan Buddha tetap hidup berdampingan dengan penuh toleransi.
Konflik takhta periode Jawa Tengah

Pada masa pemerintahan Rakai Kayuwangi putra Rakai Pikatan (sekitar 856 – 880–an), ditemukan beberapa prasasti atas nama raja-raja lain, yaitu Maharaja Rakai Gurunwangi dan Maharaja Rakai Limus Dyah Dewendra. Hal ini menunjukkan kalau pada saat itu Rakai Kayuwangi bukanlah satu-satunya maharaja di Pulau Jawa. Sedangkan menurut prasasti Mantyasih, raja sesudah Rakai Kayuwangi adalah Rakai Watuhumalang.

Dyah Balitung yang diduga merupakan menantu Rakai Watuhumalang berhasil mempersatukan kembali kekuasaan seluruh Jawa, bahkan sampai Bali. Mungkin karena kepahlawanannya itu, ia dapat mewarisi takhta mertuanya.

Pemerintahan Balitung diperkirakan berakhir karena terjadinya kudeta oleh Mpu Daksa yang mengaku sebagai keturunan asli Sanjaya. Ia sendiri kemudian digantikan oleh menantunya, bernama Dyah Tulodhong. Tidak diketahui dengan pasti apakah proses suksesi ini berjalan damai ataukah melalui kudeta pula.

Tulodhong akhirnya tersingkir oleh pemberontakan Dyah Wawa yang sebelumnya menjabat sebagai pegawai pengadilan.
Teori van Bammelen

Menurut teori van Bammelen, perpindahan istana Medang dari Jawa Tengah menuju Jawa Timur disebabkan oleh letusan Gunung Merapi yang sangat dahsyat. Konon sebagian puncak Merapi hancur. Kemudian lapisan tanah begeser ke arah barat daya sehingga terjadi lipatan, yang antara lain, membentuk Gunung Gendol dan lempengan Pegunungan Menoreh. Letusan tersebut disertai gempa bumi dan hujan material vulkanik berupa abu dan batu.

Istana Medang yang diperkirakan kembali berada di Bhumi Mataram hancur. Tidak diketahui dengan pasti apakah Dyah Wawa tewas dalam bencana alam tersebut ataukah sudah meninggal sebelum peristiwa itu terjadi, karena raja selanjutnya yang bertakhta di Jawa Timur bernama Mpu Sindok.

Mpu Sindok yang menjabat sebagai Rakryan Mapatih Hino mendirikan istana baru di daerah Tamwlang. Prasasti tertuanya berangka tahun 929. Dinasti yang berkuasa di Medang periode Jawa Timur bukan lagi Sanjayawangsa, melainkan sebuah keluarga baru bernama Isanawangsa, yang merujuk pada gelar abhiseka Mpu Sindok yaitu Sri Isana Wikramadharmottungga.
Permusuhan dengan Sriwijaya

Selain menguasai Medang, Wangsa Sailendra juga menguasai Kerajaan Sriwijaya di pulau Sumatra. Hal ini ditandai dengan ditemukannya Prasasti Ligor tahun 775 yang menyebut nama Maharaja Wisnu dari Wangsa Sailendra sebagai penguasa Sriwijaya.

Hubungan senasib antara Jawa dan Sumatra berubah menjadi permusuhan ketika Wangsa Sanjaya bangkit kembali memerintah Medang. Menurut teori de Casparis, sekitar tahun 850–an, Rakai Pikatan berhasil menyingkirkan seorang anggota Wangsa Sailendra bernama Balaputradewa putra Samaragrawira.

Balaputradewa kemudian menjadi raja Sriwijaya di mana ia tetap menyimpan dendam terhadap Rakai Pikatan. Perselisihan antara kedua raja ini berkembang menjadi permusuhan turun-temurun pada generasi selanjutnya. Selain itu, Medang dan Sriwijaya juga bersaing untuk menguasai lalu lintas perdagangan di Asia Tenggara.

Rasa permusuhan Wangsa Sailendra terhadap Jawa terus berlanjut bahkan ketika Wangsa Isana berkuasa. Sewaktu Mpu Sindok memulai periode Jawa Timur, pasukan Sriwijaya datang menyerangnya. Pertempuran terjadi di daerah Anjukladang (sekarang Nganjuk, Jawa Timur) yang dimenangkan oleh pihak Mpu Sindok.
Peristiwa Mahapralaya

Mahapralaya adalah peristiwa hancurnya istana Medang di Jawa Timur berdasarkan berita dalam prasasti Pucangan. Tahun terjadinya peristiwa tersebut tidak dapat dibaca dengan jelas sehingga muncul dua versi pendapat. Sebagian sejarawan menyebut Kerajaan Medang runtuh pada tahun 1006, sedangkan yang lainnya menyebut tahun 1016.

Raja terakhir Medang adalah Dharmawangsa Teguh, cicit Mpu Sindok. Kronik Cina dari Dinasti Song mencatat telah beberapa kali Dharmawangsa mengirim pasukan untuk menggempur ibu kota Sriwijaya sejak ia naik takhta tahun 991. Permusuhan antara Jawa dan Sumatra semakin memanas saat itu.

Pada tahun 1006 (atau 1016) Dharmawangsa lengah. Ketika ia mengadakan pesta perkawinan putrinya, istana Medang di Wwatan diserbu oleh Aji Wurawari dari Lwaram yang diperkirakan sebagai sekutu Kerajaan Sriwijaya. Dalam peristiwa tersebut, Dharmawangsa tewas.

Tiga tahun kemudian, seorang pangeran berdarah campuran Jawa–Bali yang lolos dari Mahapralaya tampil membangun kerajaan baru sebagai kelanjutan Kerajaan Medang. Pangeran itu bernama Airlangga yang mengaku bahwa ibunya adalah keturunan Mpu Sindok. Kerajaan yang ia dirikan kemudian lazim disebut dengan nama Kerajaan Kahuripan.
Peninggalan sejarah
(Kiri) Avalokitesvara lengan-dua. Jawa Tengah, abad ke-9/ke-10, tembaga, 12,0 x 7,5 cm. (Tengah: Chundā lengan-empat, Jawa Tengah, Wonosobo, Dataran Tinggi Dieng, abad ke-9/10, perunggu, 11 x 8 cm. (Kanan) Dewi Tantra lengan-empat (Chundā?), Jawa Tengah, Prambanan, abad ke 10, perunggu, 15 x 7,5 cm. Terletak di Museum für Indische Kunst, Berlin-Dahlem.

Selain meninggalkan bukti sejarah berupa prasasti-prasasti yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Kerajaan Medang juga membangun banyak candi, baik itu yang bercorak Hindu maupun Buddha. Temuan Wonoboyo berupa artifak emas yang ditemukan tahun 1990 di Wonoboyo, Klaten, Jawa Tengah; menunjukkan kekayaan dan kehalusan seni budaya kerajaan Medang.

Candi-candi peninggalan Kerajaan Medang antara lain, Candi Kalasan, Candi Plaosan, Candi Prambanan, Candi Sewu, Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Sambisari, Candi Sari, Candi Kedulan, Candi Morangan, Candi Ijo, Candi Barong, Candi Sojiwan, dan tentu saja yang paling kolosal adalah Candi Borobudur. Candi megah yang dibangun oleh Sailendrawangsa ini telah ditetapkan UNESCO (PBB) sebagai salah satu warisan budaya dunia

Abu Zakaria Muhyuddin an-Nawawi


Al-Imam al-Allamah Abu Zakaria Muhyuddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi (الإمام العلامة أبو زكريا محيي الدين بن شرف النووي الدمشقي), atau lebih dikenal sebagai Imam Nawawi, adalah salah seorang ulama besar mazhab Syafi’i. Ia lahir di desa Nawa, dekat kota Damaskus, pada tahun 631 H dan wafat pada tahun 24 Rajab 676 H. Kedua tempat tersebut kemudian menjadi nisbat nama dia, an-Nawawi ad-Dimasyqi. Ia adalah seorang pemikir muslim di bidang fiqih dan hadits.

Imam Nawawi pindah ke Damaskus pada tahun 649 H dan tinggal di distrik Rawahibiyah. Di tempat ini dia belajar dan sanggup menghafal kitab at-Tanbih hanya dalam waktu empat setengah bulan. Kemudian dia menghafal kitab al-Muhadzdzabb pada bulan-bulan yang tersisa dari tahun tersebut, dibawah bimbingan Syaikh Kamal Ibnu Ahmad.

Semasa hidupnya dia selalu menyibukkan diri dengan menuntut ilmu, menulis kitab, menyebarkan ilmu, ibadah, wirid, puasa, dzikir, sabar atas terpaan badai kehidupan. Pakaian dia adalah kain kasar, sementara serban dia berwarna hitam dan berukuran kecil.

Daftar isi

1 Guru-guru Imam Nawawi
2 Murid-murid Imam Nawawi
3 Karya
4 Catatan kaki
5 Pranala luar

Guru-guru Imam Nawawi

Sang Imam belajar pada guru-guru yang amat terkenal seperti Abdul Aziz bin Muhammad Al-Ashari, Zainuddin bin Abdud Daim, Imaduddin bin Abdul Karim Al-Harastani, Zainuddin Abul Baqa, Khalid bin Yusuf Al-Maqdisi An-Nabalusi dan Jamaluddin Ibn Ash-Shairafi, Taqiyuddin bin Abul Yusri, Syamsuddin bin Abu Umar. Dia belajar fiqih hadits (pemahaman hadits) pada asy-Syaikh al-Muhaqqiq Abu Ishaq Ibrahim bin Isa Al-Muradi Al-Andalusi. Kemudian belajar fiqh pada Al-Kamal Ishaq bin Ahmad bin usman Al-Maghribi Al-Maqdisi, Syamsuddin Abdurrahman bin Nuh dan Izzuddin Al-Arbili serta guru-guru lainnya.
Murid-murid Imam Nawawi

Tidak sedikit ulama yang datang untuk belajar ke Iman Nawawi. Di antara mereka adalah al-Khatib Shadruddin Sulaiman al-Ja’fari, Syihabuddin al-Arbadi, Shihabuddin bin Ja’wan, Alauddin al-Athar dan yang meriwayatkan hadits darinya Ibnu Abil Fath, Al-Mazi dan lainnya.
Karya

Imam Nawawi meninggalkan banyakkarya ilmiah yang terkenal. Jumlahnya sekitar empat puluh kitab, diantaranya: Dalam bidang hadits:

Al-Arba’in An-Nawawiyah (الأربعين النووية), kumpulan 40 -tepatnya 42- hadits penting.[2]
Riyadhus Shalihin (رياض الصالحين),[3] kumpulan hadits mengenai etika, sikap dan tingkah laku yang saat ini banyak digunakan di dunia Islam.
Al-Minhaj (Syarah Shahih Muslim), (شرح صحيح مسلم), penjelasan kitab Shahih Muslim bin al-Hajjaj.[4]
At-Taqrib wat Taysir fi Ma’rifat Sunan Al-Basyirin Nadzir. (التقريب والتيسير لمعرفة سنن البشير النذير), pengantar studi hadits.

Dalam bidang fiqih:

Minhaj ath-Thalibin (منهاج الطالبين وعمدة المفتين في فقه الإمام الشافعي).
Raudhatuth Thalibin,
Al-Majmu` Syarhul Muhadzdzab (المجموع شرح المهذب), panduan hukum Islam yang lengkap.
Matn al-Idhah fi al-Manasik (متن الإيضاح في المناسك), membahas tentang haji.

Dalam bidang bahasa:

Tahdzibul Asma’ wal Lughat.

Dalam bidang akhlak:

At-Tibyan fi Adab Hamalah al-Quran (التبيان في آداب حملة القرآن).
Bustanul Arifin,
Al-Adzkar (الأذكار المنتخبة من كلام سيد الأبرار), kumpulan doa Rasulullah.[5]

Dan lain-lain:

Tahdzib al-Asma (تهذيب الأسماء).
Ma Tamas Ilaihi Hajah al-Qari li Shahih al-Bukhari (ما تمس إليه حاجة القاري لصـحيح البـخاري).
Tahrir al-Tanbih (تحرير التنبيه).
Adab al-Fatwa wa al-Mufti wa al-Mustafti (آداب الفتوى والمفتي والمستفتي).
At-Tarkhis bi al-Qiyam (الترخيص بالقيام لذوي الفضل والمزية من أهل الإسلام).

kisah wahyu terakhir kepada rasulullah


السلام عليكم . بِسْــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم.لا إله إلاَّ الله.محمد رسو ل الله
الحمد لله رب العا لمين. الصلاة و السلام على رسو ل الله.اما بعد

AsSalaam – Diriwayatkan bahawa surah Al-Maaidah ayat 3 diturunkan pada sesudah waktu asar yaitu pada hari Jumaat di padang Arafah pada musim haji penghabisan [Wada’]. Pada masa itu Rasulullah s.a.w. berada di Arafah di atas unta. Ketika ayat ini turun Rasulullah s.a.w. tidak begitu jelas penerimaannya untuk mengingati isi dan makna yang terkandung dalam ayat tersebut. Kemudian Rasulullah s.a.w. bersandar pada unta beliau, dan unta beliau pun duduk perlahan-lahan. Setelah itu turun malaikat Jibril a.s. dan berkata:
“Wahai Muhammad, sesungguhnya pada hari ini telah disempurnakan urusan agamamu, maka terputuslah apa yang diperintahkan oleh Allah s.w.t. dan demikian juga apa yang terlarang olehnya. Oleh itu kamu kumpulkan para sahabatmu dan beritahu kepada mereka bahawa hari ini adalah hari terakhir aku bertemu dengan kamu.”

Setelah Malaikat Jibril a.s. pergi maka Rasulullah s.a.w. pun berangkat ke Mekah dan terus pergi ke Madinah. Setelah Rasulullah s.a.w. mengumpulkan para sahabat beliau, maka Rasulullah s.a.w. pun menceritakan apa yang telah diberitahu oleh malaikat Jibril a.s.. Apabila para sahabat mendengar hal yang demikian maka mereka pun gembira sambil berkata: ”Agama kita telah sempurna. Agama kila telah sempurna.”
Apabila Abu Bakar ra. mendengar keterangan Rasulullah s.a.w. itu, maka ia tidak dapat menahan kesedihannya maka ia pun kembali ke rumah lalu mengunci pintu dan menangis sekuat-kuatnya. Abu Bakar ra. menangis dari pagi hingga ke malam. Kisah tentang Abu Bakar ra. menangis telah sampai kepada para sahabat yang lain, maka berkumpullah para sahabat di depan rumah Abu Bakar ra. dan mereka berkata: “Wahai Abu Bakar, apakah yang telah membuat kamu menangis sehingga begini sekali keadaanmu? Seharusnya kamu merasa gembira sebab agama kita telah sempuma.” Mendengarkan pertanyaan dari para sahabat maka Abu Bakar ra. pun berkata, “Wahai para sahabatku, kamu semua tidak tahu tentang musibah yang menimpa kamu, tidakkah kamu tahu bahawa apabila sesualu perkara itu telah sempuma maka akan kelihatanlah akan kekurangannya. Dengan turunnya ayat tersebut bahawa ia menunjukkan perpisahan kita dengan Rasulullah s.a.w.. Hasan dan Husin menjadi yatim dan para isteri nabi menjadi janda.”
Selelah mereka mendengar penjelasan dari Abu Bakar ra. maka sadarlah mereka akan kebenaran kata-kata Abu Bakar ra., lalu mereka menangis dengan sekuat-kuatnya. Tangisan mereka telah didengar oleh para sahabat yang lain, maka mereka pun terus memberitahu Rasulullah s.a.w. tentang apa yang mereka lihat itu. Berkata salah seorang dari para sahabat, “Ya Rasulullah s.a.w., kami baru kembali dari rumah Abu Bakar ra. dan kami dapati banyak orang menangis dengan suara yang kuat di depan rumah beliau.” Apabila Rasulullah s.a.w. mendengar keterangan dari para sahabat, maka berubahlah muka Rasulullah s.a.w. dan dengan bergegas beliau menuju ke rumah Abu Bakar ra.. Setelah Rasulullah s.a.w. sampai di rumah Abu Bakar ra. maka Rasulullah s.a.w. melihat kesemua mereka yang menangis dan bertanya, “Wahai para sahabatku, kenapakah kamu semua menangis?.” Kemudian Ali ra. berkata, “YaRasulullah s.a.w., Abu Bakar ra. mengatakan dengan turunnya ayat ini membawa tanda bahwa waktu wafatmu telah dekat. Adakah ini benar ya Rasulullah?.” Lalu Rasulullah s.a.w. berkata: “Semua yang dikatakan oleh Abu Bakar ra. adalah benar, dan sesungguhnya waktu untuk aku meninggalkan kamu semua telah dekat”.
Setelah Abu Bakar ra. mendengar pengakuan Rasulullah s.a.w., maka ia pun menangis sekuat tenaganya sehingga ia jatuh pingsan. Sementara ‘Ukasyah ra. berkata kepada Rasulullah s.a.w., ‘Ya Rasulullah, waktu itu saya anda pukul pada tulang rusuk saya. Oleh itu saya hendak tahu apakah anda sengaja memukul saya atau hendak memukul unta baginda.” Rasulullah s.a.w. berkata: “Wahai ‘Ukasyah, Rasulullah s.a.w. sengaja memukul kamu.” Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata kepada Bilal ra., “Wahai Bilal, kamu pergi ke rumah Fathimah dan ambilkan tongkatku ke mari.” Bilal keluar dari masjid menuju ke rumah Fathimah sambil meletakkan tangannya di atas kepala dengan berkata, “Rasulullah telah menyediakan dirinya untuk dibalas [diqishash].”
Setelah Bilal sampai di rumah Fathimah maka Bilal pun memberi salam dan mengetuk pintu. Kemudian Fathimah ra. menyahut dengan berkata: “Siapakah di pintu?.” Lalu Bilal ra. berkata: “Saya Bilal, saya telah diperintahkan oleh Rasulullah s.a.w. untuk mengambil tongkat beliau. “Kemudian Fathimah ra. berkata: “Wahai Bilal, untuk apa ayahku minta tongkatnya.” Berkata Bilal ra.: “Wahai Fathimah, Rasulullah s.a.w. telah menyediakan dirinya untuk diqishash.” Bertanya Fathimah ra. lagi: “Wahai Bilal, siapakah manusia yang sampai hatinya untuk menqishash Rasulullah s.a.w.?” Bilal ra. tidak menjawab pertanyaan Fathimah ra., Setelah Fathimah ra. memberikan tongkat tersebut, maka Bilal pun membawa tongkat itu kepada Rasulullah s.a.w. Setelah Rasulullah s.a.w. menerima tongkat tersebut dari Bilal ra. maka beliau pun menyerahkan kepada ‘Ukasyah.
Melihatkan hal yang demikian maka Abu Bakar ra. dan Umar ra. tampil ke depan sambil berkata: “Wahai ‘Ukasyah, janganlah kamu qishash Rasulullah s.a.w. tetapi kamu qishashlah kami berdua.” Apabila Rasulullah s.a.w. mendengar kata-kata Abu Bakar ra. dan Umar ra. maka dengan segera beliau berkata: “Wahai Abu Bakar, Umar duduklah kamu berdua, sesungguhnya Allah s.w.t. telah menetapkan tempatnya untuk kamu berdua.” Kemudian Ali ra. bangun, lalu berkata, “Wahai ‘Ukasyah! Aku adalah orang yang senantiasa berada di samping Rasulullah s.a.w. oleh itu kamu pukullah aku dan janganlah kamu menqishash Rasulullah s.a.w.” Lalu Rasulullah s.a.w. berkata, “Wahai Ali duduklah kamu, sesungguhnya Allah s.w.t. telah menetapkan tempatmu dan mengetahui isi hatimu.” Setelah itu Hasan dan Husin bangun dengan berkata: “Wahai ‘Ukasyah, bukankah kamu tidak tahu bahwa kami ini adalah cucu Rasulullah s.a.w., kalau kamu menqishash kami sama dengan kamu menqishash Rasulullah s.a.w.” Mendengar kata-kata cucunya Rasulullah s.a.w. pun berkata, “Wahai buah hatiku duduklah kamu berdua.” Berkata Rasulullah s.a.w. “Wahai ‘Ukasyah pukullah saya kalau kamu hendak memukul.”
Kemudian ‘Ukasyah berkata: “Ya Rasulullah s.a.w., anda telah memukul saya sewaktu saya tidak memakai baju.” Maka Rasulullah s.a.w. pun membuka baju. Setelah Rasulullah s.a.w. membuka baju maka menangislah semua yang hadir. Setelah ‘Ukasyah melihat tubuh Rasulullah s.a.w. maka ia pun mencium beliau dan berkata, “Saya tebus anda dengan jiwa saya ya Rasulullah s.a.w., siapakah yang sanggup memukul anda. Saya melakukan begini adalah sebab saya ingin menyentuh badan anda yang dimuliakan oleh Allah s.w.t. dengan badan saya. Dan Allah s.w.t. menjaga saya dari neraka dengan kehormatanmu” Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata, “Dengarlah kamu sekalian, sekiranya kamu hendak melihat ahli syurga, inilah orangnya.” Kemudian semua para jemaah bersalam-salaman atas kegembiraan mereka terhadap peristiwa yang sangat genting itu. Setelah itu para jemaah pun berkata, “Wahai ‘Ukasyah, inilah keuntungan yang paling besar bagimu, engkau telah memperolehi darjat yang tinggi dan bertemankan Rasulullah s.a.w. di dalam syurga.”
Apabila ajal Rasulullah s.a.w. makin dekat maka beliau pun memanggil para sahabat ke rumah Aisyah ra. dan beliau berkata: “Selamat datang kamu semua semoga Allah s.w.t. mengasihi kamu semua, saya berwasiat kepada kamu semua agar kamu semua bertaqwa kepada Allah s.w.t. dan mentaati segala perintahnya. Sesungguhnya hari perpisahan antara saya dengan kamu semua hampir dekat, dan dekat pula saat kembalinya seorang hamba kepada Allah s.w.t. dan menempatkannya di syurga. Kalau telah sampai ajalku maka hendaklah Ali yang memandikanku, Fadhl bin Abbas hendaklah menuangkan air dan Usamah bin Zaid hendaklah menolong keduanya. Setelah itu kamu kafanilah aku dengan pakaianku sendiri apabila kamu semua menghendaki, atau kafanilah aku dengan kain Yaman yang putih. Apabila kamu memandikan aku, maka hendaklah kamu letakkan aku di atas balai tempat tidurku dalam rumahku ini. Setelah itu kamu semua keluarlah sebentar meninggalkan aku. Pertama yang akan mensolatkan aku ialah Allah s.w.t., kemudian yang akan mensolat aku ialah Jibril a.s., kemudian diikuti oleh malaikat Israfil, malaikat Mikail, dan yang akhir sekali malaikat lzrail berserta dengan semua para pembantunya. Setelah itu baru kamu semua masuk bergantian secara berkelompok bersolat ke atasku.”
Setelah para sahabat mendengar ucapan yang sungguh menyayat hati itu maka mereka pun menangis dengan nada yang keras dan berkata, “Ya Rasulullah s.a.w. anda adalah seorang Rasul yang diutus kepada kami dan untuk semua, yang mana selama ini anda memberi kekuatan dalam penemuan kami dan sebagai penguasa yang menguruskan perkara kami. Apabila anda sudah tiada nanti kepada siapakah akan kami tanya setiap persoalan yang timbul nanti?.” Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata, “Dengarlah para sahabatku, aku tinggalkan kepada kamu semua jalan yang benar dan jalan yang terang, dan telah aku tinggalkan kepada kamu semua dua penasihat yang satu daripadanya pandai bicara dan yang satu lagi diam sahaja. Yang pandai bicara itu ialah Al-Quran dan yang diam itu ialah maut. Apabila ada sesuatu persoalan yang rumit di antara kamu, maka hendaklah kamu semua kembali kepada Al-Quran dan Hadis-ku dan sekiranya hati kamu itu berkeras maka lembutkan dia dengan mengambil pelajaran dari mati.”
Setelah Rasulullah s.a.w. berkata demikian, maka sakit Rasulullah s.a.w. bermula. Dalam bulan safar Rasulullah s.a.w. sakit selama 18 hari dan sering diziaiahi oleh para sahabat. Dalam sebuah kitab diterangkan bahawa Rasulullah s.a.w. diutus pada hari Isnin dan wafat pada hari Isnin. Pada hari Isnin penyakit Rasulullah s.a.w. bertambah berat, setelah Bilal ra. menyelesaikan azan subuh, maka Bilal ra. pun pergi ke rumah Rasulullah s.a.w.. Sesampainya Bilal ra. di rumah Rasulullah s.a.w. maka Bilal ra. pun memberi salam, “Assalaarnualaika ya Rasulullah.” Lalu dijawab oleh Fathimah ra., “Rasulullah s.a.w. masih sibuk dengan urusan beliau.” Setelah Bilal ra. mendengar penjelasan dari Fathimah ra. maka Bilal ra. pun kembali ke masjid tanpa memahami kata-kata Fathimah ra. itu. Apabila waktu subuh hampir hendak lupus, lalu Bilal pergi sekali lagi ke rumah Rasulullah s.a.w. dan memberi salam seperti permulaan tadi, kali ini salam Bilal ra. telah di dengar oleh Rasulullah s.a.w. dan Rasulullah s.a.w. berkata, “Masuklah wahai Bilal, sesungguhnya penyakitku ini semakin berat, oleh itu kamu suruhlah Abu Bakar mengimamkan solat subuh berjemaah dengan mereka yang hadir.” Setelah mendengar kata-kata Rasulullah s.a.w. maka Bilal ra. pun berjalan menuju ke masjid sambil meletakkan tangan di atas kepala dengan berkata: “Aduh musibah.”
Setelah Bilal ra. sarnpai di masjid maka Bilal ra. pun memberitahu Abu Bakar tentang apa yang telah Rasulullah s.a.w. katakan kepadanya. Abu Bakar ra. tidak dapat menahan dirinya apabila ia melihat mimbar kosong maka dengan suara yang keras Abu Bakar ra. menangis sehingga ia jatuh pingsan. Melihatkan peristiwa ini maka riuh rendah tangisan sahabat dalam masjid, sehingga Rasulullah s.a.w. bertanya kepada Fathimah ra.; “Wahai Fathimah apakah yang telah berlaku?.” Maka Fathimah ra. pun berkata: “Kekecohan kaum muslimin, sebab anda tidak pergi ke masjid.” Kemudian Rasulullah s.a.w. memanggil Ali ra. dan Fadhl bin Abas ra., lalu Rasulullah s.a.w. bersandar kepada kedua mereka dan terus pergi ke masjid. Setelah Rasulullah s.a.w. sampai di masjid maka Rasulullah s.a.w. pun bersolat subuh bersama dengan para jemaah.
Setelah selesai solat subuh maka Rasulullah s.a.w. pun berkata, “Wahai kaum muslimin, kamu semua senantiasa dalam pertolongan dan pemeliharaan Allah s.w.t., oleh itu hendaklah kamu semua bertaqwa kepada Allah s.w.t. dan mengerjakan segala perintahnya. Sesungguhnya aku akan meninggalkan dunia ini dan kamu semua, dan hari ini adalah hari pertama aku di akhirat dan hari terakhir aku di dunia.” Setelah berkata demikian maka Rasulullah s.a.w. pun pulang ke rumah beliau. Kemudian Allah s.w.t. mewahyukan kepada malaikat lzrail a.s., “Wahai lzrail, pergilah kamu kepada kekasihku dengan sebaik-baik rupa, dan apabila kamu hendak mencabut ruhnya maka hendaklah kamu melakukan dengan cara yang paling lembut sekali. Apabila kamu pergi ke rumahnya maka minta izinlah terlebih dahulu, kalau ia izinkan kamu masuk, maka masuklah kamu ke rumahnya dan kalau ia tidak mengizinkan kamu masuk maka hendaklah kamu kembali padaku.”
Setelah malaikat lzrail mendapat perintah dari Allah s.w.t. maka malaikal lzrail pun turun dengan menyerupai orang Arab Badwi. Setelah malaikat lzrail sampai di depan rumah Rasulullah s.a.w. maka ia pun memberi salam, “Assalaamu alaikum yaa ahla baitin nubuwwati wa ma danir risaalati a adkhulu?” (Mudah-mudahan keselamatan tetap untuk kamu semua sekalian, wahai penghuni rumah nabi dan sumber risaalah, bolehkan saya masuk?) Apabila Fathimah mendengar orang memberi salam maka ia-pun berkata; “Wahai hamba Allah, Rasulullah s.a.w. sedang sibuk sebab sakitnya yang semakin berat.” Kemudian malaikat lzrail berkata lagi seperti dipermulaannya, dan kali ini seruan malaikat itu telah didengar oleh Rasulullah s.a.w. dan Rasulullah s.a.w. bertanya kepada Fathimah ra., “Wahai Fathimah, siapakah di depan pintu itu.” Maka Fathimah ra. pun berkata, “Ya Rasulullah, ada seorang Arab badwi memanggil mu, dan aku telah katakan kepadanya bahawa anda sedang sibuk sebab sakit, sebaliknya dia memandang saya dengan tajam sehingga terasa menggigil badan saya.” Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata; “Wahai Fathimah, tahukah kamu siapakah orang itu?.” Jawab Fathimah, “Tidak ayah.” “Dia adalah malaikat lzrail, malaikat yang akan memutuskan segala macam nafsu syahwat yang memisahkan perkumpulan-perkumpulan dan yang memusnahkan semua rumah serta meramaikan kubur.” Fathimah ra. tidak dapat menahan air matanya lagi setelah mengetahui bahawa saat perpisahan dengan ayahandanya akan berakhir, dia menangis sepuas-puasnya. Apabila Rasulullah s.a.w. mendengar tangisan Falimah ra. maka beliau pun berkata: “Janganlah kamu menangis wahai Fathimah, engkaulah orang yang pertama dalam keluargaku akan bertemu dengan aku.” Kemudian Rasulullah s.a.w. pun mengizinkan malaikat lzrail masuk. Maka malaikat lzrail pun masuk dengan mengucap, “Assalamuaalaikum ya Rasulullah.” Lalu Rasulullah s.a.w. menjawab: “Wa alaikas saalamu, wahai lzrail engkau datang menziarahi aku atau untuk mencabut ruhku?” Maka berkata malaikat lzrail: “Kedatangan saya adalah untuk menziarahimu dan untuk mencabut ruhmu, itupun kalau engkau izinkan, kalau engkau tidak izinkan maka aku akan kembali.” Berkata Rasulullah s.a.w., “Wahai lzrail, di manakah kamu tinggalkan Jibril?” Berkata lzrail: “Saya tinggalkan Jibril di langit dunia, para malaikat sedang memuliakan dia.” Tidak beberapa lama kemudian Jibril a.s. pun turun dan duduk di dekat kepala Rasulullah s.a.w..
Apabila Rasulullah s.a.w. melihat kedatangan Jibril a.s. maka Rasulullah s.a.w. pun berkata: “Wahai Jibril, tahukah kamu bahawa ajalku sudah dekat” Berkata Jibril a.s., “Ya aku tahu” Rasulullah s.a.w. bertanya lagi, “Wahai Jibril, beritahu kepadaku kemuliaan yang menggembirakan aku disisi Allah s.w.t” Berkata Jibril a.s., “Sesungguhnya semua pintu langit telah dibuka, para malaikat bersusun rapi menanti ruhmu dilangit. Kesemua pintu-pintu syurga telah dibuka, dan kesemua bidadari sudah berhias menanti kehadiran ruhmu.” Berkata Rasulullah s.a.w.: “Alhamdulillah, sekarang kamu katakan pula tentang umatku di hari kiamat nanti.” Berkata Jibril a.s., “Allah s.w.t. telah berfirman yang bermaksud,“Sesungguhnya aku telah melarang semua para nabi masuk ke dalam syurga sebelum engkau masuk terlebih dahulu, dan aku juga melarang semua umat memasuki syurga sebelum umatmu memasuki syurga.”
Berkata Rasulullah s.a.w.: “Sekarang aku telah puas hati dan telah hilang rasa susahku.” Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata: “Wahai lzrail, mendekatlah kamu kepadaku.” Setelah itu Malaikat lzrail pun memulai tugasnya, apabila ruh beliau sampai pada pusat, maka Rasulullah s.a.w. pun berkata: “Wahai Jibril, alangkah dahsyatnya rasa mati.” Jibrila.s. mengalihkan pandangan dari Rasulullah s.a.w. apabila mendengar kata-kata beliau itu. Melihatkan telatah Jibril a.s. itu maka Rasulullah s.a.w. pun berkata: “Wahai Jibril, apakah kamu tidak suka melihat wajahku?” Jibril a.s. berkata: “Wahai kekasih Allah, siapakah orang yang sanggup melihat wajahmu dikala kamu dalam sakaratul maut?” Anas bin Malik ra. berkata: “Apabila ruh Rasulullah s.a.w. telah sampai di dada beliau telah bersabda,“Aku wasiatkan kepada kamu agar kamu semua menjaga solat dan apa-apa yang telah diperintahkan ke atasmu.”
Ali ra. berkata: “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. ketika menjelang saat-saat terakhir, telah mengerakkan kedua bibir beliau sebanyak dua kali, dan saya meletakkan telinga, saya dengan Rasulullah s.a.w. berkata: “Umatku, umatku.”

10 Fakta Menarik Tentang Pekerja Shift Yang Jarang Anda Ketahui


uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - Bolehkah Ibu Hamil Minum Kopi?

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - Bolehkah Ibu Hamil Minum Kopi?

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - Bolehkah Ibu Hamil Minum Kopi?

10 Fakta Menarik Tentang Pekerja Shift Yang Jarang Anda Ketahui

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - Bolehkah Ibu Hamil Minum Kopi?

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - Bolehkah Ibu Hamil Minum Kopi?

Bagaimana pendapat Anda tentang pekerjaan dalam rotasi shift?

 

Benarkah bekerja dalam rotasi shift itu berbahaya bagi kesehatan dan kehidupan sosial para pekerjanya? Berdasarkan data statistik terbaru di Amerika Serikat, terdapat 15 juta pekerja di AS yang harus bekerja shift, baik pada malam hari atau bekerja dengan jam kerja yang tidak teratur. Shift kerja merupakan pembagian waktu kerja di mana pekerja dijadwalkan untuk bekerja di jam tertentu.

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - 10 Fakta Menarik Tentang Pekerja Shift Yang Jarang Anda Ketahui

upload gambar by choirul

dalam arti bekerja bergilir di pagi, siang, atau malam

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - 10 Fakta Menarik Tentang Pekerja Shift Yang Jarang Anda Ketahui

upload gambar by choirul

Kerja shift ini biasanya dilakukan perusahaan sebagai salah satu upaya untuk memaksimalkan produktivitas.

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - 10 Fakta Menarik Tentang Pekerja Shift Yang Jarang Anda Ketahui

upload gambar by choirul

Data dari University’s Online Bachelors in Occupational Safety mengungkapkan, jumlah pekerja shift bahkan akan terus meningkat selama 5-10 tahun ke depan. Hal ini berarti, pekerja yang saat ini bekerja pada jam normal, kemungkinan nantinya harus bekerja dalam rotasi shift.

Berikut sepuluh fakta penting yang berhubungan dengan pekerja shift

 

#1. Perbedaan Jam Kerja Shift Indonesia dan Amerika Serikat

Sekitar 40 persen pekerja atau dua dari lima pekerja memiliki jadwal rutin bekerja pada shift malam, akhir pekan, atau mengalami pergeseran rotasi shift. Di Indonesia, metode shift yang paling sering digunakan di perusahaan adalah three shift systems, yakni:

Spoiler for rotasi shift kerja di Indonesia:
* Jam 00.00-08.00
* Jam 08.00-16.00
* Jam 16.00-00.00atau* Jam 06.00-14.00
* Jam 14.00-22.00
* Jam 22.00-06.00

Shift kerja ini biasanya digunakan di perusahaan manufaktur, yang setiap harinya harus mengejar target produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar.

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - 10 Fakta Menarik Tentang Pekerja Shift Yang Jarang Anda Ketahui

upload gambar by choirul

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - 10 Fakta Menarik Tentang Pekerja Shift Yang Jarang Anda Ketahui

upload gambar by choirul

Sedangkan di Amerika, metode shift yang paling sering digunakan adalah metode four on, four off. Shift kerja 12 jam non stop selama 4 hari kerja dan 4 hari libur ini lebih banyak disukai karena memperpendek hari kerja dan memberikan ekstra waktu untuk beristirahat bagi pekerjanya.

#2. Industri dan Pekerja Shift

Dua industri yang paling banyak menerapkan kerja shift adalah manufaktur

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - 10 Fakta Menarik Tentang Pekerja Shift Yang Jarang Anda Ketahui

upload gambar by choirul

dan customer service

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - 10 Fakta Menarik Tentang Pekerja Shift Yang Jarang Anda Ketahui

                                              upload gambar by choirul

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - 10 Fakta Menarik Tentang Pekerja Shift Yang Jarang Anda Ketahui

                                          upload gambar by choirul

Lihat grafik berikut ini:

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - 10 Fakta Menarik Tentang Pekerja Shift Yang Jarang Anda Ketahui

 upload gambar by choirul

Perbandingan Persentase Pekerja Shift di Berbagai Industri
Source: safetydegree.eku.edu

#3. Cara Perusahaan Membayar Gaji Pekerja Shift

Di Amerika Serikat, perusahaan menentukan gaji untuk pekerja shift dengan cara yang berbeda-beda, di antaranya:

Di beberapa perusahaan, kompensasi pekerja dengan metode tiga shift kerja dibayar sedikit lebih besar dibanding pekerja dengan metode dua shift kerja.

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - 10 Fakta Menarik Tentang Pekerja Shift Yang Jarang Anda Ketahui

upload gambar by choirul

Perusahaan lain, memberi kompensasi lebih bagi mereka yang bekerja pada hari libur.
Ada pula perusahaan yang membayar kompensasi lebih besar kepada pekerja shift, terkecuali pada pekerja shift siang hari.

#4. Jam Tidur Pekerja Shift

Berapa lama rata-rata waktu tidur pekerja shift? Bekerja dalam rotasi shift cenderung membuat seseorang hanya tidur kurang dari enam jam dalam sehari.

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - 10 Fakta Menarik Tentang Pekerja Shift Yang Jarang Anda Ketahui

upload gambar by choirul

Tidak hanya itu, kualitas tidur juga dapat menurun akibat jadwal kerja yang tidak beraturan.

#5. Kesehatan Pekerja Shift

Pekerja shift malam rentan mengalami insomnia, dibandingkan pekerja shift siang hari, dan pekerja shift malampun mengalami kantuk berlebih pada siang hari.

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - 10 Fakta Menarik Tentang Pekerja Shift Yang Jarang Anda Ketahui

upload gambar by choirul

Bekerja shift di malam hari juga memberikan dampak negatif bagi kesehatan mental, yaitu depresi. Dikarenakan kurangnya waktu berkumpul atau bersosialisasi dengan keluarga maupun teman-teman.

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - 10 Fakta Menarik Tentang Pekerja Shift Yang Jarang Anda Ketahui

upload gambar by choirul

Seperti, efek pada sistem hormonal dan reproduksi mereka.

#6. Pekerja Shift Berisiko Mengalami Kemunduran Performa Otak

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - 10 Fakta Menarik Tentang Pekerja Shift Yang Jarang Anda Ketahui

upload gambar by choirul

Penelitian yang dimuat dalam jurnal Occupational and Environmental Medicine menunjukkan bahwa orang yang bekerja dalam rotasi shift selama satu dekade akan memiliki usia otak yang lebih tua enam tahun. Butuh waktu lima tahun untuk mengembalikan performa otak setelah pekerja tersebut berhenti bekerja shift.

#7. Tips Menjaga Kesehatan Bagi Pekerja Shift

Beberapa hal yang dapat dilakukan pekerja shift untuk mencegah berbagai masalah kesehatan yang dapat timbul akibat kerja shift antara lain:

Dua hal penting yang utama dilakukan adalah makan secara teratur dan lakukan olahraga walaupun hanya sebentar.

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - 10 Fakta Menarik Tentang Pekerja Shift Yang Jarang Anda Ketahui

upload gambar by choirul

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - 10 Fakta Menarik Tentang Pekerja Shift Yang Jarang Anda Ketahui

upload gambar by choirul

Tidur yang cukup, ciptakan ruangan yang gelap dan nyaman atau gunakan sleep mask saat tidur.

Pakailah kacamata hitam atau kacamata khusus ketika beraktivitas di luar untuk membantu Anda menghindari cahaya pada siang hari setelah menyelesaikan shift malam.
Meminum minuman berkafein agar Anda tetap terjaga dan waspada saat bekerja shift, seperti teh dan kopi.

Untuk pekerja shift malam sebaiknya selesaikan pekerjaan Anda sebelum jam 4 pagi.

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - 10 Fakta Menarik Tentang Pekerja Shift Yang Jarang Anda Ketahui

upload gambar by choirul

Karena biasanya pekerja shift malam akan mulai mengantuk pada jam 4-5 pagi.

Beberapa hari terakhir sebelum shift malam, tunda tidur dan tetap bangun 1 atau 2 jam dari waktu tidur biasa. Hal ini bertujuan untuk membuat Anda lebih mudah beradaptasi dengan jadwal shift yang baru.

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - 10 Fakta Menarik Tentang Pekerja Shift Yang Jarang Anda Ketahui

upload gambar by choirul

#8. Pekerja Shift Pria vs Pekerja Shift Wanita

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - 10 Fakta Menarik Tentang Pekerja Shift Yang Jarang Anda Ketahui

upload gambar by choirul

Banyak penelitian menunjukkan bahwa pria memiliki kemampuan lebih baik saat bekerja shift dibandingkan wanita.

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - 10 Fakta Menarik Tentang Pekerja Shift Yang Jarang Anda Ketahui

upload gambar by choirul

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - 10 Fakta Menarik Tentang Pekerja Shift Yang Jarang Anda Ketahui

upload gambar by choirul

#9. Pekerja Shift Ekstrovert vs Pekerja Shift Introvert

Penelitian lain mengungkapkan bahwa pekerja shift yang ekstrovert dapat menangani rotasi shift kerja lebih baik dibandingkan pekerja shift yang introvert.

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - 10 Fakta Menarik Tentang Pekerja Shift Yang Jarang Anda Ketahui

upload gambar by choirul

#10. Pendapat Pekerja Tentang Bekerja Dalam Rotasi Shift

Terkait pekerjaan dengan rotasi shift, pekerja shift di Amerika Serikat berpendapat:

20 persen dari pekerja shift tidak memiliki masalah dengan jam kerja mereka.
60 persen dari pekerja shift memiliki masalah dengan shift kerja, namun hal ini tidak menghalangi mereka untuk melakukan pekerjaannya.
20 persen dari pekerja shift memiliki masalah serius dengan pekerjaan shift dan setengah dari pekerja tersebut tidak menyetujui adanya kerja shift.

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - 10 Fakta Menarik Tentang Pekerja Shift Yang Jarang Anda Ketahui

upload gambar by choirul

Itulah sepuluh fakta yang berhubungan dengan pekerja shift. Bekerja dalam rotasi shift tentu belum cocok dilakoni oleh semua orang. Namun, bagi Anda yang saat ini bekerja dalam rotasi shift, penting bagi Anda untuk makan makanan bergizi, tidur yang cukup, dan mengatur kondisi atau situasi kerja untuk meningkatkan kewaspadaan saat bekerja.

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - Bolehkah Ibu Hamil Minum Kopi?

uploader by choirul anwar (ebiemz) untuk blog anak desa ujung harapan (ujung malang) kel. bahagia kec.babelan kab. Bekasi - Bolehkah Ibu Hamil Minum Kopi?

 

 

Apakah Malaikat Itu ?


“WEDARAN WIRID JILID II DALAM BAHASA INDONESIA”

BAGIAN KE II Diterjemahkan dari : SERAT WEDARAN WIRID JILID II Oleh : Ki. RS. YUDI PARTOJUWONO Penerbit : Jajasan ‘Djojobojo” Surabaya, Cetakan ke II Tahun : 1964 Penerjemah : Pujo Prayitno

DAFTAR   –   ISI BAB VI : SIAPAKAH MALAIKAT ITU

BAB. VII. APAKAH MU’JIJAT ITU

BAB. VIII. :MI’RAJ DAN ISRA’ (Seperti apakah buktinya?)

BAB. IX. APAKAH BURUNG BURAQ ITU? oooooooooooooOOOOOOOOOOOOoooooooooooooooooo

BABV I : SIAPAKAH MALAIKAT ITU?

Pada umumnya Malaikat itu di Pedesaan atau di Langgar-langgar (Pondok-pondok) digambarkan sebagai sesuatu yang berujud! Sebenarnya, tidak kurang  seseorang yang hingga sekarang ini mempunyai anggapan yang seperti itu. Sebenarnya, Kata dari sebutan “Malaikat” itu berasal dari Bahasa Arab : Mala Iqa, yang di dalam bahasa umumnya berubah menjadi Malaikat, yang mengandung arti “CAHAYA BENING”. Sedangkan di dalam Bahasa Jawa dan Indonesia kata gantinya itu belum ada. Jika kita membaca buku-buku Mahabharata atau dalam Istilah Pewayangan, Malaikat itu sama dengan para Dewa, yang diibaratkan bahwa bertempat tinggal di Kahyangan. Pada bagian penjelasan tentang Jin dan Syaitan, sudah diuraikan bahwa alam ROH itu bernama “Alam Malaqutt”, kata Malakut itu berasal dari kata : Malaiqa, atau Malaikat, sehingga Malaikat itu mengandung makna Alam dari Golongan Malaikat. Di dalam Dalil, Malaikat itu disebut sebagai Kendaraan Tuhan yang luhur, karena teramat sangat tinggi keluhurannya, sehingga tidak semua manusia bisa melihatnya. Sedangkan bagi alam rasa, malaikat itu disebut juga “PERBUATAN LUHUR” Ada lagi yang berpendapat, bahwa segala gerak dari badan kita ini, sebenarnya dikuasai oleh Malaikat. QS.XVI ayat 2 Surat An-Nahl : Dan (Tuhan) menurunkan Malaikat Jibril dengan Wahu, dengan Perintah-Nya kepada orang yang dikehendaki-Nya…..!

  1. : Wahai Muhammad, janganlah kamu tergesa-gesa menirukan Qur’an ketika Jibril membacakannya kepada dirimu …..!

Oleh karena manusia itu juga mempunyai sifat luhur sebagaimana  yang sudah dijelaskan di 4.1.1. dan 3.2.4., tidak ragu lagi bahwa Malaikat itu yang menempati alam mentaal, yang menguasai sifat luhur kita! Sebelum mengurai dalil tersebut di atas, perlu diketahui terlebih dahulu jumlah Malaikat, dan juga tugas kewajibannya. Di dalam ajaran Agama Islam disebutkan bahwa Malaikat yang wajib diketahui itu ada duabelas jumlahnya, sedangkan yang sudah dipahami  tugas kewajibannya serta disebutkan di dalam dalil, ada sepuluh. 5.1.1.

  1. Malaikat Jibril => Malaikat pembawa wahyu.
  2. Malaikat Mikail => Malaikat pembagi Rizki dan penurun Hujan.
  3. Malaikat Israfil => Malaikat yang menempatkan Roh.
  4. Malaikat Izrail => Malaikat yang mencabut Roh.
  5. Malaikat Raqib => Malaikat yang mencatat keburukan.
  6. Malaikat “Atid => Malaikat yang mencatat kebaikan.
  7. Malaikat Munkar => Malaikat memeriksa amal ketika di alam Kubur.
  8. Malaikat Naqir => Malaikat memeriksa amal ketika di alam Kubur.
  9. Malaikat Ridwan => Malaikat Penjaga Syurga.
  10. Malaikat Maliq => Malaikat Penjaga Naraka.

Malaikat Jibril di dalam Ajaran Agama Kristen disebut Gibriel, yang maksudnya adalahRoh Suci. Olehkarena kata Roh Suci di dalam Agama Kristen sudah ada sebutannya sendiri, yaitu dengan sebutan Ruhul Qudus, sehingga malaikat itu sama artinya dengan Ruhulqudus. Olehkarena dalil dan di dalam ajaran Agama Kristen sudah mengakui bahwa Malaikat itu makhluk yang luhur yang juga disebut sebagai Roh Suci, sehingga pengarang menggunakan dasar keyakinan, bahwa ROH SUCI  sama dengan Roh yang tidak ketempelan apa-apa, Oleh karena sifat dan tugas Malaikat sudah diketahui, sehingga walau pun suci, tetap mempunyai tugas seperti tersebut di Nomor 1 – 10 di atas, Perbuatan Malaikat di dalam dalil berulang-ulang disebeutkan, akan tetapi Tuhan tidak memerintahkan bahwa Malaikat itu yang dicipta dari Ini dari itu, berbeda dengan Jin. Disebut Malaikat itu adalah menjadi Utusan (5.1.1.). Sesuai denegan Dalil di dalam Qur’an Surat XVIII ayat 75 – Al-Mukminun : “Tuhan memilih di antara Malaikat sebagai utusan” demikian juga di antara manuisa”. Sudah sangat jelas bahwa walau pun Malaikat itu makhluk yang bersifat Luhur, untuk bisa menjadi utusan tetap harus yang dipilih oleh Allah, demikian juga halnya dengan manusia! Manusia yang lahur seperti apa pun, tetap berada di tangan Tuhan; TIDAK BISA MEMILIH, tidak bisa memilih untuk menempatkan dirinya, DITERIMA ATAU TIDAK semuanya adalah atas Kehendak Tuhan. Walau punmanusia itu SAMA_SAMA sebagai UTUSAN. Pada intinya : Yang dipilih oleh Tuhan itu, meskipun MALAIKAT itu pun Malaikat atau manusia yang benar-benar SUCI (2). Di dalam kisah para Nabi atau Al-Qur’an diceritakan, bahwa ketika Nabi Muhammad mendapat Anugerah Tuhan menjadi Nabi di hari itu, ketika itu perasaan Nabi merasa bertemu dengan seorang laki-laki yang mengaku sebagai Jibril. Sedang Jibril disebut juga sebagai Utusan tuhan yang bertugas mengantarkan perintah atau WAHYU. Adanya kejadian tersebut, karena Nabi sedang menjalakan kewajiban hidup, yang artinya tidak tiba-tiba begitu saja menjadi seorang Nabi. Sehingga bisa disimpulkan, bahwa siapa saja yang mendapatkan Anugerah-Nya, dari yang tidak lain adalah yang berkedudukan sebagai (Mengajari, mendidik, mengarahkan, menjadi guru) itu adalah Malaikat yang disebut dengan sebutan nama Jibril (Gabriel, Gibrail) atau yang membawa Roh Suci (Ruhulkudus itu tadi). ooOOoo QS.IXI. Surat Asy-Syu’ara ayat 1992, 1993, dan 1994. (@). Sesungguhnya Qur’an ini diturunkan oleh Tuhan Penguasa seluruh alam ini semeua. Di bawa oleh Roh Suci (Jibril). Kemudian ditujukan kepada Hatimu (Ya Muhammad) supaya kamu menjadi pemberi peringatan kempada seluruh manusia. (@1) QS.XXVII : ayat 6 Surat An-Najm Malaikat itu memiliki akal yang tajam, kemudan tegak sesuai rupa yang sebenarnya. Perintah dari Wahyu bagi Nabi Muhammad, di depan sudah dijelaskan, yaitu melalui Malaikat Jibril. Hal itu apda intinya : Nabi Muhammad ketika menerima Wahyu masih berada di tingkat Hakekat! Sedangkan bagi sang pencari Ilmu Ma’rifat, untuk bisa berjumpa dengan Jibril adalah setelah mencapai tingkat Hakekat, yaitu ketika sedang menjalankan Shalat Ma’rifat, atau ketika sedang melakukan Samadhi, atau disebut juga ketika sedang dalam keadaan Mayanggaseta (Lihat di Wedaran Wirid I tentang Samadhi). Penjelasannya : Pada ketika sedang dalam posisi Mayanggaseta itu bagaikan ketika Dewaruci yang rupanya sama dengan Wrekudara. Hal itu sebagai lambang bahwa Malaikatnya sedang SAMA dengan Dewaruci, sedangkan lambangnya hati ketika itu adalah sama dengan Wrekudara @.@1. Siapa pun saja ketika sedang berada pada keadaan tingkatan Hakekat, maka gerak dan pikirannya dipengaruhi oleh perbuatan Roh Suci (Malaikat). Di dalam Uraian tentang Samadhi Mayanggaseta  sama dengan yang biasa menjadi pembicaraan umum di pedesaan yang yang dikatakan dengan BERTEMU dengan Saudaranya sendiri. Apakah benar, bahwa Kisah pada Nabi Muhammad adalah Bertemu dengan Saudaranya sendiri ketika menerima wahyu di Pertapaan Gua “Hira” itu? Jika demikian, apalah perlunya ada pengibaratan Dewaruci menemui Wrekudara? Jika demikian, menurut pendapat saya, TUPA dari Saudaraku sendiri sama dengan RUPA diriku sendiri, atau rupanya sama persis dengan yang sedang mengalami Mayangseta. @1). Jika hal ini dibahas menggunakan ilmu hakekat, Hati dari Nabi Muhammad itu dilambangkan dengan Wrekudara, itu sebagai ibaratnya saja. Lembang yang berujud Wrekudara itu hanya sebagai PENERIMA segala yang menjadi ucapannya. Penjelasan yang pokok dari sebagai mendapat anugerah WAHYU itu : Tuhan itu itu bukan dengan cara menampakkan diri, akan tetapi mengutus hati dari pemiliknya yang sedang melakukan Permohonan (Siapa saja dan tidak padang bulu, termasuk agamanya, itu sama saja). Apakah benar, setiap permohonan PASTI ditemui oleh Saudaranya sendiri? Jawabannya : TIDAK, karena di depan berdasarkan dalil, disebutkan hanya yang DIPERKENANKAN TUHAN, itu maksudnya adalah : Untuk bisa bertemunya itu, jika sudah Suci. Sehingga jika jiwa kita ini belum suci, memohon hingga lumpuh pun, TIDAK AKAN BISA BERTEMU. Ketahuilah, ketika bertemu dengan Saudara diri pribadi itu sama saja dengan duduk bersama! Artinya dengan cara menerima ajaran antara AKU dan JIBRIL. Oleh karena manusianya sudah suci, sehingga Malaikat yang menjadi utusan itu juga suci, benar-benar malaiakt yang yang terpilih (Yang dikehendaki-Nya). Kata “Yang terpilih” itu, mengandung maksud, bahwa ilmu dari yang sedang melakukan permohonan itu sudah DITERIMA. Penjelasan tentang ketika bertemu dengan saudara diri pribadi sama dengan duduk bersama itu, artinya : Bagi ahli hakekat ketika “mengambil buah karya bakti: Malaikatnya, diibaratkan tiap detik jia DIBUTUHKANNYA, umpamanya, ketika tidak mengerti tentang sebab dan akibat, untuk bisa mengetahuinya hanay dengan cara bertanya kepada pribadinya, dan Pribadinya itulah yang akan memberikan jawabannya (Malaikat yang mengajarkannya, yang memberitahukannya, yang menunjukkan, yang memberikan ajaran dan sebagainya). Apakah masuk akal, sehingga Malaikat dari dirinya sendiri yang mengajari atau yang memberitahukan sesuatu? Penjelasannya adalah sebagai berikut : Dalil @1. Di atas, menerangkan, bahwa malaikat itu memiliki akal yang tajam serta sesuai dengan YANG SEBENARNYA! Penjelasannya adalah sebagai berikut : Oleh karena Malaikat itu sama saja dengan ROH SUCI (Ruhulkudus) dan juga disebut sebagai Hakekat Ketuhanan, sehingga Ilmunya itu mengandung semua yang Gaib dan semua yang nyata. Singkatnya : Yang Maha Tahu. Adanya manusia hingga tidak Tahu itu dikarenakan adanya penutu Hijab, Warana. Kata mengetahui di sini adalah mengetahui menggunakan batin, bukan penglihatan mata! Oleh karena hal itulah, sebenarnya, manusia itu tidak usah mencari Pengetahuan ke mana-mana, karena sebenarnya sudah mempunyai sendiri! Malaikat – yang ujud yang sebenarnya – menurut pendapat saya : Oleh karena sudah yakin dengan sebenar-benarnya, maka rohnya pun menjadi Roh Suci. Sehingga Malaikat yang Menampakkan diri itu juga tidak ragu-ragu kepada yang memilikinya. Artinya : AKU sudah TIDAK RAGU-RAGU lagi, sudah sangat yakin kepada yang ada di depanku itu,  yaitu Malaikat itu sendiri –atau Raga di dalam jazadku pribadi, oleh karena antara satu dengan satunya sudah tidak ragu-ragu, maka rupa dan ujudnya sama dengan yang  memiliki rasa yakin itu sendiri – yaitu sama persis denegan ujud dari yang menjalaninya itu sendiri : Maka dari itu, Malaikatnya Nabi juga sama dengan ujud Nabi, Malaikat si A juga seperti si A (Rupa yang seutuhnya, bentuk yang sebenar-benarnya), dan Malaikat Wrekudara   itu juga sama rupa dengan yang sebenar-beanrnya. Tentang hal ini itu sulit untuk membuktikannya di dalam uraian buku, jika tidak dilakukan sendiri. Sehingga, terserah diri masing-masing. Ketika ada kalanya para pencari Hakekat bisa bertemu dengan Saudara diri pribadi (@1), maka akan merasa bagaikan saling berbicara, yang menerima dan yang memaknai adalah Hati dari dirinya sendiri. Oleh karena pertanyaan dan jawabannya tidak dengan suara KERAS, sehingga jika deisebut dengan sebutan Mendapat Wangsit dari Dewa, jika kurang dalam memahaminya, Sekali terlupa itu tetap tidak bisa diulang lagi. Sehingga uraian di atas itu mengandung maksud, bahwa siapa saja ketika sedang menerima Petunjuk Tuhan, itu adalah yang menerima HATI, yang dibawa Jibril! Tentunya akan ada pertanyaan, sebagai berikut : Apakah sudah pasti, bahwa ujud Malaikat itu seperti yang memilikinya? Jawabannya :

  1. Para Yogi atau Pencari Ma’rifat yang baru sampai ke tingkatan Hakekat itu dibahasakan sangat berbahaya sekali, karena di tingkatan ini itu “Belum tentu: bahwa itu adalah “Saudara Diri Pribadi” yang datang menemuinya! Bisa saja ditemui oleh Kumara yang lain yang sedang gentayangan dan sebagainya. Yang daya getarannya lebih kuat dibanding getaran yang sedang melakukan Samadhi (Yogi) itu sendiri. Roh Gentayangan tadi, ketika lewat dan melihat, maka menyamar bentuk seperti yang dikehendaki oleh yang sedang melakukan Yoa itu tadi, karena “Pembawa-pembawa” di Tingkatan itu, perbuatannya adalah mengajari dan memberi tuntunan! Jika yang sedang melakukan kurang atau belum paham tentang itu, serta “kehendaknya bisa terpenuhi” kadang-kadang  bisa memiliki kelebihan yang sangat mengherankan. Semua itu, pada intinya adalah untuk menguji, dan mengukur kekuatannya.
  2. Yang dilakukan hati itu, menerima, menimbang yang baik/buruk dan sebagainya. Sehingga semua Petunjuk Tuhan, yang di bawa oleh Malaikat, untuk menerimanya tentulah melewati Hati, sehingga Kalimat yang dibawa Jibril atau makna dari ajarannya TIDAK bisa didengar oleh orang lain!.

Meski demikian, Malaikat itu ada yang bisa dilihat dan ada yang tidak bisa dilihat! Penjelasan mengenai Perbedaan yang didperbuat oleh Malaikat, itu adalah sebagai berikut :

  1. Malaikat Jibril; yang mempunyai  kewajiban memberi ajaran, menuntun, yang sering menampakkan diri sebagai Mayangga Seta, itu adalah Ujud dari penampakkannya. Jangan lupa, hanya Malaikat ini saja.
  2. Malaikat Mikail; itu walau pun dicari, dengan melakukan samadi, dengan bertapa, dengan ma’rifat dan sebagainya, tidak akan bisa untuk dilihatnya, karena selain bertugas membagi Rizki dan membagi Hujan, Malaikat ini tidak mempunyai tugas untuk  berhubungan dengan hati.

Intinya : Malaikat Mikail itu adalah sebuah sebutan dari suatu tugas kewajiban, Perbuatan kewajiban yang sudah menjadi kodratnya  tanpa di kuasai dan tanpa dipaksa. Penjelasannya : Hujan itu yang menjalankannnya adalah angin. Angin berjalan dengan membawa awan, yang kemudian jatuh menjadi hujan. Bumi yang kering, jika terkena hujan itu sama saja dengan mendapatkan Rizki. Demikian seterusnya  sejak dunia terlahir hingga sekarang ini. Jika ditelaah, hujan itu dari akibat angin, angin itu dari akibat hawa panasa dan hawa dingin. Adanya kejadian yang terus menerus seperti itu , bagi manusia itu hanya bisa mengetahui akibatnya. Akibat-akibat itu semua yang menjadi pekerjaan dari Malaikat Mikail.

  1. Malaikat Izrafil : Bertugas memasukan Roh (nyawa). Menurut kepercayaan, yaitu ketika bayi sudah terbentuk di dalam kandungan “Yang merangkai Roh-nya” adalah Malaikat Izrafil.
  2. Malaikat Izrail, bertugas mencabut nyawa, artinya : Jika ada bayi yang terlahir dengan selamat dan hidup, itu medapatkan Roh dari Izrafil, akan tetapi jika meninggal dunia (Tanpa nyawa), maka nyawanya dicabut oleh Izrail.
  3. Malaikat Raqib; Bertugas : mencatat keburukan. Maksudnya : Siapa saja yang bertindak buruk, entah gerak, entah ucapan, hal itu yang mencatat adalah Malaikat Raqib. Maksudnya : Oleh karena yang mengetahui buruk dan baik itu hanyalah hati, jika demikian maka Raqib itu adalah sifat Hati  atau perasaan yang selalu mengerti keburukan, melihat keburukan, walau pun sudah terhapus berpuluh-puluh tahun, tetap masih teringat saja, jika pernah berbuat buruk. Hal itu mengandung maksud : Seumpama Malaikat Raqib itu tidak mencatatnya, tentulah kita ini tidak ketempatan rasa dan merasa  buruk. Sedangkan buktinya yang nyata dan akan terlihat jelas itu jika Manusia-nya telah meninggal dunia ( di alam kubur – Wedaran Wirid Jilid I).
  4. Malaikat ‘Atid; yang bertuga mencatatat kebaikan, yang dilakukannya adalah berlawanan dengan Malaikat Raqib.
  5. Malaikat Munkar; Yang dilakukannya adalah menimbang berat ringan-nya amal shalih kita berdasar ilmu apa yang kita gunakan ketika hidup di dunia. Hal itu akan terjadi, besok ketika berada di alam kubur!
  6. Malaikat Naqir; tugasnya adalah sama saja dengan Malaikat Munkar.
  7. Malaikat Ridwan => Penjaga Syurga.
  8. Malaikat Maliq => Penjaga Naraka. Keduanya sama sama bertindak dalam tiap harinya, walau pun manusianya masih dalam keadaan terjaga. Di depan sudah dijelaskan bahwa syurga dan naraka itu adalah rasa enak dan tidak enak, contohnya sebagai berikut :

5.1.2 : Malaikat-malaikat penjaga syurga dan naraka itu sebenarnya adalah Bagian (sifat pribadi) kita yang merasakan ENAK dan TIDAK ENAK. Ketika senang, yang merasakan atau yang menjaga bernama Malaikat Ridwan, demikian pula sebaliknya. Berulang kali, semuanya terdapat di dalam diri kita sendiri. Kata Senang dan sakit, itu sudah jelas bahwa yang merasakannya adalah HATI. Ketika Hati ikut-ikut (ikut merasakan) semua rasa itu karena dari pengaruh Malaikat Ridwan dan Malaikat Maliq! Contohnya : Adanya SENANG dan SUSAH itu, yang bisa membeda-bedakan adalah dari pekerjaan Malaikat  Ridwan dan Maliq, Yang akhirnya. Hati diri kita lah yang menerimanaya, yang artinya : Malaikat berdua itu tidak menampakkan diri, agar bisa diketahui adalah dengan cara MERASAKANNYA! Seandainya jiwa kita tidak terkena “Rasa Tidak Senang”  hal itu tentunya tidak menyebkan apa-apa, akan tetapi karena manusia terpengaruh oleh Malaikat MALIQ, sehingga bisa menyebutkan bahwa tidak enak, Demikian juga yang sebaliknya. Kemudian ada pertanyaan : Apakah Malaikat itu? Jawabannya : Malaikat itu,  sifat dari perbuatan, itu adalah Rahsa Manusia! Yang disebut malaikat itu adalah “Naluri”  atau “Bagian dari pribadi” diri manusia. Maksudnya adalah : Menuasia itu mempunyai Naluri dari Rahsa! Yang maksud intinya adalah Rahsa seutuhnya (Sawetah), yang pada intinya adalah musuh dari Iblis/Syiatan. Oleh karena manusia itu ditempati Malaikat, sehingga jika demikian, Jumlah malaikat itu dari jumlah seluruh manusia hidup dikalikan 12 (Wedaran tentang Mi’raj) dan Isra). Sehingga tempat yang ditempati oleh Malaikat itu berada di diri manusia. Sedang perbuatan Malaikat  yang pokok adalah (Rahsa Mutlak) itu bisa kita buktikan di setiap menit  dalam setiap kita berpikir dan bergerak serta dalam setiap berbicara. Manusia itu, hampir tiap berpikir dan berbicara itu selalu bertentangan – Milih yang ini, yang itu, yang pada intinya mengajak kepada keburukan, kemalasan, kesalahan dan sebagainya – sedangkan yang melawan sifat-sifat itu adalah adalah pikiran yang mengajak kepada kebenaran! Mengajak kepada kebenaran itulah yang sebenarnya perbuatan dari MALAIKAT kita. Intinya : Pikiran yang mengajak kepada kesesatan itu adalah Syaitan, sedangkan yang mengajak kepada kebenaran itu berasal dari Malaikat!  Sehingga di diri kita, ada dua perbuatan yang antara keduanya selalu bertentangan. Maka dari itu Malaikat itu Musuh dari Syaitan. Sekarang membicarakan tentang Malaikat yang sering dijadikan Utusan. Menurut dalil, yang sering memperlihatkan diri itu disebut Malaikat Jibril, yang menyampaikan Wahyu kepada Muhammad! Dan berbentuk sebagai manusia. Sedangkan yang disampaikan oleh Jibril  adalah menurut apa yang dimohon oleh orang itu di awalnya. (Orang, bermakna sebagai ahli Hakekat). Malaikat Jibril itu sama dengan Ruhulkudus dalam istilah di Agama Kristen, atau Roh Suci. Sedangkan Roh Suci itu menampakkan diri berujud manusia?! Penjelasannya : Kata Utusan itu adalah suruhan, duta, diutus untuk memberikan sesuatu. Sehingga jika Tuhan ingin memberikan petunjuk kepada manusia yang tidak pernah tahu, itu akan mengutus Jibril (rohsuci). Sedangkan yang mensucikannya itu bukan Allah, akan tetapi. Manusisalah yang suci! Mengapa demikian, karena kesucian jiwa itu adalah CERMIN itu ibaratnya yang memuat segala yang rahasia tanpa penutup! Oleh karena cermin yang tanpa penutup, maka dikatakan melihat rupa diri sendiri, kehendak diri sendiri dan sebagainya. Sehingga ketika sedang menjalankan kewajiban demikian itu, Sang Malaikat ada yang memperlihatkan diri berujud AKU, atau berujud sesuatu yang Indahnya. Jangan salah dalam memahaminya : Jibril yang menampakkan diri seperti AKU itu (Mayangga seta) yang dilakukannya adalah Menuntun. Kata tanpa penghalang itu dibahasakan MENYATUNYA HAMBA DAN TUHAN, di Wedarann Wiri Jilid I disebut : Iya karsaku, iya karsane Allah (Iya kehendakku, iya kehendak Allah). Kembali tentang rasa mutlak (Inti Rahsa) itulah sebenarnya malaikat-malaikat itu. Yang diperbuatnya sudah menyatu dengan tugasnya. Tontoh : Bayi yang baru lahir, itu tidak ada yang mengajari untuk menghisap susu ibu. Akan tetapi bisa mencari puting susu ibunya! Akar tumbuhan itu tidak mempunyai mata, akan tetapi bisa mencari makanan, dan MELIHAT atau mengerti! Anak kucing yang baru lahir, itu bisa tahu jika menabrak sesuatu akan mengetahui cara bersikapnya. Dan masih banyak lagi ontoh-contoh yang meyakinkan tentang adanya RAHSA asal azali. Naluri-naluri tersebut, untuk bisa berfungsi, karena tiap diri manusia itu ketempatan Malaikat  yang masing-masing Malaikat itu mempunyai tugas sendiri-sendiri dan tidak SALING BERCAMPUR untuk saling berebut. Sekarang sudah jelas dan nyata, jika manusisa itu disebut hanya sebatas menjalankan kewwajiban hidup, yang untuk bisa makan dan tidur, senang dan tidak senang dan sebagainya, sudah ada YANG MENGENDALIKAN. 5.1.3. Contoh yang mudah-mudah saja, sebagai berikut : Ketentraman Rumah Tangga itu jika suami istri sama-sama patuh atas kodrat perbuatannya. Maksudnya : Perut lapar itu menyebabkan sakit hati. Agar menjadi senang, tentunya harus berusaha, bagaimana caranya agar mendapatkan makanan! Dan sekarang sebaliknya : Jika Syaitannya mengajak mencuri, apakah itu bisa menyebabkan ketenteraman? Apakah itu suatu tindakan mengikuti atas tindakan Malaikat? Sedangkan yang menyebabkan mencuri itu : Hati yang jahat! Apakah senang  jika mendapatkan sesuatu dari hasil mencuri, itu bermakna naik ke syurga? Jawabannya : Olehkarena Malaikat itu MUSUH syaitan, sehingga perbuatannya tidak bisa serasi (Sesuai) dan oleh karena kita memiliki Malaikat yang bertugas mencatat baik/buruk, walau bagaimanapun saja perbuatan jahat, di sembunyikan bagaimanapun saja, Hati pasti mengetahui. Intinya : Malaikat yang bernama Raqib tetap mencatat kejahatan kita, walau pun menyebabkan hati senang. Intinya : Raqib dan “Atid itu sama-sama menerima tindakan kita, yang tidak akan hilang dari ingatan! Sehingga Hati kita itu tidak akan bisa dibohongi. Karena selalu dijaga oleh dua Malaikat  yang sewaktu-waktu selalu mengetuk hati. Seperti apakah buktinya bahwa diri kita ini tidak bisa dibohongi oleh diri kita sendiri? Orang yang bersalah jika bertemu dengan orang lain awalau pun masih jauh, hatinya pasti bergetar, berdesir. Penyebabnya tidak lain karena perbuatan jahatnya yang sudah dicatat oleh Malaikat  yang dua itu (Raqib dan “Atid), saling berbicara dengan hati! Adanya hal yang demikian : Oleh karrena unsur Mailakt atau Roh Suci  itu tidak berkenan untuk ketempatan kejahatan, sehingga terkena kejahatan sedikit saja maka akan menanggapinya, jantung menjadi berdegup lebih kencang! Demikian juga ketika ketika melihat atau berjumpa  apa saja yang bisa menyebabkan rasa senang (Syurga), hati kita kemudian akan SENANG, karena yang memberi laporan adalah Malaikat Ridwan. Penalarannya adalah sebagai berikut : Gerak gerik hati dan gerak raga itu dipengaruhi oleh Rahsa Azali atau yang disebut juga sebagai MALAIKAT, hal itu dipusatkan di dalam HATI. BAB. VII. APAKAH MU’JIZAT ITU Setelah tentang Kiyamat, Akherat, Syurga dan Naraka sudah di uraikan, untuk selanjutnya akan menguraikan tentang Mukjizat. Bagi pembahasan di kelompok perguruan, Mukjizat itu dikiranya sebuah Kelebihan yang mengherankan tentang kesaktian, kedigdayaan dan sebagainya. Hal itu sebenarnya salah. Salah dalam memahaminya, maka Mukjizat bagi setiap perguruan itu mempunyainya. Sedangkan penjelasan yang berdasarkan dalil, Khadits, Ijmak dan Qiyas, bahwa semeua makhluk itu diberi mukjizat oleh Tuhan. Yang perlu diketahui terlebih dahulu adalah tentang makna pokok tentang mukjizat. MUKJIZAT itu  adalah PERTOLONGAN TUHAN Yang Maha Kuasa. Oleh karena ujud dpertolongan, maka setiap orang atau makhluk lainnya pasti mendapatkannya. Petunjuk Tuhan di dalam Dalil Qur’an I ayat 106 surat Al-Baqarah : Mu’jizat apa-apa yang sudah Kami rubah dan dilupakannya, kami ganti dengan yang lebih baik dan yang sejenis. Apakah kalian tidak mengetahui bahwa Tuhan itu Maha Kuasa terhadap apa saja? Menurut pendapat Bratakesawa, Mujizat itu adalah sebuah KELEBIHAN yang terbagi menjadi 4 tingkatan, yaitu : 1. Mu’jizat Nabi. 2. Karamah Wali, 3. Ma’unah Mukmin, 4. Istijrat bagi Kafir, yang kemudian dengan ulasan sebagai berikut : “Kelebihan empat tingkatan itu bagi yang meliahatnya itu tidak ada bedanya, karena sama-sama terlihat mengherankan. Sedangkan untuk membedakan manusisa yang mendapatkannya itu tidak mudah. Bisa saja Kafir dikiranya seorang Wali, atau sebaliknya. Yang bisa membedakannya itu hanya diri sendiri, asal tidak terpenjara oleh sakit yagn disebut Fanatik! Sedangkan cara memlihnya adalah sebagai berikut :

  1. Mu’Jizat dan Karamah itu yang mendapatkannya itu tidak merasakannya jika mempunyai mukjizat. Sehingga keluarnya Mukjizat dan keramat itu pasti tidak dengan cara menggunakan niyat. Serta hanya berhubungan dengan Syiar ajaran Agama.
  2. Ma’unah itu juga yang memilikinya tidak merasa memiliki. Sehingga keluarnya Ma’unah itu  juga tidak dengan disengaja atau diniyati, hanya “Tiba-tiba” ketika yang meilikinya itu sedang menemui masalah berat,

III. Jika yang memilikinya itu meraksa memiliki kelebihan serta menggunakan kelebihan itu dengan cara menggunakan niyat, itu disebut kelebihan yang berasal dari perintah Nafsu (21), dan jika ketika mendapatkan kelebihan itu dengan cara diusahakannya, maka itu adalah perintah syaitan. (21.6). Oleh karena Tuhan Maha Murah, maka permintaan dengan cara apa pun akan dikabulkannya.  Kelebihan yang seperti itulah yang disebut dengan Istijrat.” Demikian cuplikan dari Bratakesawa. Dalam saya mengiyaskan tentang Mukjizat tersebut di Nomor I, II dan III di atas, contoh ceritanya adalah sebagai berikut : 6.1.1.

  1. Bagi yang menyebarkan ajaran Agama Kristen, Islam, Budha dan sebagainya, itu atas kehendak Yang Maha Kuasa akan diberi sebuah kelebihan. Contohnya adalah Nabi Isa, as. Ketika itu mendapatkan kelebihan BISA MENGHIDUPKAN ORANG MATI, menyembuhkan orang Buta, yang orang lain itu tidak bisa melakukannya. Nabi Musa as. Ketika berhadapan dengan raja Fir’aun bisa memperlihatkan tangannya bagaikan kilat atau bersinar bagaikan cahaya listrik! Serta yang sangat mengagumkan, tongkatnya bisa berubah menjadi Seekor Naga besar.

Demikian juga Nabi Muhammad saw. kelebihan menurut yang dipahami oleh umum : Bisa menggelar Qur’an ke seluruh dunia, hal itu menurut pendapat saya itu “hanya dibesar-besarkan saja” atau bukan sebuah Mu’jizat, hanya hal biasa saja. Sedangkan Mukjizat Nabi Muhammad ketika itu : Tangannya (ke lima jari tangannya) bisa menjadi bagaikan pancuran dari sumber air, yang bisa diminum dan sebagainya. Hal itu bagi para Nabi yang menyiarkan Agama Tuhan (Kitab dari Allah). Sedangkan bagi pandangan Umum, jarang adanya atau sudah  bukan jamannya. Akan tetapi seingat saya, beliau Para Nabi itu, ketika mendapatkan Mu’jizat adalah bersamaan dengan datangnya masalah besar. Sehingga menurup pendapat saya : Itu semua adalah pertolongan Tuhan, untuk menyelamatkan rasul-Nya, tidak berbeda dengan Nabi Ibrahim, di bakar di api besar, yang menyala besar, namun tidak berpengaruh apa-apa. Dan juga Nabi Yunus, ditelan ikan besar hingga beberapa bulan TIDAK BERPENGARUH APA-APA! Contoh-contoh Nabi yang lainnya masih banyak lagi dan akal/pikiran tidak akan sanggup untuk menelaahnya, karena adanya hal itu adalah sudah menjadi kehendak Tuhan. Percaya atau tidak, itu juga ada contohnya lagi untuk orang biasa, yaitu : Seorang Penyebar Ilmu Tuhan di ejek-ejek dan dihina hingga sampai mengatakan tentang “Ayah/Ibunya” beserta keturunannya, yang dikatakan berasal dari hewan. Tiba-tiba atas kehendak Tuhan, yang mengolok-oloknya kemudian sakit agak lama, kemudian meninggal dunia. Jelas itu adalah sebuah pertolongan bagi orang yang menyebarkan Ilmu Ketuhanan, tidak lain itu dikarenakan hatinya sudah suci, berserah diriyang intinya : Kehendaku ya kehendak-MU. Demikian juga para Wali-Wali di Tanah Jawa pada jaman dhulu.

  1. Bagi para Mukmin, yang berarti ahli i,u (pengetahuan), itu juga datangnya apertolongan adalah ketika mengalami bencana besar. Umpamanya : Sedang enak-enaknya berjalan di jalan besar, tiba-tiba ketabrak sepeda motor, dan yang mengherankan justru sepeda motornya yang terlontar hingga sejauh 10 meter, sedangkan yang tertabrak tidak merasa apa-apa. Akan tetapi orang lain banyak yang melihatnya bahwa dia itu di tabrak oleh sepeda motor.

Ketika rame-ramenya Belanda menyerang Kota Pasuruan, ada salah satu orang yang dituduh sebagai mata-mata Republik, kemudian dibawa ke markas IVG. Sesampainya di sana kemudian dipukuli menggunakan popor senjata. Akan tetapi laras senjata itu tidak bisa melukainya, dan justru tentara Belanda yang memegang senapan itu merasa berat sekali dan merasa senapannya ada yang menariknya. Di Kebon Candi Pasuruan, ada sepeda motor maenabrak orang, akan tetapi yang di tabrak tidak luka sama sekali, setelahya justru motor itu yang masuk jurang. Keterangannya, ketika terjadi tabrakan, si Sopir merasa seolah motornya selip, kemudian motor melayang melompati kepala orang yang akan tertabrak…. Demikianlah adanaya serta bukti yang pengarang lihat sendiri. Jika dipikir tidak akan terjangkau, aka tetapi semua itu sudah menajdi kehendak Tuhan. Tidak seperti orang yang mempunyai kelebihan karena didapat dari bawah pohon beringin (menyepi). Pada keterangan di nomor III tenetang Istijrat para Kafir atau kelebihan yang diperoleh dengan cara berusaha itu, hampir di semua negara itu ada – yang banyak dikenal dengan sebutan Zwarte Magie! Di atas pengarang sudah menyampaikan pendapatnya bahwa  Mu’jizat atau pertolongan Tuhan itu, tiap manusia mendapatkannya dan sudah diketahui perbedaannya, Jika yang memperoleh mu’jizat itu merasa MEMPUNYAI KELEBIHAN, itu jelas bersahabat dengan mahluk halus (Perewangan), dan sebaliknya bagi manusia biasa dan yang lebih tinggi bagi para Wali atau Mukin, itu justru merasa tidak mendapatkan Mu;jizat. Artinya : Datangnya pertolonga-pertolongan itu karena berasal dari Tuhan. Oleh karena itu bersifat pertolongan, maka menurut pengamatan saya, hampir semua makhluk Tuhan itu DKIKUASAI OLEH MAHA PENGASIHNYA TUHAN, sehingga masingpmasing makhluk itu mendapatkan Mu’jizat sendiri-sendiri. Contohnya adalah bagi hewan dan sebagainya. 6.1.2.

  1. Ular di padang pasir itu jika dikejar maka tidak kesulitan untuk mencari lobang perlindungan. Akan tetapi karena Maha Adil Tuhan, ular itu itu bisa menyelusup ke dalam pasir (berenang di dalam pasir). Sedangkan manusia itu belum ada yang bisa berenang di dalam pasir. Agar bisanya maka menggunakan alat.
  2. Ulat yang membengkokan dirinya untuk berjalan itu jika didekati itu tidak mudah untuk dilihat, karena bentuknya mirip ranting pohon.
  3. Bayi yang masih suci itu, walau penguni rumah sedang tertidur semua jika ada pencuri (orang jaahat, hewan buas dan sebagainya) maka akan terbangun dan menangis dengan keras. Yang akibatnya, orang penghuni rumah akan terbangun, dan pencurinya akan melarikan diri.

Demikian pendapat saya, jika dikembalikan kepada isi dari Dalil di atas, Ketika Tuhan memberikan Mu’jizat itu tidak akan sama, bati tiap-tiap manusia atau makhluk yang dipilihnya! Serta Mu’jizat yang seperti apa, kita ini itu tidak akan mengetahuinya, karena untuk bisa mnegetahuinya itu jisa sudah berjalan atau terbukti kejadiannya. Jika paham ini dikira hanya kebetulan saja, maka itu lain pembicaraan, karena yang dicontohkan di atas itu adalah Ke-Agungan Tuhan bagi hamba-Nya. Artinya, Jika para Hamba-Nya tidak mengakuinya, itu sudah seharusnya! Karena jika itu diakuinya, biasanya akan digunakan untuk kesewang-wewnangan, atau justru untuk mencari musuh. Bagi para pencari Ilmu Ketuhanan, jika sudah mencapai Tingaktan Hakekat, kadang-kadang orang itu sering bisa melihat “Apa-apa” memiliki penglihatan dan perasaan Gaib. Jika hal itu diakuinya, maka akan dikatakan itu bukan Ilmu Ketuhanan. Karena di tingkatan ini, rahasia penglihatan mata sudah terbuka! Olehkarena sudah terbuka, kadang-kadang memperoleh salah satu dari Sifat Tuhan! Itu bukan termasuk Mu’jizat. Akan tetapi bagi orang yang sudah terbuka penglihatan mata Gaibnya itu bertemu dengan amsalah berat, saya sangat percaya : PERTOLONGAN Tuhan, walau pun tidak dimohon, tidak disangka-sangka, pasti akan datang dengan sendirinya. BAB. VIII. MI’RAJ DAN ISRA’ (Seperti apakah buktinya?) Qur’an Surat Al-An’aam Jus VII, surat ke 6 ayat 94 : Dan sesungguhknya kamu datang kepada kami sendiri-sendiri, sebagaimana kamu kami ciptakan pada mulanya, dan kamu akan meninggalkan apa-apa yang sudah kami berikan di punggungmu. Dan perkataan kataan kami kepada kamu : “Kami sudah tidak menganggap berhala-berhala yang sudah menolongmu  dan yang sudah kamu anggap bahwa itu adalah sekutu Tuhan. Sesungguhnya di antara kamu dan yang sudah kamu anggap bahwa itu sekutu Tuhan. Sesungguhnya di antara kamu dan dia sudah tidak ada hubungan apa-apa”. Bahasa Arabnya kurang  lebih sebagai berikut : Walaqad Ji’tumuna furada kama khalaqnakum awwala marratin wataratum ma khawealnakum. Wara’a dhuhurikum wama narama’ akum syufa akumu addzinna za’amtum anuahum fikum syurakawualaqad taqath tha’a balnakum wadlalla’ankum ma’kuntumtazumuna. ooOOoo BISMILLAHI rakhmaa nirrakhiimi, yang tafsirnya kurang lebih Atas Asam Tuhan (24) : Pengarang akan menguraiakan makna kata Mi’raj dan Isra’ yang sudah menjadi pemahaman umum, yang tidak berbeda dengan kata Kiyamat, akherat dan sejenisnya! Mi’raj itu ada yang memaknai terbangnya Roh, bahkan badan dan rohnya terbang bersama, memasuki angkasa menembus langit tingkat ke tujuh dan sebagainya. Ada juga yang memaknai : Sebuah peristiwa seperti kisah Wayang Purwa Kresna Gugah, ada juga golongan lain yang memaknai sama dengan kisah Dewa Ruci, yang kesemuanya itu mengandung arti “TERBANG”! Sedangkan kata “Isra” ada yang memaknai bermimpi, ada juga yang memaknai Berjalan malam hari dan sebagainya, semua itu mengandung arti “Melhat Gaib”, artinya melihat bukan menggunakan penglihatan mata! Oleh karena hal itu adalah hal yang rumit, sehingga dalam menelaah selian menggunakan akal/pikiran Budi, yang terpenting adalah menggunakan rasa! Sehingga selain menggunakan dalil sendiri (Qur’an), juga berdasar pendapat para Sarjana. Tidak lupa, pengarang juga menggunakan dasar keterangan tentang makna Mi’raj dari Almarhum R. Ng. Ronggawarsita. Oleh karena ini masalah Ilmu Hakekat Ketuhanan, selain PENDAPAT pengarang sendiri, yang akan mencapur semua pendapat-pendapat itu tadi!. Kata “Mi’raj” yang hanya melihat Gaib, itu kadang bisa menjadi pedoman keyakinan salah satu Ulama. Jika sudah melihat Gaib, maka berani mengaku sudah Mi’raj. Bahya yang sangat bahaya, jika membahas tentan Mi’raj itu jika yang diajak bicara BUKAN AHLI Thariqat, naik lagi bagi Ahli Hakekat. Karena semua keterangannya nantinya tidak akan bisa diketemukan jika hanya DIBICARAKAN saja. Demikian juga yang dipahami oleh umum yang berdasar keyakinan yang sudah merasuk ke dalam sumsum dan tulang beratus-atus tahun, contohnya : Nabi Muhammad sudah bisa menembus planet lapis tujuh dan sebagainya ………. Hal itu, pengarang tidak menyalahkan, karena sudah menurut GARIS HIDUPNYA SENDIRI-SENDIRI. Setelah tuntas penjelasan tentang Mi’raj Nabi ini, saya percaya bahwa Indah dan mengehrankannya  “Yang diangan-angankan” itu tidak seperti jiga Kasmaran menjadi Pandhita! Ketika peringatan Mi’raj Nabi Muhammad s.a.w. di Lapangan Ikada jakarta ketika Tahun 1952. Prof. Dr. Hasairin, membicarakan tentang Mi’raj dan Isra’ (yang tidak terjawab), sebagai berikut : 7.1.1. (1). a. Apakah makna Mi’raj dan Isra’?

  1. Praduga tentang adanya Paham salah tafsir mengenai maksud dari Mi’raj dan Isra’!

(2). a. Bagaimanakah cara-cara agar bisa Mi’raj?

  1. Berapa waktu yang dibutuhkan untuk Mi’raj, yang pertama oleh Malaikat-Malaikat, yang kedua oleh Roh setelah dibangkitkan, yang ketika oleh salah satu yang Istimewa, yang keempat, oleh Nabi Muhammad, saw.!!!

(3). a. Sikap yang sama (tentang Mi’raj) antara Nabu Muhammad dan Nabi Musa as.

  1. Yang terpikir oleh kita : Apakah memang benar bahwa Muhammad dan Musa itu bisa MELIHAT Dzat Tuhan, yaitu : Allah dengan cara langsung!?

(4). a. Apakah itu Pohon Sadratulmuntaha itu, dan apakah yang menutupinya?

  1. Apakah yang sebenarnya yang dilihat oleh Nabi Muhammad s.a.w. di dekat Janna’t ul ma’wa?

Cerita Arab, dari Keluarga Wongsataruna, sebagai berikut : …. Shalat dua rakaat. Diantara gunung sarfah dan Marwah, setelahnya, Malaikat Jibril datang, dengan memberi uluk salam! Kemudian Ki Pujangga Ronggawarsita menyatakan, bahwa Mi’raj itu adalah MEMULIAKAN atau MENGAGUNGKAN DZAT ALLAH! 7.1.2. (1). Seorang Mahasiswa Islam pernah mengadakan ceramah (dialog umum) tentang Mi’raj, sebagai berikut : Para pendengar, di dunia ini hanya beliau Nabi Muhammad saja yang diperkenankan Mi’raj. Apakah artinya Mi’raj? Miraj itu naik menuju ke langit beserta raganya, dengan menaiki tangga naik menuju langit tingkat ke tujuh! Yang dimaksud langit itu adalah : Planet tujuh, Mars, Yupiter, Saturnus dan lainnya lagi. Sebelum Mi’raj, Nabi Muhammad didatangi Malaikat Jibril, yang kemudian membuka (mengoperasi) dadanya Nabi, serta mengambil (mengeluarkan) hatinya untuk dicuci di sumur Zamzam!. Yang lebih mengherankan, ketika naik menuju ke planet, jika manusia di jaman sekarang itu tidak akan bisa. Akan tetapi Nabi Muhammad pulang pergi hanya semalam saja. Padahal jika dihitung, berapa milyard kilo meter jauhnya dari bumi menuju ke planet Mars, dari Planet Mars menuju Saturnus…. dan seterusnya! Dengan cara begitulah Nabi Muhammad kemudian melihat Allah secara langsung!…….. dan seterusnsya. Deikianlah isi pidato dari Mahasiswa tersebut, seperti itulah tingginya dalam menggabarkannya, dalam mengagungkan peringatan Mi’raj Nabi Muhammad saw. Inti pidato itu untuk menggambarkan Keagungan Allah dan Muhammad, sedangkan yang di sayangkan adalah semua inti uraiannya tidak masuk akal! Ada lagi seorang Ulama Islam yang mengajarkan, kurang lebihnya sebagai berikut : 7.1.3. Hingga jaman sekarang para Ulama Islam mempunyai dua pendapat tentang; yang pertama : Mayakini paham bahwa Mi’raj itu adalah “Naik” bersama antara jiwa dan raganya. Yang ke dua : Meyakini pemahaman bahwa Mi’raj itu, hanya ROH-nya saja yang naik ke langit, menghadap kepada Tuhan! Selanjutnya Ulama tersebut meyakinkan bahwa hanya Tuhan sendiri yang bisa melakukan hal seperti itu, karena : Memutar Bumi, Matahari dan Rembulan yang besarnya berjuta kali lipat  dibanding dengan manusia itu pun ternyata bisa. Apalagi hanya menaikan Nabi Muhammad. Di bawah ini cuplikan yang disampaikan oleh Prof. Hazairin  (yang sudah dibukukan) : 7.1.4. Mi’raj itu bermakna naik. Bagi manusia itu adalah KEMAMPUAN ROH naik ke tingkatan, melepaskan diri dari semua peralatannya 9Pancaindranya) : Bisa berkemampuan mengetahui segala keadaan yang gaib, yang oleh Pancaindra atau alat untuk Ijtihad pikiran pada umunya  tidak akan bisa dialaminya atau mengetahuinya. Sedangkan Isra’ itu maknanya : Perjalanan malam hari. Bagi Nabi Muhammad saw. adalah sebuah peristiwa yang disebut di dalam Al-Qur’an surat 17 ayat 1. Di situ Isra’ dan Mi’raj ditetapkan maknanya. Qur’an XV surat Isra’ ayat 1. Tafsirnya sebagai berikut : Maha Suci Allah yang menjalankan Mi’raj kepada hambanya di waktu malam dari Masjid Makkah menuju tempat yang jauh, Baitul Makdis .. dst….. dst. Pahan yang meyakini bahwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad itu tidak hanya Roh-nya saja, namun juga bersamaan dengan raganya, itu tidak bisa diterima nalar, berlawanan dengan Hukum Alam, yaitu Sunnah Tuhan sendiri yang termuat di dalam Qur’an surat 17 ayat 60 yang tafsirnya sebagai berikut : Ingatlah ketika kami berkata kepadamu : Sesungguhnya Allah-mu itu menguasai seluruh ummat manusia, kami tidak membuat mimpi yang kami perlihatkan kepada kamu, selain hanya untuk menguji manusia. Di sini asli dari Isra’/Mi’raj kemudian disamakan dan disebut dengan Ru’ya, selaras dengan tujuan Isra’ yang tersebut di ayat suci ayat 1 yaitu : Linnuriyahaminayatina yang tafsirnya MEMPERLIHATKAN (Membuktikan) atas tanda-tanda Keagungannya, sedangkan Bahasa Arab Raa’ itu bermakna Melihat menggunakan Roh. Setidak-tidaknya tidak menggunakan mata, umpamanya seperti yang tersebut  di Surat 1-Fil – alam tara kaifa fa’ala rabhuka biasha b’ilfiil – lebih jelasnya lagi di surat Al-Takatsur. Melihat dengan menggunakan mata  apa adanya di dalam Qur’an disebut “nazara” contoh di surat 2 ayat 55 : wa antum tanzurun. Jangan disangka bahwa Mi’raj yang sudah tersebut seperti diuraian di atas itu bisa digapai dengan cara berlatih, seperti yang dilakukan ahli sulap yang bisa menghilang karena latihan. Karena di surat 70 ayat 3 disebutkan, bahwa Allah itu Julma’arij, yang tafsirnya hanya Allah sendiri yang kuasa meberi anugerah Mi’raj kepada manusia! Dan selanjutnya di dalam Al-Qur’an menyebutkan warna dari Mi’raj yang lain lagi, yaitu yang menyebutkan di dalam surat 70 juga, di ayat ke 4 dijelaskan bahwa Malaikat dan Roh (Roh suci) atau Jibril) dan Roh manusia setelah dibangkitkan, membutuhkan waktu 50 ribuan tahun lamanya jika jika akan sampai di hadapan Tuhan. Sedangkan menurut Surat 32 ayat 5 satu-satunya masalah yang masuk akal itu membutuhkan waktu 1000 tahun bila akan naik menuju ke Hadapan Tuhan. Akan tetapi Mi’raj Nabi Muhammad saw. itu hanya dilakukan di dalam waktu tidur saja ………………….! Kemudian Hazairin menjelaskan di dalam bukunya sebagai berikut : Jika diterima dengan benar menurut Buku Toret (Deuteronium) surat 18 yat 15 dan 18, sudah menjadi perjanjian (disamakan) bahwa setelahnya Nabi Musa akan didatangkan lagi seorang Rasul yang mirip dengan Musa dan dari pihak saudara Musa. Sedangkan Nabi Muhammad dari keturunan Ismail saudara Iskak, diberi anugerah bisa Mi’raj, sudah semestinya jika Musa ketika dahulunya juga mendapat anugerah bisa Mi’raj. Apakah sebabnya, bahwa apa yang disebutkan di dalam TORET surat 5 selaras dengan yang disebutkan di dalam Qur’an surat 7 ayat 142 – 147, namun yang membedakannya bahwa di dalam Qur’an itu, Musa diceritakan Jatuh Pingsan, yaitu ketika akan melihat kenyataan Tuhan, yaitu ketika melihat Gunung  (Lihat Wedaran Wirid Jilid I tentang Samadhi). Sangat jelas bahwa Pingsan bagi Nabi Musa menunjukkan tingkatan  ketika akan Mi’raj, sedangkan Nabi Muhammad tangga atau tingkatannya Mi’raj dalam bentuk tidur. Menegenai peristiwa yang dialami Nabi Musa di dalam Toret disebutkan, bahwa ketika itu Gunung itu menyala besar dan dari tempat itu terdengar Kaliamt Tuhan, sedangkan yang terlihat hanyalah api yang menyala berkobar-kobar itu tadi. Dari dalam api yang berkobar itu (25) kemudian keluar Syariat bagi Bani Israil, yaitu yang 10 macam (de Tien Geboden Gods). Demikian juga ketika Nabi Muhammad ketika Mi’raj tidak melihat Tuhan (26) kecuali hanya Ke-Agungan-Nya dan Kalimat-Nya, yang merupakan syariat-syariat selaras dengan Surat 17 di dalam Qur’an. Di antara yang terlihat oleh Nabi Muhammad itu, ada yang sangat gaib bagi pikiran kita, yang tersebut di dalam Surat An-Najm, yaitu melihat sesuatu yang menutupi membungkus  sesuatu yang disebut Sidrat’ulmuntaha (27). Serta Sidat’ulmuntaha itu dekat dengan Jannat’ulma’wa (Syurga). Sedangkan yang dimaksudkan tentang Jannah itu menurut keyakinan saya  (Hazairin), yaitu Syurga, tempatnya kemuliaan di akherat (28), sedangkan Sidrah itu bagi pandangan umum dimaknai Pohon : Dana kata “Kalimat” itu hanya disebut sekali saja di dalam Qur’an, sehingga dengan demikian tidak bisa dicari penelaahnya yang lainnya lagi apa yang dimaksudkan untuk membandingkannya antara ayat yang satu dengan ayat yang lainnya. Di dalam Bahasa Arab ada kata Sadara, yang artinya pecah, barangkali saja, oleh karena saya bukan ahli Bahasa Arab, sehingga kata Sidara atau Sirat’ul itu, saya hubungkan dengan sadara – dan mencoba untuk memaknainya bahwa kaliamt Sidrat’ulmuntaha itu, seolah-olah bermakna : Ketika Nabi Muhammad telah sampai di tempat yang sangat jauh yang dekat dengan Syurga itu, tiba-tiba melihat sebuah pecahan bagaikan sebuah penghalang (hijab) yang sangat halus yang membuka ke kanan dan ke kiri (29), sehingga tempat yang terlihat dari ketika penghalang sedikit terbuka, telihat bagaikan sebuah pohon, dan di situ Nabi Muhammad bisa melihat Keagungan Tuhan, bagai seorang yang mengintip keadaan langit dari dari lubang atap rumah, bisa melihat pancaran Rembulan dan bekelipnya bintang-bintang. Yaitu hanya cahayanya saja, sedangkan Rembulannya sendiri tidak bisa terlihat. Yang demikian itu bisa juga diselaraskan dengan isi dari Surat 7 ayat 46 dan surat 57 ayat 13, yang menyebutkan : wa ba inahuma hijab (dan) faduriba bainahum bisurin lahubab : Yaitu antara syurga dan naraka itu ada penghalang (penutup hijab) (20) yang memisahkannya atau sebuah tembok yang ada pintu belakangnya (pintu penghubung) (31). Meskipun demikian kepda Muhammad sudah diberi Anugerah bisa melihat tentang keadaan syurga dan naraka, yang artinya sudah di beri anugerah sebuah ilmu yang sangat sempurna untuk membedakan antara yang baik dan buruk. Jika Sidrah itu bisa diartikan sebagai belahan, pecahan, bagian : untuk selanjutnya Sidrat’ulmuntaha bisa dimaknai Naraka (32), yang memang berujud kawah yang ada apinya (33), menyala dan berkobar besar, luas dan dalam. Pada surat 7 ayat 41 dijelaskan, bahwa Jahanam (naraka) itu ada tutupnya : Lahum min jahanamma mihadun wa min faukihim ghawasyin. Jika dihubungkan dengan surat 53 ayat 53, maka menjadi jelas apa yang dimaksudkan dari kata Idz yaghsya sidrata ma yagsya, yang artinya : Ketika naraka ditutup oleh penutupnya. Walau pun bagaimana pun juga,  apa yang dilihatnya oleh Muhammad sudah dijawab oleh Al-Qur’an sendiri, dan Muhammad sebenarnya sudah mendapatkan Ilmu rahasia yang sangat sempurna, yang bisa dicapai oleh makhluk, yaitu “Melihat” Dzat Tuhan Yang Maha Agung dengan menggunakan Pancaindranya (34), yang berupa Ayat Yang Agung : Wa lakad raahu nazlatan uchra. Lakad raa min ayati rabbihi’lkubra. Demikian lah inti penelitian Prof. Hazairin tentang Mi’raj. Apakah hal itu menurut Ilmu Hakekat adalah benar atau kah tidak, akan pengarang kupas menurut pemahaman pengarang sendiri dan tidak meninggalkan makna Dalil – Khadits –Ijmak – Qiyas – dengan harapan jangan sampai penelusuran tentang Mi’raj ini menjadi salah, yang bisa semakin membuat buta pikiran! Nomor-nomor yang diberi kurung itu nantinya sebagai pembanding makna lahir dan batin. Terlebih dahulu akan pengarang sampaikan contoh-contoh dari pendapat yang kurang paham, sebagai berikut : 7.2.1. Di Daerah Malang Selatan ada seorang anak muda yang mesuk ke salah satu perguruan ilmu kebatinan. Bercerita kepada pengarang sebagai berikut : Pada suatu ahri, oleh guru saya ddiperintah bersamadhi, sikapku dengan duduk bersila di tengah sawah yang berhawa dingin dan menyegarkan! Setelah beberapa lamanya saya merasa layap-layap antara tidur dan jaga, tiba tiba ada desiran, tidak tidur, tidak bermimpi, karena masih merasa dingin, tiba-tiba saya merasa melayang ke angkasa hingga sangat tinggi sekali. Saya heran, menurut “perasaanku” keadaan di kanan kiri sangat indahnya, sebuah taman, kolam, bebungaan, terang tidak terang, gelap tidak gelap, tidak seperti sore hari ….. seolah mengandung suasana seperti ternggelamnya matahari, sangat menyenangkan hati. Yang mengherankan itu, bahwa dedaunan dan bunga-bunga dan yang lainnya itu bisa berubah warna, bermekaran sendiri hingga menurut perasaanku tidak sampai satu detik seolah sudah berada di tengah taman, Kemudian saya melihat ke kanan dan ke kiri, kemudian ada suara : “Lihatlah di bawah itu” Menurtku bumi ini yang kita injak ini hanya sebesar bola. Sekarang saya mohon penjelasan, apakah keadaan saya yang seperti itu yang disebut Mi’raj seperti Nabi Muhammad? Jawaban Pengarang hanya “Entah” tentunya hal itu sama dengan bermimpi!” Yang akan diulas itu adalah hal “Perasaan”, bahwa bumi seolah-olah hanya sebesar bola dan hanya terjadi beberapa meneit saja dalam keadaan antara tidur dan jaga. Jika dikira bermimpi, bukan bermimpi. Dikatakan tidak bermimpi, akan tetapi demikian perasaannya! Cbalah dipikir, berapa juta kilometer jika manusia bisa melihat bumi hanya sebesar bola? Jika demikian kejadian penglihatan seperti itu maka dengan kecepatan beberapa ribu Kilometer, dalam tiap jamnya? Jika hal itu dijalani oleh raga kita, berapa puluh tahun untuk bisa melihat Bumi hanya sebesar bola? Demikianlah pertanyaan-pertanyaan itu akan muncul. Jika dipikir maka tidak masuk akal. Mengulas naskah milik Hazairin tentang Mi’raj yang dijalankan oleh Nabi Muhammad dengan Nabi Musa as. Apakah itu masuk akal? Api yang menyala besar mengapa bersuara? Serta hanya tidur saja mengapa bisa naik ke langit? Terlebih dahulu akan diulas tentang Gunung yang terbakar, yang dialami oleh Nabi Musa as. Menurut pendapat saya : Kita harus mengetahui terlebih dahulu makna dari Mi’raj, Ru’yah, bermimpi! Mi’raj itu, maksudndya adalah Naik, oleh kerena naik itu dilakukan oleh Roh, maka hubungannya adalah dengan Ru’yah – yang artinya melihat sesuatu-sesuatu yang gaib dengan cara menaiki itu tadi dengan cara tingkatakan seolah bermimpi. Sehingga Ru’yah itu selama Mi’raj – Mi’raj itu tentulah dengan cara Ru’yah (penglihatan batin)! Oleh karena masih belihat apa-apa, walau pun hal gaib sekali pun, ternyata itu bukan tingkatan Ma’rifat, masih berada di Tingkatan Hakekat. Ronggawarsito menyebtukan, bahwa Mi’raj itu Mengagungkan Dzat’ullah, hal itu benar adanya, karena dalam keadaan Mi;raj itu melihat Rahasia dunia sebagai tanda saksi Keagungan Tuhan! Apakah benar Nabi Musa melihat Gunung yang menyala ketika Mi’raj? Jawabannya adalah sebagai berikut : TINGKATAN yang disebut Ma’rifat Hakekat, itu bagi para pencari Hakekat sama saja dengan meleweta lautan bagi Wrekudara ketika akan bertemu Dewaruci. Melihat terang benderang yang disebut (Padang tarawangan tanpa ada bayangannya) …… Bagaikan nyara sinar bulan, satu juta menjadi satu, yang intinya menurut bahawa Hakekat disebut : Nuur – NuurIllahi atau Nuur Muhammad! (25). Pengibaratan menyatunya Nabi Musa dengan Dzat Tuhan itu harus melalui Nyalanya api, yaitu MELIHAT ALAM YANG TERANG TANPA BATAS yang disebut SAMODRA! Siapa saja, tika  melihat Agamanya, jika masih di tingkatan Hakekat — tentu melihat Nuur yang terang tanpa ada bayangannya itu tadi! (25). Demikian juga ketika Nabi Muhammad Mi’raj, itu sudah terjawab dengan jelas oleh Nabi Muhammad di dalam Kitab-Kitab Hadits dan sebagainya, bahwa Nabi Muhammad tidak meliaht Dzat Tuhan, karena yang dilihatnya adalah KEAGUNGAN TUHAN, yang oleh Ronggawarsita disebut : DZAT TUHAN itu sendiri, artinya : Melihat Dzat’ullah, tidak melihat ALLAH! Jumlah Dzat’ullah itu ada berjuta-juta, sifatnya dan perbuatannya ttidak terhitung jumlahnya. Jika kurang bisa memahami, Dzat Allah itu bisa disebut HAKEKAT ALLAH. Artinya segala cetusan Jasad gaib dan kasar halus, Malaikat, Nyawa, perasaan dan sebagainya, itu juga Hakekat Allah! Penjabaran-penjabaran selanjutnya tentang Mi’raj yang dilakukan Nabi Muhammad, sebagai berikut : Oleh karena Nabi Muhammad ketika melakukan Mi’raj dengan tata cara tidur, hal itu sebenarnya tidak tidur, Hal itu sama saja dengan para pelaku Pertapa ketika sedang Shalat Ma’rifat (Radya Yoga, Samadhi). Pada intinya : Bersamadhi atau Shalat Ma’rifat itu adalah membangkitkan menegakkan hidup Roh dengan menggunakan Rasa Jatinya (Lihat Wedaran Wirid Jilid I). Sehingga karena hidup dari Roh yang bangkit itu masih disertai rasa ingat, sehingga disebut Mi’raj – artinya bukan Atauchid (menyatu). Oleh karena itu Nabi Muhammad BISA BERCERITA kepada para sahabat tentagn Mi’rajnya (tentang ketika mengagungkan Dzatullah – melihat Rahasia Tuhan). Jika demikian, ketika sedang Mi’raj itu masih di tingkatan Hakekat, artinya masih ada yang menuntun. Sedangkan yang menuntuk Nabi Muhammad itu adalah Malaikat Jibril. Sudah jelas : Ketika Nabi Muhammad Mi’raj itu masih dalam keadaan Hakekat. Karena jika hal itu dimaknai menghadap di hadapan Tuhan, justra malah salah besar! Apakah sebabnya? Seperti di dalam Dalil surat 6 ayat 94 Surat Al-An-aam : – Menghadapmu kepada Tuhan itu bagaikan ketika kamu dilahirkan ke dunia pertama kali ….. dan seterusnya (Lihat Wedaran Wirid Jilid I). Sehingga perbedaannya : i’raj itu masih memakai sarana dituntun oleh Malaiakt, hati, rasa dan ingatan, sedangkan Tauchid itu alat apapun juga, seperti ketika baru terlahir. Sehingga yang berpendapat bahwa Mi;raj yang dilakukan Nabi Muhammad itu beserta raganya, itu agak mengherankan. Karena Nabi sendiri sudah mengatakan dan disaksikan oleh Istrinya Siri Aisyah (Hadits) bahwa Nabi Muhammad ketika itu tidur di dekat Aku (Siti Aisyah). Mengulan pertanyaan seorang laki-laki yang melihat Bumi sebesar bola (7.2.1). Penjelasannya adalah sebagai berikut : MELESATNYA ROH yang masih disertai Rasa ingatan itu disebut di dalam Ddalil, sama saja dengan 50,000 (limapuluh ribu) tahun kecepatannya – jika diukur menggunakan ukuran di dunia ini, artinya : Jika ukuran dunia menyebutnya 50.000 tahun itu adalah benar-benar 50.000. menurut Ukuran Ketuhanan, 50.000 itu hanya diibaratkan satu detik saja! Keadaan itu sama saja dengan untuk bisa terlaksana jika dengan cara Ru’yah (penglihatan batin dengan cara seolah bermimpi)! Contohnya adalah sebagai berikut : 7.2.2. Dari Surabaya ke Barat menuju Jakarta jauhnya itu sekitar 1.000 Km, jika pulang pergi menjadi 2.000 Km. Itu jika dijalani  jalan kaki bisa hingga 30 hari baru bisa kembali ke Surabaya. Namun jika kita melakukan perjalanan itu dalam keadaan bermimpi, yaitu Ru’yah, hanya membutuhkan waktu tidak samapi satu menit. Menurut Tuhan di dalam Al-Qur’an surat 32 ayat 5 As-Sajdah dan Qur’an XXIX surat 70 ayat 4 surat Al-Ma’arij, sebagai berikut :

  1. Para Malaikat kemudian naik bersama-sama dengan Roh dalam satu hari, yang lamanya sama dengan 50.000 tahun (Surat 70 ayat 4).
  2. Dia itu menata semua urusan dari langit hingga ke bumi, kemudian naik ke Hadapan-Nya di hari Kiyamat. Sehari di waktu itu rasanya seperti 1.000 tahun, menurut hitungan di waktu sekarang (Surat 22, ayat 5).

Dalil di atas menjelaskan bahwa para Malaikat naik bersama-sama dengan Roh (35). Kita tidak ragu lagi yang dimaksudkan itu Melesatnya TOH YANG HIDUP YANG DISERTAI  RASAJATI (Sara ingatan), yang kecepatan dalam seharinya sama dengan 50.000 bagi hitungan alam nyata. Maksunya adalah satu hari dalam hitungan Waktu Tuhan! Hal itu mengandung maksud bahwa Mebayangkan Tuhan itu tidak ada batasnya, penglihatan itu bersifat tanpa penghalang, Keceptan penglihatan itu tidak terhitung kecepatannya dan sebagainya, intinya : Tidak bisa dijadikan contoh dengan mesin hitung dan sebagainya, yang dibuat oleh manusia! Jika dipahami menggunakan pemahaman kita sendiri : Berjalannya SWAPNA atau mimpi itu kecepatannya tidak bisa dihitung!. Menurut Hazairin, Mi’raj itu tidak bisa di digapai oleh manusia. Apakah Nabi Muhammad itu bukan manusia? Di depan sudah disampaikan, Mi’raj itu pakaian Ru’yah, sedangkan yang bisa hanyalah manusia yang sudah SUCI (Ma’rifat Islam) seperti yang dilambangkan dalam kisah Kresna Gugah atau dalam kisah Dewa Ruci. Salah pemahaman yang lainnya, jika tingkatan Mi’raj itu naik ke langit menggunakan tangga, serta dibelah dadanya oleh Malaikat. Hal itu sebenarnya mengandung maksud, jika Dadamu sudah suci atau pencernaan kita sudah suci, barulah bisa mengagungkan Dzat Tuhan! Salam dalam memahami yang lebih besar lagi, bahwa Mi’raj dan Ru’yah adalah “Penglihatan Pancaindra” atas Keagungan Tuhan. Sedangkan di dalam Ajaran Hakekat sudah berulang kali diterangkan dan juga sudah banyak contoh-contohnya dari Para Jamhur ahli Ilmu, bahwa keadaan Mi’raj itu sebenarnya bukan penglihatan pandangan mata Pancaindra, akan tetapi penglihatan batin. Meskipun demikian Hazairin sudah menetapkan bahwa bisa digapai oleh makhluk (Yang dimaksudkan adalah oleh Nabi Muhammad), akan tetapi semakin membingungkan maknanya, bahwa ketika Nabi Muhammad melihat Dzat Tuhan itu menggunakan Pancaindra. Hal itu tidak bisa diterima di dalam rasa (34). Bisa saja ada praduga, bahwa ketika Nabi Muhammad Mi’raj itu adalah atas Ijin Allah, yaitu Julma’arij-nya Tuhan. Sekarang ada yang mempunyai anggapan lagi, Apakah Sunan Kali itu tidak mendapatkan Mi;raj (Mengaunggkan Dzat Tuhan)? Apakah Ronggawarsita tidak mendapatkan Mi;raj, dan apakah mendapatkannya itu disebut juga Julma’rid dari Allah? Tidak diragukan lagi, sebenarnya keadaan Mi’raj itu siapa saja bisa mendapatkannya, asal dijalankan melalui jalan kebenaran (Catur Wiwara Warit). Sedangkan yang dialami anak muda itu, bukan diusahakan hanya tidak sengaja saja, yang maksudnya Julma’rij dari Allah (&.2.1). BAB. IX. APAKAH BURUNG BURAQ ITU? Pemahaman umum meyakini bahwa Buraq itu adalah sejenis kendaraan burung, kendaraan Nabi Muhammad ketika naik ke Planet atau langit tingkat ke tujuh (36). Dikisahkan, Burung Buraw itu, kecepatannya bagaikan kilat, lebar langkahnya selebar cakrawala, satu detik sudah sampai di pintu langit. Buraq itu dari Bahasa Arab “barqun” atau Baraqun yang maksudnya : Kilat, jika menurut hitungan fisika moderen, sama dengan kecepatan cahaya. Di depan sudah disebutkan, bahwa melesatnya Roh (Daya hidup) yang disertai rasa jati (Tetap masih bisa melihat apa-apa) (35) itu sangat cepat sekali bagaikan kilat, Oleh karena dasar dalilnya demikian, silahkan dihayati, keterangan di bawah ini : 1.2.3.

  1. Buraq => Cepat bagaikan cahaya.
  2. Mi’raj => Naiknya roh.
  3. Ru’yah => Penglihatan batin dengan cara bermimpi.
  4. Melesatnya Roh => Disertai rasa sadar ingat (rasa jati) yang maksudnya adalah ingat apa-apa atau melihat apa-apa.

Penjelasan di atas, jika ditelusuri menggunakan dalil : Bermimpi itu diserta rasa ingat, ingar itu merasa, artinya : Hatinya ikut-ikut menghitung, karena merasa mengetahui apa-apa walau pun luas jangkauannya, jauh asalnya, hanya dalam waktu sekejap saja, cepat bagaikan cahaya dan cepat itu diibaratkan : BURAQ (35). Dan sudah dijelaskan, melesatnya Malaikat dan roh-roh menghadap kepada Dzat Tuhan itu diibaratkan membutuhkan waktu 50.000 tahun lamanya, jika dihitung menggunakan hitungan Pancaindra. Tidak ragu lagi, melesatnya Roh Nabi Muhammad  dengan diiringi Malaikat Jibril itu sama dengan melesatnya Roh dan rasa jati yang hidup dan lepasnya sangat cepat sekali. Jika demikian, menyatunya rasa jati dan Roh meninggalkan raga kita itu sama dengan Buraq (35).  Dan berarti bukan menaiki Burung Buraq! 7.2.4. Ketika pengarang masih kecil pernah pergi ke Pasar Gede Yogyakarta ke rumah famili. Sekarang pengarang sudah dewasa serta bertempat tinggal di Negeri yang jauh dari Yogyakarta. Tadi malam bermimpi pergi ke pasar Gede. Atau dengan cara mengingat-ingatnya : Tidak sampai satu menit – segala rupa dan gambaran dari Pasar Gede nampak jelas!  Sekarang kita telusuri : Sudah berapa tahun lamanya, dan berapa kilometer jauhnya, ternyata hanya didatangi sekejap saja. Dengan cara memimpikan atau mengingat-ingat itu sebenarnya kita sudah terbang langsung sampai hanya satu detik saja (35). Sekarang kembali kepada Naskah milik  Prof. Hazairin yang mengandung penjelasan tersebut di atas, 7.1.1. nomor (3) a.b. yaitu ketika Nabi Musa Pingsan melihat nyala api di gunung serta Nabi Muhammad tidak melihat Dzat Tuhan!. Oleh karena itu masih di tingkatan Mi’raj/Ru’yah yang artinya masih melihat apa-apa, sehingga disebut bukan menyatunya Hamba/Tuhan. Silahkan direnungkan, sebagai berikut : Pertama : Makna dari Mi’raj itu naiknya  Roh dan malaikatnya (45). Yang kedua : Dalil Tuhan  : Layuchayaffu, tidak bisa dibayangkan, atau keadaan Entah, tidak bisa diceritakan, tidak bisa ditulis  atau bukan sastra bukan dalil! Yang ke tiga : Nabi Musa as. Pingsan disebut dengan Mi’raj, hal itu kurang bisa diterima. Karena, setinggi-tingginya amal bagi ilmu hakekat  itu JIKA SUDAH MELEWATI TELAGA ENTAH (Pingsan tidak sadarkan diri, tidak ingat apa-apa : Lihat Qur’an VII surat 6 ayat 24). Disebut dengan pingsan tidak sadarkan diri itu sulit dalam menggambarkan rasa yang seperti ketika lahir pertama kali itu!. Yang keempat : Nabi Muhammad saw. tidak pernah menyampaikan jika sudah bertemu dengan Allah, hal itu benar adanya. Sehingga walau pun demikian, Mi’raj itu adalah PAKAIAN ORANG HAKEKAT! Sekarang ada sebuah pertanyaan, sebagai berikut : Buraq itu kan bagaikan lembu yang berkepala manusia, dan bersayap, ada ekornya. Apakah perasaan melihat di dalam mimpi apakah ada ekornya? Gambaran burung Buraq itu : 7.2.5. (1) Badannya bagaikan lembu atau kuda. (2) Berkepala manusia. (3) Berkaki empat (4) Mempunya sayap bagaikan burung Penjelasannya adalah sebagai berikut : (1) a. Itu adalah pekerjaan nafsu kita. Bahaya paling bahay itu adalah jika murid salah jalan. Dalam Belajar ketika sedang lupa kepada jalan yang nyata adanya, kadang masuk ke dalam berteman dengan Jin (perewangan), karena ujian yang berat itu adalah ketika berada di saat Mayanggaseta, tidak berbeda ketika Nabi Muhammad bertemu dengan Jibril dan ditawari ingin kekayaan atau Kerajaan, hal itu jika sampai lupa, maka akan terbawa keduniaan yang digambarkan seperti berbadan kuda berkaki empat; Artinya Gerak nafsu itu lebih kuat. Maksudnya adalah : Tidak memperdulikan kepada Hakekat Ketuhanan, yang dipentingkannya justru hanya kebutuhan perut (Nafsu hewani). (2) b. Berkepala Manusia itu mengandung maksud SEMPURNANYA IBADAH Jati (Hal itu jika  akal yang ada di kepala tidak cacat). Ketahuilah,  Berkonsetrasi atas Ilmu Ketuhanan itu didasari ingat (melalui kepala) pintar dan mengerti itu juga melalui kepala, semua ditanggung oleh kepala. Maksudnya : Pendengaran, penciuman, penglihatan, mulut, otak dan sebagainya, itu Indra yang sangat penting untuk segala hal bagi kehidupan. (3) c. Berkaki empat : melambangkan kekuatan Raga dengan berkaki empat, kaki itu sebagai pijakan naik dan turun, duduk dan berdiri. Itu sebagai ibarat  dari Menyembah Tuhan Yang sejati. Yang dimaksud dari kata Thariqat, Hakikat, Ma’rifat itu bukan hanya di jaman sekarang saja, namun sudah ada sejak adanya Aturan Agama. Sehingga kuatnya konsentrasi menuju Tuhan itu jika sudah didasari empat tingkatan yang harus dilaluinya : Syari’at, Thariqat, Haqiqat, Ma’rifat, jika sudah demikian : Barulah berada di Tingkat ISLAM yang sebenarnya (Berserah diri hanya kepada Tuhan – Hingga bisa memahami Innalillahi wa inna illaihi raji’un). (4) d. Makna dari sayapnya, itu : Alat untuk terbang (35), cepat sampai ke tujuan tanpa halangan, karena melalui angkasa. Nabi. Wali, dan Mukmin sekali pun, jika sudah bisa mengendalikan nomor : 1.2.2. tersebut di atas, berarti sudah sempurna, ilmunya sudah barokah dan diterima! Dibahasan segala cetusan hatinya terwujud : Segala hasratnya akan sampai. Mempunyai kemampuan Waskhita (Mengetahui yang belum terjadi) rencana dan perkiraanya tidak akan ada yang menghalanginya, melesatnya bagaikan kilat, mengetahui segala sesuatu, baik yang kasar atau pun yang halus, yang terpenting – perkiraan yang berasal dari ANGAN-ANGAN tajam ketepatannya. Disebutkan juga di dalam Dalil Qur’an XVII surat 22 ayat 47, Al-Haji, yang tafsirnya : Sesungguhnya satu hari bersama Tuhan mu, sama dengan 1000 tahun dalam hitunganmu.” Bagi yang membayangkan, hitungan satu hari sama dengan 1000 tahun itu sudah disamakan dengan hitungan Ilmu Alam yang biasanya menghitung dengan hitungan angka Cahaya, itu pun masih perkiraan saja yaitu kurang lebihnya, dan bukan pasti. Seumpama jarak bumi dan matahari itu 84 juta tahun cahaya, itu sangat jauh berbeda dengan melesatnya “Rasa ingat” yang tak terhitung kecepatannya. Roh dan Malaikat itu disebut “Makhluk Allah”, maksudnya : Sebuah sifat perbuatan yang tidak ada menyebabkannya dalam berpuatnya. Sehingga yang dilakukannya sama saja dengan yang dikehendaki oleh Allah. Maksudnya : Roh yang hidupnya disertai dan didampingi rasa ingat (Sifat Basyar, melihat) sebenarnya bersifat sama dengan melihat segala yang tergelar, artinya : Melihat tanpa terhijab, melihat Maha Ghaib dari Yang Maha Halus.! Ke mahatahuan Roh dan Malaikat (Yang pastinya masih disertai rasa ingat) itu terjadi setelah meninggalkan Raga, cepat bagaikan kilat kecepatannya : Bagainak Buraq! Jika ada pertanyaan : “Jika demikian, manusia yang meninggal dunia itu tidak disebut menaiki Buraq?” Jawabannya  : Mati itu ya mati, bahkan yang membuat mati (yang mencabut nyawa) itu adalah Malaikat sendiri yang bernama Izrail”. Artinya itu bahwa Roh manusisa yang meninggal dunia  sudah tidak disertai Izrail atau sudah tidak ditemani oleh Malaikat yang berjumlah 12! Sedangkan jika Mi’rah, semua Malaikat-Malaikat itu ikut mengiringnya hingga sampai ke Pohon Sidrat’ulmuntaha!! (29). Ketahuilah, sifat dari “Basyariyah” atau “Maha Melihat” dari roh itu jika ingin pergi ke Amerika, tidak sampai 2 menit seketika akan melihat Waashington, padahal belum pernah pergi ke sana, Di manakah tempatnya Amerika! (Minta petunjuk kepada Ahli Ma’rifat, benar tidaknya …. dan apakah memang demikian adanya?!) Cerita yang demikian itu yang disebut Menaiki Buraq (35). Sedangkan ketika Buraq terbang itu pasti disertai Malaikat Jibril, karena ketika Mi’raj itu adalah yang dialami oleh manusia yang sedang menunju kepada memahami Keagungan Dzat Allah. Jika Mati disamakan dengan hakekat Roh yang sedang Mi’raj dengan menaiki Bruaq, sudah jelas tidak masuk akal, karena : 1. Yang memiliki Jibril, 2. Yang ditempati oleh Jibril dan bisa Mengagungkan Dzat Allah. 3. Yang masih memiliki rasa ingat (rasa jati) itu, hanya MANUSIA YANG MASIH HIDUP! Sehingga tidak dimiliki atau bukan milik orang mati!. Ki Ageng Ronggawarsita sudah pernah Mengagungkan Dzat Allah — sedang cara yang digunakannya adalah melalui Ru’yah, Oleh karena Ru’yah itu melihat dengan penglihatan batin, sehingga untuk dapat melihatnya semua Rahasia Gaib dunia dan Rahasia Tuhan itu harus dengan Mi’raj. Disebut Mengagungkan Dzat Allah itu sebenarnya adalah mengetahui Kunci Rahasia Dunia yang unik dan keindahannya tidak bisa ditulis dan tidak bisa digambarkan di atas Kertas! Mengapa demikian, sama sama melesatnya roh dari sangkarnya perjalanannya berbeda dengan yang sama-sama rohnya melesat yang disebut dengan mati, artinya : Mati itu tidak bisa diceritakan, sedangkan Mi’raj itu bisa diceritakan. Cerita tentang Miraj di bawah ini yang bersumber dari Negeri Arab yang diceritakan oleh Nabi Muhammad saw. kepada para Sahabat (Digubah dalam Nyanyian Jawa oleh Ki Wangsataruna). Termuat di Blog Selanjutnya.

Kabupaten Indragiri Hilir


Kabupaten Indragiri Hilir adalah sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Riau, Indonesia.

Daftar isi

1 Perbatasan
2 Sejarah
2.1 Periode Sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia
2.1.1 Kerajaan Keritang
2.1.2 Kerajaan Kemuning
2.1.3 Kerajaan Batin Enam Suku
2.1.4 Kerajaan Indragiri
2.2 Masa penjajahan Belanda
2.3 Masa pendudukan Jepang
2.4 Periode setelah berdirinya Indonesia
2.4.1 Kewedanaan Indragiri Hilir Utara
2.4.2 Kewedanaan Indragiri Hilir Selatan
2.5 Pemekaran Kabupaten Indragiri
3 Daftar kecamatan
4 Potensi daerah
5 Pendidikan
5.1 Pertanian
5.2 Perkebunan
5.3 Peternakan
5.4 Perikanan
5.5 Pertambangan
6 Referensi
7 Pranala luar

Perbatasan
Administrasi Kabupaten Indragiri Hilir
Kebun kelapa di lahan basah rawa payau mangrove bakau berparit. Kebun Kelapa identik dengan Indragiri Hilir.

Batas-Batas Kabupaten Indragiri Hilir antara lain :

Utara : Kabupaten Pelalawan

Barat : Kabupaten Indragiri Hulu

Selatan : Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi

Timur : Provinsi Kepulauan Riau
Sejarah

Untuk melihat latar belakang sejarah berdirinya Kabupaten Indragiri Hilir sebagai salah satu daerah otonom dapat ditinjau dalam dua periode, yaitu periode sebelum kemerdekaan dan periode sesudah kemerdekaan Republik Indonesia.
Periode Sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia
Kerajaan Keritang

Kerajaan ini didirikan sekitar awal abad ke-6 yang berlokasi di wilayah Kecamatan Keritang sekarang. Seni budayanya banyak dipengaruhi oleh agama Hindu, sebagaimana terlihat pada arsitektur bangunan istana yang terkenal dengan sebutan Puri Tujuh (Pintu Tujuh) atau Kedaton Gunung Tujuh. Peninggalan kerajaan ini yang masih dapat dilihat hanya berupa puing-puing.
Kerajaan Kemuning

Kerajaan Kemuning didirikan oleh Raja Singapura ke-V, Raja Sampu atau Raja Iskandarsyah Zulkarnain atau Prameswara. Tahun 1231 diangkat seorang raja muda yang bergelar Datuk Setiadiraja. Letak kerajaan ini diperkirakan berada di Desa Kemuning Tua dan Desa Kemuning Muda. Bukti peninggalan kerajaan berupa selembar besluit dengan cap stempel kerajaan, bendera dan pedang kerajaan.
Kerajaan Batin Enam Suku

Pada tahun 1260, di daerah Indragiri Hilir bagian utara, yaitu di daerah Gaung Anak Serka, Batang Tuaka, Mandah dan Guntung dikuasai oleh raja-raja kecil bekas penguasa kerajaan Bintan, yang karena perpecahan sebagian menyebar ke daerah tersebut. Di antaranya terdapat Enam Batin (Kepala Suku) yang terkenal dengan sebutan Batin Nan Enam Suku, yakni:

Suku Raja Asal di daerah Gaung.
Suku Raja Rubiah di daerah Gaung.
Suku Nek Gewang di daerah Anak Serka.
Suku Raja Mafait di daerah Guntung.
Suku Datuk Kelambai di daerah Mandah.
Suku Datuk Miskin di daerah Batang Tuaka.

Kerajaan Indragiri

Kerajaan Indragiri diperkirakan berdiri tahun 1298 dengan raja pertama bergelar Raja Merlang I berkedudukan di Malaka. Demikian pula dengan penggantinya Raja Narasinga I dan Raja Merlang II, tetap berkedudukan di Malaka, sedangkan untuk urusan sehari-hari dilaksanakan oleh Datuk Patih atau Perdana Menteri. pada tahun 1473, sewaktu Raja Narasinga II yang bergelar Paduka Maulana Sri Sultan Alauddin Iskandarsyah Johan Zirullah Fil Alam (Sultan Indragiri IV), dia menetap di ibu kota kerajaan yang berlokasi di Pekan Tua sekarang.

Pada tahun 1815, dibawah Sultan Ibrahim, ibu kota kerajaan dipindahkan ke Rengat. dalam masa pemerintahan Sultan Ibrahim ini, Belanda mulai campur tangan terhadap kerajaan dengan mengangkat Sultan Muda yang berkedudukan di Peranap dengan batas wilayah ke Hilir sampai dengan batas Japura.

Selanjutnya, pada masa pemerintahan Sultan Isa, berdatanganlah orang – orang dari suku Banjar dan suku Bugis sebagai akibat kurang amannya daerah asal mereka. Khusus untuk suku Banjar, perpindahannya akibat dihapuskannya Kerajaan Banjar oleh Gubernement pada tahun 1859 sehingga terjadi peperangan sampai tahun 1863.
Masa penjajahan Belanda
Pejabat kolonial dan keluarganya di Indragiri Hilir

Dengan adanya tractaat Van Vrindchaap (perjanjian perdamaian dan persahabatan) tanggal 27 September 1938 antara Kerajaan Indragiri dengan Belanda, maka Kesultanan Indragiri menjadi Zelfbestuur. berdasarkan ketentuan tersebut, di wilayah Indragiri Hilir ditempatkan seorang Controlleur yang membawahi 6 daerah keamiran, yaitu:

Amir Tembilahan di Tembilahan.
Amir Batang Tuaka di Sungai Luar.
Amir Tempuling di Sungai Salak.
Amir Mandah dan Gaung di Khairiah Mandah.
Amir Enok di Enok.
Amir Reteh di Kotabaru.

Controlleur memegang wewenang semua jawatan, bahkan juga menjadi hakim di pengadilan wilayah ini sehingga Zelfbestuur Kerajaan Indragiri terus dipersempit sampai dengan masuknya Jepang tahun 1942.
Masa pendudukan Jepang

Balatentara Jepang memasuki Indragiri Hilir pada tanggal 31 Maret 1942 melalui Singapura terus ke Rengat. Tanggal 2 April 1942 Jepang menerima penyerahan tanpa syarat dari pihak Belanda yang waktu itu dibawah Controlleur K. Ehling. Sebelum tentara Jepang mendarat untuk pertama kalinya di daerah ini dikumandangkan lagu Indonesia Raya yang dipelopori oleh Ibnu Abbas.

Pada masa pendudukan Jepang ini Indragiri Hilir dikepalai oleh seorang Cun Cho yang berkedudukan di Tembilahan dengan membawahi 5 Ku Cho, yaitu:

Ku Cho Tembilahan dan Tempuling di Tembilahan.
Ku Cho Sungai Luar.
Ku Cho Enok.
Ku Cho Reteh.
Ku Cho Mandah.

Pemerintahan Jepang di Indragiri Hilir sampai bulan Oktober 1945 selama lebih kurang 3,5 tahun.
Periode setelah berdirinya Indonesia

Pada awal kemerdekaan Indonesia, Indragiri (Hulu dan Hilir) masih merupakan satu kabupaten. Kabupaten Indragiri ini terdiri atas 3 kewedanaan, yaitu Kewedanaan Kuantan Singingi dengan ibu kotanya Teluk Kuantan, Kewedanaan Indragiri Hulu dengan ibu kotanya Rengat dan Kewedanaan Indragiri Hilir dengan ibu kotanya Tembilahan.

Kewedanaan Indragiri Hilir membawahi 6 wilayah yaitu:

Wilayah Tempuling/Tembilahan.
Wilayah Enok.
Wilayah Gaung Anak Serka.
Wilayah Mandah/Kateman.
Wilayah Kuala Indragiri.
Wilayah Reteh

Perkembangan tata pemerintahan selanjutnya, menjadikan Indragiri Hilir dipecah menjadi dua kewedanaan masing-masing:
Kewedanaan Indragiri Hilir Utara

Ibu kotanya berada di Tembilahan, terbagi atas:

Kecamatan Tempuling.
Kecamatan Tembilahan.
Kecamatan Gaung Anak Serka.
Kecamatan Mandah.
Kecamatan Kateman.
Kecamatan Kuala Indragiri.

Kewedanaan Indragiri Hilir Selatan

Ibu kotanya berada di Enok, terbagi atas:

Kecamatan Enok.
Kecamatan Reteh.

Pemekaran Kabupaten Indragiri

Merasa persyaratan administrasinya terpenuhi maka masyarakat Indragiri Hilir memohon kepada Menteri Dalam Negeri melalui Gubernur Riau, agar Indragiri Hilir dimekarkan menjadi kabupaten Daerah Tingkat II yang berdiri sendiri (otonom).

Setelah melalui penelitian, baik oleh Gubernur maupun Departemen Dalam Negeri, maka pemekaran diawali dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Riau (Provinsi Riau) tanggal 27 April 1965 nomor 052/5/1965 sebagai Daerah Persiapan Kabupaten Indragiri Hilir.

Pada tanggal 14 Juni 1965 dikeluarkanlah Undang-undang nomor 6 tahun 1965 Lembaran Negara Republik Indonesia no. 49, maka Daerah Persiapan Kabupaten Indragiri Hilir resmi dimekarkan menjadi Kabupaten Daerah Tingkat II Indragiri Hilir (sekarang Kabupaten Indragiri Hilir) yang berdiri sendiri, yang pelaksanaannya terhitung tanggal 20 November 1965.
Daftar kecamatan

Batang Tuaka
Concong
Enok
Gaung
Gaung Anak Serka
Kateman
Kempas
Kemuning
Keritang
Kuala Indragiri
Mandah
Pelangiran
Pulau Burung
Reteh
Sungai Batang
Tanah Merah
Teluk Balengkong
Tembilahan
Tembilahan Hulu
Tempuling

Potensi daerah
Pendidikan

kabupaten ini memiliki lembaga pendidikan tinggi diantaranya Sekolah Tinggi Agama Islam Auliaurrasyidin Tembilahan, Universitas Islam Indragiri, dan Akbid Puri Husada Tembilahan.
Pertanian

Dengan potensi sumber daya alam yang berlimpah dan letak geografis yang sangat strategis, Indragiri Hilir terus memacu diri mengembangkan kawasannya menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi Riau dan pusat pertumbuhan kebudayaan ekonomi Riau dan Pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara.

Sebagai Kabupaten tumbuh dan berkembang pada gerbang selatan provinsi Riau yang bersebelah dan menjadi hinderland Malaysia dan Singapura, serta selangkah dari pusat pertumbuhan Batam dan Bintan, masuknya investor. Potensi sumber daya alam Indragiri Hilir harus dikelola industri-industri hilir yang bermanfaat bagi daerah dan masyarakat. Untuk itu pemerintah Kabupaten harus memprioritaskan pembangunan infrastruktur guna memudahkan hadirnya para investor lokal, regional bahkan intenasional.

Pemerintah Indragiri Hilir akan memberikan pelayanan terbaik yang diperlukan oleh calon penanam modal itu. Salah satu diantaranya adalah memberikan pelayanan terpadu satu pintu yang di kenal sebagai One Door Service. Dengan One Door Service calon investor akan mendapat pelayanan memuaskan, sejak dari informasi peluang bisnis. Sebagai daerah yang kaya akan sumber daya alam serta menyimpan berbagai potensi ekonomi, Indragiri Hilir menjanjikan banyak kemungkinan pada masa depan. Didukung letak geografis yang strategis serta ditunjang tersedianya berbagai infrastruktur dan kebijakan pemerintah yang positif daerah ini merupakan lahan investasi yang layak diperhitungkan dalam era ekonomi global.

Untuk menunjang percepatan pertumbuhan ekonomi dan mempermudah investasi, pemerintah daerah telah membangun berbagai infrastruktur terutama yang berkaitan dengan sektor pertanian.

Potensi lahan basah (pasang surut) untuk persawahan di Kabupaten Indragiri Hilir seluas ± 57.642 ha, yang belum dimanfaatkan seluas ± 23.965 ha dan yang sudah dimanfaatkan seluas ± 33.677 ha. Dengan produksi padi 127.369,48 GKG. Untuk potensi pengembangan lahan kering seluas ± 169.000 ha, yang belum dimanfaatkan seluas ± 84.648 ha dan yang telah dimanfaatkan

seluas ± 74.136 ha, dipergunakan untuk pengembangan palawija dengan luas areal ± 13.476 ha, dengan produksi 1.448 ton dan buah-buahan dengan luas ± 1.247 ha, dengan produksi 27.958,04 ton, sayur-sayuran dengan luas ± 1.247 ha, dengan produksi 1.448 ton dan buah-buahan dengan luas ± 5.320,80 ha, dengan produksi 82.105,38 ton.
Perkebunan

Kebun Kelapa identik dengan Indragiri Hilir dan Indragiri Hilir adalah sentra kebun kelapa paling luas di Indonesia, menjadi hamparan kebun kelapa dunia. Di sini pohon-pohon kelapa tumbuh dengan suburnya dari lahan-lahan yang semula hutan rawa-rawa.

Sebagai negara pemilik kebun kelapa terluas di dunia, Indonesia mempunyai perkebunan seluas 3,7 juta hektare yang tersebar di kepulauan kelapa. Wilayah Kateman atau yang lebih di kenal dengan sebagai Sungai Guntung adalah Kecamatan yang memiliki kebun kelapa paling luas disana. Kebun-kebun ini adalah milik PT. Pulau Sambu, sebuah perusahaan agrobisnis yang memiliki kebun sekaligus pabrik minyak kelapa di Indragiri Hilir.

Kebun kelapa disana dikelola secara profesional. Hamparan kebun itu bukan hanya subur, produktif dan dihandalkan, tetapi juga indah mengasyikan. Kebun Kelapa Guntung sudah menjadi objek wisata atau agrowisata yang luar biasa. Dan inilah kebun kelapa raksasa dan daya tarik wisata yang tiada tara. Kabarnya disekitar pantai akan dibuat badan jalan, sepanjang tepi kanal dan tanggul akan dapat dilalui kendaraan.

yang kedua adalah perkebunan kelapa sawit, indonesia merupakan penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia sebagian besar kelapa sawit indonesia berasal dari perkebunan di indragiri hilir, karena semakin murahnya harga kelapa (biasa) di indragiri hilir petani kelapa di inhil banyak yang beralih menjadi petani kelapa sawit hasilnya inhil sekarang menjadi daerah yang terkenal dengan kelapasa sawitnya

Panjang kanal disambung-sambung akan mencapai 32.000 kilometer Luar biasa! itulah potret sekilas Negeri Sejuta Kelapa di Negeri Seribu Parit ini.

Selain kelapa sebagai hasil bumi kabupaten ini, kelapas sawit juga menjadi sumber daya alam terdapat banyak di barat kabupaten ini seperti di kecamatan tempuling, enok, kempas jaya dan teluk kiambang salag satu desa penghasil sawit terbesar di kabupaten ini.
Peternakan

Potensi lahan yang dapat dikembangkan untuk usaha ternak pada sub sektor peternakan seluas ± 225.863 ha, dengan daya tampung ± 902.452 ekor dipergunakan untuk ternak besar (sapi). Adapun jumlah ternak besar saat ini ± 11.678 ekor dan ternak kecil (kambing dan domba) ± 30.862 ekor, sedangkan untuk kebutuhan daging di Kabupaten Indragiri Hilir ± 2.995.744 ton dan kebutuhan telur ± 1.671.054 kg.

Yang mampu dihasilkan usaha peternakan untuk daging ± 45% dan untuk telur ± 35.31%, maka peluang potensi pengembangan pasar lokal untuk daging dan telur sangat cukup terbuka.
Perikanan

Program kerjapembangunan perikanan di Kabupaten Indragiri Hilir telah mengacu pada 4 (empat)usaha pokok, yaitu intensifikasi, ekstensifikasi, diversifikasi dan rehabilitasi,serta terus meningkatkan peranan perusahaan swasta dalam dunia perikanan dalam rangka pemerataan dan peningkatan pendapatan nelayan/petani ikan melalui peningkatan produksi dan produktifitas usaha, memenuhi kebutuhan konsumen ikan dalam negeri, penyediaan bahan baku industri dan peningkatan ekspor. Disamping itu sekaligus dapat diarahkan untuk pemerataan kesempatan berusaha serta penyerapan tenaga kerja dengan tetap menjaga sumber daya dan lingkungan hidup perairan.

Mengacu kepada tujuanpembangunan perikanan Riau dengan memperhatikan kondisi dan potensi perikanan didaerah ini, maka program kerja pembangunan perikanan Indragiri Hilir dirumuskan sebagai berikut:

Peningkatan produksi dan produktifitas nelayan serta pengembangan usaha budidaya pertambakan dalam rangka peningkatan pendapatan.
Peningkatan institusi pemasaran dan pemerataan distribusi perikanan untuk mempermudah suplai ikan bagi masyarakat yang bermukim di pedalaman.
Peningkatan ekspor sekaligus menekan impor komoditas perikanan.
Pemanfataan seefesien mungkin serta pemeliharaan kelestarian sumber daya dan lingkungan perairan.
Meningkatkan peranan sub sektor perikanan dalam kegiatan dan pembangunan pedesaan terutama dalam hal menciptakan peluang bekerja dan berusaha.

Evaluasi pelaksanaan tugas sub sektor perikanan Indragiri Hilir disusun berdasarkan realisasi kegiatan yang dilaksanakan oleh Dinas Perikanan Indragiri Hilir serta kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh nelayan/petani ikan di daerah ini sehingga akan tergambarpencapaian sasaran target berdasarkan yang telah diprogramkan.

Luas lahan potensial untuk usaha pengembangan budidaya air payau (tambak) sekitar 13.000 hektare, sedangkan untuk budidaya air tawar (kolam) sekitar 1.657 Ha. Jumlah penduduk yang berusaha di bidang perikanan baik secara langsung maupun tidak langsung/sambilan.
Pertambangan

Batubara
Granit
Pasir
Pasir Sungai (Pasir Timbun)
Pasir Kuarsa
Tanah Liat
Kaolin
Gambut
Tanah Urug

Baru-baru ini ditemukan sumur migas baru di Inhil (sekitar perbatasan Inhil-Inhu).

Mari kita bersama meningkatkan kesadaran kita - Mulailah berpikir cerdas, Kita semua beragama !!! Agama bukan identitas...jadikanlah agama untuk keluar dari kebodohan

Tulisan di blog ini mungkin sangat ngawur tapi mungkin juga benar. Merdekakan pikiran anda, sentuh hati nurani anda. Yang ada tinggal KASUNYATAN SEJATI

Zoemalang's community at www. zoemalang.wordpress.com

ujung malang adalah Sebuah desa yang hilang terganti dengan ujung harapan

YoYo Games Blog Feed

Tulisan di blog ini mungkin sangat ngawur tapi mungkin juga benar. Merdekakan pikiran anda, sentuh hati nurani anda. Yang ada tinggal KASUNYATAN SEJATI

Dealer Termurah

Menjual Segala Jenis Motor Baru Di Indonesia Cash Maupun Kredit

%d blogger menyukai ini: