Tahun Baru 2017, Hentikan Sebar Kebencian di Sosial Media


Terkadang saya jujur saja malas kalau membuat tulisan dengan tema beginian.

Namun karena hampir setiap hari di timline medsos saya masih saja banyak muncul orang-orang yang sebarkan kebencian melalui sosial media, maka sebisa dan semampu saya akan terus mengkampanyekan supaya mereka yang masih sibuk saling mencela, dan menyebarkan kebencian di sosial media untuk supaya berhenti.

Hal tersebut dikarenakan bahaya menyebarkan kebencian apalagi memelihara kebencian dalam diri kita, itu adalah sesuatu yang sangat berbahaya.

Apakah kalian yang mash suka menyebarkan kebencian dan saling mencaci-maki di sosial media tidak punya rasa malu?

Setidaknya jika tidak malu untuk diri sendiri, cobalah sekali-kali berfikir seandainya kita meninggal tapi isi akun sosial media kita hanya dipenuhi sahre berita-berita hoax dan kebencian, apalagi yang itu berbau fitnah dan tidak benar, bagaimana pertanggungjawaban kita dihadapan Tuhan?

Saya pikir tahun baru 2017 ini harus dijadikan waktu yang tepat untuk memperbaiki diri. Lagian tidak ada efect positif dari menyebarkan kebencian dan mencaci-maki melalui sosial media.

Yang terjadi justru terlalu banyak efect negatif saat kita menyebarkan kebencian dan saling caci-maki di sosial media.

Sudah berapa banyak kisah orang-orang yang sebarkan kebecian, fitnah, yang kemudian berakhir di penjara. Tidak hanya merasakan hukuman di penjara, namun tentunya rasa malu karena akhirnya ketahuan juga atas erbuatan buruknya di sosial media.

Emangnya tidak malu, setiap hari sebarkan kebencian dan menghina orang lain tapi kehidupan kita tidak lebih baik dari yang kita hina..
Emangnya tidak malu, setiap hari sebarkan kebencian dan menghina orang lain tapi kehidupan kita tidak lebih baik dari yang kita hina..
Jika saya bisa memberikan saran, jika kemarin untuk anda yang masih sibuk menyebarkan kebencian, fitnah dan tulisan hoax, yuk mulai tahun 2017 ini, kebiasan buruk tersebut diganti.

Tentunya diganti dengan perilaku yang baik, mislanya dengan menyebarkan kisah-kisah inspirasi yang membawa pembacanya termotivasi sesuatu yang positif.

Saya pikir itu teramatsangat jauh lebih baik daripada menyebarkan fitnah, kebencian, dan informasi-informasi negatif di sosial media.

Semoga di tahun 2017 yang masih baru ini, semakin banyak orang menjadi orang baik sehingga di sosial media akan tersebar informasi-informasi yang positif dan memberikan banyak manfaat bagi para netizen itu sendiri.

Semoga!

Selamat Tahun Baru 2017!

Seserius Inikah Orang Menikmati Sinetron? Sampai Ribut Gitu?


Sempat heran lihat status orang itu yang berduka karena Boy meninggal, terus ada yang nyetatus juga buat Reva sabar ya, dll. Ini tuh apa sih? Lalu pagi 27 Desember 2016 buka facebook ada berita seperti diatas! Oalah berarti yang nyetatus-nyetatus kemarin itu berkaitan dengan sinetron itu gitu? *astagah…. *tepok dengkul…

Jadi Stefan William pemeran Boy kan keluar dari sinetron AJ lalu ceritanya dibikin Boy mati karena waktu naik motor sambil ngalamun terus kecelakaan. Tapi cerita itu diprotes karena dianggap sadis gitu?

Haduh, jadi heran loh apakah seserius ini ya orang menikmati sinetron? toh itu cuma cerita fiktif kan. Menurut versi ketak-ketik sinetron AJ gak mendidik karena dampaknya sangat buruk bagi anak-anak dan meski gak pernah nonton tapi suka deh dengan ending cerita Boy mati itu, karena seenggaknya ada pelajarannya yakni kalo berkendara gak fokus bisa celaka! iya to?

Dan konyolnya itu yang demikian sampai dibikin berita, benar-benar serius nih…hahaha…

Tapi ya memang begitulah adanya, para pecinta sinetron sejati memang seserius itu ketika menikmati sinetron. Seolah mereka larut dalam ceritanya. Kalau seperti itu berarti ceritanya yang bagus karena berhasil membius penonton atau memang penontonnya yang gampang terbius? sepertinya memang penontonnya yang gampang terbius deh! Karena di Indonesia ini sinetron apapun bahkan dinilai tak mendidik pun tetep laku alias ada aja yang nonton.

Salam Ketak-Ketik,
dr Pojokan

Inilah Akibat Netizen Acuh Biarkan Hoax dan Fitnah Kuasai Sosial Media


Tentunya nasihat orang tua kepada anaknya pasti selalu berharap memiliki anak yang dalam hidupnya selalu melakukan kebaikan.

Sebailknya, orang tua kita juga pasti selalu setuju dan berpesan supaya jangan sampai memiliki anak yang justru jadi sumber masalah, menyebarkan keburukan, sebar fitnah, dan hal buruk sejenis lainya.

Anda bisa membayangkan, jika setiap orang tua memiliki keinginan yang sama seperti itu, artinya jika kita bicara secara luas bisa disimpulkan bahwa setiap kita sebenarnya pasti menginginkan hal yang baik untuk kita.

Bahkan mereka yang setiap hari sedang sibuk menyebarkan kebencian, menyebarkan fitnah, dan menyebarkan keburukan lainya di internet, saya pastikan jika dirinya ditanya pasti dirinya tidak ingin menerima fitnah dan keburukan sebagaimana yang dia lakukan.

Anda mungkin akan bilang itu aneh, tapi faktanya memang demikian.

Banyaknya informasi hoax, fitnah dan berbagai informasi negatif yang banyak tersebar di internet, hal itu bukan semata-mata 100% kesalahan dari mereka yang menyebarkan keburukan di internet.

tentunya ada banyak faktor dan penyebab dari banyaknya informasi hoax maupun informasi negatif yang muncul dan tersebar di internet. Salah satunya menurut saya karena hal tersebut tidak diimbangi oleh orang-orang baik yang seharusnya juga harus aktif menyebarkan ‘virus-virus kebaikan” melalui internet.

Saya Ibaratkan begini,

Jika ada 10 orang yang tidak baik menyebarkan informasi hoax dan fitnah di internet, kemudian 10 orang-orang baik tidak ikut membantu SHARE dan mengkalarifikasi dan membenarkan atas informasi hoax dan fitnah tersebut, maka itu artinya 10 informasi hoax dan fitnah yang disebarkan oleh orang-orang baik akan terkesan [dianggap] sesuatu yang benar [bukan hoax dan bukan fitnah].

Saya harap anda memahami maksud saya atas penjelasan diatas.

Dan menurut saya, seperti itulah yang sepertinya kini terjadi di internet khususnya di sosial media kita. Dimana informasi hoax dan fitnah yang tidak benar menjadi terkesan menjadi informasi yang benar bahkan dishare dan dilike di berbagai sosial media.

Untuk mengatasi kondisi ini, maka diperlukan kepedulian orang-orang [netizen] yang mengaku orang baik, agar ikut aktif juga terlibat untuk menyebarkan berjuta kebaikan melalui internet [sosial media].

Tujuanya tentu supaya orang-orang [netizen] yang baik, mampu MENDOMINASI penyebaran informasi-informasi yang positif beredar di internet [sosial media].

Jika hal tersebut mampu dilakukan, maka masyarakat luas akan mampu menerima dan lebih membedakan mana informasi hoax dan mana yang bukan hoax.

Namun sayangnya, harapan tersebut masih dianggap jauh dari ahrapan, karena faktanya terkadang mereka orang-orang [netizen] yang mengaku sebagai orang yang baik justru terkadang acuh dan tidak mau peduli atas kondisi ini.

Akibatnya bisa ditebak, penyebar-penyebar hoax dan fitnah ataupun berita palsu seringkali masih saja jadi dominan beredar di sosial media.

Jika hal tersebut tidak terus berlangsung dan terjadi, maka media nasional dan netizen harus berperan aktif untuk melawan HOAK dan fitnah.

Caranya,

Jika ada berita atau informasi hoax dan fitnah, silahkan telusuri kebenaranya, jika sudah tahu informasi yang benar, segera anda sebarkan informasi yang benar tersebut, begitu seterusnya.

Jika setiap orang [netizen] peduli dan mau melakukan ini, maka dengan sendirinya para penyebar hoax dan fitnah itu akan malu sendiri karena telah menyebarkan informasi hoak dan fitnah yang tidak benar.

Selain itu juga netizen harus aktif menyebarkan tulisan-tulisan bermanfaat di sosial media agar semakin banyak orang menularkan kebaikan.

Sebagaimana keburukan bisa ditularkan, maka demikian juga dengan kebaikan yang juga bisa menular jika terus disebarkan.

Hacker Cantik Rusia Ini Bikin AS Ketar-ketir


Amerika Serikat menuding para hacker asal Rusia, yang didukung oleh pemerintahnya, mempengaruhi hasil Pilpres AS yang akhirnya dimenangkan oleh Donald Trump. Salah satunya diduga adalah hacker cantik yang satu ini.

Dikutip detikINET dari DailyMail, Namanya Alisa Shevchenko. Dia bekerja di perusahaan sekuriti Rusia bernama ZOR. Alisa dan ZOR dinyatakan membantu intelijen Rusia dalam melakukan aksi di dunia cyber melawan AS. Akibatnya, ZOR pun masuk dalam perusahaan yang kena sanksi dari pemerintah AS.

Namun ketika dikonfirmasi, Alisa memberi sangkalan dan merasa dirugikan. Dia menilai pemerintah AS telah salah meneliti fakta atau telah dibodohi. “Sanksi itu membuat aku jadi diblok dari pasar sekuriti besar,” sebutnya yang dikutip detikINET dari Guardian.

Dimasukkannya ZOR dalam daftar sanksi AS memang cukup mengejutkan. Nama mereka masuk bersama pejabat top di lembaga intelijen militer Rusia GRU serta dua hacker kriminal. ZOR dikatakan membantu GRU dalam melancarkan aksinya.

Alisa mengaku marah perusahaannya masuk dalam daftar sanksi tersebut. Dia juga membantah bekerja untuk pemerintah Rusia atau kalaupun benar, tidak diberitahu soal itu.

Dalam wawancaranya dengan Guardian, Alisa berkomunikasi melalui email terenskripsi dari wilayah Thailand, di dekat ibu kota Bangkok. Dia disebut memang suka berpetualang.

Dia menyatakan otoritas AS bersalah atau tidak berkompeten menyimpulkan fakta, atau ditipu sehingga menjadikan perusahaannya masuk daftar hitam. Bisa saja yang melakukannya adalah kompetitor. Atau namanya diungkap sebagai kambing hitam untuk menutupi pelaku sesungguhnya.

“Seorang hacker wanita muda dan perusahaannya yang malang sepertinya adalah pilihan yang sempurna. Aku tidak berusaha sembunyi, aku banyak bepergian dan aku orangnya komunikatif. Lebih penting lagi aku tak punya banyak uang, power atau koneksi,” kata dia.

AS sendiri menuding hacker asal Rusia membocorkan beragam informasi sensitif dari Partai Demokrat yang berujung pada kekalahan Hillary Clinton. Namun presiden Rusia Vladimir Putin berulangkali membantah tudingan tersebut.

Pengamat sekuriti sendiri menilai bukan tidak mungkin Alisa terlibat karena adalah hal yang umum pemerintah Rusia meminta bantuan hacker. “Hampir setiap orang di komunitas hacker Rusia pernah melakukan pekerjaan untuk pemerintah. Dan Alisa cukup dikenal dalam komunitas,” ujar Dave Aitel dari perusahaan sekuriti Aitel.

Daftar Lengkap 50 Orang Terkaya Indonesia


Kekayaan setengah dari 50 orang terkaya di Indonesia naik sepanjang tahun ini, berkat kondisi ekonomi yang dinilai cukup baik.

Nilai kekayaan dari 50 orang terkaya di Indonesia di tahun ini adalah US$ 99 miliar atau Rp 1.336 triliun, naik dari tahun lalu US$ 92 miliar atau Rp 1.242 triliun.

Berikut daftar 50 orang terkaya Indonesia versi Forbes, seperti dikutip, Senin (5/12/2016).

1. R. Budi dan Michael Hartono (Pemilik Group Djarum) harta US$ 17,1 miliar atau sekitar Rp 230 triliun
2. Susilo Wonowidjojo dan Keluarga (Pemilik Gudang Garam) harta US$ 7,1 miliar, atau sekitar Rp 95,8 triliun
3. Anthoni Salim dan Keluarga (Pemilik Salim Group), harta US$ 5,7 miliar, atau sekitar Rp 76,9 triliun
4. Eka Tjipta Widjaja dan Keluarga (Pemilik Sinar Mas), harta U$ 5,6 miliar, atau sekitar Rp 75,6 triliun
5. Sri Prakash Lohia (Pemilik Indorama), harta US$ 5 miliar, atau sekitar Rp 67,5 triliun
6. Chairul Tanjung (Pemilik CT Corp), harta US$ 4,9 miliar atau sekitar Rp 66,1 triliun
7. Boenjamin Setiawan dan Keluarga (Pemilik Kalbe Farma), harta US$ 3,3 miliar atau sekitar Rp 44,5 triliun
8. Tahir (Pemilik Mayapada Group) harta US$ 3,1 miliar atau sekitar Rp 41,8 triliun
9. Murdaya Poo (Pemilik JIExpo Kemayoran dan Central Cipta Murdaya Group), harta US$ 2,1 miliar atau sekitar Rp 28,3 triliun
10. Mochtar Riady dan Keluarga (Pemilik Lippo Group), harta US$ 1,9 miliar atau sekitar Rp 25,6 triliun
11. Theodore Rachmat (Pemilik Adaro Group), harta US$ 1,85 miliar atau sekitar Rp 24,9 triliun
12. Putera Sampoerna dan Keluarga, harta US$ 1,8 miliar atau sekitar Rp 24,3 triliun
13. Eddy Katuari dan Keluarga (Pemilik Calbee-Wings), harta US$ 1,73 miliar atau sekitar Rp 23,3 triliun
14. Peter Sondakh (Pemilik Rajawali Group), harta US$ 1,7 miliar atau sekitar Rp 22,9 triliun
15. Ciputra dan Keluarga (Pemilik Ciputra Group), harta US$ 1,6 miliar atau sekitar Rp 21,6 triliun
16. Sukanto Tanoto (Pemilik Royal Golden Eagle), harta US$ 1,5 miliar atau sekitar Rp 20,2 triliun
17. Kusnan dan Rusdi Kirana (Pemilik Lion Group), harta US$ 1,45 miliar atau sekitar Rp 19,5 triliun
18. Martua Sitorus (Pendiri Wilmar International), harta US$ 1,42 miliar atau sekitar Rp 19,1 triliun
19. Eddy Kusnadi Sariaatmadja (Pemilik Elang Mahkota Teknologi), harta US$ 1,4 miliar atau sekitar Rp 18,9 triliun
20. Ciliandra Fangiono (Pemilik First Resources), harta US$ 1,38 miliar atau sekitar Rp 18,6 triliun
21. Kuncoro Wibowo (Pemilik Ace Hardware), harta US$ 1,35 miliar atau sekitar Rp 18,2 triliun
22. Soegoarto Adikoesoemo (Pemilik AKR Corporindo), harta US$ 1,3 miliar atau sekitar Rp 17,5 triliun
23. Djoko Susanto (Pemilik Alfamart), harta US$ 1,28 miliar atau sekitar Rp 17,2 triliun
24. Alexander Tedja (Pemilik Pakuwon Jati), harta US$ 1,27 miliar atau sekitar Rp 17,1 triliun
25. Prajogo Pangestu (Pemilik Barito Pacific), harta US$ 1,26 miliar atau sekitar Rp 17 triliun
26. Eka Tjandranegara (Pemilik Mulia Group), harta US$ 1,25 miliar atau sekitar Rp 16,8 triliun
27. Bachtiar Karim (Pemilik Musim Mas), harta US$ 1,2 miliar atau sekitar Rp 16,2 triliun
28. Husodo Angkosubroto (Pemilik Great Giant Pineapple), harta US$ 1,19 miliar, atau sekitar Rp 16 triliun
29. Hary Tanoesoedibjo (Pemilik MNC Group), harta US$ 1,15 miliar atau sekitar Rp 15,5 triliun
30. Harjo Sutanto (Pemilik Wings Group), harta US$ 1,13 miliar atau sekitar Rp 15,2 triliun
31. Husain Djojonegoro (Pemilik Orang Tua Group), harta US$ 1,1 miliar atau sekitar Rp 14,8 triliun
32. Garibaldi Thohir (Presiden Direktur Adaro Energy), harta US$ 1,05 miliar atau sekitar Rp 14,1 triliun
33. Benny Subianto, harta US$ 950 juta atau sekitar Rp 12,8 triliun
34. Aksa Mahmud (Pemilik Bosowa Corporindo), harta US$ 860 juta atau sekitar Rp 11,6 triliun
35. Jogi Hendra Atmadja (Pemilik Mayora Group), harta US$ 850 juta atau sekitar Rp 11,4 triliun
36. Low Tuck Kwong (Pemilik Bayan Resources), harta US$ 840 juta atau sekitar Rp 11,3 triliun
37. Abdul Rasyid (Pemilik Sawit Sumbermas Sarana), harta US$ 810 juta atau sekitar Rp 10,9 triliun
38. Achmad Hamami (Pemilik Mahadana Dasha Utama), harta US$ 800 juta atau sekitar Rp 10,8 triliun
39. Edwin Soeryadjaya, harta US$ 780 juta atau sekitar Rp 10,5 triliun
40. Kartini Muljadi, harta US$ 760 juta atau sekitar Rp 10,2 triliun
41. Hashim Djojohadikusumo, harta US$ 750 juta atau sekitar Rp 10,1 triliun
42. Santosa Handojo (Pemilik Japfa), harta US$ 740 juta atau sekitar Rp 9,9 triliun
43. Lim Hariyanto Wijaya Sarwono (Pemilik Bumitama Agri), harta US$ 700 juta atau sekitar Rp 9,4 triliun
44. Sudhamek (Pemilik GarudaFood), harta US$ 690 juta atau sekitar Rp 9,3 triliun
45. Sjamsul Nursalim (Pemilik Gajah Tunggal), harta US$ 640 juta atau sekitar Rp 8,6 triliun
46. Osbert Lyman (Pemilik Lyman Group), harta US$ 600 juta atau sekitar Rp 8,1 triliun
47. Irwan Hidayat (Pemilik Sido Muncul), harta US$ 530 juta atau sekitar Rp 7,1 triliiun
48. Arifin Panigoro (Pemilik Medco Energi Internasional), harta US$ 475 juta atau sekitar Rp 6,4 triliun
49. Purnomo Prawiro (Pemilik Blue Bird), harta US$ 470 juta atau sekitar Rp 6,3 triliun
50. George dan Sjakon Tahija (Pemilik Austindo Nuasantara Jaya), harta US$ 420 juta atau sekitar Rp 5,6 triliun (wdl/ang)

Ujian Sesungguhnya


Setelah seminggu, akhirnya ruang keluarga ini kembali dipenuhi seluruh anggota keluarga. Suami, aku dan ketiga anakku duduk bersama menikmati sepiring pisang goreng bersalut coklat dan keju. Abang berbaring di sofa bed dengan wajah yang masih belum sepenuhnya segar seperti biasa, Kakak duduk menonton sambil memainkan rambut ikal mayangnya. Sementara Ade bergelayutan di pundak Ayahnya.

Pemandangan ini hilang selama seminggu. Kami harus bergantian menjaga Abang yang sakit keras dan harus dirawat. Hanya berdua tanpa ingin merepotkan saudara yang lain, kami menjalani ujian itu dengan ikhlas.

Tapi… ada segelintir rasa kesal menyelimuti kalbuku sejak putra kami pulang. Bukan karena amburadulnya agenda kerjaku atau bergunungnya pekerjaan di rumah karena kami harus meminggirkan semua urusan demi Abang. Ini hal lain dan bagiku sulit sekali dilupakan.

“Mak, bbm tuh… tadi juga ada yang nelpon pas Mama di dapur,” kata Ade memberitahuku.

Aku hanya tersenyum sekilas, mengambil bbm, membalas dengan satu kata pendek lalu mematikan ponselku.

“Kok dimatikan?” tanya suamiku heran.

“Males! Orang-orang yang hanya ada perlunya saja. Males ngejawabnya!” kataku sambil memandang ke arah televisi. Lebih baik menonton pertandingan bola yang entah siapa pemenangnya, daripada membahas hal itu.

Suamiku diam, tapi aku tahu dia memandangiku dari belakang. Ada sesuatu di hatinya, tapi ia tak mau menyampaikan. Mungkin karena anak-anak sedang berada di dekat kami. Sudahlah, aku tahu yang ia mau katakan. Hanya saja kekesalanku terlalu dalam saat ini.

***

Malam hari, saat aku tengah menyiapkan materi untuk karya ilmiah, suamiku menyentuh pundakku.

“Mak, kenapa menghindari telepon temanmu?” tanyanya lembut sambil duduk di tepi tempat tidur.

Tanpa mengangkat kepala dari materi yang sedang kuperiksa, aku menjawab, “Males ah! Mereka nelepon paling juga nanya soal ujian atau urusan kerja aja. Cuma kalau ada perlu aja. Gak penting!”

“Tuh, tuh! Ngomongnya gitu lagi!” kata Ayah sembari tersenyum tipis.

Aku jadi tak enak mendengar tegurannya itu. Yah, ini bukan salahnya. Tapi aku memang tak suka membahas soal mereka.

“Ayah nyuruh Mak kuliah bukan hanya untuk belajar dan jadi sarjana. Tapi belajar jadi seseorang yang berkarakter, termasuk belajar memahami orang lain, belajar membantu orang lain.”

Kuputar tubuhku. Kutatap wajah lelaki yang selalu tersenyum dengan sabar itu. “Mas… selama tiga tahun ini, apa yang tidak kulakukan untuk mereka? Aku membuat mereka saling mengenal dan saling membantu, aku ajari mereka ribuan cara untuk belajar di tengah kesibukan mereka, aku pinjemkan buku-bukuku, aku sisihkan waktu mengajari mereka, aku jelaskan berkali-kali sampai mereka mengerti, aku pinjami catatanku, aku temani mereka saat sedih, aku bujuk saat mereka mau berhenti, aku berusaha selalu ada untuk mereka. Begitu juga teman-teman di kantor. Aku yang pilih mereka, aku yang ngajarin mereka, aku juga yang rela gantiin mereka jagain anak-anaknya waktu mereka kesulitan. Mas ingat kan waktu istrinya Darryl dirawat? Atau waktu Nia operasi usus buntu? Mas gak lupa kan waktu Mbak Titi pergi naik haji dan ibunya udah terlalu tua buat ngurus anak-anaknya? Aku bahkan gak pernah absen jenguk mereka kalau ada yang sakit atau dirawat. Padahal jadwalku lebih padat dari mereka.” Airmataku mulai menggantung di pelupuk mata. Teringat saat-saat aku berusaha membantu teman-temanku. Sama sekali tak ada keinginan lain selain tulus membantu mereka. Aku tahu mereka jauh dari keluarga, sepertiku.

“Tapi… kemarin anak kita di rumah sakit selama seminggu, bahkan lewat bbm atau telepon saja mereka tidak bisa mengucapkan doa untuknya. Sekarang setelah mereka perlu bantuan, baru aku ditelpon. Aku masih bisa maafin waktu mereka ngeledek aku di belakang aku dan memilih diam. Mungkin itu salahku, mungkin aku memang bersalah sama mereka. Beda kalau ini menyangkut keluarga. Mas tahu kan keluarga adalah segalanya buatku. Cukup ya Mas, jangan bahas lagi! Aku pengen konsen ngurus kuliahku dan kerjaanku sendiri aja, tidak ada lagi bantu-bantu orang lain!” ujarku panjang lebar. Kalau aku sudah menggunakan panggilan ‘Mas’ pada Ayah, berarti itu saatnya aku benar-benar sedang kesal.

Aku kembali memandangi tulisan yang baru kucetak dan berusaha mengembalikan konsentrasiku pada kertas-kertas itu. Tapi, aku kehilangan fokus. Aku langsung teringat hari-hari berat yang kulalui bulan-bulan ini. Ayah mertuaku baru berpulang ke Rahmatullah, setelahnya aku dirawat dan tak sampai seminggu, putraku dan adik iparku yang masuk rumah sakit bersamaan. Berat sekali menghadapi minggu-minggu ini, apalagi di tengah kesibukanku menjelang tahun terakhir di kampus. Airmataku kembali mengalir, Lepas sudah, ini benar-benar tak tertahankan. Terkenang kembali perasaanku yang tak karuan saat melalui ujian berat ini.

“Tapi… mereka mungkin tidak tahu. Mereka itu kan masih muda. Usianya saja kurang lebih dengan anak kita. Wajar kalau mereka belum terlalu paham etika sopan santun.”

Aku kembali berbalik, “Halllooo, Ayah! Mereka ini sudah kuliah dan bekerja loh! Sudah lewat dari angka 17, sudah dewasa, sudah tahu etika pergaulan, sudah bekerja dan bahkan punya anak. Bagaimana bisa Ayah bilang mereka itu anak-anak? Seusia mereka, aku sudah kerja dan sudah hidup sendiri!”

Suami tersenyum lagi. “Sudah kerja, siap menikah atau sudah punya anak belum tentu dewasa pikirannya, Mak. Berada di usia yang sama pun tidak sama bagi setiap orang. Lagian, umur 19 tahun saat Mama ketemu Ayah rasanya tidak sedewasa itu deh…”

Lagi-lagi Ayah memang benar. Sampai sekarangpun aku sendiri merasa belum sedewasa usiaku yang hampir menjelang empat puluh tahun. Dan ketidakdewasaanku itulah yang membuatku tak mau kalah saat berdebat seperti sekarang.

“Tapi, Ayah sendiri gimana? Ada dari orang-orang yang katanya sama seperti adik-adikmu itu menelepon atau mengirim doa? Waktu Bapak meninggal, ada dia datang? Waktu anak kita sakit keras, ada nelepon? Padahal waktu dia datang ke sini minta bantuan buru-buru Ayah sampe ngorbanin uang belanja untuk rumah supaya bisa bantuin. Sekarang apa dia inget barang sekilas?”

“Cukuplah adik-adik kita saja yang menelpon dan datang…” canda suamiku.

Aku tertawa miris. “Maksudku bukan adik kandung Mas, Bukan mereka. Jujur ya yah, selama lima tahun ini, aku tak pernah share sekalipun berita duka keluarga kita. Kenapa? Karena memang belum waktunya. Aku sakit, Ayah sakit, anak-anak sakit. Tak pernah sekalipun aku infoin. Tapi sekali ini… karena aku ingin tahu aslinya teman-temanku dan keluarga jauh kita. Buat setiap orangtua, anaknya adalah segalanya. Aku ingat Ayah bilang, ujian inilah yang bisa membuat kita memfilter keluarga dan teman terbaik. Dan aku memang merasakannya yah… ujian yang begitu banyak belakangan ini benar-benar kasih sayang Allah buatku.”

Aku menghela nafas. Berusaha menahan diri. Kuhembuskan napas perlahan sekali lagi. Sesak di dadaku mulai mereda. “Andaikan mereka datang, atau setidaknya bertanya saja kabar anak kita, aku pasti akan bantu. Ayah tahu kan kalo aku tetap kerja dan masih belajar saat nungguin Abang, mungkin kalo mereka datang saat itu, aku langsung bantu mereka. Trus kalo saja orang yang butuh kerja itu datang, aku sudah siapin kartu nama temenku yang sudah berulang kali memintaku merekomendasi orang. Andaikan mereka menjaga silaturahmi, apalagi di saat kita lagi begini, pasti mereka dapet rezeki kok. Rasain deh sekarang! Bodo amat dah! Malah kalo bisa tuh tagih cepet utangnya, Yah! Biar kapok!”

Kali ini suamiku mendekat dan menekan kepalaku dengan sayang. Tanda kalau ia ingin aku mendengarkannya baik-baik. “Tapi ujian sesungguhnya bukan saat anak kita sakit, Mak. Saat inilah ujianmu dan saya yang sebenarnya.”

Aku mendongak. Memandangi mata sipitnya yang selalu penuh cinta itu. “Kok sekarang ujiannya?”

“Kalau anak sakit, sudah otomatis orangtuanya akan melakukan segalanya. Apalagi Mak, yang Ayah tahu pasti sangat sayang sama anak-anak. Lihat aja selama seminggu ini, adakah Mama mengeluh cape atau lelah harus mengurus anak remaja yang seperti bayi lagi itu? Enggak kan. Tidur hanya 2-3 jam, Mak tetap segar dan semangat ngurus anak kita. Ayah sendiri saja ngerasa cape banget, tapi malah Mak yang nyuruh Ayah sabar sabar terus.”

Suamiku kembali menepuk bahuku. “Waktu kita muter-muter nyari rumah sakit untuk Bapak. Emak juga yang berusaha keras menyabarkan Ayah, dan adik-adik. Emak gak keliatan sedang diuji. Emak justru ikhlas biarin Ayah ngurus Bapak tanpa minta ini itu. Jadi justru saat-saat itu, buat Ayah dan Emak bukanlah ujian yang sesungguhnya.”

Tentu saja, aku sangat sayang pada putraku satu-satunya itu. Tentu aku ikhlas memberikan apapun asal dia kembali sehat. Tak ada pengorbanan dalam kamusku sebagai ibu, hanya ada kewajiban untuk memberikan yang terbaik baginya. Begitupun saat mertuaku sakit keras. Tak mungkin aku protes melihat suamiku mengurusnya. Ia putranya dan mungkin ini kesempatan langka untuknya. Aku malah ingin Ayah bisa mengurus bapaknya lebih lama andaikan waktu tak memutuskannya.

“Justru saat inilah, kita harus benar-benar ikhlas memaafkan mereka sekalipun mereka tidak pernah minta maaf. Caranya yah tetap lakukan seperti yang biasa Mak lakukan. Tetaplah jadi teman yang baik untuk mereka, atau saudari yang baik, apapun balasan yang mereka lakukan pada Mak. Tak perlu berharap mereka akan melakukan hal yang sama pada kita atau anak-anak. Biar Allah yang balas perbuatan baik kita. Allah SWT itu selalu ada di dekat orang-orang yang bersabar loh, Mak. Lagian apa Mak melakukan semuanya karena pamrih?”

Kali ini aku tidak menjawab dan hanya bisa diam. Mencerna ucapan suamiku yang kini sudah naik ke atas mengecek anak-anak di kamarnya. Membiarkanku berpikir sendiri, memahami setiap kata yang tadi diucapkannya.

Hanya saja, aku masih merasa sangat sulit melakukannya. Suamiku benar, ini memang ujian yang berat. Tapi aku sedang berusaha dan aku berharap waktu membantuku menyelesaikan ujian ini.

Kuambil ponselku, kunyalakan kembali. Tak lama, suara denting pesan-pesan masuk mulai terdengar. Kulihat satu persatu… benar, ada pertanyaan tentang kampus, tentang kantor bahkan tentang sekolah, tapi juga ada yang bertanya tentang putraku. Satu-satu mulai aku baca dan jawab dengan singkat. Aku belum sepenuhnya bisa menghilangkan rasa kesal itu dari hatiku. Tapi aku berusaha… meski sakit itu tetap sangat terasa sampai kini.

Aku memang memilih untuk mengikuti kata Ayah. Dia benar. Ketika membantu, ikhlaskan dan anggap tak pernah terjadi. Kalau mereka ingat, aku bersyukur, tapi kalau tidak biarlah. Itu bukan lagi urusanku. Itu urusannya. Hanya saja aku bukanlah orang yang sempurna. Pelajaran besar ini menjadikanku lebih berhati-hati memilih orang-orang yang kubantu. Bukan karena tak bisa seikhlas dulu, aku hanya ingin menjaga hati dan tingkahku sendiri. Jangan sampai justru nanti memancing marah dan kesalku seperti sekarang. Aku belum bisa seperti Ayah, yang dengan ringan melupakan perlakuan buruk orang padanya. Mungkin nanti… perlahan-lahan… Ini memang benar-benar ujian sesungguhnya.

– See more at: http://bundaiin.blogdetik.com/2017/01/04/ujian-sesungguhnya#sthash.EBJJUiJg.dpuf

Jeratan Setan Kredit


hasil copas http://bundaiin.blogdetik.com/2017/01/09/jeratan-setan-kredit?_ga=1.152068537.162598605.1482976163

Beberapa hari lalu, di hari kelima awal tahun ini, saya menemui teman-teman di kantor mereka. Sebenarnya tujuan utama datang ke kantor adalah meeting dua mingguan yang rutin diadakan untuk seluruh freelancer. Tapi setelah beberapa bulan, saya jadi akrab dengan para karyawan tetap di kantor ini. Maka tiap ke kantor ini, saya selalu menyapa mereka. Mereka telah banyak membantu saya, tak hanya urusan pekerjaan tapi juga beberapa urusan pribadi.

Saat mengobrol dengan Mbak Riana di boothnya, salah satu karyawan di bagian Marketing, tak sengaja saya melihat lembaran kertas tertempel di dinding tepat di depan meja kerjanya itu. Kertas itu bertulis “Resolusi 2017 Riana” lengkap dengan daftar singkat.

Segera saya menemukan cara menggoda Mbak Riana, dengan daftar singkat itu. Ia hanya tersenyum-senyum dan membiarkan saya membaca sambil sesekali bercanda ringan.

Tapi ada satu resolusinya yang menarik buat saya berbunyi, “Melunasi semua kartu kreditku!”

Katanya, Resolusi itu memang sangat sederhana, tapi sangat sulit melakukannya hingga tuntas. Jadi menurut Mbak Riana, ia sengaja menjadikannya salah satu resolusinya. Agar ia ingat selalu dan ia bisa terbebas dari semua kebiasaan berhutang dengan kartu kredit itu.

“Saya pengen kayak Mbak Iin, santai banget. Di antara freelancer di sini, Mbak yg paling gak neko-neko. Insentif mau ditunda ampe kapan juga gak pernah repot nagih. Santai banget deh. Aku jadi iri.”

Padahal, saya selalu lupa tanggal. Suami juga sama. Karena ini pekerjaan hanya hobi dan tak ada beban hutang, saya santai saja membiarkan insentif yang kadang-kadang baru terbayar setelah beberapa bulan.

Waktu itu saya mengangguk-angguk setuju saja. Benar. Ketika kau tak punya hutang. Tak ada yang kau takuti.

Sebenarnya, ini akan jadi berbeda kalau dilihat dari apa yang terjadi beberapa tahun sebelumnya. Sebagai mantan pekerja, tentu sejak awal bekerja saya sudah mengenal berbagai macam fasilitas pinjaman. Entah itu tawaran dari Bank berbentuk pinjaman reguler biasa untuk karyawan, pinjaman dengan agunan bahkan sampai pemberian aneka macam kartu kredit. Hampir tiap bulan, saya menerima banyak sekali penawaran menggiurkan untuk memiliki berbagai item yang mungkin baru bisa saya beli jika menabung. Sementara untuk menabung rasanya sangat sulit dengan berbagai kebutuhan yang makin meningkat.

Tapi, dengan suami yang begitu ketat mengatur segalanya, keinginan itu selalu dimentahkan.

“Enggak boleh! Nanti dikejar setan kredit loh!” Itu kata-katanya tiap kali saya merengek minta barang baru dengan cara kredit. Ia tak pernah satu kalipun mengizinkan saya membeli barang dengan cara kredit. Tidak satu kalipun.

Meski rasanya menderita banget tiap kali melihat penawaran cicilan berbunga rendah itu tiap bulan, atau karena ejekan teman-teman yang melihat barang-barang milik saya selalu ketinggalan dari mereka, saya tak berani melakukannya tanpa izin suami. Bukannya takut tak bisa membayar, tapi saya tahu kalau suami melarang pasti ada sesuatu yang tak mungkin dijelaskan dengan detail. Saya pun memilih untuk mengikuti saja. Biarlah, tahan tahan saja… pasti ada jawabannya suatu hari nanti.

Satu demi satu memang akhirnya kami bisa membeli barang-barang yang saya mau. Bukan dengan cicilan, tapi dengan tabungan. Ya, saya dan suami akhirnya belajar menabung sedikit demi sedikit. Tidak banyak, tapi akhirnya mampu terkumpul dan barang yang kami mau pun bisa terbeli. Lama kelamaan saya pun terbiasa. Apalagi, kemudian saya menemukan banyak peluang tambahan untuk menghasilkan pendapatan baru bagi keluarga. Semakin lama, semakin mudah bagi saya untuk menabung. Tak hanya itu, anak-anak juga jadi ikut terbiasa melakukannya. Menabung dulu, belanja kemudian.

Dan pada akhirnya, saya paham maksud perkataan suami, ‘dikejar setan kredit’…

Suatu hari, bel pintu di rumah digedor orang. Yah, digedor-gedor dengan keras hingga nyaris merontokkan pagar besi tinggi rumah kami. Saya yang terkadang bekerja dengan menutup telinga dengan headset, jadi terkejut dan sedikit kesal. Siapa sih tamu pagi-pagi tidak sopan begitu?

Saat itu di depan rumah, ada tiga orang bertampang seram menanti. Melihat gelagap tidak baik itu saya urung membuka pagar dan memilih berbicara melalui pagar saja. Belum apa-apa, mereka sudah menunjukkan ketidaksopanan dengan meminta seseorang bernama S untuk keluar dan membayar hutang. Dengan santai saya jawab kalau mereka salah alamat dan ini bukanlah rumah orang tersebut. Sebenarnya saya kenal nama orang itu, dia tetangga saya. Tapi saya tak mau ikut campur. Tapi orang-orang itu tak percaya, mereka tetap mendesak saya membuka pagar. Saya tak mau dan menelpon Pak RT. Tak lama para tetangga termasuk Pak RT berdatangan dan kali ini saya baru berani membuka pintu. Barulah, setelah diberi penjelasan dan kesaksian, orang-orang itu baru paham dan meminta maaf pada saya. Para tetangga juga yang memberitahu alamat sebenarnya dari orang yang mereka cari. Setelah itu, saya tak tahu lagi apa yang terjadi karena tak ingin tahu.

Namun, beberapa hari setelah itu, orang-orang itu terus bolak-balik mendatangi tetangga saya itu. Malah kadang-kadang sangat pagi, sebelum suami saya kerja. Karena mereka pernah salah sama saya, maka mereka pun bersikap ramah pada saya dan suami. Dari sapaan hingga akhirnya menjadi obrolan, suami pun jadi tahu kalau tetangga kami berhutang sangat banyak untuk membeli beraneka barang.

Saya jadi kasihan melihat istri tetangga yang berhutang itu karena setiap hari harus kucing-kucingan dengan para penagih. Anak-anak mereka dikurung di dalam rumah, bahkan ada yang dititipkan ke neneknya. Entah bagaimana akhirnya para penagih itu berhenti datang. Tapi mereka kini berganti tempat tinggal. Rumah yang tadinya mereka tempati kini disewa orang lain dan mereka tinggal di kamar sempit dengan tiga anak yang dua diantaranya seumur dengan Abang.

Itu hanya sekian dari cerita lain yang saya lihat beberapa tahun belakangan. Dari anggota keluarga sendiri yang hidup dengan mentereng, tiba-tiba berkeluh dengan jeratan hutang dan memaksa seluruh keluarga besar yang tidak tahu apa-apa ikut menanggung akibatnya. Hal itu membuatnya dijauhi perlahan-lahan oleh keluarganya sendiri. Bahkan hampir semua saudaranya tak lagi percaya padanya.

Dari teman sendiri, yang tiba-tiba harus kehilangan suami tercinta dalam kecelakaan motor dan ditinggalkan dengan hutang tak sedikit hingga harus merelakan rumah dan mobilnya untuk membayar semuanya. Bahkan beberapa bulan lalu, saya mendengar sendiri tangisan seorang ibu yang bercerita tentang pernikahan putrinya yang berakhir dengan perceraian akibat suami yang tahu hanya berhutang tapi tak tahu cara mengembalikannya. Semua harta kekayaan semu yang dimiliki dengan hutang, habis terjual atau disita pihak lain.

Setan kredit itu benar-benar ada. Percayalah, ia akan membuat kita terlena dengan berbagai godaan hawa nafsu untuk memiliki barang-barang mewah. Setelah kita terjerat dalam kredit, ia akan mendatangi kita dengan membuat kita takut, kuatir dan bingung setiap saat.

Pelajaran inilah yang membuat saya kini mengerti mengapa suami selalu ketat menjaga saya. Sebagai salah satu karyawan yang khusus mengurus masalah keuangan, suami sangat paham bahwa fasilitas cicilan tak selalu salah. Kalau bisa memanfaatkan dengan baik, ada hal-hal baik yang kita terima. Apalagi beberapa hal yang dibeli dengan sistem cicilan, seiring waktu berlalu justru semakin meningkat nilai jualnya. Rumah, dan tanah misalnya. Tapi, tidak berlaku untuk hal lain yang sifatnya sekedar untuk gaya hidup belaka.

Karena itulah, saya ingin mengingatkan kembali agar kita semua terhindar dari si setan kredit. Saat ini kondisi perekonomian mulai tidak stabil lagi. Awal tahun ini saja, sudah mulai memperlihatkan banyak berita buruk. Kalau tidak saling menjaga dan mengingatkan, bangsa ini bisa terpuruk kembali seperti dulu. Sesuatu yang baik memang sedikit sulit dilakukan, tapi setelah terbiasa, ada perasaan tenang yang akan selalu bersama kita. Sesuatu yang kemudian dipandang dengan iri oleh mereka yang sedang hidup dibayang-bayangi oleh para setan kredit.

Just remind again… be careful guys! There is so many new kind of Setan Kredit right now!

– See more at: http://bundaiin.blogdetik.com/2017/01/09/jeratan-setan-kredit?_ga=1.152068537.162598605.1482976163#sthash.woG5LQRP.dpuf

Zoemalang's community

ujung malang adalah Sebuah desa yang hilang terganti dengan ujung harapan

YoYo Games Blog Feed

Ujung malang adalah Sebuah desa yang hilang terganti dengan ujung harapan

Dealer Termurah

Menjual Segala Jenis Motor Baru Di Indonesia Cash Maupun Kredit

%d blogger menyukai ini: